Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 31: Bunga Teratai


__ADS_3

Raka merapikan seluruh isi goa. Ada peralatan makan, ada beberapa pakaian gurunya, dan beberapa benda lainnya. Semua memang masih tertata rapih karena gurunya sendiri adalah orang yang sangat suka pada kerapihan. Raka membiarkan semua benda-benda ini berada di letaknya masing-masing dan sama sekali tidak menyentuh barang-barang milik gurunya itu.


Untuk sekali lagi ia memandang seluruh isi ruangan goa saat ia berada di mulut goa. Lalu dengan sekali mengibaskan tangan, seluruh obor yang berada di dalam mati seketika. Tahu-tahu di dalam goa yang gelap muncul garis-garis pada dinding.


Ruangan yang gelap itu memunculkan garis-garis terang pada dinding. Berisi tulisan dan gambar-gambar orang sedang bersilat. Banyak sekali memenuhi dinding. Rupanya gurunya meninggalkan jurus silat mahasakti dalam bentuk goresan-goresan di dinding. Gambar goresan ini hanya bisa dilihat jika ruangan ini gelap gulita.


Raka memperhatikan dengan sangat teliti.


“Jurus Pedang Penakluk Naga”


Jurus pedang ini merupakan jurus pedang yang dititipkan seorang pendekar Tiongkok kepadaku. Merupakan jurus pedang yang dgubah berdasarkan jurus telapak tangan kosong maha sakti. Pendekar Tiongkok itu menurunkan ilmu ini kepadaku sebagai bentuk terima kasih karena aku telah menyelamatkan nyawanya.


Siapapun yang berjodoh dengan ilmu ini boleh mempelajarinya.


Raka kemudian mulai mempelajarinya dan menghafalkan semua gerakan dan petunjuk yang tertulis di dinding goa. Perlu 2 hari baginya untuk benar-benar dapat menghafal seluruh petunjuk dan gerakannya. Setelah yakin bahwa ia telah meghafal semuanya, baru kemudian Raka memutuskan untuk keluar dari goa.


“Ah, sebaiknya aku mencoba ajian Wihaya Waksudhana yang kemarin baru ku kusasai,” kata Raka dalam hati.


Ia memejamkan mata, menarik nafas dengan dalam, lalu mengucapkan mantranya.


Matahari adalah cahayaku,


Angin adalah nafasku,


Api adalah pembentukku,


Tanah adalah asalku,


Petir adalah suaraku,


Air adalah kehidupanku,


Langit dan Bumi adalah tempatku.”


Ia lalu menjulurkan tangan ke depan.


Batu-batu besar yag berada di sekitar sana bergetar semuanya. Dengan memusatkan pikiran, ia menyalurkan tenaga dalamnya ke sebuah batu sebesar badan kerbau yang berada beberapa tombak di sampingnya.


Batu berat itu terangkat ke udara!


Raka mendorong tangannya ke depan dan menghempaskan batu besar itu tepat ke depan mulut goa. Blam!


Batu itu menutup pintu goa dengan rapat.


Raka melakukan hal yang sama 3 atau 4 kali sampai bebatuan itu menutup goa dengan sangat rapat. Sekali lagi ia menjulurkan tangan, pasir dan tanah di sekitarnya berterangan bagai ditiiup angin puyuh. Pasir dan tanah tu kemudian dipakainya untuk menibun bebatuan tadi.


Usailah sudah tugasnya menutup dan menyembunyikan mulut goa itu.


Goa itu berada di dalam hutan yang cukup lebat di daerah Kawah Rengganis. Raka memutuskan untuk berjalan kaki sebentar untuk sekedar menghafal jalan di daerah itu. Setelah berjalan cukup lama, hutan lbat mulai menipis, ia mulai bertemu dengan rumah-rumah penduduk. Hari saat itu masih pagi sekali. Matahari baru saja beranjak dari peraduannya.


Raka bersiul ke arah langit.


Kepakan sayap sayup menderu.


 


 


***


Lembah Iblis.


Pagi hari yang cerah. Tetapi lembah itu masih kelihatan suram dari atas langit.


Cakrawala, sang burung rajawali raksasa berbulu coklat keemasan, mulai menukik turun.


“Sampai di sini saja, kuharap tadi kau kenyang dengan sap besar yang tadi kubeli dari petani. Sampai jumpa lagi!”


“Kaaaawwwwwkkkkk!”


Raka melayang turun dengan indah.

__ADS_1


Ia mendarat dengan mulus di halaman depan markas lama Tuan Agung Tanabasa yang beberapa minggu lalu terbakar hebat. Sekarang daerah itu sudah dikuasai oleh anak buah Masayu Renjani. Mereka semua melongo saat melihat sosok yang begitu tampan dan gagah melayang turun dari atas langit dengan begitu anggun.


Jubuh putihnya menyala, masih terlihat baru. Aroma tubuhnya wangi dan segar. Rambutnya tersisir dan tersanggul rapih ke belakang tertiup angin pagi. Senyumnya merona seperti seorang gadis pingitan yang baru menjemput kekasihnya. Tatapan matanya tajam namun bersahabat.


Seorang gadis yang kebetulsan sedang berjaga-jaga di situ menghunuskan tombaknya. Tetapi matanya seperti sedang melihat seorang malaikat. Bibirnya mengucap, “Engkaukah Sukma Harum?”


“Dari mana neng (nona) tahu?”


Nona itu tidak menjawab pertanyaan, malah bergumam kepada dirinya sendiri, “Ternyata benar dia seperti yang diceritkan orang….,”


Sukma Harum tertawa. Ia lalu bertanya, “Apakah ketua neng berada di sini?”


Si nona seperti baru tersadar dari mimpinya, dengan sok ketus ia bertanya, “Ada keperluan apa tuan mencari ketua kami?”


“Ketua neng dan aku adalah sahabat lama. Aku hanya ingin berkunjung saja. Mohon neng katakan kepadanya bahwa Sukma Harum datang berkunjung.”


Gadis cantik itu rupanya masih baru di dalam kelompok ini sehingga ia bingung harus bersikap ramah atau tegas terhadap orang yang menyusup ke dalam daerah kekuasaan mereka.


“Eh……eh….,” ia seperti bingung harus berkata apa.


Sukma Harum hanya tertawa kecil dan berjalan ke arah markas besar mereka.


“Hey berhenti. Kau tidak boleh sembarangan di tempat ini!” nona itu menghunuskan tombaknya.


“Neng, jikalau sampai aku terluka, apa yang nanti neng jelaskan pada ketua neng? Jika sampai ia tahu neng melukai tamunya,”


“Tapi…tapi…”


Gadis itu masih sangat muda. Mungkin baru berusia 18 atau 19. Wajahnya bingung tetai juga bersemu merah.


Memang tidak gampang bagi seorang wanita untuk melepaskan diri dari pesona seorang Sukma Harum.


“Begini saja. Aku berpura-pura menjadi tawanan neng, dan neng mengantarkan aku kepada ketua. Bagaimana?”


Nona itu berpikir sebentar, lalu ia berkata, “Baiklah.”


Akhirnya Sukma Harum pun bertemu dengan Masayu Renjani yang terheran-heran melihat dirinya “tak berdaya” ditawan oleh anak buahnya.


“Aku yang menawarkan diri menjadi tawanannya,” malah Sukma Harum yang menjawab.


“Mengapa kau membiarkan saja dirinya menjadi tawananmu? Apa kau tidak curiga jika ia memperdayamu?” Masayu Renjani masih bertanya kepada muridnya.


“Karna jika aku benar-benar Sukma Harum, ilmu silatnya tidak akan cukup untuk menahanku. Tetapi jika aku hanya menyaru sebagai Sukma Harum, maka ujung tombaknya sudah siap menusuk leherku. Ini adalah keputusan yang terbaik,” kembali Sukma Harum yang menjawab.


“Kau yang mengusulkan jalan ini kepadanya?” tanya Masayu Renjani kepada Sukma Harum.


“Jika kau mempersulit anak buahmu yang baik ini, aku tidak akan sudi membantumu lagi,” kata Sukma Harum sambil tersenyum.


Masayu Renjani menoleh kepada anak buahnya, “Kau sudah lihat sekarang? Bahkan seorang perempuan yang paling pintar pun tidak dapat menaklukkan seorang Sukma Harum.”


Sang anak buah mengangguk dengan penuh rasa takut, “Hamba mngerti, ketua.”


“Nah, sekarang kau pergilah. Kembali ke tempat berjagamu. Aku tidak akan menghukummu.”


Seorang wanita tidak pantas dihukum karena ia jatuh hati kepada seorang Sukma Harum. Ini adalah sebuah hukum alam. Dan Masayu Renjani pun memahami hukum alam ini. Karena ia sendiri pun mengalaminya.


“Eh nanti dulu,” potong Sukma Harum. “Siapa namamu?”


“Nama hamba Ranis, tuan.”


“Ah, nama yang bagus sekali. Baiklah sampai jumpa ya. Terima kasih sudah ditemani ke sini.”


Ranis pergi dengan wajah bersemu merah. Senyum tipisnya tidak hilang dari wajahnya yang manis.


Masayu Renjani melihat semua ini dengan wajah sewot. Katanya, “Suatu saat karma buruk akan datang menimpamu?”


“Apa sebabnya?”


“Karena kau suka sekali memainkan hati perempuan.”


“Memangnya apa yang kulakukan? Menanyakan nama dan mengucapkan terima kasih adalah tata krama sehari-hari,” bantah Sukma Harum.

__ADS_1


“Memang. Tapi jika kau yang melakukannya maka seluruh perempuan dapat menjadi gila!”


“Memangnya kau gila?”


“Ya. Aku sudah gila!” jawab Masayu Renjani sambil menarik tangan Sukma Harum masuk ke dalam biliknya.


Bilik yang tidak begitu besar namun terasa mewah.


Siapa pun dapat menduga cerita apa yang terjadi kemudian di balik pintu bilik yang indah itu.


 


 


***


Masayu Renjani telah bersimpuh sepenuhnya di dalam pelukan Sukma Harum. Tiada sehelai benang pun pada tubuhnya. Keelokan tubuh itu memang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kini pemiik tubuh indah itu membiarkan dirinya terjatuh sedalam-dalamnya. Ia seolah tidak lagi memiliki kekuatan, harapan, bahkan impian dan angan-angan. Semua seperti direnggut dengan indah oleh sentuhan yang begitu hangat, begitu lembut, begitu penuh perasaan.


Tetapi begitu gagah dan juga berkuasa.


Sepanjang hayatnya, baru kali ini Masayu Renjani merasa benar-benar menjadi perempuan.


 


***


“Aku datang kemari untuk memeriksa sesuatu,” kata Sukma Harum.


“Kau boleh memeriksa semua tempat yang kau mau. Kau pun tadi sudah memeriksa diriku sepenuhnya Apakah kau puas? Apakah aku memberikan apa yang kau cari dariku?” tanya Masayu Renjani.


“tidak ada perempuan yang mampu memberikan apa yang kau berikan,” bisik Sukma Harum dengan lembut ke telinganya yang mungil.


Masayu Renjani menarik nafas. Setiap tarikan nafas itu terisi oleh kebahagiaan yang tak bisa dimengertinya, namun merupakan hal yang selama ini selalu dicarinya.


Yang diperlukan perempuan hanyalah kehangatan, rasa aman, dan kenikmatan.


Demi ketiga hal itu banyak perempuan yang tega menghancurkan hidup orang lain. Bahkan juga tak jarang menghancurkan hidupnya sendiri.


Apakah mereka dapat menjadi seperti bunga teratai yang kemudian bersinar indah di tengah lumpur kehidupan? Hanya mereka yang tahu jawabannya.


 


***


Raka menatap halaman belakang daerah itu. Taman yang cukup indah. Banyak pepohonan serta juga ilalang yang rimbun. Ada juga kolam air yang dipenuhi bunga teratai.


Tadi Masayu Renjani sudah memerintahkan semua anak buahnya untuk mengosongkan daerah itu agar Sukma Harum tidak terganggu dalam penyelidikannya.


Sukma Harum berpikir sejenak. Jika kau harus menyembunyikan suatu benda yang tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil, secara cepat dan aman, juga tidak menimbulkan kecurigaan orang, kira-kira di mana kau menyembunyikannya?


Kolam teratai.


Teratai memenuhi permukaan kolam dengan merata. Tempat terbaik memang berada di sana.


Raka memasukkan tangan ke dalam kolam dengan sangat hati-hati. Dengan memusatkan perasaan dan perhatiannya, ia berhasil menyentuh sebuah benda keras dibalik rimbunan akar teratai.


Sebuah tabung bambu kecil.


Raka memperhatikannya dengan seksama. Ada sebuah tuas kecil seukuran ujung ibu jari. Ketika Raka menekan tuas itu, keluar puluhan jarum beracun yang sangat tipis dan tak dapat terlihat oleh mata biasa.


Jarum-jarum itu jika masuk ke dalam kulit manusia, tentu akan tembus sampai ke dalam jalan darah lalu  lumer bersama darah kemudian menyebarkan racun yang sangat mematikan.


Raka menarik nafas.


Apakah ini yang dinamakan Bumbung Bratagini?


Mustika paling mematikan di jaman ini.


 


 

__ADS_1


__ADS_2