Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 3: Kejadian di Mandeung


__ADS_3

Sukma Harum telah kembali berada di atas “Nindira”. Kini ia sedang berbaring dengan nyaman di atas dipan mewah di dalam ruang kemudi kapal kesayangannya. Seisi ruang kemudi itu bernuansa sangat mewah, dan penuh cita rasa tinggi. Ada sebuah kecapi yang diletakkan di samping dipan. Lalu ada meja kecil tempat meletakkan makanan dan hidangan. Di atas dipan ada bantal-bantal empuk yang lembut dan wangi.


“Jadi begitulah. Ia keluar rumah sambil memaki-maki,” kisah Sukma Harum. Rupanya ia sedang menceritakan


pengalamannya tadi mampir ke rumah Oey Kim Seng kepada ke 5 orang dayang pengawalnya yang cantik-cantik.


Anjani, Anjati, dan Anjasih,adalah 3 orang saudara kandung. Sedangkan Aristi dan Andini adalah 2 orang


lainnya yang berasal dari perguruan berbeda.


Anjani yang paling tua. Umurnya sekitar 22 tahun. Tugas utamanya adalah mengatur segala urusan di atas kapal.


Ia pun bertanggung jawab pada semua kebutuhan majikannya. Selain ilmu silatnya paling tinggi, ia juga ahli siasat. Ia adalah pemimpin 5 dayang pengawal ini.


Anjati, umur 20 tahun, adalah nahkoda kapal yang paling handal. Di usianya yang masih sangat muda, ia pernah


berkunjung ke berbagai tempat di nusantara.


Anjasih, berumur 18 tahun. Ia adalah koki paling handal. Apa yang disentuhnya akan menjadi sangat enak.


Walaupun hanya dengan bumbu garam atau sekedar merica.


Aristi, 21 tahun. Ia yang paling luas pengetahuannya mengenai banyak hal. Mulai dari dunia persilatan, sejarah,


dan lain-lain. Sukma Harum menyebutnya sebagai perpustakaan berjalan. Ia juga yang paling cantik  di antara ke 5


pengawalnya. Selain itu, ia pintar pula memainkan musik dan menulis sajak.


Andini, 20 tahun, adalah ahli pengobatan. Ia mahir dalam mengobati luka dalam, luka bacok, racun, dan


lain-lain.


Kini semua pengawal setianya itu sedang tiduran semua bersamanya di atas dipan yang nyaman itu.


“Kenapa Raden harus pergi datang kepadanya?” tanya Anjasih, si koki handal. Ia yang paling cerewet dan paling


suka mengobrol.


“Ada pertanyaan yang harus kuajukan kepadanya,” jawab Sukma Harum.


“Bukankah segala pertanyaan di muka bumi ini dapat Raden tanyakan pada kak Aristi?” tanya Anjasih lagi.


Sukma Harum hanya menjawab pendek, “Betul.”


Malah Anjani yang menyahut, “Raden datang ke sana sebenarnya bukanlah untuk mengajukan pertanyaan, melainkan hanya karena kangen saja sudah lama tidak bertemu, bukan?”


“Memang Anjani yang paling mengerti perasaanku,” kata Sukma Harum sambil menyentuh ujung hidung nona itu.


“Raden kangen padanya tapi tidak mau mengakui. Sudah datang jauh-jauh, malah tidak bertemu. Ketika pulang malah dimaki-maki pula. Bukannya marah atau tersinggung, sampai di rumah malah wajah berseri-seri. Seumur hidup aku tidak bakalan mengerti hubungan persahabatan seperti ini,” gerutu Anjasih.


Kembali Anjani menyahut, “Hubungan yang dalam antara dua orang sahabat karib, memang kadang sulit dimengerti. Yang bisa kupahami, adalah alasan kenapa ia memaki-maki raden.”


“Jelaskan,” tukas Sukma Harum.


“Ia sengaja memaki-maki raden di depan gerbang, agar semua orang mengira kalian masih bermusuhan. Sepertinya ia menduga ada mata-mata yang mengawasi rumahnya.”


“Ah, bagus sekali.”


“Oooo, jadi begitu,” kata para pengawal lain hampir bersamaan.


“Orang yang memusuhiku memang banyak. Akan lebih aman jika orang lain tidak mau kenal denganku,” ujar Sukma Harum sambil tertawa masam.


“Tetapi raden pulang dengan wajah berseri-seri. Tentu bukan itu pikiran yang timbul di hati raden,” kata Anjani.


Sukma Harum menatapnya dengan wajah yang puas, “Menurutmu?”


“Oey Kim Seng sendiri memiliki banyak musuh pula. Justru ia memaki-maki Raden agar musuh-musuhnya tidak menjadi musuhmu.”


“Hebat! Aku sendiri membutuhkan waktu beberapa saat untuk dapat memahami maksud tindakannya itu.”


“Kak Anjani memang hebat!” sahut yang lain memuji pula.


Malam semakin beranjak kelam. Di atas sungai, kecil kecil nan mewah itu meluncur dengan luwesnya. Layarnya


terkembang dengan gagah, menyongsong angin yang membawanya menyusuri dunia. Bintang-bintang tertutup di balik awan yang gelap.


“Aku mengantuk. Kalian kembalilah ke kamar masing-masing.”


“Kami ingin di sini menemani raden.”


Lelaki itu tertawa. Meskipun mereka adalah dayanglnya, ia sudah menganggap mereka seperti adik-adiknya


sendiri. “Terserah kalian saja. Aristi, mainkan serulingmu.”


Aristi segera mengambil seruling yang selalu ia sisipkan di balik bajunya. “Raden ingin lagu apa?”


“Lagu apa saja. Pokoknya yang bisa mengiringi aku pulas.”


Nada-nada indah lalu terdengar. Mengalun lembut selembut gemericik air sungai yang menderai. Sukma Harum telah terbuai dengan mimpi.


“Cepat sekali raden tertidur,” kata Anjati entah kepada siapa.


“Ia memang seperti itu. Semakin besar masalah yang akan dihadapainya, maka semakin pulas juga ia tidur. Karena


ia tahu ia harus mengumpulkan tenaga dan memusatkan segenap pikirannya,” kata Anjani.


Kelima orang itu menatap wajah majikan mereka yang telah tertidur pula situ dengan penuh kasih sayang. Jika


mereka harus menyerahkan segenap jiwa raga untuk lelaki ini, mereka tidak akan ragu melakukannya.


Hanya mereka yang benar-benar mencintai, menghormati, dan mengasihi bawahannya lah yang akan mendapat cinta, rasa hormat dan kesetiaan seperti ini.


***


Pagi menjelang.


Sukma Harum malah sudah bangun. Nindita telah bersandar di sebuah deraga kecil. Di lihatnya Anjani masih


terjaga di sana. “Kau sudah bangun atau malah belum tidur?”


Anjani hanya tersenyum. Katanya, “Semua keperluan Raden sudah siap. Jika Raden berangkat saya akan segera


tidur.”


“Segala keperluanku bisa kukerjakan sendiri. Kau tidak perlu serepot ini.”


“Ini sudah kewajiban dan tugas saya, raden,” kata Anjani penuh hormat. Lanjutnya, “Jika Raden ingin mandi,


sudah ada air panas di ruang pribadi Raden. Sarapan akan segera matang sebentar lagi.”


Sukma Harum berdiri dan mengusap kepala Anjani. “Terima kasih.” Ia lalu pergi ke kamar pribadinya di geladak ke


dua dalam kapal. Kamar itu berukuran sedang dan tertata rapi. Anehnya, berbeda dengan bagian anjungan (ruang kemudi) yang sangat mewah dengan segala perhiasan dan kelengkapannya, kamar pribadinya malah terkesan sangat sederhana. Hanya ada satu dipan kecil yang hanya muat untuk satu orang, serta meja kecil di samping


dipan untuk meletakan makanan atau benda-benda kecil. Juga ada lemari kayu jati yang berisi pakaian-pakaiannya.


Dari seluruh ruangan yang ada di dalam kapal, justru kamarnya sendiri yang paling sederhana. Jauh lebih


sederhana daripada kamar dayang-dayangnya.


Di bagian belakang kamar ada ruangan untuk membersihkan diri dan ****** kecil yang sangat bersih dan wangi.


Sukma Harum segera masuk ke ruangan ini dan mandi air hangat yang sudah disiapkan dayangnya.  Selesai mandi ia menata diri dengan perlahan. Ia sangat menyukai hal ini. Beberapa orang sahabatnya berkata ia suka bersolek. Ia tidak perduli. Baginya, tampil dengan pakaian dan dandanan yang baik akan memberikannya rasa percaya diri dan pembawaan yang sempurna di hadapan orang lain.


Ia telah melalui pengalaman yang panjang untuk sampai kepada kesimpulan ini.


Tak berapa lama setelah selesai bersolek, pintu kamarnya diketuk salah satu dayang. “Sarapan sudah siap, raden.


Apa raden ingin makan di kamar atau di ruang makan?”


“Di ruang makan saja. Aku segera ke sana.”


***


Kota Mandeung adalah kota paling selatan dari kerajaan Pajajaran. Berbatasan dengan kadipaten Jamparing yang merupakan bagian dari kerajaan sebelah, yaitu kerajaan Madangkara. Hubungan kedua kerajaan sangat erat, baik dalam perdagangan, kemasyarakatan maupun dalam hubungan kenegaraan.


Prabu Siliwangi yang bertahta di kerajaan Pajajaran, adalah seorang raja arif dan bijaksana. Di tangannya lah


Pajajaran menjadi kerajaan besar dan sejahtera. Penduduk aman dan bahagia. Di masa pemerintahannya jualah dunia persilatan maju pesat karena banyak pendekar-pendekar sakti bermunculan. Prabu Siliwangi sendiri adalah pendekar sakt mandraguna sehingga beliau sangat menggemari ilmu silat dan kanuragan. Perguruan-perguruan dan padepokan-padepokan silat dan kanuragan tumbuh dengan sangat pesat.


Tapi, dampak buruk yang timbul karena perkembangan dunia yang persilatan yang pesat ini adalah seringnya


terjadi pergesakkan antar pendekar dunia persilatan. Meskipun pergesekkan itu tidak sampai mempengaruhi perikehidupan rakyat awam, pergesekkan ini mengakibatkan jatuhnya korban yang sangat besar yang diakibatkan oleh pertarungan dan persaingan di dunia persilatan.


Kota Mandeung adalah salah satu kota yang sering dikunjungi pendekar dunia persilatan. Selain indah dan ramai,


kota ini merupakan banyak memiliki padepokan silat karena sangat dekat dengan Laut Selatan yang konon memiliki sifat keramat sehingga sering digunakan untuk bertapa atau berlatih.


Berhubung sampai di pagi hari, Sukma Harum menggunakan kesempatan itu untuk berjalan-jalan mengunjungi


berbagai tempat terkenal di kota. Tampat yang paling disukainya tentu adalah rumah makan yang menyajikan makanan-makanan khas kota tersebut.


Makan siang sudah selesai. Kini waktunya bersantai.


Sukma Harum baru akan melangkah ke luar rumah makan ketika matanya tertumbuk pada sebuah keramaian di depan sana. Dari pengalamannya sehari-hari, ia tahu sedang ada pertarungan antar ahli silat. Segera ia bergegas ke sana agar tidak ketinggalan mendapatkan hiburan tontonan yang seru.


Hanya beberapa langkah keluar, dahinya berkenyit. Ia sepertinya sedang menyadari satu hal. “Eh?”


Syuuuut!!!


Ia melesat dengan sangat cepat. Gerakannya bagaikan setan yang tahu-tahu menghilang dari pandangan orang. Ilmu meringankan tubuh setinggi ini sangat jarang ditemukan tandingannya!


Tubuhnya melayang dengan ringan dan kini sudah berada di sebuah atap bangunan yang tinggi. Dari sana ia dapat


menonton keramaian dengan jelas. Orang-orang sedang membuat kerumunan mengelilingi dua orang.


Meski ada 2 orang yang sudah pasang kuda-kuda dan segera siap bergebrak, perhatian  Sukma Harum hanya tertuju pada salah seorang saja. Orang itu adalah seorang wanita muda. Dari cara berdiri dan berpakaiannya saja sudah ketahuan kalau gadis itu adalah orang dunia persilatan.


Sukma Harum sangat mengenalnya. Karena gadis itu adalah adik kandungnya sendiri.


Raden Ayu Amarajati Anggana Gandakusuma.


Julukannya tidak kalah cantik dengan namanya. “Si Pedang Pelangi”.


“Mara…, dengan siapa lagi kau mencari perkara,” batin Sukma Harum. Ia tertawa di dalam hati karena mengetahui


betul sifat adiknya yang gampang sebal dengan orang lain.


Dilihatnya lawan yang dihadapi sang adik adalah seorang lelaki muda yang tampan namun berwajah angkuh.


Pakaiannya mentereng.  Sarung pedangnya bersepuh emas dan bertahtakan mutiara.

__ADS_1


Ada pula 6 orang roboh yang di tanah. Tampaknya mereka hanya pingsan.


Sekali melihat, Sukma Harum dapat menduga bahwa lelaki muda ini tentu berasal dari kelurga kaya raya yang


menyukai ilmu silat dan kanuragan. Ia menarik kesimpulan, tentunya laki-laki ini sebelumnya telah menggoda adiknya sehingga terjadi pertarungan ini. Ke 6 orang yang roboh itu tentunya adalah pengawal-pengawalnya.


Sukma Harum tidak merasa khawatir. Ia tahu kemampuan adik kesayangannya itu.


Pertarungan belum di mulai. Kedua orang petarung masih memasang kuda-kuda dan mempelajari lawan.


Tahu-tahu Sukma Harum terhenyak. Ada sesuatu yang mengagetkannya.


“Sesuatu” adalah seseorang yang duduk juga di atas atap di beberapa bangunan di depannya. Orang itu duduk saja dengan tenang. Rambutnya hitam gelap hampir menutupi wajahnya. Ia memakai jubah lusuh yang menutupi seluruh badannya seperti selimut di musim dingin.


Orang itu hanya duduk termenung, tidak perduli dengan keramaian di bawah sana.


Yang membuat Sukma Harum terhenyak adalah karena sebelumnya ia tidak menyadari bahwa ada orang duduk di


sana. Bahwa kita ia melayang turun di atas atap, ia telah mengetahui segala sesuatu di daerah itu. Ia mengetahui bahwa banyak pendekar pula yang berada di atas atap bangunan yang ingin menyaksikan pertarungan ini.


Tapi “sesuatu” itu tadi lolos dari perhatiannya.


Di sepanjang petualangannya, orang yang mampu menyembunyikan diri dari perhatiannya tidaklah banyak. Mungkin hanya bisa dihitung oleh jari sebelah tangan.


Sriiiingggggg!


Terdengar suara pedang tercabut dari sarungnya.


Ternyata sang musuh yang telah mencabut pedangnya duluan.


Sedangkan sang adik masih tetap memasang kuda-kuda. Pedangnya masih tersoren dalam sarungnya di pundak gadis itu.


Melihat keadaan ini saja, Sukma Harum sudah dapat menduga siapa yang akan memenangkan pertarungan ini.


Laki-laki pesolek itu bergerak!


Langkahnya ringan dan cepat. Ilmu silatnya memiliki dasar yang sangat bagus.


Wuuuut! Wuuuuuut!


Sabetan pedangnya menimbulkan angin yang menderu. Raden Ayu Amarajati menghindar dengan sangat luwes. Gerakannya sangat sederhana. Tidak ada kembangan, tidak ada hiasan. Ia menghindar dengan begitu tipis. Serangan pedang hanya berjarak seujung rambut.


Dalam sekali gerak, si lelaki muda itu telah melakukan 5 serangan bertubi-tubi. Ilmu pedangnya tidak bisa


dianggap remeh. Sangat cepat dan sangat mematikan.


Si Pedang Pelangi hanya menghindar sambil berkata dengan pertanyaan yang dingin, “Begitu saja ilmu


pedangmu?”


Jika seorang perempuan cantik mengucapkan kata-kata yang dingin menusuk hati, maka seolah kecantikannya bertambah berkali lipat.


Namun hati si lelaki seolah tertusuk duri.


Hal ini membuat gerakanya sedikit terganggu. Kebanyakan pendekar dunia persilatan tidak akan mampu melihat celah itu. Tetapi Raden Ayu Amarajati bukanlah orang kebanyakan. Ibunya adalah pendekar wanita terhebat di dunia. Tentu saja ia mewarsi bakat ibunya.


Dalam celah itu, tangan Si Pedang Pelangi sudah bergerak. Jarinya menotol tangan musuhnya. Pedang itu terhempas ke tanah.


Craaaaangggg!


Pedang itu jatuh. Jatuh pula harga diri si lelaki pesolek. Ia jatuh terduduk. Hanya dengan sekali gebrak saja seorang perempuan telah menaklukkan ilmu pedang yang ia pelajari seumur hidupnya.


Si gadis cantik membalik badan seolah tidak perduli lagi dengan lelaki itu. Ia bahkan tidak berkata apa-apa.


Lalu lelaki muda itu mengambl keputusan. Ia telah kehilangan seluruh harga dirinya. Membuat satu kecurangan


lagi toh tak akan merubah segalanya. Karena seluruhnya telah berakhir.


Ia lalu memungut pedangnya di tanah, dan lalu menusuk Si Pedang Pelangi dari belakang!


Raden Ayu Amarajati bukanlah pendatang baru dalam dunia persilatan. Tingkatannya sudah sangat tinggi. Ia pun


sudah siap menerima serangan pedang itu.


Tahu-tahu pedang itu tertepis sebuah batu kerikil yang disentilkan seseorang jauh dari atas atap sana.


Tahu-tahu pula, sebuah tombak hitam menghujam menembus kerongkongan lelaki itu!


Tombak Hitam yang menakutkan Menancap dengan gagah di atas tanah setelah menembus kerongkongan manusia.Tidak ada darah yang menempel di sana. Begitu cepat tongkat itu dilemparkan, sampai-sampai tidak ada sesuatu apapun yang menempel di tombak itu!


Bahkan tidak ada debu setitik pun yang menempel di tombak hitam yang menakutkan itu!


Darah muncrat di mana-mana. Namun tidak setitik pun di tombak hitam.


Seluruh penontoh ramai heboh melihat kejadian ini. Tapi tidak ada satu pun yang berani bergerak dari tempat


mereka masing-masing.


Sukma Harum sudah melayang turun ke bawah. Entah kapan, tiada seorang pun yang dapat melihat. Mereka hanya melihat sesosok pria muda tampan berbaju putih bersih yang tahu-tahu sudah ada di hadapan nona cantik itu.


“Kakang Raka!” tukas si Pedang Pelangi.


Sukma Harum tidak membalas sapaan itu karena kini perhatiannya terpusat sebuah sosok yang baru muncul pula. Dialah pemilik tombak hitam yang baru saja menembus kerongkongan manusia dan menancap dengan gagah di tanah. Tombak itu masih bergetar dan menimbulkan suara berdengung!


Orang itu adalah “sesuatu” tadi yang dilihat Sukma Harum saat di atas atap. Yang seluruh pakaiannya berwarna


hitam dan berselimut jubah hitam pula.


Orang itu tidak menggubris. Ia mencabut tombaknya yang menancap di tanah dan berjalan membelakangi Sukma Harum tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Saat beberepa langkah berjalan, ia berhenti.


Tanpa menoleh ia bertanya, “Kau Sukma Harum?”


Hanya dengan sekali pandang lelaki itu dapat menebak dengan tepat.


Kali ini Sukma Harum yang tidak menggubris. Ia menoleh ke adiknya dan bertanya, “Kau tidak apa-apa?”


Adiknya mengangguk dan menjawab,“Iya, kakang.”


Melihat pertanyaannya tidak dijawab Sukma Harum, orang yang berbaju hitam tadi kini berbalik badan. Rupanya


hatinya menjadi tertarik karena tidak digubris. Lalu ia berkata, “Sentilan batu kerikilmu sangat cepat.”


“Lemparan tombakmu pun tidak lambat,” puji Sukma Harum tulus.


Orang itu tidak berkata apa-apa. Wajahnya dingin. Namun ia sebenarnya sangat tampan. Tubuhnya tinggi kekar


berotot. Ada janggut dan kumis tipis-tipis yang tumbuh di wajahnya yang terkesan keras. Ia hanya memandang Sukma Harum seolah menilai-nilai sesuatu.


“Seharusnya ki sanak tidak perlu membunuhnya,” sesal Sukma Harum.


“Kau tahu siapa aku?” tanya orang gagah berbaju hitam itu.


Sukma Harum mengangguk lagi. Melihat itu, lelaki kekar itu pun mengangguk puas. Ia lalu berbalik dan beranjak


pergi.


Seolah-olah ia telah berkata, “Kau sudah tahu siapa aku. Tentunya kau tahu bahwa setiap aku membunuh orang, aku selalu memiliki alasan yang jelas.”


Dan Sukma Harum pun seolah memahami perkataan yang tidak pernah terucap ini, ia membiarkan saja  orang itu pergi. Ia hanya mampu bergeleng-geleng dan tersenyum masam.


“Sekarang bagaimana kita menjelaskan kepada keluarga pemuda yang tewas ini?” katanya kepada adiknya.


“Menjelaskan apa?” tanya Amara.


“Kau lihat sendiri keadaannya. Tentu ia berasal dari keluarga berada. Kemungkinan malah keluarga bangsawan.


Mereka tidak akan terima dengan kematiannya,” jelas Sukma Harum.


“Tetapi bukan Mara kan yang membunuhnya?” tukas Amara.


“Memang benar. Tapi ia mati saat bertarung denganmu. Semua orang akan mengira orang yang membunuhnya adalah sekongkolmu. Maka kau akan dianggap bertanggungjawab pula.”


“Ia yang pertama-tama menggodaku dan mengucapkan kata-kata tidak senonoh. Ia juga yang mencoba membokongku dari belakang. Semua orang di sini saksinya!”


Saat ia berkata seperti itu, tiba-tiba semua orang yang berada di sana bubar seluruhnya. Dalam sekejap tempat itu langsung sepi seperti daerah berhantu!


Bahkan nyamuk dan lalat pun sudah kabur seluruhnya dari tempat itu.


Amara terhenyak kaget. Sukma Harum hanya tertawa. Katanya, “Mara tahu kenapa mereka semua pergi?”


Amara mengangguk. Jawabnya, “Ya. Mereka semua tidak ingin menjadi saksi.”


“Berarti kesimpulannya, pemuda ini berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh sampai-sampai orang-orang


tidak ada yang mau berurusan dengan keluarga ini.”


Amara hanya bisa termenung. Kakaknya lalu berkata, “Biarlah aku yang menemui keluarganya. Kau kenal


padanya?”


Gadis yang cantik itu hanya menggeleng dan berkata, “Kita tanyakan saja ke 6 pengawalnya.”


Ke 6 pengawal itu masih tergeletak di tanah namun mereka semua dalam keadaan sadar. Mereka telah menyaksikan semua kejadian ini. Salah satu dari mereka menyahut sambil meringis menahan sakit, “Majikan kami adalah Tumenggung Sangkala. Orang yang kalian bunuh itu adalah putra kesayangannya.”


Tumenggung Sangkala adalah kepala daerah Mandeung.


“Baik. Namaku Rakantara Gandakusuma. Aku akan mewakili adikku untuk menghadap majikan kalian dan


menjelaskan seluruh kejadiannya.”


Sukma Harum menghampiri mereka dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik sakunya. “Minumlah obat ini.”


Ke 6 pengawal itu menerima obat itu dan meminumnya tanpa curiga. Bagi mereka, lelaki itu dapat membunuh mereka dalam sekedipan mata, tidak perlu membunuh dan meracuni mereka. Karena dari obrolan tadi mereka dapat mendengar bahwa lelaki tampan berbaju putih bersih ini adalah Sukma Harum.


Semua orang di dunia ini mengenal Sukma Harum.


“Orang-orang tuli sudah pernah mendengarkan namanya, dan orang-orang bisa membicarakan perbuatannya yang gagah.”


Begitu ungkapan yang beredar di dunia persilatan.


Ke 6 pengawal itu dengan cepat pulih keadaannya. Mereka lalu mengurus mayat tuan mereka dan segera pergi dari sana.


Sukma Harum dan Amara pun pergi dari sana mengikuti ke 6 pengawal itu dari belakang.


Saat berjalan, Sukma Harum menggandeng tangan adiknya dengan penuh rasa sayang. “Kau ke mana saja? Ramanda dan Ibunda kangen padamu.”


“Kakang Raka sendiri berkelana lebh lama,” tawa Amara.


“Haha. Eh, anak nakal, kenapa kau ada di sini?” tanya Sukma Harum yang bernama asli Rakantara.


“Kakang Raka belum tahu kabar itu?”

__ADS_1


“Belum. Akhir-akhir ini aku lebih suka tidak mengetahui kabar apapun.”


“Astagaaa!” Amara berseru keheranan.


“Ceritakan padaku.”


“Kitab ‘itu’ ternyata ada di sebuah pulau di laut selatan,” bisik Amara. Takut suaranya terdengar oleh ke 6


pengawal yang jaraknya sebenarnya cukup jauh.


“Kitab apa?”


“Kitab ituuuuu,” sahut Amara dengan gemas.


“Oh kitab itu,” tukas Rakantara seolah baru sadar.


Sekitar 50 tahun yang lalu, datanglah 2 orang bhiksu dari negeri Tiongkok ke Jawadwipa. Mereka menantang Prabu


Brama Kumbara, mantan raja Madangkara, yang saat itu merupakan orang paling sakti di kolong langit namun telah hidup menyepi dan meninggalkan hiruk pikuk dunia.


Dalam petualangan mereka, Salah satu bhiksu meninggal. Yang satu lagi berhasil bertarung dengan Brama selama 3 hari dan 3 malam. Akhirnya mereka mengangkat saudara, bahkan Prabu Brama menitipkkan anak tirinya untuk berguru di Tibet. Bhiksu itu juga sempat menuliskan seluruh intisari ilmu yang ia gunakan melawan Prabu Brama sebagai hadiah perpisahan untuk raja yang sakti itu. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang persilatan yang mendengar tetang kitab itu lalu mencarinya.


Keberadaan kitab itu telah menjadi legenda dan menjadi kitab utama buruan orang-orang persilatan.


Kini terdengar kabar kitab itu berada di sebuah pulau di laut selatan.


“Mara tahu apa nama pulau itu?”


“Ya. Semua pendekar telah tahu nama pulau itu. Makanya banyak orang kemari dan menyewa perahu di pelabuhannya. Namanya Pulau Sepingkan,” jawab Amara.


“Oh. Jadi itu sebabnya banyak sekali orang persilatan yang beredar di sini. Awalnya kupikir karena kota ini sedang


ramai saja. Ternyata karena ada kabar kitab ini. Kau akan pergi ke sana?”


“Ya. Setelah pulang dari kediaman Tumenggung Sangkala, Mara segera berangkat ke sana.”


Ingin Raka melarangnya, tapi ia tahu Amara tak akan mendengarkannya. Gadis itu berkemauan keras dan bukan


seorang yang penurut. Malah jika dilarang, ia seolah merasa seperti disuruh!


“Fiiiiiiiiuuuuuuuiiiiiiit”


Amara mengeluarkan suitan panjang. Tak lama kemudian terdengar derap suara kaki kuda.


“Bajra! Kemari!” nona itu memanggil kuda kesayangannya yang baru saja muncul.


“Wah, si Bajra sudah sebesar ini. Sangat gagah sekali. Hei Bajra! Kau masih kenal aku?” seru Raka. Bajra rupanya


mengenal Raka dan kini mendekatkan kepalanya agar dielus-elus. “Kuda pintar! Kuda tampan!”


Si Bajra bertubuh kekar. Bulunya berwarna putih kebiru-biruan. pahanyanya kokoh pertanda ia memiliki tenaga yang kuat, kakinya ramping pertanda ia mampu berlari dengan cepat.


“Sepertinya rumah Tumenggung Sangkala agak jauh, kita naik kuda saja, kakang.”


“Kau naiklah, Mara. Kau harus menghemat tenagamu untuk petualanganmu nanti. Kau juga harus menghemat tenaga Bajra.”


Amara menuruti kata kakaknya.  Meskipun ia kadang berhati keras, tetapi ia sebenarnya gadis yang cerdas. Jika


perkataan seseorang masuk akalnya, maka ia akan menurutinya.


Belumlah sampai di kediaman Tumenggung Sangkala, ternyata malah Tumenggung itu sudah memapak mereka di


tengah jalan. Nampaknya ia sudah mendengar kabar meninggalnya anaknya sebelumnya. Rupanya mungkin tadi ada orang yang datang memberitahukan kabar ini.


“Anakkuuuuu! Anakkuuuuuuuu!” terdengar tangisnya saat membuka selimut penutup mayat anaknya yang berada di dalam kereta.


Raka menunggu sampai tangisan Tumenggung itu menyurut baru ia berbicara dan menjelaskan semuanya. Tumenggung itu mendengar dengan seksama. Meskipun wajahnya memperlihatkan raut amarah dan kesedihan yang bercampur, ia mampu bersikap tenang mendengar penjelasan Rakma.


“Jadi ki sanak yang bernama Rakantara Gandakusuma?”


Raka mengangguk.


“Ada hubungan dengan Pangeran Arya Gandakusuma?”


“Beliau adalah ayahanda saya,”


Tumenggung itu memicingkan matanya. Ia berpikir dengan sangat panjang. Lalu berkata, “Pergilah.”


Raka dan Amara segera meminta diri setelah memberi penghormatan terakhir kepada pemuda yang tewas itu.


Di perjalanan pulang Amara bertanya, “Ia tidak akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja, bukan?”


“Ya. Ia merencanakan membalas dendam. Mulai saat ini kau harus lebih waspada dan menahan diri, Mara.”


“Padahal si Tombak Setan itu yang membunuhnya,” ujarnya sambil menghela nafas.


“Eh? Kau kenal siapa lelaki itu?”


“Tentu saja. Begitu melihat bagaimana tombak itu menembus kerongkongan manusia tanpa belepotan darah


sedikit pun, aku langsung tahu siapa dia. Di dunia ini tidak ada orang yang memiliki ilmu tombak setinggi dia.”


“Benar. Mara tentu pernah mendengar ujaran-ujaran tentang dirinya,” tukas Raka.


“Ya. Dia tidak pernah membunuh orang tanpa alasan. Jika ia membunuh orang, maka orang itu memang pantas mati.”


“Benar sekali.”


“Jadi apakah si Tombak Hantu membunuh pemuda itu karena ia membokongku, atau karena ada hal lain yang kita


tidak tahu?” tanya Amara penasaran.


“Entahlah. Pertanyaan yang paling penting adalah mengapa Tombak Setan berada di sini?”


“Mungkin ia pun mengincar kitab ‘itu’”


Raka tidak menjawab apa-apa, pikirannya telah berjelajah entah ke mana. Amara mencoba menyelami isi hati


kakak satu-satunya itu. Ia lalu bertanya, “Siapakah yang lebih cepat?”


Raka hanya tersenyum. Justru Amara lah yang menjawab sendiri, “Sentilan kerikil kakang Raka datang lebih


dulu.”


“Tetapi kerikil jauh lebih ringan daripada tombak,” bantah Raka.


“Bukankah itu saja sudah cukup? Kakang Raka sudah dapat mengalahkannya dengan itu saja.”


“Aku belum mengerahkan segenap kekuatanku. Dan aku yakin ia pun belum mengerahkan segala kekuatannya.”


“Aku yakin kakang Raka yang akan menang.”


Raka hanya tertawa. Selama ini memang ia belum pernah memikirkan kehebatan orang lain. Bahkan ia tidak pernah memikirkan kehebatan dirinya sendiri. Tombak Setanlah orang pertama yang membuatnya berpikir tentang hal ini.


Sukma Harum mengantarkan adiknya sampai ke pelabuhan. Ternyata Amara sudah memesan kapal kecil yang memang disewakan pelayan setempat. Pelabuhan sangat ramai saat itu karena banyak sekali pendekar yang akan berangkat sore itu juga. Memang pelaut biasanya berlayar di malam hari tetapi saat ini banyak pendekar yang sudah tidak sabaran untuk segera brangkat ke Pulau Sepingkan di Laut Selatan.


“Hati-hatilah di jalan, Mara. Selalu waspada, dan jangan udah percaya dengan orang lain,” ujar Raka melepas


kepergian adik semata wayangnya itu.


“Kakang Raka selalu berkata seperti itu setiap kali kita berpisah,” tawa Amara. Segera ia menaiki kapal


kecil itu. Kuda kesayangannya sudah ia naikkan lebih dulu.


Raka menepuk punggung adiknya itu dengan penuh sayang, tetapi wajahnya berpura-pura sewot, “Nanti kalau ada


apa-apa, kakangmu lagi yang kau repotkan.”


“Ah, itu memang sudah suratan takdir, kakang.”


Keduanya tertawa.


Kapal pun berangkat di pelabuhan yang ramai. Sukma Harum berdiri di pinggir pantai sampai kapal yang ditumpangi adiknya itu sudah tidak terlihat lagi. Meskipun ia sangat mempercayai kemampuan


silat dan kanuragan adiknya, tetap saja hatinya merasa was-was.


Ia kemudian bergegas kembali ke rumah makan tempat tadi ia menyantap makan siangnya. Namun tepat di depan rumah makun itu, tangannya mengambil sesuatu di balik bajunya. Dengan satu jentikan jari, benda kecil itu ia lontarkan ke udara. Benda itu terbang tinggi jauh sekali lalu meledak di udara.


Blaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!


Muncul cahaya kehijauan yang bersinar terang meskipun matahari sore masih bersinar. Orang-orang di keramaian


kota itu sangat kaget dan mencari tahu sumber ledakan. Setelah melihat ke atas, mereka bertanya-tanya cahaya apa yang bersinar terang di angkasa.


“Bintang jatuh!”


“Santet!”


“Kiamat!”


Macam-macam ungkapan orang-orang. Lama-lama mereka bubar sendiri karena kemudian cahaya hijau itu menghilang tak berbekas.


Sukma Harum sudah masuk ke dalam rumah makan dan memasan sebotol arak. Ia paling suka minum arak untuk melonggarkan urat syaraf dan rasa penat.


Belum habis sebotol arak, tahu-tahu Anjani telah duduk di hadapannya.


“Cepat juga,” senyum Sukma Harum.


“Setelah melihat suar hijau yang raden nyalakan, saya segera berangkat kemari. Tepat dibawah suar itu, ada rumah


makan mewah ini. Kupikir raden pasti berada di sini,” jelas Anjani.


Sukma Harum lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Amara serta kabar mengenai kitab itu. Ia lalu


bertanya, “Kau membawa burung merpati pos?”


“Bawa. Ia kusimpan di dalam kereta. Pesan apa yang ingin raden kirimkan? Dan kepada siapa?”


“Siapa pendekar kita yang paling dekat di sekitar sini?” tanya Sukma Harum.


Anjani berpikir sebentar lalu berkata, “Sutarangga. Setahuku ia ditempatkan di kota ini untuk menjaga gudang-gudang garam milik Gusti Raden.”


Yang dimaksud Gusti Raden adalah ayah dari Sukma Harum.


“Bagus. Ajaklah dia lalu sewalah sebuah kapal untuk berangkat ke Pulau Sepingkan. Aku ingin kalian berdua


menjaga Amara dari jauh. Seringlah mengirimkan kabar tentang perkembangan di


sana!”


“Baik. Segera saya laksanakan, raden!”

__ADS_1


“Terima kasih. Bergegaslah!”


__ADS_2