
Sukma Harum menghimpun segenap kemampuan ilmu meringankan tubuhnya untuk melakukan gerakan ini. Tidak ada satu pun biji mata manusia yang dapat menangkap bayangan gerakan ini. Tubuhnya meluncur deras ke dalam jurang.
Tetapi Raka merasa tubuhnya melayang sangat lamban. Dunia seolah bergerak dalam gerakan lambat. Daun-daun yang berguguran seperti memutuhkan waktu ribuan tahun untuk sampai ke tanah. Angin seolah berhenti mendesir. Waktu seolah-ilah berhenti sedangkan tubuh pendekar itu melayang turun menghenpas ke dalam jurang.
Ia percaya.
Percaya bahwa segala yang dilakukannya tidak sia-sia.
Percaya bahwa nanti akan ada seseorang atau sesuatu yang menangkapnya saat ia jatuh.
Bagaikan sahabat sehidup semati. Bagaikan kawan senasib sepenanggungan. Bagaikan teman yang selalu ada di dalam setiap kesulitan.
Hanya orang yang benar-benar memiliki sifat seperti ini yang mampu mengharapkan sifat yang sama dalam diri orang lain.
Karena jika kau seorang yang khianat, maka kau tak pernah berharap orang lain akan memegang janji untukmu.
Karena jika yang kau selalu utarakan adalah kebohongan, maka kau tak akan pernah berharap orang lain memberikan kebenaran kepadamu.
Karena itu ia sangat menikmati jatuhnya ini, karena ia sangat yakin pada apa yang ia percayai.
Lalu tubuhnya tidak lagi meluncur turun.
Kini ia telah mendarat pada sesuatu yang sangat empuk.
Jika tadi ia jatuh, kini malah ia terbang ke atas.
Cakrawala, sang sahabat sejati telah muncul.
Burung rajawali raksasa yang merupakan sahabat kepercayaannya.
“Apa kabarmu, kawan?” bisik Raka.
“Kaoook!” suaranya lirih. Mungkin karena burung itu tahu temannya sedang bergerak secara rahasia.
“Terima kasih sudah datang. AKu benar-benar sangat membutuhkan bantuanmu!”
Cakrawala melayang menembus awan dengan sangat cepat. Kegelapan malam menutupi gerakannya yang luwes. Sayapnya mengepak lebar seperti ingin meraih rembulan di atas sana. Raka menyentuh leher sang rajawali untuk mengendalikan arah.
Tak lama mereka sudah dekat dengan tempat yang dituju. Kembali Raka berbisik, “Terima kasih. Jika kita bertemu kembali aku akan mentraktirku dengan seekor kerbau gemuk yang utuh. Bagaimana?”
“Kaoook!” suara itu lirih namun tegas.
Cakrawala meluncur ke bawah dengan sangat cepat. Seperti sengatan kilat yang membelah langit, tetapi tanpa suara. Hanya ada desiran angin yang bertiup melalui bulu-bulunya yang coklat keemasan.
Raka lalu melompat berjumpalitan!
Lalu tubuhnya meluncur pula ke bumi meninggalkan tunggangannya yang perkasa.
Luncuran yang jauh lebih cepat karena mendapat dorongan tenaga dari luncuran milik Cakrawala. “Wuuuuuuuushhhhhhhhhhhh!”
Tubuhnya bagai menghujam bumi, lalu tahu-tahu luncuran itu seperti berhenti di tengah jalan. Untuk kemudian melambat dan melayang turun dengan perlahan. Siapa pun di muka bumi akan mengakui kalau inilah ilmu meringankan tubuh yang pernah dimiliki oleh manusia.
Tubuh itu meluncur dengan lembut bagai sehelai kapas yang tertiup angin. Lalu mendarat di atas ranting pohon yang rindang namun sangat tinggi. Bahkan rantik itu tidak bergerak seolah tidak ada satu pun benda yang menghinggapinya. Tidak ada dedaunan yang bergoyang atau gugur. Tidak ada hewan malam yang terbangun karena terkejut. Malam sunyi senyap seperti biasa.
Lolongan serigala membelah kesunyian malam saat Sukma Harum sudah duduk bersila ditutupi rerimbunan pepohan. Duduk di atas sini, ia bisa memperhatikan sekeliling tanpa ada seorang pun yang tahu. Bahkan hewan malam yang bermata tajam sekalipun tidak akan bisa memergokinya duduk di sana.
Ia lalu tidur dengan pulas dalam keadaan bersila.
Langit malam masih gelap. Bayangan fajar masih belum kelihatan. Mungkin masih jauh sekali. Tetapi bayangan itu pasti akan datang. Seperti harapan.
***
__ADS_1
Sudah dua hari ia berada di atas pohon. Hanya makan buah-buahan yang ia petik diam-diam. Apa yang ditunggunya?
Menjelang siang hari, ternyata yang ditunggunya pun tiba.
Sukma Harum berada di atas rerimbunan pohon yang tak jauh dari pekuburan. Sebuah pekuburan yang beberapa hari lalu ia kunjungi.
Pekuburan keluarga Damara.
Kenapa ia kembali ke sini?
Karena ia ingin menemui seseorang.
Siapa orang itu?
Seorang wanita. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Masih cantik. Walaupun tubuhnya tidak lagi kencang. Kecantikannya alami.
Ia datang ke sana membawa bunga-bunga untuk ditaburkan di atas kuburan.
Ketika Sukma Harum mengunjungi makam itu pertama kali, ia memperhatikan bahwa tanaman di sana terawat rapih. Nisannya bersih dan terawat. Dalam perkiraannya tentu paling tidak sebulan sekali ada orang datang merawat pekuburan itu. Dan menurut perhtungannya pada saat itu, tentu orang yang merawatnya akan datang dalam beberapa hari ini. Karena, dalam perhitungannya pula, sudah saatnya perawatan tanaman, rerumputan, dan nisan itu.
Tidak disangkanya bahwa orang yang merawatnya adalah perempuan yang cukup menarik. Ia mengira perawat kuburan itu adalah nenek-nenek tua.
Wanita itu dengan telaten membersihkan dan menata kembang-kembang.
Sukma Harum menampakkan dirinya dari jauh agar wanita itu tidak kaget.
“Sampurasun,” sapa Sukma Harum.
Wanita itu tidak kaget karena dari jauh ia sudah melihat kedatangan lelaki itu. Ia hanya terhenyak, seolah pemilik tampang itu bukan manusia. Seumpama ia sedang berhadapan dengan malaikat langit.
“Rampes,” jawabnya diiringi nada keheranan. Seolah bertanya “Siapa kau?”
“Nama saya Raka.”
“Oh den Raka? Yang beberapa hari lalu datang kemari itu?”
“Sekarang kok kembali lagi? Masih ada keperluan apakah?”
“Saya ingin bertemu dengan neng.”
“Aduh saya mah udah nyai-nyai, jangan dipanggil neng…,”
“Eh? Maaf kalau begitu. Saya tidak menyangka….,” Sukma Harum pura-pura tidak meneruskan kata-kanya.
Perempuan di mana pun di muka bumi ini sangat suka dikira masih muda.
“Ada apa ingin bertemu saya?” tanya perempuan itu tersipu.
“Hanya ingin bertanya sedikit tentang keluarga Damara. Apakah boleh?”
Wanita itu menghela nafas. “Ada pertanyaan apakah?”
“Nyai ada hubungan apakah dengan keluarga Damara?”
“Kakak saya adalah istri dari tuan Damara.”
Sukma Harum diam saja seperti menunggu wanita itu meneruskan ceritanya. Jika seorang lelaki pintar mendengarkan, maka ia akan disukai perempuan.
“Kakak saya menikah dengan tuan Damara saat ia berumur 18 tahun. Sedang aku berumur 9 tahun saat itu. Saya diajak oleh kakak saya tinggal di rumah itu untuk membantu-bantu segala keperluannya.”
“Apa saja tugas nyai pada saat itu?”
“Memasak. Bantu bersih-bersih. Juga semua keperluan kakak. Juga menemani anak tuan Damara yang sulung.”
“Maksudnya den ayu Tria?”
__ADS_1
“Oh bukan. Saat tuan Damara menikah dengan kakak saya, ia adalah seorang duda. Ia punya seorang anak laki-laki berusia sekitar 2 tahunan pada saat itu. Istrinya meninggal saat melahirkan anak itu.”
Dalam hati Sukma Harum terhenyak.
“Di mana anak itu sekarang?”
“Hilang pada saat masih kecil…., sekitar umur 13 tahun.”
“Eh?”
“Anak itu sangat baik dan ramah. Pintar pula. Dia sangat suka pada kucing. Suatu hari kucing peliharannya hilang. Kami semua mencari kucing itu kemana-mana. Den bagus juga mencarinya. Tapi kucing tidak ketemu, den bagus juga hilang.”
“Diculik orang?”
“Tidak. Kami menemukan sandalnya di tepi jurang. Nampaknya ia terperosok jatuh ke jurang lalu hanyut terbawa sungai deras di bawah sana. Sampai berminggu-minggu warga mencarinya tetapi tidak ketemu….,”
“Siapa nama den bagus itu?”
“Namanya Raden Bagus Nataprawira.”
Sukma Harum menghela nafas dan terlihat ikut sedih pula. “Kasihan sekali nasibnya.”
Bahkan nasib seluruh keluarga itu pun sangat menyedihkan.
“Iya. Anak itu sangat baik. Penurut pula. Ayahnya tidak mau menganggapnya meninggal. Ia hanya dianggap pergi. Suatu saat diharapkan pulang kembali. Karena itu kamarnya saat itu selalu dirapikan dan diberishkan. Takut-takut kalau ia pulang.”
“Nyai tinggal di rumah itu sampai kapan?”
“Sampai kakak saya meninggal kira-kira 5 tahun setelah hilangnya Den Nata. Sebelum dia meninggal, saya masih tinggal di sana. Menjadi penjaga anak-anaknya, Den Tria dan Den Reksa. Sampai usia Den Tria sekitar 14 atau 15 tahun baru saya keluar dari rumah itu.”
“Bagaimana sifat mereka pada saat itu?” tanya Sukma Harum sambil tersenyum seolah mengingat kenakalan anak-anak.
“Den Tria luwes orangnya. Bersahabat dengan siapa saja. Tapi jagan sampai membuat dia marah. Dia bisa jadi sangat galak,” tawa wanita itu.
“Kalau Den Reksa sudah sakit-sakitan sejak lahir. Lebih banyak berada di tempat tidur. Mungkin karena sakitnya itu ia selalu murung. Tapi ia adalah anak yang sangat cerdas. Ia bisa mengetahui begitu banyak hal padahal ia jarang sekali beranjak dari tempat tidur.”
Hmmmm. Menarik.
“Maaf. Apakah dia bisa berjalan atau….,”
“Ya. Bisa sedikit-sedikit. Tapi tubuhnya lumpuh sebelah. Katanya kalau berjalan itu sekujur tubuhnya terasa sakit. Jadi ia lebih sering berbaring. Tapi jangan salah, ia sangat tertarik dengan ilmu silat. Terkadang ayahnya mengundang guru silat atau pendekar dunia persilatan hanya untuk bersilat di depannya atau sekedar mengobrol dengannya membahas ilmu silat dan dunia persilatan.”
“Oh begitu.”
Tak terasa Raka memandang bunga-bunga yang baru dibersihkan dan diganti dengan yang baru. Bunga-bunga kering yang getas, yang hanya teronggok di pojokan.
“Eh, aden kenapa melamun?” tanya wanita itu.
Ingin Sukma Harum bercerita tentang kematian Den Ayu Tria. Juga tentang keadaan Den Bagus Reksa kepada nyai itu. Tetapi hatinya tidak tega.
“Kemana saja Den Reksa pergi berobat saat itu?”
“Ke berbagai tempat. Ke berbagai padepokan dan perguruan orang-orang sakti. Juga tabib-tabib ternama. Walaupun ia murung dan sakit-sakitan, semangatnya untuk sembuh itu sangat kuat. Den Ayu sering juga menemaninya ke mana-mana, karena nona itu memang suka jalan-jalan dan ketemu orang-orang.”
Lanjutnya, “Pada awalnya masih dikawal orang. Tapi semakin dewasa dan ilmu silat Den Tria sudah mumpuni, kadang malah hanya dikawal satu kusir kereta saja.”
Sedikit banyak Sukma Harum sudah memiliki gambaran tentang seluruh kejadian ini. Semua keterangan-keterangan penting sudah didapatkannya.
Ia mengeluarkan beberapa keping emas lalu diberikannya kepada nyai itu sambil berkata, “Semua keterangan nyai sangatlah membantu penyelidikan ini. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk saya. Mohon ini terima lah sebagai bentuk rasa terima kasih. Maafkan jika jumlahnya tidak seberapa.”
Nyai itu menerimanya dengan penuh rasa terima kasih.
Sukma Harum segera bergegas dari sana, ia menghilang dalam rerimbunan pepohonan.
“Orang itu tampan sekali. Dia malaikat atau hantu gentayangan?”
__ADS_1