
Sukma Harum membuka matanya.
Ia berada di dalam sebuah goa. Tergeletak di atas sebuah batu yang berbentuk bagai meja.
Dilihatnya di pinggiran ada gurunya sedang duduk mengawasinya. Wajah itu sangat tampan. Wajah yang sangat dirindukan Sukma Harum beberapa tahun ini. Meskipun berusia sudah 70 tahunan lebih, uban di rambut sang guru hanya satu dua. Tatapan matanya masih bersinar cerah. Hanya ada sedikit garis keriput di wajahnya yang malah membuatnya semakin berwibawa. Tubuhnya tinggi tegap seperti pemuda yang gagah.
Inilah sang Satria Malam.
Manusia paling berbakat dalam ilmu silat dan kanuragan, yang sama sekali tidak pernah bertarung karena tak seorang pun yang dapat menyamai tingkatan ilmunya.
“Kau sudah sadar, anak bodoh?”
“Guru, sembah hormat, terima kasih atas…” Raka mencoba bangun untuk bersoja (memberi hormat) kepada gurunya.
“Berbaringlah dahulu. Kau masih lemah. Mengapa repot dengan segala tata krama segala? Kau ternyata masih belum pintar juga.”
“Sudah berapa lama ananda murid pingsan, guru?” tanya Raka.
“Sudah dua hari. Ilmumu lumayan juga. Bisa menghadapi keroyokan-keroyokan mereka.”
“Siapa orang buruk rupa itu, guru? Ilmunya sangat hebat.”
“Aku juga tidak kenal. Kusuruh pergi, ia menurut saja,” tawa sang guru.
“Ilmu kanuragannya sangat mengagumkan.”
“Halah. Cuma ilmu mainan anak-anak. Aku justru datang kemari adalah untuk mengajarkan kau ilmu kanuragan yang baru kuciptakan.”
“Eh iya, guru kenapa bisa tahu-tahu muncul di sini?” tanya Raka.
“Hampir setahun yang lalu, aku menciptakan sebuah ilmu kanuragan. Selama ini aku percaya bahwa ilmu silat biasa mampu mengalahkan ilmu kanuragan, asal dilatih dengan baik. Dan sampai sekarang aku masih percaya itu. Dan aku sudah membuktikannya dengan melihat pesatnya perkembangan dirimu. Tanpa ilmu kanuragan, kau dapat menorehkan nama besar di dunia persilatan. Bahkan mampu mengalahkan pendekar-pendekar hebat seperti tadi. Jika tadi kau tidak kedahuluan kehabisan tenaga dan terluka dalam, aku yakin kau mampu mengalahkan si buruk rupa itu dengan ilmu silat dan akal bulusmu.”
Lanjut sang guru, “Nah, kurasa ilmu ini gubahanku yang baru ini cocok untukmu. Tetapi berhubung sulit mencarimu yang selalu berkelana, apalagi sekarang sudah bisa naik burung pula, maka aku bersemedhi saja meminta ilham dari langit. Tak tahunya beberapa bulan yang lalu para dewata menuntun langkahku ke daerah ini. Dan menemukan goa yang nyaman ini.”
“Oh jadi kita masih di daerah kawah Rengganis, guru?”
Sang guru hanya mengangguk. Lalu berkata, “Kau istirahatlah dan makan yang banyak. Besok kita mulai pelatihannya.”
***
“Ilmu ini kunamakan ajian Wihaya Waksudha. Ilmu kanuragan ini mengambil segala yang ada di semesta ini menjadi inti kekuatannya. Petir, angin, air, api, tanah. Semuanya.”
Wihaya Waksudha berarti “Langit dan Bumi”.
“Seluruhnya ada 7 tingkatan. Tingkatan pertama, mengambil inti kekuatan Angin. Pada tingkatan ini kau dapat menciptakan gelombang udara yang sangat besar sehingga mampu mendorong musuh-musuhmu tanpa menyentuh mereka.”
“Tingkatan ke-2, mengambil inti kekuatan Api. Telapak tanganmu dapat kau panaskan sehingga baja yang sangat keras dan meleleh hanya dengan disentuh.”
“Tingatan ke-3, mengambil inti kekuatan Tanah. Tubuhmu dapat kebal dari berbagai macam senjata baik tajam maupun tumpul.”
“Tingkat ke-4, mengambil Petir sebagai inti kekuatannya. Dari mulutmu, kau dapat mengeluarkan suara yang menggelegar sehingga bisa menghancurkan gendang telinga dan mencopot jantung manusia.”
“Tingkat ke-5, adalah inti Air. Air adalah sumber kehidupan. Karena itu di dalam tingkatan ini, kau dapat menyembuhkan dirimu dengan cepat. Luka dalam dan racun, semuanya dapat kau sembuhkan dengan cepat. Tetapi kau tidak dapat enyemuhkan orang lain dengan ilmu ini. Hanya dirimu sendiri.
“Tingkat ke-6, adalah gabungan dari keseluruh tingkatan ini. Inilah puncak tertinggi dari ilmu itu.”
“Sebenarnya dalam semedhiku untuk menyempurnakan ilmu kanuragan ini, aku mendapat ilham dewata bahwa masih ada tingkatan ke 7. Tetapi aku sendiri belum sanggup mencapai tingkatan itu. Bagaimana bentuknya, berupa apa wujudnya, aku sama sekali tidak ditampakkan di dalam semedhiku.”
Sang guru menjelaskan dengan panjang lebar, Sukma Harum mendengarkan dengan seksama.
“Setiap tingkatan dilatih selama 50 tahun untuk orang awam. 25 tahun untuk pendekar dengan dasar silat yang bagus. Dengan bakat yang sempurna, dan akal yang cerdas, juga dengan petunjuk dariku, aku yakin kau dapat menguasai tingkatan pertama ilmu ini dalam beberapa hari,” tukas sang guru.
“Nah, sekarang mulailah. Hari ini kau harus puasa. Tiga hari tiga malam tidak boleh makan dan minum. Bertapa dan bersemedhi mengatur tenaga. Nanti aku ajarkan cara membuka chakra dan Meridian rahasia yang selama ini belum sempat terbuka.”
__ADS_1
Begitulah Sukma Harum memulai pelatihannya dengan dibimbing oleh sang guru yang mahasakti. Bersemdhi, mengatur jalan nafas dan tenaga, serta embuka titik-titik rahasia di dalam tubuh yang tak pernah diketahui manusia manapun di dunia ini. Hanya berdasarkan ilham atau wangsit yang didapatkan sang mahaguru dari tapa dan semedhinya yang sangat khusyuk.
“Ucapkan mantra ini saat kau mengumpulkan tenaga dalammu,
Matahari adalah cahayaku,
Angin adalah nafasku,
Api adalah pembentukku,
Tanah adalah asalku,
Petir adalah suaraku,
Air adalah kehidupanku,
Langit dan Bumi adalah tempatku.”
Raka mengucapkan mantra itu berulangkali sambil mengerahkan tenaga. Semakin lama semakin dalam ia masuk ke semedhinya, ke dalam pusaran tenaga dalamnya sendiri. Kesadarannya memasuki alam yang berbeda. Tahu-tahu ia merasa sudah tidak berada di dunia nyata lagi.
“Jangan ikuti pusaran yang menarikmu!” tahu-tahu terdengar bentakan gurunya. “Lawan. Lawan tarikan itu. Lawan godaan itu!”
Sekejap Raka tersadar dan mencoba untuk melawan tarikan pusaran bawah sadar itu. Deras sekali arus itu menyeretnya tetapi akhirnya ia berhasil keluar dari tarikan itu.
Ia membuka mata dengan nafas tersengal-sengal.
“Pusaran tenaga itu menarikmu ke dunia yang lain. Ke alam yang lain. Ilmu kanuragan adalah ilmu yang membutuhkan kekuatan dan kesadaran dari alam yang lain. Kau harus mengendalikan tarikan dari alam itu, karena jika tidak, jiwamu bisa pindah ke alam lain dan kau tak akan selamat selamanya. Seumur hidup menjadi orang sekarat tanpa kesadaran,” jelas gurunya.
“Baik guru. Ananda murid mendengar,” jawab Raka menahan sesaknya dada yang terasa perih.
Tiga hari tiga malam Raka berlatih dengan penuh semangat. Setiap kali gagal atau salah melakukan sesuatu, gurunya selalu memperbaiki dan menyemangatinya. HIngga tepat pada malam ketiga, sebelum berbuka puasa, Raka berhasil menguasai tingkata pertama itu.
“Nah coba kau angkat batu itu dari jauh!” perintah sang guru.
Raka menjulurkan tangan ke depan. Ia mengerahkan pikirannya, lalu tahu-tahu batu sebesar kepala kerbau yang berada beberapa tombak darinya kini terangkat ke udara!
Raka melakukan seperti yang diperintahkan gurunya. Batu itu terdorong ke depan!
“Sekarang tarik batu itu ke arahmu!”
Raka melakukannya dan berhasil!
“Bagus kau sudah menguasai tingkatan pertama ajian Wihaya Waksudha! Aku bangga padamu!”
***
Sebuah kambing hutan yang dibakar dan diberi bumbuh rempah-rempah yang nikmat. Gurunya sendiri yang memasak hasil tangkapan Raka itu. Dalam hal memasak, Raka memang tidak mampu mewarisi kehebatan gurunya. Ia tidak ada bakat memasak sama sekali. Tapi jika berbicara tentang makanan enak, Raka tidak mau kalah dengan gurunya.
“Raka, kau tidak boleh makan makanan ini. Nanti aku jelaskan kepadamu.”
“Baik, guru,” kata Raka sambil menyuap lalapan daun yang pahit ke dalam mulut sendiri.
Sambil makan, gurunya bercerita,
“Ilmu kanuragan adalah ilmu yang menggunakan bantuan kekuatan alam gaib. Aku tahu kau tak percaya dengan alam gaib. Tapia lam itu memang ada.”
Raka diam mendengarkan. Sang guru melanjutkan,
“Saat Hyang Widhi, Yang Maha Satu, menciptakan alam semesta ini, ia juga menciptakan hukum-hukumnya, rahasia-rahasianya. Ia menciptakan ruang dan waktu. Ia menciptakan makhluk-makhluk untuk mengisi ruang dan waktu itu. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di langit yang luas di sana. Kehidupan seperti di dunia ini? Makhluk seperti kita? Ataukah makhluk yang jauh lebih cerdas, lebih tinggi ilmunya?”
“Jadi apa itu alam gaib, guru?” tanya Sukma Harum.
“Alam gaib adalah alam ciptaan Sang Hyang Widhi juga. Sebuah alam yang berbeda dengan alam kita. Aku percaya para dewa, iblis, dan jin semuanya adalah ciptaan Sang Hyang Widhi pula. Dia menempatkan mereka untuk hidup di alam itu. Jika manusia mati atau moksa, mungkin barulah ia memasuki alam itu.”
__ADS_1
Mati adalah meninggalkan tubuh kasar, dan rohnya berpindah alam. Sedangkan moksa adalah tubuh kasar beserta rohnya turut berpindah alam.
Sukma Harum tidak pernah percaya tentang adanya alam gaib. Juga tidak percaya dengan alam roh dan macam-macamnya. Ia percaya “sesuatu” menciptakan ala mini seperti apa yang ia lihat. Orang menyebut “sesuatu” itu sebagai Tuhan, Sang Hyang Widhi, dewa atau apa saja.
Terkadang a sendiri mengucapkan kata-kata itu kepada lawan bicaranya, karena hanya ungkapan itu yang mereka mengerti. Padahal di dalam hati, ia sendiri tidak begitu percaya.
Namun setelah berlatih ilmu kanuragan ini, dan ia sendiri terseret ke dalam arus gelap dunia gaib, ia mulai percaya akan keberadaan alam ini.
Gurunya lalu berkata, “Jangan pernah tergoda untuk memasuki alam ini, karena jika ilmumu tidak sampai, kau tak akan bisa pulang. Rohmu akan terperangkap di alam ini. Hanya mereka yang telah mencapai tingkatan batin tertinggi lah yang mampu menembus alam ini dengan selamat. Yaitu orang-orang yang telah mampu menjalani Tapa Brata untuk moksa. Pergi meninggalkan dunia fana.”
Lanjutnya, “Ilmu kanuragan ada berbagai macamnya. Ada yang benar-benar menggunakan bantuan makhluk alam gaib. Ilmu jenis ini adalah ilmu hitam. Memerlukan tumbal manusia, dan amalan-amalan jahat. Ilmu hitam selalu lebih sakti, lebih ganas, dan lebih buas. Cara mempelajarinya pun lebih gampang biasanya pantangannya tidak terlalu sulit dijalani. Untuk menaklukkannya tidak hanya dibutuhkan kesaktian yang tinggi, tetapi juga kecerdasan dan siasat.”
“Ilmu kanuragan yang putih, adalah yang mantranya berdasarkan puji-pujian kepada Tuhan. Tidak menggunakan bantuan makhluk alam gaib, melainkan hanya meminjam kekuatan alamnya. Melatihnya lebih sulit, dan pantangannya pun cukup banyak.”
“Kalau begitu, apa pantangan yang harus ananda murid jalani, guru?”
“Kau tidak boleh makan makanan yang bernyawa, mengerti?”
Dalam hati Sukma Harum menyesal. Lebih baik tidak usah belajar ilmu kanuragan segala kalau ia tidak boleh makan ayan panggang, bebek goreng, serta ikan bakar yang lezat. Tapi ia hanya menjawab, “Mengerti, guru.”
“Ingatlah selalu, ilmu kanuragan dapat mengalahkan ilmu silat. Tetapi ilmu silat pun dapat menaklukkan ilmu kanuragan. Di jaman dahulu, ada pendekar wanita yang cantik bernama Lasmini. Ia sangat sakti. Ilmu andalannya adalah sebuah ilmu kanuragan bernama Cipta Dewa.Ilmu ini merupakan gabungan dari ilmu-ilmu hebat di jaman itu. Tidak ada yang sanggup mengalahkan ilmu Cipta Dewa. Ternyata, ilmu itu tumbang oleh silat biasa, bernama jurus Srigunting milik Dewi Mantili.”
“Bagaimana caranya jurus Srigunting bisa menang, guru?”
“Ilmua Cipta Dewa mempunyai daya hancur yang sangat besar. Setiap kali digunakan, ia menguras habis tenaga Lasmini sedikit demi sedikit. Sedangkan ilmu Srigunting terilhami dari burung Srigunting yang lincah. Dengan menggunakan kelincahan meniru burung Srigunting, Dewi Mantili berhasil menghindari serangan-serangan Lasmini dan menguras habis tenaganya. Baru setelah Lasmini kehilangan tenaga, Dewi Mantili menyerangnya.”
“Ah, jadi begitu,” tawa Raka.
“Nah, kau lihat sendiri bahwa ilmu kanuragan pun tidak lebih hebat dari ilmu silat. Demikan pula sebaliknya. Tidak ada ilmu yang lebih hebat daripada ilmu lainnya. Semua tergantung bagaimana cara meggunakannya.”
Lanjut sang guru, “Walaupun kau menguasai ilmu kanuragan yang kuajarkan padamu ini, di lain tempat dan di lain waktu, pasti ada orang lain yang sanggup mengalahkan ilmumu itu. Jadi jangan pernah sombong dari merasa unggul diri saat memiliki ilmu yang tinggi. Bisa saja orang yang berilmu tinggi dikalahkan oleh orang yang tidak berilmu sama sekali.”
“Bagaimana bisa begitu guru?”
“Ilmu setinggi apa pun, tidak akan bisa mengalahkan NASIB BAIK. Misalkan kau bertarung dengan seorang yang tidak menguasai ilmu silat sama sekali, tetapi saat itu nasibnya sedang mujur, bisa saja ia mengalahkan kau. Entah mungkin saat bertarung kau tersambar petir, atau gempa bumi menelanmu, kau tidak bisa mengalahkan nasib.”
“Oh, betul juga,” Raka tersenyum mengerti. Ia lalu bertanya, “Adakah cara agar selalu bernasib baik?”
“Tidak ada jaminan berhasil. Tetapi kau dapat berusaha mendapatkan nasib baik dengan cara terus berlatih, dan terus berbuat baik. Karena karma yang baik, hanya datang ke pada orang yang baik. Berilmu dan berakhlak. Itulah cara mendapatkan nasib yang baik.”
“Ananda murid mengerti, guru.”
Sepanjang malam sampai siang, sampai malam lagi, gurunya terus memberi pengajaran dan pemahaman kepada Sukma Harum sampai ia benar-benar hafal dan ingat semua tingkatan ilmu Wihaya Wakshuda.
“Setiap menguasai satu tingkat, kau harus melatih tingkatan itu terus-terus menerus selama satu tahun. Jika terburu-buru, kau tidak akan naik ke tingkat berikutnya. Karna itu tetaplah bersabar dan bersamangat.”
“Baik, guru. Ananda ingin bertanya. Mengapa saat ini jarang sekali orang yang menguasai ilmu kanuragan?”
“Memang betul. Itu karena menguasai ilmu kanuragan adalah sangat berat. Selain latihannya berat, pantangnnya juga berat. Semakin sakti ilmunya, semakin berat juga pantangannya. Kau pikir berpantang makan daging itu mudah? Sangat sulit. Ada lagi ilmu yang berpantang tidak boleh tdur dengan perempuan, tidak boleh tidur tengah malam, dan masih banyak lagi. Karena syaratnya yang berat inilah, orang lama-lama meninggalkan ilmu kanuragan dan lebih beralih kepada ilmu silat. Toh ilmu silat pun bisa mengalahkan ilmu kanuragan,” jelas sang guru.
Lanjutnya, “Dan satu lagi. Setiap ilmu kanuragan memiliki kelemahannya. Ada ajian yang bisa buyar kalau terkena siraman air mawar, ada ilmu yang bisa hilang gara-gara dipukul dengan daun kelor, ada yang kekebalannya bisa ditembus dengan senjata yang terbuat dari emas atau perak. Macam-macam.”
“Ajian Wihaya Waksudha ini apakah kelemahannya guru?”
“Kelemahannya adalah jika kau berlatih terlalu dalam, dan ilmumu menjadi terlalu tinggi, maka ilmu ini akan memakanmu dari dalam. Ketahuilah bahwa ilmu ini akan menggodamu untuk menjadi semakin hebat dan semakin hebat. Menggodamu untuk menjadi pendekar tanpa tanding. Hingga pada akhirnya, ilmu ini sendiri yang akan menelanmu.”
“Sampai di mana batas terlalu tinggi dan terlalu dalam, guru?” tanya Raka lagi.
“Untuk masalah itu, hanya kau yang mengerti. Hanya kau yang sanggup mengukur.”
“Baik, guru. Ananda murid mengerti.”
“Nah, sekarang ada hal yang sangat penting yang ingin kusampaikan kepadamu. Alasan mengapa aku mencarimu sampai kemari.”
__ADS_1