Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 9: Pertemuan


__ADS_3

Fajar sudah menyingsing. Malam yang gelap gulita perlahan berubah menjadi hari yang terang benderang. Begitu


pula kehidupan manusia. Waktu akan mengubah segalanya.


Entah waktu menunjukkan jam berapa. Entah kini ia berada di mana. Langkahnya tegar dan pasti. Namun ia


melangkah dengan tenang. Seolah ingin menikmati keberadaannya di tempat pembuangan itu.


Hutan begitu lebat. Cahaya matahari yang baru saja muncul masih kesulitan menembus rimbunnya pepohonan.


Tanah terasa masih basah oleh embun yang menyegarkan. Tetapi kegelapan selalu membayang dan kematian selalu mengintai.


Di depan sana terlihat sebuah perkampungan yang dikelilingi pagar tinggi. Pagar ini terbuat dari batang-batang


pohon yang kokoh. Bagian atasnya dibentuk runcing dan juga dipasangi duri-duri dan kawat beracun.


Seluruh penghuni lembah ini tentu dapat melewati pagar itu dalam sekali atau dua kali lompatan. Sukma Harum lalu


menyadari, pagar itu dibuat bukan untuk menahan orang luar agar tidak dapat masuk, melainkan untuk menutupi apa yang ada di balik pagar itu.


Memangnya apa yang ada di balik pagar itu?


Dengan satu loncatan, Raka sudah melayang tinggi. Lalu tiba-tiba badannya seperti berhenti di udara dan turun


dengan perlahan. Dengan begitu ia dapat memperhatikan apa yang ada di balik pagar tinggi itu.


Matanya tercengang.


Sebuah daerah yang sangat indah dengan taman yang besar dan asri. Ada kolam dan air mancur. Bunga-bunga tumbuh dengan indah dan sangat terawat. Seperti melihat taman surge yang tersembunyi dibalik neraka.


Menggunaan ilmu meringankan setinggi itu tidaklah mudah. Raka hanya dapat bertahan sekitar 10 detik sebelum


akhirnya tubuhnya melayang kembali turun ke bumi. Ia menarik nafas panjang. Tempat seindah itu di dalam Lembah Iblis, namun tidak ada seorang pun yang datang kemari. Tentu ada rahasianya.


Kemungkinan terbesar yang muncul di dalam pikirannya adalah bahwa tempat ini menyimpan perangkap dan senjata rahasia yang sangat mematikan. Bagaimana menerobosnya jika ia tidak puya pengetahuan tentang wilayah itu? Bagaimana menembusnya jika ia tidak tahu apa yang tersembunyi dibalik keindahannya yang memukau?


Sukma Harum mengambil keputusan.


Ia melangkah ke depan gerbang pagar itu dan mengetuknya.


Setelah menunggu beberapa saat, tahu-tahu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Begitu ia melangkahkan kaki,


sebuah panah meluncur dengan sangat cepat ke arah tenggorokannya!


Clap!


Panah itu tertahan oleh 2 jarinya yang menjepit erat. Ujung anak panah itu hanya setipis rambut dari tenggorokannya. Di panah itu ada tertulis sebuah pesan, “Selamat Datang.”


Jika begini cara mereka menyambut tamu, tentu bisa diduga ada berapa banyak tamu yang sudi mampir kemari. Raka menyusur jalan setapak yang dilapisi bebatuan kerikil yang lembut. Di ujung sana terlihat sebuah istana yang mewah. Meskipun istana ini terbuat seluruhnya dari kayu, tapi kemegahannya tidak kalah dengan bangunan mewah di luaran.


Bunga-bunga dan tanaman yang indah berjejer begitu rapih dan tertata. Rumput yang lembut memenuhi taman


sampai ke ujung paling belakang.


Raka menajamkan seluruh inderanya. Ia paham, satu langkah yang keliru atau satu gerakan yang salah


dapat membawanya pada bahaya yang amat besar. Tetapi ia melangkah dengan santai dan begitu percaya diri. Seperti seorang lelaki yang memasuki halaman rumah megah yang baru saja dibelinya.


Seorang laki-laki memang hanya memerlukan kepercayaan dirinya. Jika ia tidak punya tampang, juga tidak punya


uang, maka ia tidak boleh tidak punya kepercayaan diri. Karena kepercayaan diri seorang laki-lakilah yang dapat membuatnya bertahan hidup di dalam dunia yang kejam.


Jika kau percaya kepada kemampuanmu sendiri bahkan ketika kau tidak memiliki apa-apa, bahwa kau sanggup

__ADS_1


menghadapi apapun di dunia ini dengan tenang dan akal yang cerdik, maka hal apa pula yang tidak sanggup kau hadapi?


“Silahkan masuk,” terdengar suara dari balik pintu istana ketika kakinya menginjak undak-undakan bagian depan


istana itu.


“Terima kasih,” Sukma Harum lantas membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Selama ini ia selalu mengira dirinya telah melihat apapun di dunia ini. Telah mengalami berbagai macam hal


dan pengalaman di muka bumi. Tetapi hal yang berada di depannya ini baru sekali ini dilihatnya.


Puluhan perempuan sedang duduk dan berbaring dengan santai. Tidak ada satu pun dari mereka yang memakai baju. Tidak ada sehelai benang pun yang menutup tubuh mereka. Tidak ada satu pun yang jelek. Semua cantik rupawan. Tubuh montok menggirukan. Bagian yang seharusnya besar, besarnya sempurna. Bagian yang seharusnya kecil, kecilnya sempurna pula.


Sukma Harum tertawa. Katanya, “Kalian tidak kedinginan?”


Mereka semua tertawa dengan manja, bahkan hampir serempak mereka berkata, “Ada raden di sini, tentu kami


tidak akan kedinginan.”


Mereka lalu beramai-ramai mengeremuni Sukma Harum dengan manja. Tawa mereka, wangi tubuh mereka,


kecantikan mereka, daya tarik mereka, bagaikan sebuah topan badai yang menerjang dan menghempaskan jiwa. Laki-laki mana yang sanggup menghadapi godaan ini?


Sentuhan mereka begitu lembut. Ke bagian-bagian paling rahasia pada tubuh seorang lelaki yang perkasa. Bahkan


jika bangkai manusia dilemparkan ke dalam pusaran ini, asalkan ia laki-laki, maka kemungkinan besar ia akan bangkit kembali. Begitu besar daya tarik pusaran ini bahkan ia dapat menarik jiwa manusia kembali dari kematian.


Sentuhan itu begitu nyaman, desahan nafas itu begitu menggairahkan, bisikan-bisikan itu begitu memabukkan.


Lalu tahu-tahu semuanya berubah menjadi serangan yang mematikan. Dalam sekejapan mata, seluruh titik berbahaya di tubuh Sukma Harum telah diserang dengan begitu kejamnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindar dari serangan ini.


Tapi Sukma Harum bisa.


Karena ia adalah Sukma Harum.


Tubuh Sukma Harum telah melayang tinggi. Kini ia duduk dengan nyaman di atas kayu langit-langit bangunan.


Senyumnya tidak hilang.


“Mengapa kalian jahat sekali?” tanyanya penuh pesona.


“Karena jika tidak jahat, kami tidak akan dapat bertahan hidup.”


Sukma Harum dapat menangkap kesedihan di balik perkataan ini. Betapa benarnya ucapan itu. Ia memilih untuk


tidak berkata apa-apa lagi.


“Bolehkah aku bertemu dengan Gusti Masayu Renjani?” tanyanya kemudian.


“Kau harus dapat mengalahkan kami terlebih dahulu.”


Di tempat lain, Sukma Harum cukup mengeluarkan kujangnya dan menunjukkannya, maka seketika orang-orang akan gentar dan mundur. Tetapi ia dapat menduga, hal itu tidak akan berlaku di sini.


Wanita yang rela menjual harga dirinya, tentu juga akan rela kehilangan nyawanya. Karena harga diri seorang


wanita jauh lebih berharga ketimbang nyawanya.


Akhirnya ia melayang turun. Ia telah menghitung jumlah keseluruhan mereka. Ada 87 orang seluruhnya. Semua


memiliki ilmu silat yang tidak bisa dipandang enteng. Semua diperintahkan untuk membunuhnya.


“Bagaimana jika aku mengeluarkan kalian semua dari sini, dan kujamin hidup kalian akan aman tentram. Kucarikan

__ADS_1


kalian suami yang baik dan bertanggung jawab?”


Mereka semua tertawa dan mengjengek.


Sukma Harum kemudian menyadari, ada golongan perempuan yang justru tidak suka kehidupan yang tenang. Yang


mereka cari adalah petualangan. Yang mereka cari ada panggung pentas di mana mereka bisa menjadi apa saja. Melakukan apa saja. Memuaskan dahaga yang mereka sendiri kadang tidak mengerti.


Menghadapi perempuan seperti ini, seorang lelaki tidak akan sanggup melakukan apa-apa.


“Majulah,” katanya dengan dingin.


Mereka semua maju serempak. Tak ada seorang pun dari mereka yang ilmu silatnya rendahan. Mereka telah melatih ilmu mereka secara bersama-sama sehingga semua lubang dan semua titik tidak lagi dapat ditembus.


Sukma Harum melangkah. Setiap langkahnya ringan, namun sangat cepat. Tetapi dalam pandangan para wanita ini


ia bergerak sangat lambat. Mereka kecelik ketika ternyata dengan cara ini Sukma Harum dapat mengacaukan barisan serangan mereka.


Dengan jarinya yang kokoh, Sukma Harum menggengam rambut salah seorang dengan lembut. Tangan yang satunya pun melakukan hal yang sama pada wanita yang lain. Dalam satu kali gerakan, ia telah memintal rambut kedua orang itu menjadi satu kesatuan.


Ia bergerak menghindar ke samping saat 20 serangan mengancamnya. Langkah-langkahnya amat sulit diduga sehinga ke-20 serangan ini malah saling bertabrakan dan kocar kacir. Lalu tangannya bergerak lagi dan memintal rambut-rambut mereka lagi.


Begitu seterusnya sehingga dalam beberapa saat, ia telah berhasil memintal seluruh rambut mereka dalam satu


kesatuan!


Hal ini tentu membuat mereka tidak dapat bergerak, karena semua rambut mereka saling terikat.


Mereka tidak membawa pisau atau pedang. Menggunakan cakar pun tidak dapat memutus rambut tanpa mendatangkan rasa sakit.


Untuk menaklukkan wanita, kau harus menyerang titik mereka yang paling lemah. Kecantikan mereka. Rambut


adalah bagian dari kecantikan mereka. Jika kulit kepala mereka terlepas, maka mereka akan botak seumur hidup.


Sepanjang hayat mereka belum pernah mengalami hal seperti ini, sehingga kini mereka bingung apa yang harus


dilakukan.


“Di mana gustimu?” tanya Sukma Harum tegas.


Dengan berbarengan mereka menunjuk sebuah pintu dari antara beberapa pintu yang ada di sana. Dengan


santai Sukma Harum memasuki pintu ini. Ternyata pintu itu tersambung kepada sebuah lorong yang panjang dengan tangga menurun ke bawah.


Setelah menyusurinya, Sukma Harum menemui sebuah pintu yang cukup besar. Begitu ia membukanya dan melihat apa yang berada di dalamnya, jantung Sukma Harum seperti akan melompat keluar.


“Keparat Busuk!” serunya.


Orang yang disebut “Keparat Busuk” itu menoleh. Jantungnya seperti seolah melompat ke luar pula. “Kecoak


Kecil!”


“Haaaahaaaaa!” mereka tertawa berbarengan dengan saling menghambur. Setelah berpelukan sebentar, mereka


saling bertanya dengan berbarengan pula, “Mengapa kau ada di sini?”


Tawa pun menggema di dalam ruangan bawah tanah itu.


Orang di hadapan Sukma Harum ini bertubuh sangat besar. Tingginya hampir sekitar 2 tombak. Kepalanya botak


plontos. Janggutnya lebat dan menjuntai. Meskipun penampilannya awut-awutan, jenggotnya terlihat sangat rapi dan terawat. Warna hitam mengkilat dan terlihat bersih dan juga wangi.


“Sebaiknya kau yang bercerita lebih dahulu karena kau yang lebih dahulu berada di sini,” tukas Sukma Harum

__ADS_1


sambil tertawa.


“Baiklah!”


__ADS_2