Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 13: Seorang Lelaki


__ADS_3

“Kau tahu tentang Tuan Agung Tanabasa?”


Ini adalah kata-kata pertama yang didengar Antasena saat ia baru membuka mata di pagi hari.


“Oh? Renjani menyuruh kau pergi membunuhnya?”


Raka hanya menghela nafas sambil mengangkat bahu.


“Aku pernah bertarung dengannya. Beberapa kali kami bertemu saat aku berjalan-jalan ke luar. Aku tidak bisa


mengalahkannya, namun ia juga tidak bisa mengalahkanku.”


“Wah, tinggi sekali ilmunya. Ku rasa aku pun akan sulit mengalahkannya.”


“Aku sendiri heran mengapa ia bisa sampai dijebloskan ke lembah ini,” kata Antasena.


Wajah Sukma Harum mengeras. Begitu banyak hal yang harus ia lakukan, begitu banyak teka-teki yang harus ia


pecahkan. Terkadang ia sendiri bingung harus memulai dari mana. Antasena memandangnya lekat-lekat dan berkata, “Kau masih seperti yang dulu.”


“Apanya?”


“Jika bertemu orang lain, baik kawan atau lawan, wajahmu selalu riang gembira, seolah tak ada beban. Kau


begitu tenang dan kalem. Bagai anak gadis pingitan. Tapi saat sendirian, sifat aslimu kelihatan. Kau bagai induk ayam yang bingung mencari anak-anaknya,” tawa Antasena.


Ya. Di depan orang lain, Raka adalah seorang Sukma Harum yang tersohor. Sedangkan di hadapan sahabat


terbaiknya, Sukma Harum hanyalah seorang Raka.


“Mungkin aku menjadi seperti ini adalah gara-gara kenal dengan kau yang terus membawa sial,” tukas Raka sambil


tertawa pula.


“Sebenarnya apa saja yang harus kau lakukan?”


“Mari coba dihitung. Pertama, aku harus memecahkan teka-teki pembantaian sang putri. Kedua, aku harus mencari


kabar tentang adikku. Ketiga, aku harus memecahkan rahasia kabar bohong tentang kitab bhiksu Kampala. Keempat, aku harus mencari kakak seperguruan Renjani yang tak tentu rimbanya. Kelima, aku harus mengalahkan Tuan Agung Tanabasa tanpa membunuhnya. Keenam, sekarang seluruh orang di dunia persilatan menjadikanku


sebagai buronan.”


“Banyak betul urusanmu,” tukas Antasena sambil tersenyum pahit. Sukma Harum hanya menghela nafas. Tahu-tahu suasana menjadi hening.

__ADS_1


Lalu Antasena berkata dengan nada yang dalam, “Kau tahu, ada satu hal yang sangat aku benci darimu?”


“Tentu saja aku tahu,” tawa Raka dengan masam.


“Aku tahu kau tahu. Tapi kuulangi sekali lagi, dan lagi sampai kau benar-benar berubah. Yang tak kusukai darimu


adalah, saat bersenang-senang kau selalu mengajak orang lain. Tapi saat susah, kau tidak ingin seorang pun mengetahui, apalagi merasakan kesusahanmu,” seru Antasena seolah-olah ingin menghamburkan perasaannya.


Jika sahabatmu sedang mencurahkan perasaannya, yang boleh kau lakukan hanyalah diam mendengarkan.


Sukma Harum diam dan mendengarkan.


“Aku pun tahu, kau mendorongku untuk menikah dan hidup dengan mapan adalah karena kau tidak ingin aku terlibat menanggung kesusahanmu,” kali ini mata Antasena berkaca-kaca.


Tadi mereka tertawa-tawa penuh bahagia, kini suasana berubah menjadi sedih dan penuh perasaan. Apakah karena memang perasaan ini sudah dtanggungnya semenjak dahulu?


Persahabatan yang sejati, bahkan mungkin lebh kuat dari ikatan pernikahan. Karena kekasih atau istri dapat


meninggalkanmu dikarenakan sebab-sebab tertentu. Sedangkan seorang sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkanmu seburuk apapun keadaan yang kau hadapi.


Itulah kenapa sebagian kecil orang lebih mementingkan persahabatan mereka daripada cinta. Karena cinta dapat menghilang, sedangkan kesetiakawanan akan terus hidup selamanya. Menjadi legenda dan dibicarakan orang sampai akhir zaman.


Kata Raka, “Menikah dan berketurunan adalah cara terbaik mempertahankan kehidupan di muka bumi. Jika


Antasena menatap lekat-lekat wajah sahabatnya itu. Untuk sekian lama ia berpikir, “Kau pikir aku bisa kau


bodohi? Kau mendukungku untuk menikah dan berhenti bertualang agar supaya aku tidak terlibat petualangan-petualanganmu yang berbahaya. Kau ingin aku hidup tenang dan bahagia, sedangkan kau di luar sana pergi menempuh bahaya,” suaranya bahkan terdengar bergetar.


Raka tidak menjawab. Sahabatnya telah mampu menembus isi hatinya yang paling dalam.


“Mengapa kau begitu tega?” tanya Antasena.


Raka mengumpulkan segala kekuatannya, lalu ia akhirnya berkata, “Saat Sukma Harum berhasil menunaikan


tugas, yang terkenal adalah nama seorang Sukma Harum. Tak seorang pun mengenal Antasena. Padahal tanpa Antasena, tak secuil pun usaha Sukma Harum akan berhasil. Saat Sukma Harum berhasil menumpas kejahatan, yang terkenal adalah nama Sukma Harum, tak seorang pun yang mendengar kisah tentang Antasena yang


berjuang di sampingnya dengan gagah berani. Tanpa kau yang berjuang mengorbankan jiwa, apa jadinya seorang Sukma Harum?”


Antasena masih memandangnya dengan lekat, lalu berkata, “Jadi selama ini kau begitu pengecut dan tidak


berani mengatakannya? Mengapa kau korbankan persahabatan hanya demi rasa bersalahmu?”


Hening.

__ADS_1


Lanjut Antasena, “Kau pikir aku perduli dengan nama besar? Kau pikir pengorbananmu sendiri tidak berarti? Saat


dunia kacau balau, yang paling dicari adalah Sukma Harum. Saat ada orang mati terbunuh tanpa sebab, Sukma Harum lah yang harus mencari pelakunya. Saat seekor ayam hilang, atau celana dalam tuan putri raja hilang pun, Sukma Harum lah yang harus pergi mencarinya!”


Lanjutnya, “Berjuang bersamamu adalah sebuah kebanggaan. Tapi aku manut dengan doronganmu yang menyuruhku untuk berhenti bertualang dan mulai berkeluarga, karena aku tahu isi hatimu yang sebenarnya. Aku hanya ingin mendengarkan kata-kata itu langsung darimu.”


“Lebih baik aku berjalan sendirian di jalanan yang penuh bahaya tanpa sahabat, karena aku tahu sahabatku


kini sedang hidup tenang di rumah bersama kekasihnya,” tukas Raka.


“Sahabat macam apa pula yang membiarkan sahabatnya berjalan sendirian menempuh bahaya, sedangkan dirinya


sendiri hidup tenang di rumah bersama kekasihnya?” pertanyaan Antasena itu begitu dalam menghujam hatinya.


Kedua pemahaman mereka masing-masing sama benarnya. Yang satu tidak ingin sahabatnya terancam bahaya,


yang satunya lagi tidak ingin sahabatnya menempuh bahaya sendirian.


Lalu siapa yang salah?


Tahu-tahu Raka tertawa. Antasena memandangnya dengan heran.


“Obrolan kita pagi ini, jika salah didengar orang, maka mereka kan mengira kita adalah pecinta sesama jenis


yang sedang bertengkar.”


“Tidak sudi!” teriak Antasena jijik sambil tertawa pula.


“Mau kah kau membantuku?” tanya Raka.


“Sejak tadi aku sudah menunggu kata-kata ini,”


“Pergilah cari adikku. Bawa dia pulang, agar hatiku dapat tenang.”


“Sekarang juga aku berangkat!” Antasena bangkit dari duduknya dengan penuh semangat.


“Kau jangan mati di jalan,” tawa Sukma Harum.


“Kau juga jangan mati dalam pelukan perempuan. Hahahahaa. Aku pergi!”


“Pergi sana. Aku muak melihat tampangmu.”


Tak ada salam perpisahan. Mereka berpisah begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2