Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 11: Cerita Lama


__ADS_3

Kamar ini kosong. Sekosong perasaannya saat ini. Meskipun ia memang hanya menginginkan perempuan itu untuk


sekedar menemaninya barang semalam dua malam, tapi ada sedikit perih yang tertoreh. Mungkin karena nona itu begitu manis. Begitu polos. Begitu rapuh.


Laki-laki memang menyukai hal itu karena membuat mereka merasa perlu untuk melindungi. Perasaan ingin melindungi itulah yang membuat seorang laki-laki merasa menjadi laki-laki.


Entah berapa lama mereka bercinta. Rembulan kini sudah muncul. Raka sudah mandi dan menyegarkan diri.


Malam begitu dingin, tetapi ranjang masih terasa begitu hangat.


Apakah kenangan memang seperti itu? Dingin namun hangat.


Tahu-tahu pintu terbuka.


Tidak ada ketukan untuk meminta ijin. Karena yang masuk adalah pemilik istana ini.


Masayu Renjani.


Ia cantik sekali.


“Kau akhirnya datang,” katanya dengan tatapan yang menusuk.


“Kau menungguku?” tanya Raka sambil tersenyum pahit.


Sringgggggg!


Masayu Renjani mencabut pedangnya. Sekali ia melesat, ia sudah berada di depan Sukma Harum. Ilmu


meringankan tubuhnya memang sangat hebat. Pedangnya sudah menebas. Cepat


sekali. Jaraknya begitu dekat pula.


Tahu-tahu pedang itu patah menjadi dua. Sukma Harum tidak ingin membuang-buang waktu. Ia menarik tangan Masayu Renjani dan membiarkan gadis itu terjatuh di dalam pelukannya. Kini wajah


mereka begitu dekat. Desahan nafas wanita cantik itu begtu wangi.


Dadanya turun naik berusaha mengatur detakan jantungnya yang berdebar kencang. Secantik apa pun kau, jika


kau berada di dalam pelukan Sukma Harum, maka seolah kecantikanmu menjadi miliknya seorang. Seolah seluruh kehidupanmu berada di dalam genggamannya.


Bibir Sukma Harum yang bersih dan merona alami itu mendekati bibir Masayu Renjani. Kurang seujung kuku lagi bibir itu bersentuhan. Wanita itu menutup matanya. Kini seluruh hidupnya sudah rela ia berikan.


Tapi ciuman itu tak pernah datang.


Saat Masayu membuka mata, dilihatnya Raka sedang tersenyum. Senyum yang sebenarnya terus membayangi


hidupnya.


“Kau tahu aku datang bukan untuk ini,” kata Raka.


“Kenapa kau begitu kejam?” bisik Renjani seolah menyesali nasibnya sendiri. Nafasnya masih belum teratur.


Tubuhnya masih bergetar.


Jika kau ingin membuat seorang perempuan tunduk padamu, maka kau harus bersikap kejam padanya.


Entah siapa yang membuat aturan ini, terkadang terasa ada benarnya. Karena jika kau hanya patuh saja kepada


seorang perempuan, memberikan apa saja yang diinginkannya, bersikap baik dan manis padanya, maka tidak lama kemudian ia akan merasa dirimu sebagai lelaki yang membosankan.


“Kau tahu? Meski kau menjebloskanku kemari, meski aku harus di dalam neraka ini, hanya wajahmulah


yang ku ingat selalu. Hanya dekapanmu yang benar-benar kurindukan. Masih kurang apa lagi aku padamu?” kata-katanya berbisik namun terasa “basah”.


Dalam satu kali gerakan ia sudah menanggalkan seluruh bajunya.


Seorang wanita cantik terkadang akan terlihat berkurang kecantikannya jika ia tidak memakai riasan atau pakaian


yang pantas.


Tapi bukan perempuan ini.


Saat ia tidak memakai apa-apa, maka kecantikannya yang sudah sempurna itu bertambah seribu kali lipat.


Apabila tembok, meja, dan kursi dapat melihat, maka tentu seluruhnya akan hancur menjadi abu karena getaran


kecantikan ini.


Satu langkah ke depan, ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sukma Harum.


“Aku rindu padamu. Apa salahku padamu? Mengapa kau begitu jahat kepadaku?”

__ADS_1


Kalimat-kalimat ini dapat menjatuhkan pertahanan laki-laki mana saja. Tapi Sukma Harum tidak bergeming.


Disentuhnya leher nona itu dengan lembut, jarinya mengusap leher bagian belakang yang tertutupi rambutnya yang


tergerai halus. Sentuhan yang lemah lembut ini menimbulkan getaran yang mendirikan seluruh bulu-bulu pada tubuhnya.


“Ah……,” desahan itu begitu hangat. Sekali lagi ia memejamkan mata.


Sukma Harum menciumnya dengan mesra. Sangat halus, penuh kasih dan sayang. Beginilah seharusnya seorang


laki-laki mencium kekasihnya.


Tangan Renjani memeluknya dengan erat. Tangan itu seolah kehilangan tenaga saat ciuman-ciuman beradu dengan indah. Tiba-tiba tangan itu mengejang kuat. Menotok bagian belakang leher Sukma


Harum.


Totokan itu seharusnya berhasil. Seharusnya Sukma Harum terdiam dan berdiri kaku. Tetapi lelaki itu malah


tersenyum dengan hangat.


“Dendammu kepadaku begitu dalam sehingga aku dapat merasakannya hanya dari sentuhan tanganmu,” sambil berkata begitu ia mendorong wanita itu dan menghempaskannya ke tempat tidur.


“Keparat!” maki Renjani.


“Dengan cara apapun kau ingin membunuhku, kurasa tak akan berhasil. Tapi aku senang kau masih mau mencoba,” kata Raka.


Seumur hidup, jumlah wanita yang mencoba memunuhnya saat mereka bermesraan rasanya cukup banyak. Itulah sebabnya ia selalu bisa merasakannya.


Renjani mencoba bangkit untuk memungut bajunya yang tergeletak di lantai, sayangnya dalam satu kali sapuan


kaki, baju itu telah melayang jauh melewati jendela. Dengan geram Renjani menarik kain ranjang untuk menutupi tubuhnya yang polos.


“Katakan apa maumu datang kemari?” tanyanya dengan geram. Nafasnya masih tersengal. Pengalaman “indah”


tadi masih membekas di dalam jiwanya. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan getaran seperti itu.


“Aku membutuhkan bantuanmu,” jawab Raka.


“Haha. Kau pikir aku sudi membantumu?”


“Tentu saja kau tidak sudi.”


“Sudah tahu begitu, mengapa kau masih datang?”


Renjani berpikir sebentar. Ia tersenyum penuh kemenangan.


“Aku mau membantumu asalkan kau mau memenuhi permintaanku!”


“Selama permintaan itu tidak melanggar peraturan dunia persilatan, aku bersedia,” jawab Sukma Harum.


“Tiga permintaan!” seru Renjani.


Sukma Harum menghela nafas dan mengangguk.


“Permintaan pertama!”


Sukma Harum sudah dapat menduganya. Ia tertawa. “Aku hanya akan mengabulkannya jika kau sudah


membantuku.”


“Eh enak saja. Kau yang berada dalam posisi membutuhkan. Akulah yang punya nilai tawar lebih tinggi!”


Sukma Haru tertawa lagi lalu berkata, “Benarkah? Jika aku pergi dari sini maka kau tidak akan mendapatkan 3


permintaanmu.”


“Lalu kau juga tidak akan mendapatkan bantuanku!” tegas Renjani sedikit marah.


“Aku selalu akan menemukan cara untuk menyelesaikan urusanku. Masa hal ini belum juga kau pahami?”


Ya. Kata-kata ini memang benar. Bahkan Renjani pun percaya hal ini. Ia lalu arah dan membanting kaki. “Dasar


laki-laki tak tahu aturan!”


Sukma Harum tertawa, lalu tegasnya, “Sekarang kau keluar. Aku mau beristirahat.”


Seorang laki-laki yang pandai membawa diri, menjaga diri, merawat diri, meningkatkan kemampuan diri, dan


memahami betapa berharga dirinya sendiri, adalah seorang laki-laki tulen. Kaum perempuan selalu akan jatuh kepada lelaki seperti ini.


 

__ADS_1


***


Tok! Tok!


Dari ketukannya saja Raka sudah tahu bahwa Antasena yang datang. “Masuklah, tidak kukunci.”


“Kenapa dia pergi sambil membanting kaki seperti itu? Tidak pakai baju pula? Kau menggigit jempol kakinya?” Antasena masuk sambil keheranan. Ia membawa 2 nampan berisi makanan.


Sukma Harum cuma tertawa.


“Melihat bajumu masih lengkap begini, sepertinya kau tidak mau meniduri dia. Itulah sebabnya ia pergi dengan


sebal hati,” tukas Antasena sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.  “Hmmppp,” dengusnya, “Ranjang ini bau


perempuan.”


“Jauh lebih menyenangkan daripada bau laki-laki,” tukas Raka sambil tertawa. Tangannya mencomot buah-buahan segar yang dibawa Antasena.


“Kenapa kau tidak ingin menidurinya? Aku melihat ia sangat menyukai dirimu bahkan ketika kau menjebloskannya ke tempat iblis ini, ia masih sangat menyukaimu.”


“Aku khawatir jika aku menidurinya, aku akan menuruti segala kata-katanya,” jawab Raka


sungguh-sungguh.


“Kau khawatir akan menjadi budaknya?”


Raka mengangguk.


“Ku kira kau bukan laki-laki yang akan menurut saja diperintah perempuan. Tidak mungkin kau akan tunduk padanya,” tandas Antasena.


“Dalam hal ini aku tidak terlalu yakin pada diriku sendiri.”


Antasena paham. Banyak lelaki gagah yang setelah mengenal perempuan kemudian berubah menjadi lelaki penurut bagai kerbau dicucuk hidungnya. Ia telah melihat banyak hal ini. Bahkan ia sendiri khawatir dirinya sendiri adalah salah satunya.


“Daya pengaruhnya kuat sekali. Sejak tadi aku menahan nafas, menahan diri. Mencoba bersikap tenang, dan memperlakukannya seperti sampah, adalah supaya aku tidak sampai jatuh pada bujuk rayunya.”


“Oh, Sukma Harum yang gagah! Selama ini kukira kau begitu tenang menghadapi wanita adalah karena kau sudah


sangat berpengalaman. Ternyata kau masih gagap juga,” tawa Antasena.


“Biasanya aku sangat mudah menguasai diri menghadapi perempuan. Tapi untuk Masayu Renjani, aku butuh kerja


lebih keras. Sampai seluruh punggungku basah oleh keringat. Untung tak ada orang yang tahu.”


“Sekilas tadi kulihat memang tubuhnya indah sekali. Langsing namun montok!” Antasena tertawa lagi. “Ah, sudahlah. Aku mengantuk tapi tidak bisa tidur.”


“Kau ingin aku mengelus-elus punggungmu dan menyanyikan lagu tidur?” canda Raka.


“Tadi ada perempuan cantik datang minta dielus-elus, kau malah tidak memperdulikannya. Sekarang ada laki-laki


brewokan tinggi besar tidak bisa tidur, kau malah ingin menggosok punggungnya. Nampaknya kau sudah menjadi gila.”


Raka tidak menghiraukan gurauan itu, ia malah berkata dengan wajah sungguh-sungguh, “Tetapi aku menemukan satu hal.”


“Katakan.”


“Renjani seharusnya ingin bercinta saja denganku. Ia tidak perlu mencoba melumpuhkanku.”


“Mungkin ia masih ada dendam padamu?” tanya Antasena.


“Walaupun masih ada dendam, ia seharusnya menunggu saat kita selesai bercinta baru berusaha melumpuhkanku.”


“Apa sebabnya ini menjadi aneh bagimu?”


“Jika ia berusaha melumpuhkanku, ini berarti ia sudah tahu bahwa kedatanganku adalah untuk menyelidiki sesuatu


hal. Dan karena takut ketahuan, ia berusaha secepatnya melumpuhkanku. Karena takut aku yang lebih dulu melumpuhkannya.”


“Hmmm. Jadi ia terlibat dengan semua kejadian ini?” tanya Antasena.


Sukma Harum tidak menjawab.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara Antasena sudah mengorok dengan keras. Raka hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi keluar kamar. Ia ingin mengenal tempat ini lebih baik.


Di luar sangat gelap. Hanya penerangan berupa ratusan pelita kecil yang diletakkan di tepi jalan setapak


yang menerangi tempat itu. Sangat indah, namun tetap menyembunyikan bahaya yang tak dapat di duga.


Istana itu terasa sunyi senyap. Tidak ada lagi gadis-gadis telanjang yang berkeliaran memenuhi tempat itu. Raka


merasa bahaya yang mengintainya justru lebih menyeramkan lagi. Ditambah kedatangan Masayu Renjani di tempat itu, sempurna lah sudah.

__ADS_1


Tetapi sukma Harum berjalan dengan tenang.


Karena hanya ketenanganlah yang dapat menyelamatkan hidupnya


__ADS_2