Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 7: Sahabat Baru


__ADS_3

“Mari ikut aku, nanda” kata orang tua itu sambil menarik tangan Sukma Harum. Mereka lalu berjalan ke luar tempat


itu dan menuju halaman belakang. Ternyata bagian belakang parsada (istana/candi) itu memiliki jalan setapak yang menuju ke puncak gunung.


Kedua orang itu seperti berjalan dengan perlahan. Sukma Harum menggunakan tangannya yang dipegang orang tua itu untuk menuntunnya, karena bhiksu itu seolah tidak kuat berjalan. Anehnya, meskipun langkahnya terlihat lambat, tetapi jarak yang mereka jalani sudah sangat jauh!


Dalam hati Sukma Harum merasa sangat kagum melihat tingginya ilmu meringankan tubuh tetua itu. Di usia di


mana tenaga manusia sudah berkurang sepenuhnya, kekuatan tetua ini justru seperti tak ada bandingannya.


Inilah orang nomer satu di dunia persilatan saat ini.  Bhiksu Mangkara Dharma.


Putra dari Prabu Brama Kumbara yang agung. Pewaris dari ilmu-ilmu paling tinggi di seluruh Nusantara. Murid


kesayangan dari Bhiksu Kampala di Tibet.


Dulu, tentu saja nama aslinya bukanlah Mangkara Dharma. Karena nama itu adalah nama gelar yang diberikan


karena ketinggian derajat beragama beliau.


Semua orang di dunia ini tahu nama asli bhiksu Mangkara Dharma yang agung.


“Aku belum tahu siapa nama asli ananda,” kata bhiksu tua itu dengan senyumnya yang hangat.


“Nama asli nanda adalah Rakantara Gandakusuma,” jawab Sukma Harum.


“Ayahmu memang dari keluarga Gandakusuma yang terkenal itu?”


Sukma Harum hanya mengangguk dengan sungkan.


“Kakek buyutmu yang mulia adalah orang yang sangat berjasa bagi Pajajaran. Menyebut nama beliau saja sungguh


bibir ini masih belum pantas.”


Sukma Harum tidak tahu harus menjawab apa.


“Nanda tampan, kaya raya, cerdas, dan punya ilmu silat dan kanuragan yang sangat tinggi. Banyak orang memimpikan memiliki hal ini. Tapi tahukah ananda bahwa memiliki anugrah sedemikian besar, kadang membuat hidup tak seindah bayangan orang?”


“Nanda sangat memahami perkataan yang agung,” jawab Sukma Harum.


“Semakin besar hikmat yang diberikan langit kepadamu, maka semakin besar pula cobaan dan ujian yang akan


nanda dapatkan.”


Suasana gunung sangat hening. Langit sudah mulai gelap. Hanya terdengar suara angin yang bergemerisik


menembus alang-alang. Pepohonan yang labat kini serupa makhluk-makhluk rakasasa yang menjulang.


Di dalam keadaan gelap gulita seperti itu, mereka berjalan dengan ringan tanpa tertatih atau tersesat.


Sepanjang jalan Bhiksu Mangkara Dharma menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan keadaan di dunia persilatan saat ini.


“Apakah guru yang mulia ananda masih sehat-sehat saja?” tanya sang Bhiksu.


Sukma Harum tersenyum penuh pengertian. Tentu hanya dengan melihatnya bersilat dan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Bhiksu agung itu sudah dapat menduga siapa gurunya.


“Hamba terakhir bertemu dengan beliau ketika ananda menyelesaikan ujian akhir masa berguru kepada beliau. Itu


sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu beliau sangat sehat dan segar bugar. Malahan semangatnya melebihi kami yang muda-muda. Saat ini beliau sedang menjalani tapa brata di sebuah tempat.”


“Sepanjang hidupku, orang yang paling tinggi bakatnya dalam ilmu silat dan kanuragan adalah gurumu itu, nanda


Raka. Sayangnya, ia lebih suka menikmati hidup, dan tak pernah mau ikut campur di dunia persilatan. Munculnya hanya kadang-kadang saja, tetapi ia selalu membantu orang yang membutuhkan.”


Sukma Harum menerawang jauh. Segala cinta dan haru menyeruak saat ia teringat jasa-jasa gurunya. Mendengar


Bhiksu Mangkara Dharma menceritakan sekilas kisah masa muda gurunya, membuat rasa kagum dan hormatnya semakin bertambah.


“Entah setinggi apa bakat dan ilmu gurumu jika dibandingkan dengan mendiang ayahku. Kita tak akan pernah bisa


tahu karena mereka tidak sempat bertemu,” ujar Bhiksu Mangkara Dharma.


Ingin Sukma Harum bertanya apakah tetua agung ini pernah bertarung dengan gurunya, hanya saja ia merasa sungkan dan tidak sopan. Padahal di dalam hati, dirinya sangat penasaran.


“Ilmu apa saja yang beliau turunkan kepada nanda Raka?”


“Beliau hanya menurunkan 3 ilmu kepada nanda.”


“Ya. Aku tahu. Memang seperti itu adanya sifat gurumu yang mulia. Ia hanya menurunkan 3 ilmu kepada orang yang diipilihnya, dan mereka saling tidak mengenal satu sama lain. Bahkan aku berani menduga, gurumu tidak menceritakan hal ini kepada nanda Raka,” tukas Bhiksu itu.


“Oh? Jadi seperti itu,” Raka tertawa.


“Ingin sekali aku mengangkatmu sebagai murid. Tetapi aku takut melangkahi gurumu. Tetapi melihat bakatmu yang


besar, dan kehidupanmu yang akan menjadi sangat berat di masa depan, aku ingin mewariskan sesuatu kepadamu, nanda Raka. Apakah kau bersedia menerimanya?”


Sukma Harum berlutut dan berkata,“Terima kasih, yang agung.”


“Seperti yang ku bilang tadi, aku ingin mengajarkan cara bersiul. Tadi saat berjalan kaki, aku sudah melihat cara


nanda mengatur nafas. Sangat baik. Sekarang, ikuti semua gerakanku.”


Bhiksu agung itu lalu bersila. Tangannya diletakkan di lutut. Jarinya membentuk lambing trimurti. Ia menarik


nafas dengan sangat panjang, lalu mengeluarkannya dengan cara berdesis.


“Sssssssssssssssssssssssssssssssssssss!!!!”


Suara desis itu terdengar sangat perlahan pada awalnya. Lalu sedikit demi sedikit menjadi semakin keras dan


memekik telinga! Sukma Harum meniru hal ini namun suara ang keluar masih belum sekeras milik Bhiksu agung itu.


“Alirkan tenaga yang muncul dari perut. Jangan kerahkan semua. Pisahkan sedikit, lalu bangun yang sedikit itu


menjadi besar. Pusatkan, jangan pancarkan. Rasakan panasnya di dalam dada. Lindungi jantung! Jangan sampai tenaga itu mengenai urat jantung. Jangan lewatkan melalui kerongkongan, karena akan menyakiti pita suara. Salurkan getarannya melalui leher, lalu alirkan ke rahang, bibir, lalu lidah. Ya begitu!


“Ssssssssssssssuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttt!”


Terdengarlah sebuah suitan yang sangat tinggi nadanya, bahkan dapat menghancurkan gendang telinga manusia.


Untung saja, Sukma Harum telah sanggup mengalirkan getaran gelombang suara itu ke atas langit. Jika ia menembakkan gelombang itu ke depan, maka pepohonan dan batu-batuan di hadapannya akan hancur berantakan!


“Dahsyat sekali!” tukas Sukma Harum terbelalak kaget.


“Bagus sekali. Dengan kecerdasanmu, nanda langsung paham bahwa gelombang ini sangat berbahaya, makanya nanda tembakkan ke atas. Aku sangat senang, karena dugaanku terhadap sifat, bakat, dan kecerdasan ananda, tidaklah keliru. Baik sekali. Baik sekali. Sekali belajar langsung bisa.”


Sukma Harum menjura dengan penuh terima kasih dan rendah hati. Jika bukan karena petunjuk tetua yang agung itu, bisa jadi malah tenaga gelombang itu akan menyerang dirinya sendiri.


“Dengarkan baik-baik,” bisik Bhiksu yang agung.


Sukma Harum menutup matanya. Mencoba merasakan setiap getaran yang ada di semesta.


Dari kejauhan, ia menangkap gelombang suara. “Kawwwwk! Kaaaawwkk!”


Ia membuka mata dan bertanya, “Suara makhluk apa itu, yang agung?”


“Suara rajawali sakti!”


Hati Sukma Harum mencelos. Mahaguru ini ternyata mewariskannya seekor rajawali sakti. Makhluk dalam


legenda yang dahulu pernah menjadi tumpangan dan sahabat dari pendekar terhebat se-Nusantara, Prabu Brama Kumbara. Dulu juga Sukma Harum pernah mendengar bahwa para pendekar dari negeri Tiongkok pun pernah mengendarai Rajawali seperti ini.


Waaaaaapppp waaaaaaaap!


Suara kibasan sayapnya menciptakan hempasa angin yang sangat besar. Rajawali itu mendarat tepat di

__ADS_1


depan Bhiksu Mangkara Dharma. “Apa kabarmu, sahabat lama? Apakah kau rindu kepadaku?”


“Kaawwwwk! Kaaaawwwwwk!”


Burung itu sangat besar. Tingginya sekitar 2 tombak. Bulunya berwarna coklat keemasan. Paruhnya kuning


kemerahan. Kakinya terlihat kokoh bagaikan batu karang. Cakarnya runcing namun bersih dan mengkilap. Berdiri di hadapan hewan yang agung ini membuat Raka merasa terharu sekali.


Hewan itu sangat senang saat dipeluk oleh Bhiksu Mangkara Dharma. Kepala binatang agung yang besar itu


digosokkan ke dada sang bhiksu dengan penuh keriangan. Bhiksu itu membisikkan kata-kata ke telinga burung itu seperti memberitahukan padanya tentang hal-hal yang mereka lewatkan selama berpisah.


Raka kagum sekali melihat persahabatan mereka. Masing-masing menunjukkan rasa hormat dan sayang kepada


yang lain.


“Ananda Rakantara, perkenalkanlah inilah sahabatku, ku namakan dia Cakrawala.”


“Salam kenal, tuan Cakrawala yang gagah,” kata Sukma Harum sambil menjura. Burung raksasa itu hanya menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin mengenalnya jauh lebih dalam.


Tahu-tahu Cakrawala membumbung tinggi lalu dengan cepat menghujamkan cakarnya ke arah Sukma Harum. Serangan ini bukanlah sebuah serangan secara serampangan melainkan merupakan gerakan tingkat tinggi yang sangat terlatih.


Sukma Harum menghindar dengan satu langkah ringan. Begitu kakinya menginjak tanah, segera tubuhnya melenting tinggi ke atas pula. Kini tubuhnya berada di atas Cakrawala.


Burung itu membalikkan tubuhnya dengan sangat gesit. Kini punggungnya menghadap ke tanah, dan cakarnya berada di atas, menyambar bayangan Sukma Harum yang seolah terbang pula. Serangan cakar itu sangat cepat dan sangat berbahaya. Tidak sembarang manusia yang bisa menghindari serangan seperti itu.


Tetapi tentu saja Sukma Harum bisa menghindarinya, karena ia bukan sembarang manusia.


Dengan sebuah gerakan kecil, ia memutar tubuhnya sehingga cakar-cakar itu lewat begitu saja di hadapannya.


Begitu cakar itu melewati kepalanya, tangannya bergerak cepat memegang batang kaki burung raksasa itu. Dengan meminjam tenaga sambaran batang kaki itu, Sukma Harum melesat ke arah kepala sang burung. Lalu sekali tangannya bergerak menotol leher sang burung, ia berjumpalitan dan memutar tubuh. Kini ia telah berada di bagian leher sang burung. Berpegangan dengan erat! Karena saat itu badan sang burung sedang dalam keadaan terbalik dengan punggung di bawah dan perut menghadap ke atas.


Semua yang terjadi ini berlangsung dalam satu kedipan mata dan siapa pun yang menyaksikannya tentu


akan terperangah kagum melihat “pertunjukan” tingkat tinggi itu.


Bhiksu Mangkara Dharma tentu saja kagum pula. Meskipun ia merupakan manusia yang paling tinggi ilmu silatnya di jaman itu, mau tidak mau ia harus kagum pada ilmu meringankan tubuh milik Sukma Harum.


“Bagus sekali…., bagus sekali….,”gumamnya dengan perlahan.


Raka terus berpegangan di leher belakang burung itu. Kini sang burung membumbung tinggi sekali seolah tahu


bahwa cara menghempaskan orang yang berada di punggungnya adalah dengan cara menghujamkannya dari ketinggian.


Dibawa terbang setinggi itu membuat hati Raka ketar-ketir juga. Seumur hidup ia belum pernah melayang setinggi ini. Malam gelap gulita, tetapi sinar bulan yang pucat memberi sedikit penerangan di langit yang legam.


Dingin sekali!


Ternyata langit yang luas itu rasanya begitu dingin. Begitu senyap. Begitu sepi. Entah kenapa Raka malah


menemukan kedamaian di sini. Hilang sudah rasa ketar-ketir di hatinya. Yang ada hanyalah kedamaian yang luar biasa.


Burung itu terus melayang tinggi. Sampai Sukma Harum merasa nafasnya mulai sedikit sesak. Mungkin karena terlalu tinggi dari bumi, ia mulai kesulitan bernafas. Tetapi ia bersikap tenang dan menghirup nafas dengan panjang sekali. Dengan begitu ia mempunyai banyak cadangan udara di dalam dadanya.


Gelap gulita. Ia tak dapat melihat apa-apa. Angin menerpa dengan begitu kencang. Pula ia tak dapat bernafas. Tak berapa lama lagi ia mungkin akan kehilangan kesadaran. Kulitnya terasa membeku. Tulangnya terasa ditembus besi yang amat dingin. Tetapi Raka menolak untuk menggunakan tenaga dalam dan menyakiti burung agung itu.


Ia mengerti bahwa semua ini adalah ujian yang dilakukan oleh rajawali sakti itu jika ia ingin mengikat persahabatan dengan manusia. Hewan itu ingin mengetahui apakah manusia ini dapat dipercaya di saat-saat yang paling genting dan berbahaya.


Lalu burung itu mencapai puncaknya. Ia berhenti menembus ketinggian.


Semua seolah berhenti!


Jantung Sukma Harum berdegup lebih kencang. Ia sudah dapat menduga apa yang akan terjadi.


Wuuuuuuuuuusssssssshhhhhh!


Rajawali menghujam ke bawah.  Gerakan jatuh ini jauh lebih cepat daripada gerakan naiknya tadi. Jantung Sukma


Harum seperti terasa copot dari dalam dadanya. Kakinya melingkar di leher sang Cakrawala, tangannya memeluk erat. Dia berkata, “Hanya segini saja? Aku bisa terbang lebih cepat darimu, wahai tuang Cakrawala yang agung!”


Mendengar kata-kata ini, sang burung lalu menukik lebih tajam, dan memtar-mutar tubuhnya. Sukma Harum merasa isi perutnya seolah ingin meledak. Tetapi dengan mengatur jalan nafas yang kini sudah tidak sesak lagi, ia dapat mengendalikan rasa mual itu.


Swwwuuuuuuuuuuussssshhhhh!


Berapa kali burung itu memutar tubuh dengan berjumpalitan, sudah tak lagi dihiraukan oleh Sukma Harum. Kini ia


malah menikmati tunggangan ini. Bagaikan anak kecil yang menemukan mainan baru. Mereka naik tinggi lalu menukik, berulang kali.


Sampai burung itu lelah sendiri lalu mendarat dengan sempurna di hadapan sang Bhiksu agung. Di dalam kegelapan malam dan langit hitam, bhiksu itu dapat menyaksikan segala yang terjadi.


“Kalian sudah akrab sekarang?” tanya sang Bhiksu.


Sukma Harum hanya tertawa. Sang rajawali mengeluarkan suara, “Kaaawkkk! Kaaawwwwk!”


“Oh? Kau senang padanya karena ia tidak menyakitimu? Bagus sekali. Sukma Harum memang adalah seorang pendekar yang lembut hatinya. Ia tentu tidak tega menyakitimu, tuan Cakrawala.”


Kaaawwwkkk! Kaaaawwwwk!


“Mulai sekarang, aku menyerahkanmu kepada tuan Sukma Harum. Ia yang akan menjagamu, dan merawatmu.


Kalian akan saling membutuhkan. Dan aku memberikannya satu tugas yang amar berat. Yaitu mencarikan jodoh untukmu, tuan Cakrawala,” kata sang Bhiksu.


Dalam hati Sukma Harum tertawa. Mencari jodoh untuk dirinya sendiri saja ia tidak becus. Apalagi mencarikan


jodoh untuk hewan sakti seperti ini.


Kaaawwwwk!! Kaaaaawwwwkkkk!


Sukma Harum menyentuh leher Cakrawala. Awalnya hewan itu seperti berpikir sebentar, lalu ia menggosokkan


kepalanya ke dada sahabatnya yang baru.


Tidak ada tuan tidak ada majikan. Tidak pula peliharaan, atau tungangan. Yang ada hanyalah persahabatan yang


tulus antara manusia dan hewan.


Sukma Harum menjura kepada sang Bhiksu agung. Katanya, “Terima kasih teramat dalam atas kepercayaan Yang Agung kepada nanda. Nanda berjanji untuk menjaga Cakrawala sebaik-baiknya.”


“Aku percaya,” senyum pandita bijaksana itu. “Ananda memiliki tugas yang amat berat di masa depan nanti.


Mungkin hanya inilah cara aku dapat meringankan bebanmu.”


Sukma Harum berlutut dan menyentuh ujung kaki Bhiksu tua itu. Tanyanya dengan sopan, “Mengapa Yang Agung


berpikir seperti itu?”


“Karena dengan segala yang ananda miliki, amat sangat sulit untuk menjadi manusia yang baik. Semua yang ananda miliki ini adalah cobaan yang sangat berat. Apakah ananda dapat mempergunakannya agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain, ataukah hanya digunakan untuk mengejar kesenangan belaka, hanya waktulah yang dapat menjawabnya.”


Bhiksu Mangakara Dharma pernah muda. Pernah tampan. Pernah menjadi pangeran dari sebuah kerajaan yang


disegani. Pernah berilmu tinggi. Tentu pula pernah digoda oleh kesenangan.


Cinta.


Siapakah yang dapat menolaknya?


Jika cinta sudah merasuki hati manusia, tidak perduli apabila kau pangeran atau raja, maka kau akan bertekuk lutut di hadapan cinta.


Bhiksu agung itu hanya menatap kosong ke depan. Kenangannya membawanya ke masa mudanya yang penuh semangat hidup dan harapan. Kepada seorang wanita cantik yang pernah membawa pergi hatinya.


Di mana ia sekarang? Apakah masih hidup? Apakah bahagia?


Secara tidak sengaja ia menoleh ke arah di mana gunung Lawu berada. Jauh di sana.


Bahkan ketka seorang laki-laki sudah menjadi begitu tua, kenangan tentang cinta masa lalu akan tetap membara

__ADS_1


di hatinya.


Menjadi bhiksu bukanlah menjadi manusia sempurna tanpa nafsu. Menjadi bhiksu adalah menjadi manusia yang mampu menjaga kesucian hatinya, menjaga diri dari nafsu dan amarah. Dari gejolak jiwa dan hati manusia yang tak pernah dapat lurus sepenuhnya.


Kembang Gunung Lawu.


Itulah nama julukan wanita itu di masa lalu. Kembang itu sekarang tentu telah menua. Telah layu, bahkan mungkin


telah getas dan mengering. Hancur menjadi debu. Tetapi kembang itu pernah merekah dan mengharumi hidupnya. Bagi seorang laki-laki, kenangan yang harum saja sudah cukup baginya untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik.


Sudah lebih dari cukup.


Sukma Harum dapat melihat perubahan rona wajah bhiksu agung itu. Ia pun dapat merasakan getaran perasaan


mahaguru itu.


Hanya laki-laki yang pernah terluka yang dapat memahami perasaan lelaki yang terluka pula.


Akhirnya Sukma Harum tidak berani mengangkat kepala. Ia tetap berlutut dan menyentuh ujung kaki mahaguru itu. Ia tahu, di hadapan orang yang hatinya sedang diliputi kegundahan, seorang lelaki sebaiknya tidak membuka mulut. Ia cukup berada di sana.


Setua itu, sang mahaguru yang agung dan perkasa masih dapat terbuai kenangan, siapakah yang dapat menyangka?


Kini Sukma Harum paham satu hal.


Seberapa jauh kau berlari bersembunyi dari kenangan, seberapa dalam kau menembus lautan agar terhindar


darinya, kenangan itu akan tetap menghantuimu. Karena kenangan itu telah menjadi bagian dari dirimu.


Yang bisa kau lakukan adalah berdamai dengannya.


Dan bhiksu agung itu tentu telah dapat berdamai dengan dirinya sendiri. Karena itulah ia dapat mencapai


tingkatan hidup yang penuh ketenangan dan kepasrahan. Menjadi manusia adalah menjadi mengerti, bahwa kehidupan selalu bergerak menurut kehendak Dia yang menciptakannya.


Menjadi bhiksu bukanlah untuk menghilangkan sisi kemanusiaan seseorang, melainkan untuk paham arti menjadi


seorang manusia.


“Ananda Rakantara, berdirilah,” bhiksu itu menggenggam tangannya dengan erat dan menariknya. Katanya, “Tiba


saatnya kita berpisah. Terima kasih sudah menjadi sahabatku walau hanya satu hari. Kelak mungkin kita tidak akan berjumpa lagi. Tetapi aku bahagia, di umur setua ini masih diberikan rejeki mengikat persahabatan dengan orang seperti ananda. Terima kasih,” bhiksu agung itu menjura kepadanya.


Sang Bhksu begitu kagum kepadanya, karena dengan segala kenikmatan yang ia miliki, tidak mengubahnya


menjadi manusia yang busuk. Sesuatu yang hanya ia temukan kepada mendiang ayahandanya. Bertemu dengan pemuda ini, membawa kenangan yang sangat dalam terhadap mendiang ayahnya.


Sukma Harum balas menjura. Katanya, “Seumur hidup, nanda selalu diberkati oleh langit. Kini satu lagi keberkahan yang nanda dapatkan, sungguh sebuah rasa syukur yang tidak bisa nanda ucapkan. Terima kasih banyak, Yang Agung.”


Mereka saling berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan.


“Nanda Raka pergilah dengan menunggang Cakrawala. Biarkan aku pulang sendiri. Karena nanda telah melanggar


aturan Padepokan, maka hukuman mati harus dijatuhkan. Aku tidak dapat mengubah aturan itu. Hanya ketua yang bisa mengubahnya. Dan aku bukan ketua.”


“Kita tadi datang ke sini bersama-sama, Yang Agung. Pulang pun harus bersama-sama. Pula, tadi nanda


datang ke Padepokan ini melalui pintu depan, pulang pun juga harus melewati pintu depan,” kata Sukma Harum.


“Bagus. Bagus sekali. Mari!”


Mereka menuruni gunung sambil menggenggam tangan.


Sukma Harum meninggalkan bhiksu Mangkara Dharma dengan penuh rasa haru. Setelah berlutut lama sekali, barulah ia memiliki “kekuatan” untuk pergi meninggalkan kakek itu. Mereka baru bertemu hari itu, hanya bercakap-cakap tidak berapa lama, tetapi ikatan perasaan di hati mereka seolah terlah terjalin selama ratusan tahun.


Kini ia telah melangkah keluar dari Laladan Pawitra. Gerbang tempat itu kini sudah terang oleh cahaya obor


yang mengelilingi hampir seluruh daerah padepokan itu. Suasana di sana sangat indah di malam hari. Hanya saja keadaan saat itu baginya tidak cukup indah.


Hampir seluruh murid padepokan telah berjaga-jaga di setiap tempat. Pandangan mata mereka yang tajam dan


menusuk seolah ingin mengoyak-ngoyak tubuhnya. Tetapi Sukma Harum bersikap sangat tenang. Ia tidak tersenyum karena khawatir melukai perasaan mereka karena dianggap mengejek. Malah Sukma Harum berjalan dengan wajah menunduk menatap jalan setapak di hadapannya. Apa yang akan terjadi nanti, ia sudah


tidak perduli.


Tahu-tahu Bhiksu AJi Satya sudah berada di depannya. Berdiri dengan tenang dan memandang penuh selidik. Sukma Harum menjura dan memberi salam padanya.


“Adakah tuan telah mengerti, pidana apa yang bakal tuan tanggung bilih (apabila) ulah dhursila (melanggar


hukum/aturan) di padepokan kecil ini? Adakah pula tuan mengerti, nyawa-nyawa yang tuan renggut meminta ganti tanggung jawabnya?” tanya sang bhiksu dengan nada yang berat dan dalam.


“Sesungguh hamba bertanya, apakah Yang Agung pernah mendengar sebuah hal mengenai diri hamba?” Sukma Harum balas bertanya.


“Apa gerangan?”


“Bahwa jika hamba berkata ‘tidak’ maka itu berarti ‘tidak’. Dan jika hamba berkata ‘iya’ maka selamanya berarti


‘iya’?”


“Orang berkata, apapun yang keluar dari lesan (lisan) Sukma Harum adalah emas, tidak pernah perunggu. Tapi kali ini, saksi yang masih hidup telah membuktikan sebaliknya.”


“Jika hamba paragana (pelakunya) apa sebab hamba tidak membunuh semua saksi, termasuk 7 pendekar padepokan ini? Apa sebab hamba harus berpeluh kemari menjaga saksi?” tanya Sukma Harum.


Pertanyaan yang sangat masuk akal. Jika ia pelakunya, sudah sejak awal ia membunuh ketujuh orang padepokan


yang kebetulan datang ke sana.


Bhiksu itu berpikir sebentar. Akalnya membenarkan kata-kata Sukma Harum. Ia lalu menukas, “Baik. Hamba beri


waktu satu purnama bagi tuan guna pulihkan nama dan menguak kebenaran. Setelah itu, kami semua akan mencari tuan.”


Dalam hati Sukma Harum tertawa. Memangnya apa yang mampu mereka lakukan kepadanya? Tetapi di luaran ia hanya tersenyum dan menjura. “Hamba haturkan terima kasih atas kemurahan hati Yang Agung.”


“Tetapi dhursila (pelanggaran) terhadap aturan memasuki Laladan Pawitra tetap harus dibayar,” kata sang bhiksu dengan ketus.


“Hukumannya adalah hukuman mati bukan?” tanya Sukma Harum.


Sang bhiksu mengangguk.


“Bagaimana jika hamba tidak mau mati?”


Kata-kata itu keluar dengan penuh kesungguhan. Siapa pun yang melihat rona muka Sukma Harum saat ini pasti akan mengerti bahwa detik itu juga lelaki tampan ini sudah bertekad untuk bertarung sampai titik darah yang terakhir.


Sang bhiksu agung pun bimbang. Jika ia membiarkan Sukma Harum pergi, maka ia membiarkan orang luar menginjak-injak martabat padepokan terbesar di seluruh Nusantara. Tetapi jika ia memaksakan menjatukan hukuman, maka banjir darah yang besar tidak akan terhindar lagi. Bahkan ia sendiri pun tidak yakin dapat selamat.


Karena tadi ia telah melihat bagaimana Kujang sakti itu terbang. Bagaimana pun ia harus berpikiran terbuka.


Jika kau pernah melihat Kujang itu disambitkan, maka kau pun akan berpikiran terbuka.


“Melihat bahwa Mahaguru kami menerima tuan pun dengan tangan terbuka, maka kami telah mengambil keputusan


bahwa aturan ini tidak dapat diterapkan.”


Dengan keputusan ini, sang bhiksu seolah mengatakan bahwa meskipun Sukma Harum telah memasuki daerah terlarang, maka ia tidak dapat dijatuhi hukuman, karena pemiik daerah terlarang itu sendiri telah menerimanya dengan tangan terbuka.


“Kabar yang terdengar bahwa Bhiksu kepala Padepokan Rajawali Sakti adalah orang yang sangat bijaksana,


ternyata bukanlah kabar angin. Hari ini sudah hamba buktikan sendiri,” tukas Sukma Harum.


“Ingat, tuan. Satu purnama. Setelah itu kami akan mencari tuan,” kata-kata sang bhiksu penuh ancaman.


Sukma Harum hanya mengangguk. Ia lalu menjura dan meminta diri.


Semua mata masih memandangnya dengan tajam saat ia berjalan keluar dengan santai melalui pintu gerbang depan. Tahu-tahu Sukma Harum mengeluarkan suitan panjang yang keras sekali ke arah langit. Getaran suara suitan itu sempat menggetarkan urat jantung orang-orang yang berada di sana.


Tak lama kemudian muncul seekor burung raksasa yang mendarat dengan anggun di depan gerbang. Sukma Harum melompat ke pundaknya dan segera terbang menghilang dari sana.

__ADS_1


“Sudah tampan, kaya raya, berilmu tinggi, kini punya tunggangan yang dapat terbang pula. Saat para dewata


menciptakannya, kemungkinan besar hati mereka sedang berbahagia,” gumam sang Bhiksu Aji Satya.


__ADS_2