
“Lihat pedang!’ seru Siwa Baruna. Ia mengayunkan senjatanya dengan sangat cepat. Bagaikan sengatan kilat, gerakan senjata di tangannya seperti mengeluarkan cahaya menyilaukan, padahal yang dipegangnya bukanlah pedang mestika melainkan hanya patahan ranting pohon di pinggir jalan.
Raka menyambut serangan itu dengan tenang. Ia menggeser kaki ke samping kanan untuk menghindari ranting itu sekaligus melayangkan serangannya. Hampir saja ia terlambat menghindar karena ternyata serangan Siwa Baruna amat sangat cepat!
Ranting Raka menyerang bagian pergelangan tangan Siwa Baruna.
Sebagai pendekar pedang paling mahsyur, tentu saja serangan itu bukanlah sebuah ancaman yang berbahaya. Dengan bersalto di udara, serangan Raka sudah berhasil dihindarinya sedangkan ia sendiri pun melancarkan serangan balik.
Gerakan Siwa Baruna ringan bagai angin.
Sedangkan ilmu pedangnya begitu cepat dan menderu-deru bagai badai topan yag menghancurkan segala yang ditemuinya.
Begitulah ilmu pedang andalan pendekar unggulan ini.
Raka yang terdesak puluhan bayangan pedang tidak lantas gugup. Sekali menjejak kaki, ia sudah melenting di udara, meloloskan diri dari kepungan bayangan pedang.
Baru saja lolos, badai pedang itu mengejarnya ke atas dengan sangat ganas.
Raka berjumpalitan di udara. Jika tadi kakinya berada dibawah, sekarang kepalanya yang berada di bawah. Ia menghadapi badai pedang itu dengan jurus ke 7 dari ilmu Pedang Penakluk Naga: Mendadak Menjadi Yakin.
Tiga jurus pertama dari ilmu ini adalah untuk menghadapi keroyokan banyak orang. Tiga jurus kedua adalah untuk menghadapi berbagai macam senjata seperti toya, tombak, golok, dan lain-lain. Sedangkan tiga jurus terakhir adalah khusu untuk menghadapi ahli pedang.
Raka meneriakkan nama jurus itu, “Mendadak Menjadi Yakin!”
Antasena menahan perut karena merasa geli. Seumur hidup belum pernah mendengar nama jurus sedemikian lucu. Mengapa mendadak kau menjadi yakin?
Jurus “Mendadak Menjadi Yakin” adalah jurus yang baru dilancarkan setelah melihat dan mengetahui daya serang lawan. Raka memang membiarkan dirinya agar diserang terlebih dahulu, sehingga ia dapat mengukur kehebatan lawan.
Kecepatan, kekuatan, irama, kebiasaan, dan segala macam hal lainnya milik lawan, telah diketahuinya dengan seksama hanya dengan melihat satu jurus pedang.
Inilah inti dari jurus Pedang Penakluk Naga. Mengandalkan serangan balik dengan cara mengacaukan irama serangan lawan.
Badai pedang milik Siwa Baruna telah ditembusi Raka hanya dengan satu serangan balik ke dalam sebuah celah yang kosong!
Karena sehebat apapun ilmu silat, pasti ada titik kosongnya. Pasti ada titik lemahnya. Karena sudah menjadi rumus alam bahwa apabila seseorang menyerang, pasti ada bagian yang terbuka pada dirinya.
Semakin hebat ilmu silat seseorang, ia akan semakin mampu menutupi titik kosong itu dari pandangan dan serangan lawan. Dan titik kosog Siwa Baruna amatlah sangat kecil, bahkan hanya ungkin ditembusi oleh seekor semut.
Tetapi yang dihadapi Siwa Baruna adalah seorang Sukma Harum. Ketuliannya sejak kecil mampu membuat inderanya menjadi lebih peka. Setiap ujung kulitnya mampu menangkap getaran. Matanya menjadi jauh lebih tajam dan awas. Perasaannya menjadi jauh lebih halus dan dalam.
Satu serangan itu memang sudah dapat membuayarkan badai pedang SIwa Baruna, tetapi pendekar ini adalah pendekar matang yang sudah banyak makan asam garam pertempuran. Sehingga cukup dengan sedikit menarik badan ke belakang, serangan Raka dapat dihindarinya.
Ia bergerak lagi seperti angin yang berhembus sangat kencang, tahu-tahu tangannya membuat lingkaran pedang yang menyambar-nyambar sangat dahsyat. Seperti terdengar suara petir yang muncul dari lingkaran pedang ini.
Duaaarrr!
Duaaaaarrr!
Duaarrrrrr!!!
Angin kencang muncul dari putaran lengan yang menciptakan lingkaran pedang itu. Seperti angin putting beliung yang menerkam segalanya!
Lingkaran ini mengeluarkan sinar membiru seperti naga yang sedang berputar menciptakan halilintar. Irama serangannya kini berubah-ubah, tidak lagi tetap seperti awal ia menyerang. Tampaknya ia telah menyadari bahwa Raka telah mampu membaca irama serangannya.
Melihat bahwa Siwa Baruna telah mengubah-ubah irama serangannya menjadi kadang lambat kadang cepat, Raka pun menyadari bahwa ia tidak lagi dapat mengandalkan pembacaan irama. Yang ia lakukan adalah mundur sambil mengatur langkah.
Melihat lawannya sudah mulai surut mundur, Siwa Baruna memperdahsyat serangannya dengan membuat lingkaran pedang semakin lebar. Apapun yang terkena sambaran lingkaran ini menjadi hancur seketika.
Pepohonan, rerumputan, batu karang, semuanya hancur terkena lingkaran ini! Padahal yang dipegangnya hanyalah sebuah ranting pohon yang rapuh!
Raka menyurut mundur. Serangan ini amat sangat dahsyat untuk ia hadapi.
Siwa Baruna lalu melepaskan lingkaran pedang itu ke arah Raka. Seperti petir yang ditembakkan, lingkaran pedang itu menyambar sangat deras ke arah Raka!
“Awas!” teriak Antasena sangat khawatir.
Raka menyambut lingkaran pusaran itu!
__ADS_1
Ia masuk ke dalam lingkaran itu dengan begitu berani!
Tidak dengan melawan lingkaran itu, tetapi malah masuk mengikuti arusnya!
Seketika lingkaran pedang menjadi jauh lebh cepat dan lebih dahsyat. ANginnya semakin tajam menghancurkan segala apa yang ada di sekitarnya!
Antasena dan sang kusir sudah berjumpalitan menjauh dari sana.
Siwa Baruna sangat terhenyak di dalam hati melihat Raka telah menembus lingkaran itu bukan dengan cara melawan arusnya, melainkan mengikuti arusnya. Ternyata itu cara untuk menghadapi jurus pedangnya sendiri. Ia sendiri malah baru menyadari.
“Gemetar Menjejak Embun Es!” jurus ke 8 ilmu Pedang Penakluk Naga.
Tidak ada waktu lama bagi Siwa Baruna untuk merenung karena lingkaran pedang sudah balik menyerang dirinya sendiri. Jauh lebih cepat, lebih dahsyat, dan lebih ganas daripada yang tadi ia lancarkan.
Gerakannya sangat cepat, ia berjumpalitan menghindari lingkaran pedang yang maha dahsyat itu.
Blaaaaaarrrrrrrrrrrrrr!
Tebing yang berada tak jauh dari sana pecah berantakan dihantam lingkaran pedang yang begitu mengerikan!
Jurus pedang ke 8 milik Raka adalah melangkah mundur untuk memancing lawan mengeluarkan tenaga terhebatnya. Kemudian maju memotong gerakan itu sebelum gerakan serangan itu mencapai titik tertinggi kekuatannya.
“Hebat!” puji Siwa Baruna. SInar matanya menyala-nyala tanda bahwa ia menjadi snagat bersemangat. Sekian lama menjadi pendekar pedang tanpa tanding, apabila menemukan lawan yang seimbang, sungguh merupakan suatu keberuntungan.
Apabila kau adalah pemain catur hebat, hidupmu tentu tidak lengkap jika tidak menemukan lawan catur yang seimbang. Umpama kau adalah seorang penyanyi yang memiliki suara emas, tentulah hidupmu tidak sempurna jika kau tidak menumukan pengiring yang setara.
Kehidupan saling mengisi. Ada kawan, harus pula ada lawan.
Kebahagiaan di hati Siwa Baruna, siapa pula yang dapat memahaminya?
Karena seseorang jika sudah begitu tenar, begitu tinggi, begitu agung, sedikit banyak tentulah ia merasa kesepian. Karena amat sangat sulit menemukan kawan dan lawan yang setara dengan dirinya. Yang dapat mengerti dan memahaminya.
Inilah mungkin sebab mengapa banyak pendekar-pendekar kelas atas memilih untuk menyepi dan mengundurkan diri dari dunia persilatan, karena mereka tidak lagi menemukan tantangan yang dapat memuaskan dahaga mereka atas ketinggian ilmu mereka sendiri.
Karena menemukan lawan yang sebanding, adalah seperti menemukan cermin.
Di mana seseorang bisa mengukur dirinya sendiri, bisa memperbaiki kekurangan-kekurangannya sendiri.
“Mari!” sambut Raka tak kalah bersemangat pula.
Dikiranya Siwa Baruna akan mengeluarkan jurus yang lebih dahsyat dan menakutkan. Tak tahunya jurus pedangnya menjadi sangat lambat dan sangat ringan!
Pendekar itu telah mengetahui bahwa Raka telah dapat membaca irama, dan arus kekuatannya. Jalan yang kemudian dipilihya adalah meniadakan irama dan arus. Ilmu pedangnya menjadi kosong dan tak bisa dipahami!
Untuk sesaat Raka terbingung-bingung. Ia seperti terbawa ke dalam arus yang pelan namun menghanyutkan. Tiada lagi kedahsyatan, yang ada hanyalah titik paling suci dari ilmu pedang. Yaitu tanpa pedang!
Ranting pohon menjadi pedang, jari manusia menjadi pedang, dedaunan menjadi pedang, kerikil menjadi pedang. Raka merasa seolah-olah seluruh dunia di sekelilingnya menjadi pedang.
Ilmu apa ini?
Tentu ini bukan ilmu kanuragan yang menyirep pikiran manusia.
Ilmu pedang SIwa Baruna adalah ilmu pedang yang suci dan lurus. Sama seperti orangnya. Tegas, lurus, dan langsung ke inti.
Ketika semua jurus ditiadakan, maka tiada lagi yang bisa dilakukan karena tidak ada jurus yang bisa digunakan untuk melawan sesuatu yang “tanpa jurus”.
Inilah ilmu terhebat dari Siwa Baruna. Ilmu yang sama sekali belum pernah dipergunakannya selama hidupnya menjadi pendekar pedang nomer satu di dunia. Baru kali ini ia mampu menggunakan ilmu ini, karena ilmu inilah ilmu pamungkas dari segala ilmu yang dimilikinya.
“Pedang Hati Suci”
Ilmu pedang yang mengutamakan kelurusan niat dan kebersihan hati pemiliknya.
Gelombang serangan yang tak terduga dan terlalu dahsyat ini membuat langkah Sukma Harum berantakan, dan permainannya menjadi kacau. Paham bahwa ia tidak dapat menggunakan cara apapun, ia jadi teringat dengan tulisan gurunya di tembok gua.
“Jurus ke-9 bernama ‘Menghantam Kegelapan’. Jurus ini hanya bisa dilakukan jika kau kehilangan seluruh inderamu. Karena terluka, atau karena kau sendiri yang menutup inderamu.”
Raka lalu menutup matanya. Menutup jalan nafas, menutup pikiran dan segala inderanya dari dunia sekelilingnya. Tahu-tahu segalanya terasa gelap gulita.
__ADS_1
Gelombang-gelombang serangan yang tadi tidak beraturan, kini menjadi telihat begitu gamblang di dalam kegelapan. Seperti berkas-berkas sinar yang bercahaya di dalam kegelapan malam.
Kini ia memahami bahwa kesucian dan kekosongan, harus pula dihadapi dengan hal yang sama. Tidak bisa dihadapi dengan akal dan ilmu.
Tahu-tahu senjata mereka beradu!
Braaanggggggg!
Ranting di tangan Sukma Harum pecah berantakan.
Ranting di tangan Siwa Baruna masih utuh dan kokoh pertanda penyaluran tenaga dalamnya kepada ranting itu sangatlah sempurna.
Siwa Baruna bergerak ingin menotol dada Sukma Harum, tetapi ia terhenyak ternyata lehernya yang sudah kedahuluan tertotol.
Sukma Harum menggunakan sisa ranting ditangannya yang ia pergunakan sebagai “gagang pedang” untuk disambitkan ke leher Siwa Baruna.
Kini pendekar pedang itu memahami, kenapa Sukma Harum tenang-tenang saja berkelana di dunia persilatan tanpa senjata andalannya. Karena senjata andalannya itu bukanlah Kujang Arka Kencana yang maha digdaya, melainkan jari-jari tangan yang penuh perasaan dan telah mengalami tempaan latian bertahun-tahun!
Jika jari-jari itu digunakan, sungguh tida akan mengecewakan pemiliknya!
“Aku kalah,” kata Siwa Baruna sambil menjura dengan ikhlas.
“Tidak, justru sayalah yang kalah,” bantah Sukma Harum.
“Tapi leher ku telah terkena sambitan raden. Jika itu merupakan Kujang, tentu nyawaku sudah dirampas malaikat maut,” kata pendekar setengah baya itu.
“Tetapi bukankah kita sedang bertarung ilmu pedang? Bukan ilmu lain?”
Memang benar. Secara ilmu pedang, Sukma Harum masih kalah pengalaman, kalah pengerahan tenaga, dan masih kalah murni.
Tetapi secara pertarungan, Raka lah yang menang. Karena dalam pertarungan hidup dan mati, apa saja boleh dilakukan selama tidak menyalahi kehormatan.
“Haha. Tidak kalah dan tidak menang. Abdi (aku) rasa, abdi harus melepaskan raden untuk pergi ke mana saja. Seumur hidup tidak akan membuat repot raden lagi. Tetapi bolehkah aku bertanya?”
“Silahkan, raden bagus.”
:Sudah berapa lama raden menyimpan ilmu pedang itu? Selama aku berkelana di dunia persilatan selama hampir 30 tahun, belum pernah kulihat atau menemukan ilmu pedang ini.”
Raka tidak ingin menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa ia baru menguasai jurus ini sejak 3 hari yang lalu. Tetapi ia berkata, “Jurus pedang ini adalah jurus pedang yang diberikan seorang pendekar Tiongkok kepada guru saya. Lalu oleh guru, ilmu pedang sejumlah 18 jurus itu kemudian dirampingkan dan disatukan menjadi 9 jurus.”
“18 Jurus? Bernama Penakluk Naga pula? Apakah jurus pedang ini berdasarkan jurus 18 Tapak Penakluk Naga atau 18 Tapak Naga itu?”
“Abdi tidak tahu. Selama ini belum pernah mendengar jurus 18 Tapak Naga.”
“Itu adalah jurus tenaga dalam yang sangat hebat dari Tiongkok. Sayang slama 100 tahun ini, ilmu ini telah menghilang dari dunia persilatan.”
“Oh begitu,” tukas Raka.
“Kalau boleh tahu, siapakah gerangan nama gurunda raden yang terhormat?” tanya Siwa Baruna sambil menjura.
“Nama julukan beliau adalah Ksatria Malam,”
“Oh pantas saja. Pantas saja. Sungguh abdi sangat kagum. Ini adalah jurus pedang yang sangat hebat. Dengan berbekal jurus ini saja, abdi yakin raden dapat menguasai dunia persilatan!”
Dalam hati Raka ini tertawa, memangnya apa guna menguasai dunia persilatan?
Tetapi ia menjura dan berkata, “Terima kasih banyak raden bagus. Sungguh abdi masih belum pantas menjadi murid beliau yang terlalu tinggi ilmunya.”
“Jika beliau sudah memilihmu, tentulah karena raden sangat pantas. Sungguh abdi kagum. Bolehkah lagi abdi meminta satu perimtaan? Sebenarnya malu hati meminta begitu banyak dari raden. Tapi sungguh abdi memutus urat malu untuk meminta ini kepada raden.”
“Ah kepada orang sendiri mengapa raden bagus begitu sungkan? Silahkan!”
“Lima tahun lagi, jika raden sudah menyelsaikan segala urusan ini, dan mempunyai waktu untuk sedikit memperdalam ilmu pedang raden, maukah raden menemuiku lagi?”
Raka tersenyum, “Tentu saja.”
Siwa Baruna pulang dengan wajah berseri-seri. Akhinya ia menemukan alasan untuk hidup slama 5 tahun ke depan. Ia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan mulai kembali berlatih ilmu pedangnya.
__ADS_1