Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 18: Memulai Penyelidikan


__ADS_3

Raka menceritakan segalanya kepada Antasena.


Setelah semuanya selesai, Ia bertanya, “Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa sampai kemari?”


“Semalam aku sampai di Mandeung. Kulihat begitu banyak orang berduka cita. Belum ada orang yang berani pergi ke pulau itu untuk menjemput para jenazah. Lalu kudengar kabar bahwa Amara selamat dan sekarang sedang dirawat di sebuah kapal. Segera aku mencari sungai terbesar di sekitar kota itu. Akhirnya sampai juga aku kemari,” jelas Antasena. Ia menambahkan, “Untung Amara sudah pulih. Jika ia sampai celaka, aku akan mengobrak-abrik pulau itu.”


“Jika kau kesana kau akan mampus juga,” sanggah Raka.


Antasena hanya bisa menghela nafas.


“Sekarang saatnya kita bertanya kepada Amara tentang kejadian di pulau itu.”


***


Amara mulai bercerita.


“Banyak sekali orang yang datang ke pulau Sepingkan. Badai selama beberapa hari membuat banyak orang


terombang-ambing di laut, termasuk aku. Untunglah kami berhasil sampai ke sana. Kata orang ada sekitar 200 pendekar yang berhasil sampai. Tetapi aku yakin ada lebih banyak, mungkin lebih dari 500. Ini karena tidak ada pencatatan khusus atas berapa orang yang datang. Hanya menurutku, jumlahnya pasti lebih dari 500, mungkin mencapai 1000an.”


“Yang berhasil sampai ke pulau pun hanyalah pendekar-pendekar kelas atas. Pendekar kelas bawah dan menengah sudah tahu diri, mereka hanya sampai di ujung pantai Mandeung selatan. Pendekar kelas atas berasal dari berbagai latar belakang. Berbagai macam perguruan dan padepokan. Hampir semua perguruan persilatan dan kanuragan yang ada di Nusantara, khususnya di Pajajaran saja, telah mengirimkan pendekar terbaik mereka. Merebut kitab peninggalan Bhiksu Kampala, apapun yang terjadi.”


“Saat pertama kali mendarat di pulau itu, tidak ada yang mencurigakan. Pulau itu adalah sebuah pulau karang


yang cukup besar. Meskipun begitu, tumbuh juga pepohonan yang rindang. Aku terlambat menyadari bahwa tidak ada satu pun satwa yang dapat ditemui di sana.”


“Hari pertama semua orang masih membaca keadaan. Masing-masing mengatur langkah dan mempelajari lawan. Hari kedua mulai timbul ketegangan setelah ditemukannya sebuah mulut goa. Akhirnya para pendekar berebutan masuk dengan cara bertempur satu sama lain. Tidak tahu lagi siapa kawan dan siapa lawan.”


“Aku masih belum mau ikut bertemput dan memilih membaca keadaan saja. Di saat itulah perhatianku tertuju


pada Candramawa, si Tombak Setan. Gerak-geriknya cukup mencurigakan. Ia salah orang yang tidak ikut bertarung mengadu nyawa. Pada hari ketiga saat matahari muncul, itulah saat orang-orang tahu-tahu bersikap aneh. Mereka menjadi lebih buas dan beringas, seperti orang gila. Di saat inilah aku bertemu Anjani yang


baru datang dengan seorang pengawal. Mereka yang kemudian menemaniku.”


“Keanehan menjadi semakin parah, beberapa pendekar menyadari ini dan memilih meminggirkan diri. Aku melihat


Candramawa bergegas pergi. Karena curiga, aku membuntutinya. Ia tahu aku buntuti, maka ia berkata kepadaku untuk segera pergi dari sini.”


“Kemudian ia menaiki perahunya dan pergi. Aku meminta Anjani untuk membuntutinya. Tak berapa lama aku sudah


diserang oleh para belasan pendekar yang sudah menjadi gila. Mereka saling menyerang satu sama lain tanpa tahu kawan dan lawan. Di sinilah aku terluka dan hampir pingsan. Untung saja kemudian Anjani datang kembali menjemputku.”


“Dari kabar yang terdengar, ternyata para nelayan sudah memperingatkan hal ini. Bahwa ada uap beracun yang


muncul dari bawah tanah. Uap ini berasal dari kawah gunung berapi di dasar laut. Asap beracun yang bisa membuat orang lupa ingatan dan mati menggenaskan. Untunglah aku berhasil selamat.”


Amara mengisahkan pengalamannya dengan ringan dan jelas. Raka dan Antasena mendengarkan penuh seksama.


“Apakah Candramawa terlibat?” tanya Antasena kepada Raka.


“Masih belum jelas. Tapi menurutku, jika ia memang ingin semua orang di pulau itu mati, jelas ia tidak perlu datang ke sana. Justru harusnya ia berada sejauh mungkin dari sana,” kata Raka.


“Betul juga. Lalu apa tujuan ia kesana, mengapa ia tahu-tahu pergi?”


“Pastinya karena ia menyadari betapa bahayanya keadaan di sana. Orang sepertinya memiliki naluri kematian


yang sangat kuat,” jawab Raka.


“Lalu bagaimana dengan sosok mirip dirinya yang muncul di Lembah Iblis? Mengapa waktunya tepat sekali?”


“Kita masih belum yakin itu adalah benar dirinya.”


Amara berkata, “Aku masih belum mendapat gambaran seluruh kejadiaan ini seutuhnya. Bisakan kakang Raka


merangkumnya untukku?”


“Pertama-tama, sebuah keluarga serta pengawal dan abdinya mati diracun, harta bendanya yang melimpah juga


hilang. Hanya 2 orang yang tersisa dari keluarga itu karena mereka tidak berada di sana saat kejadian. Kakak perempuan dan adik laki-laki. Sang kakak meminta bantuanku untuk mencari siapa pelakunya. Kami berjanji bertemu di suatu tempat di luar kota Mandeung.”


“Aku kemudian datang ke kota Mandeung, bertemu Mara dan juga Candramawa saat kejadian pertengkaranmu dengan anak seorang Tumenggung itu. Setelah menyelsaikan masalah itu, Mara pergi ke pulau Sepingkan mencari kitab, sedangkan aku kemudian ke tempat janjianku. Saat sampai di sana, ternyata seluruh isi rumah sudah binasa. Sang kakak sudah digorok orang. Para pengawal yang sakti mandraguna pun sudah mati tercincang oleh sebuah Kujang yang berada tak jauh dari sana.”

__ADS_1


“Hanya sang adik yang masih hidup dalam keadaan terluka parah. Di saat itu, kemudian datang para pendekar dari


Padepokan Rajawali Sakti. Mereka menuduhku sebagai pelakunya. Aku kemudian bersedia datang ke padepokan mereka untuk mengawal sang adik dan menjelaskan persoalan. Tak tahunya saat si adik sembuh, ia mengatakan akulah pelaku pembantaian itu.”


“Apa? Mengapa bsa begitu? Apakah ada orang yang menyamar sebagai dirimu?” tanya Amara dengan penuh amarah.


“Pastinya begitu. Aku kemudian melarikan diri untuk menghindari pertempuran. Dalam pelarianku aku bertemu


bhiksu Mangkara Dharma, pendiri padepokan Rajawali Sakti. Beliau menganugerahkan sebuah hewan sakti kepadaku, yaitu sebuah rajawali raksasa.”


“Hah? Kakang punya rajawali raksasa? Aku ingin lihat!” sahut Mara.


“Setelah ini ya,” kata Raka tertawa. Lanjutnya, “Ketua padepokan memberi kesempatan sebulan bagiku untuk


menyelsaikan permasalahan ini. Lalu dengan menunggangi rajawali, aku pulang ke kapal Nindira. Aku membahas dengan Aristi tentang siapa orang yang paling mampu melakukan ini. Kami berkesimpulan bahwa Masayu Renjani mungkin memiliki jawabannya.”


“Oh jadi kakang pergi bertemu dia? Apa dia tidak menerkammu? Haha.”


“Tentu saja dia menerkam kakangmu,” kali ini Antasena yang menyahut. “Untungnya kakangmu sudah sangat


berpengalaman menaklukkan hewan buas. Hahaha.”


Raka pura-pura tidak mendengar gurauan Antasena. Ia melanjutkan, “Sesampai di markas Masayu Renjanidi Lembah Iblis, eh aku malah bertemu tikus raksasa berkepala gundul.”


Amara paham siapa yang dimaksud, ia pun memberi umpan, “Apa yang dilakukan tikus raksasa itu di sana?”


“Ia sedang menyembunyikan diri dalam parit. Rupanya ia sedang dimarahi tikus betina,” tawa Raka.


Antasena tidak bisa menjawab. Ia pura-pura tidak mengerti.


“Karena tikus gundul itu pintar mengendus, akhirnya kusuruh dia mengendus jejakmu ke pulau Sepingkan,” tentu


saja Raka tidak bercerita tentang sejumlah perempuan telanjang yang menghuni istana milik Masayu Renjani.


“Ohh, jadi begitu,” tawa Amara.


“Kemudian aku mencari keterangan dari Renjani tentang orang yang punya kemampuan menyamar hebat serta memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Ia mengatakan tidak ada orang yang demikian. Hanya saja ia memiliki kakak seperguruan yang memiliki kemampuan menyamar yang tak kalah hebat dengan dirinya. Sayangnya sudah beberapa lama ini ia tidak mendengar kabar dari sang kakak. Ia memintaku untuk sekalian mencari tahu tentang kabar kakaknya itu.”


ditangkap agar dapat dijebloskan ke Lembah Iblis. Tujuannya adalah untuk membongkar sebuah perkumpulan rahasia yang berpusat di sana. Perkumpulan ini dipimpin oleh Tuan Agung Tanabasa. Mereka adalah sekumpulan pembunuh bayaran yang berilmu tinggi.”


“Ia kemudian memintaku mengalahkan Tanabasa. Saat aku bertarung dengan lelaki itu, tahu-tahu ia keracunan. Seseorang meracuninya sebelum ia bertemu denganku.”


“Apa tujuannya?” tanya Amara.


“Ia pasti tidak ingin Tanabasa tertangkap, lalu membongkar seluruh rahasia mereka.”


“Berarti ada orang yang lebih tinggi dati Tanabasa dalam perkumpulan itu,” tukas Amara.


“Bisa jadi anak buahnya yang melakukan itu. Awalnya aku belum berani mengambil kesimpulan. Setelah itu aku


dan Renjani menggerebek markas mereka. Tahunya markas itu sudah dilalap api sangat besar. Ada orang minta tolong dari dalam kobaran api. Aku menghambur masuk dan menyelamatkannya. Orang itu adalah Maya. Hanya dia satu-satunya yang selamat. Yang lain sudah tewas terpanggang api,” kisah Raka.


“Bagaimana mereka semua bisa tewas tanpa bisa menyelamatkan diri?”


“Hanya satu jawabannya. Mereka diracun pula.”


“Lalu kenapa Maya tidak diracun juga?” tanya Amara curiga.


“Kurasa yang diracun adalah anggota-anggota perkempulan itu saja. Sedangkan Maya dan teman-temannya lain


yang merupakan tawanan di sana tidak diracun karena mereka memang sudah ditawan dan tidak bisa meloloskan diri. Saat aku menyelamatkan Maya, ia sedang terikat di kamar utama.”


“Mungkin langit sengaja menyelamatkannya agar kita dapat membongkar segala keruwetan ini, kakang.” Desah


Amara.


“Mari kita memanggil Maya dan meminta keterangan darinya.”


***


Maya sudah berada di dalam bilik dan mulai bercerita.

__ADS_1


“Guruku bernama Nyi Sekar Arum. Beliau memiliki perguruan di gunung Cakrabuana. Hanya sebuah perguruan kecil bermuridkan kami 5 orang perempuan. Sejak kecil kami yatim piatu dan diambil murid oleh guru agung. Hampir 20 tahun kami tinggal dan berguru kepada beliau, sayangnya beliau meninggal karena usia yang sudah sangat sepuh. Kami kemudian memutuskan untuk turun gunung dan berkelana. Mengamalkan ilmu yang kami


pelajari dari beliau untuk menolong orang yang lemah. Sialnya, suatu saat kami bertarung dengan kelompok Tanabasa. Mereka melumpuhkan dan menangkap kami.”


“Sisanya tuan-tuan sekalian sudah tahu. Kami dijadikan budak peuas nafsu. Dikerangkeng di bawah tanah. Kadang


diambil dbawa ke dalam kamar orang, setelah selesai dipakai kami dimasukkan ke dalam kerangkeng lagi. Ada banyak budak pemuas nafsu di sana. Bukan cuma kami berlima. Mungkin ada 20 orang.”


“Saat tinggal di sana, kami mengetahui bahwa perkumpulan ini semuanya berisikan orang-orang terhormat.


Mereka adalah pendekar-pendekar cukup terkemuka, punya nama yang harum di dunia persilatan. Itu yang abdi (saya) dengar. Meskipun tidak mengenal mereka, kami bisa merasakan bahwa mereka memang orang-orang terhormat.”


“Abdi (saya) terkadang mencuri dengar apa yang mereka rencanakan. Sayangnya hanya sekilas-sekilas saja. Tidak mendapatkan gambaran besar tentang apa yang sedang mereka rencanakan. Yang kami tahu, mereka sedang berencana untuk menguasai dunia persilatan. Pertama dengan cara mengumpulkan uang sebanyak-bayaknya dari usaha sebagai pembunuh bayaran. Lalu jika sudah terkumpul dananya, entah apa lagi yang akan mereka lakukan.”


“Kejadian di pulau Sepingkan!” seru Antasena.


“Ceritakan tentang sosok tinggi besar berjubah hitam yang kau temui di sana,” pinta Sukma Harum.


“Iya hanya muncul sekali-sekali saja. Mukanya selalu tertutup. Terkadang oleh kerudung, terkadang oleh topi


bambu yang lebar. Tak seorang pun yang dapat melihat wajahnya. Oh ya, supaya tuan-tuan semua paham, seluruh anggota ini selalu memakai topeng. Bahkan jika bertemu satu sama lain. Hanya ketika dalam kamar mereka dan memuaskan nafsunya mereka baru membuka topeng. Abdi kenal wajah mereka satu-satu. Hanya saja tidak tahu nama-nama mereka.”


“Sosok tinggi besar itu selalu berjubah hitam. Kemana-mana ia membawa senjata yang ia smbunyikan di balik


jubahnya. Abdi tak tahu senjata apa yang ia sembunyikan itu. Mungkin pedang, mungkin juga golok.”


“Atau tombak,” gumam Antasena.


Lanjut Maya, “Tampaknya dialah yang menjadi pemimpin kelompok ini. Bahkan Tanabasa pun tunduk pada semua


kata-katanya…..”


“Keberadaannya di pulau Sepingkan, kepergiannya yang buru-buru, serta kehadirannya di lembah iblis semuanya cocok dengan kejadian ini!” tukas Antasena.


“Pagi-pagi sekali ia datang, berbicara dengan Tanabasa. Ia memerintahkan Tanabasa mencari tuan Sukma Harum.


Itu sekilas yang abdi dengar. Setelah itu abdi tidak mendengar apa-apa karena mereka memasuki bilik khusus yang tertutup.”


“Pada saat itu kemudian abdi tertidur. Tahu-tahu bangun karena sesak nafas dan merasa panas. Ternyata seluruh tempat sudah dipenuhi api yang berkobar. Selanjutnya ceritanya, tuan-tuan sudah paham kelanjutannya.”


Raka berpikir sebentar, kemudian mengangguk. “Memang kau benar, Antasena. Cocok sekali. Mulai saat ini, maukah kau mencarinya dan membuntutinya? Aku ingin kau mengawasi terus gerak-geriknya. Jangan sampai beradu dengannya karena akan mengacaukan seluruh rencana untuk membongkar semua peristiwa ini.”


“Kau sudah punya rencana?” tanya Antasena.


“Rencana dan gagasan kecil saja. Tapi kurasa patut dicoba.”


Ia lalu menoleh kepada Maya, “Maya, aku ingin kau menatap di kapal ini. Jadilah bagian dari kapal ini. Mungkin di


sini kau akan lebih aman.”


“Lalu tuan sendiri akan ke mana?” tanyanya penuh perhatian.


“Aku akan mengunjungi beberapa tempat sekedar meyakinkan gagasan yang ada di kepalaku.”


“Tidak bolehkah abdi ikut tuan saja? Di jalan abdi dapat melayani segala kebutuhan tuan.”


“Kau menatap dulu di sini, belajar dari kakak-kakakmu yang lain. Nanti jika sudah pintar pasti kuajak bertualang. Setuju?” tanya Raka dengan halus sambil membelai kepala gadis cantik ini.


Pengalaman buruk telah cukup melukai jiwa dan raganya.


“Nanti malam semua bergerak. Aku akan memerintahkan kapal ini untuk berada di tengah laut selama 7 hari, agar


kau dapat merasakan pengalaman hidup dan bertahan hidup di tengah laut. Mau?”


“Mau!” jawab Maya penuh semangat.


***


Saat malam tiba, mereka semua bergerak sesuai rencana. Raden Raty Ayu bersama Amara pulang ke rumah mereka. Antasena pergi mencari Candramawa untuk membuntutinya. Kapal Nindira mengarungi laut selama 7 hari. Sukma Harum pergi menyelidiki beberapa hal.


Kemana ia akan pergi, hanya dirinya sendiri yang tahu. Karena gagasan kecil di kepalanya membuat hatinya

__ADS_1


begitu penasaran, namun juga memenuhi jiwanya dengan semangat yang tinggi. Sudah lama ia tidak menghadapi tantangan sebesar ini.


__ADS_2