Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 2: Menemui Sahabat Lama


__ADS_3

Sukma Harum telah tiba di kota Jamparing, ibu kota dari Kadipaten dengan nama yang sama. Nama daerah ini


berarti “Busur dan Panah”. Dulu mungkin karena daerah ini memiliki banyak hewan buruan sehingga banyak orang datang berburu ke tempat ini. Akhirnya banyak orang menetap di sini dan jadilah daerah ini menjadi sebuah kota yang cukup ramai. Ada pelabuhan cukup besar yang menghubungkan jalur angkutan antar sungai dan laut. Sukma Harum tentu datang menggunakan kapal mewahnya.


Kapal mewah ini bernama “Nindira”. Ia mendapatkan kapal itu dari mahagurunya. “Nindira” terbuat dari bahan-bahan terbaik, dengan rancangan paling bagus. Layarnya kokoh, ruangannya sejuk, dan yang paling penting, kapal ini bagaikan sebuah benteng perang yang tak dapat ditembus lawan. Banyak senjata yang bisa ditembakkan dari kapal ini. Meriam, peledak, panah api, dan lain-lain. Tetapi senjata-senjata berada di ruang rahasia dan tak mungkin ditemukan. Mahagurunya lah yang membangunnya dengan tangannya sendiri. Begitu sudah jadi, malah kapal itu diberikan kepada murid kesayangannya.


Nindira diawaki oleh 5 orang. Semuanya perempuan. Mereka adalah bagian dari para pengawal keluarganya. Para pengawal ini diambil dari perguruan-perguruan terkenal. Sangat patuh dan setia kepada keluarganya sejak dari dulu.


Untuk awak kapal ini, Sukma Harum sendiri yang memilih mereka. Selain mahir mengawaki kapal, mereka juga memiliki ilmu silat yang tinggi, mengerti ilmu pengobatan, pintar memasak, serta mampu mengurus segala keperluan sang majikan.


Kata “segala keperluan” memang bisa menimbulkan pemahaman tersendiri dalam pikiran orang. Apalagi kelima awak kapal ini semuanya cantik dan tunduk patuh kepada tuannya. Tapi Sukma Harum tidak pernah perduli pada pikiran orang lain.


Ia memang paling suka dikelilingi perempuan. Baginya, mereka adalah kesenangan dan hiburan tersendiri. Semakin banyak, semakin bagus.


Mungkin inilah sebabnya ia belum menikah sampai sekarang. Karena jiwanya ingin bebas tanpa terikat dengan satu


orang saja.


Nindira telah bersandar di sebuah pelabuhan kecil. Sukma Harum turun ke darat dan sekejap ia disambut oleh


suasana sore yang hangat. Ada sesuatu di dalam sore yang membuat hatinya seolah dibawa ke sebuah masa.


Sebuah kenangan.


Jantungnya seperti berdegup lebih kencang. Darahnya seolah mengalir lebih deras. Kenangan memang dapat membawa perubahan dalam diri seseorang.


Ia berkata pada dirinya sendiri sambil tertawa, “Sudah selama ini, kau masih belum menghilang dalam hatiku.”


Jika ada seorang pria muda yang tampan, kaya raya, keluarganya mempunyai kekuasaan yang sangat besar, sakti mandraguna, sehat dan cerdas, namun masih memiliki kenangan menyedihkan tentang “seseorang”, maka siapa pula yang dapat membayangkan sosok seperti apa “seseorang” itu?


Perempuan seperti apa yang mampu membuat lelaki seperti ini tersenyum seorang diri di dalam kesunyian sambil


menikmati rasa sakit akan kenangan yang menghimpit dadanya?


Sukma Harum terus melangkah. Mungkin ia khawatir, pabila ia berhenti melangkah, kenangan indah itu akan


mengejarnya.


Tahu-tahu kini ia telah berada di depan sebuah rumah besar tak jauh dari pasar utama kota Jamparing. Semua orang di kota itu tahu milik siapa gerangan rumah nan megah dan indah itu. Baru akan mengetuk gerbang besinya yang kokoh, tahu-tahu jendela kecil di samping gerbang itu terbuka. Seorang penjaga gerbang mengeluarkan kepalanya sambil tersenyum penuh hormat, “Oh, raden yang datang? Mari silahkan masuk. Tunggu saya bukakan


gerbangnya.”


Gerbang itu terbuka. Sukma Harum melangkah ke dalam. Ia diantar oleh salah seorang penjaga rumah sampai masuk ke ruang tamu bangunan itu.


“Silahkan tunggu sebentar, saya akan memanggil nyonya.”


Sukma Harum mengangguk dengan ramah membalas sikap ramah penjaga rumah itu.


Penjaga rumah telah tahu bawa ia datang untuk “Nyonya” dan bukan untuk “Tuan” pemilik rumah. Karena mereka pun telah tahu, ia sudah lama tidak berbicara dengan sang “tuan”.


“Eh, raden yang datang?” terdengar suara sang nyonya. Mendengar suaranya saja, seorang lelaki dapat


terbuai dan terlena.


Kini orangnya pun sudah muncul. Nyonya Oey,


Istri dari Oey Kim Seng. Lelaki yang memiliki rumah semegah ini, tentu saja akan memiliki istri yang cantik bagai bidadari khayangan. Hal ini sudah menjadi sejenis hukum alam.


Nyonya Oey memang cantik sekali.


Sampai-sampai kadang Sukma Harum merasa berdosa hanya karena memandangi wajahnya saja.


“Dari wangimu yang tercium sampai dapur belakang, aku sudah dapat menduga siapa yang datang,” tukas nyonya Oey dengan ramah.


Sukma Harum terseyum ramah, “Apa kabar, cici (kakak)? Sehat terus sepertinya. Eh, kau nampak kurusan? Jangan lah terlalu sibuk bekerja.”


“Eh aku kurusan? Masak sih?” Perempuan mana saja tentu suka jika dibilang kurusan. Katanya, “Ada keperluan


apa raden mencariku? Loh mari silahkan duduk. Sampai lupa. Raden ingin minum apa? Mau degan dingin? Kebetulan kami baru memanen kelapa muda.”


“Oh, boleh. Terima kasih,” selamanya Sukma Harum tidak pernah menampik jika orang menawarinya mekanan


enak.


Tak lama pelayan pun datang membawa kelapa muda yang telah dipotong bagian atasnya dan beberapa nampan


kudapan. Sukma Harum mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu dengan sopan.


Nyonya Oey melihat keramahan itu dan berkata, “Sejak dahulu, raden selalu memperlakukan orang lain dengan sopan. Bahkan terhadap orang yang tingkatannya jauh dibawah raden.”


Sebenarnya Sukma Harum ingin menanggapi perkataan itu, tetapi ia memilih tersenyum saja.


“Sesungguhnya, ada keperluan apa raden mencariku?” tanya nyonya Oey. Ia mengerti bahwa orang setenar dan sesibuk Sukma Harum, tidak mungkin hanya ingin datang bertamu dan mengobrol. Ia pun tahu,


tamunya itu sama sekali tidak suka berbasa-basi.


“Saya mencari suamimu, cici. Apakah koh-Seng (kakak Seng) bersedia bertemu denganku?”


“Eh?” nyonya itu terbelalak keheranan. Bahkan mulutnya sampai menganga. Lalu rasa heran itu berubah menjadi


raut wajah yang bahagia. “Akhirnya!” katanya.


“Mohon ditunggu, raden. Akan kutanyakan kepadanya,” nyonya itu bergegas menemui suaminya seperti tak sabar


mengabarkan “berita” gembira ini.


Sukma Harum menunggu dengan tenang. Sebenarnya ia sudah dapat menduga apa jawaban dari Oey Kim Seng.


Saat nyonya Oey kembali ke ruangan tamu dengan wajah yang kurang enak, Sukma Harum tertawa di dalam hati


karena mengetahui bahwa dugaannya ternyata benar.


“Ia tidak mau,” kata nyonya Oey. “Tetapi ia berkata, jika raden membutuhkan pertolongannya, silahkan katakan


melalui aku.”


Sukma Harum tertawa.

__ADS_1


Nyonya Oey bingung antara ikut tertawa atau sebal. Katanya, “Sebenarnya apa yang terjadi antara raden berdua?


Kalian sudah bersahabat sejak kecil, tapi kemudian tidak mau bertegur sapa satu sama lain. Namun jika salah satu membutuhkan pertolongan, yang lain akan saling membantu. Tapi selamanya tidak mau bertemu muka. Aku sebenarnya heran….,”


Terdengar suara dari dalam, “Itu karena si kecoak itu terlalu kepala batu.” Rupanya suara Oey Kim Seng sendiri.


Sukma Harum terbahak. Katanya, “Meskipun aku kepala batu, setidaknya bukan batu ******. Hal ini saja sudah cukup dibuat bahagia."


Terdengar tawa Oey Kim Seng pula. Lalu katanya, “Istriku, bawa dia ke kamar kita. Di sana orang lain tidak bisa


mendengarkan obrolan kalian.”


Jika orang lain berada di tempat ini, tentu akan sangat keheranan melihat kejadian ini. Dua sahabat yang tidak


mau saling bertemu, tapi masih mau saling membantu. Bahkan salah satunya menyuruh istirnya untuk membawa sahabatnya ke dalam kamar, karena di sana tidak ada orang yang dapat mendengar obrolan mereka.


Kamar suami istri adalah sebuah tempat yang sangat sakral. Tidak sembarang orang boleh masuk ke ruangan ini.


Tapi Oey Kim Seng malah justru menyuruh istrinya membawa laki-laki lain ke dalamnya.


Tak lama Sukma Harum dan nyonya Oey sudah berada di dalam kamar. Nyonya Oey bahkan sudah menutup dan mengunci rapat-rapat semua jendela dan pintu.


Sukma Harum hanya menggeleng dengan wajah heran. Katanya, “Ia sangat percaya kepada nyonya. Rela membiarkan istrinya yang cantik berduaan dengan lelaki sepertiku.”


“Ya. Nama harum raden sebagai lelaki yang selalu dikejar dan dikelelingi wanita cantik sudah tersebar ke


seluruh dunia,” sahut si nyonya tertawa lebar.


“Rasa percayanya kepada cici (kakak) sangat besar. Aku salut kepada kalian berdua. Memang hanya rasa saling


percayalah yang dapat mempertahankan rumah tangga.”


“Raden keliru.”


“Eh?”


“Ia selalu cemburu kepadaku dan jarang sekali percaya kepadaku. Rasa percayanya yang besar itu bukan kepadaku, melainkan kepada raden.”


Sukma Harum tercenung.


“Sebenarnya apa yang menumbuhkan rasa percaya sebesar itu di antara kalian?” tanya nyonya Oey.


Sukma Harum berpkir sebentar, lalu berkata, “Mungkin karena kami sama-sama mengerti bahwa jika salah satu


membutuhkan nyawa yang lain, ia cukup meminta saja. Maka nyawa itu akan diberikan dengan cuma-cuma dan dengan senang hati.”


“Lalu kenapa raden berdua tidak saling menyapa?”


Sukma Harum tersenyum kecil. “Memberikan nyawa dan saling menyapa adalah 2 hal yang berbeda.”


Nyonya Oey tertawa. Ia tahu bahwa ia tidak salah memilih suami. Seseorang memang dinilai dari sahabat-sahabat


yang dimilikinya.


“Sedang sibuk apa suamimu akhir-akhir ini? Nampaknya ia tidak pernah keluar ruang kerjanya,” tanya Sukma


“Ia sedang menulis kitab.”


“Kitab?”


“Ya. Kitab tentang 100 Senjata Paling Digdaya di masa ini?”


“Hmmm. Menarik.”


“Aku sempat melirik sedikit apa yang dituliskannya. Tapi justru itu bagian yang paling penting.”


“Bagaimana?”


“Aku jadi tahu 5 senjata paling digdaya di urutan paling atas dalam kitabnya. Tapi janji jangan raden


beritahukan kepada siapapun sebelum kitab ini diterbitkan”


“Oh. Baiklah”


“Yang nomer 5 adalah Pedang Jinggalita milik adik kandung raden sendiri, Raden Ayu Amarajati. Yang ke-4 adalah


Gendewa Bumi milik Patih Surya Laksana. Yang ke-3 adalah Pedang Naga Langit milik Siwa Baruna. Yang ke-2 adalah Tombak Hitam milik Si Tombak Setan, Candramawa. Dan yang nomer satu…hmmmm…,adalah Bumbung Bratagini.”


“Semua senjata pernah aku dengar. Tapi Bumbung Bratagini, aku belum pernah mendengar tentang senjata ini.”


“Penjelasannya panjang, raden. Aku tidak sempat membaca,” tawa nyonya Oey.


“Sangat menarik!” tukas Sukma Harum.


“Raden tidak heran mengapa Kujang Arka Kencana yang sakti mandraguna milik raden, warisan dari sang ibunda malah tidak berada di urutan teratas dalam daftar ini?”


“Memangnya di urutan berapa?”


“Tidak masuk urutan sama sekali!”


tukas nyonya Oey enteng.


“Ahahaha,” tawa Sukma Harum sambil menutup mulutnya. Bahkan saat tertawa pun ia masih bersikap anggun


seperti seorang gadis pingitan. "Rupanya suamimu masih sebal terhadapku, cici."


“Kujang Arka Kencana tidak masuk di dalam daftar karena tidak ada seorang saksi pun yang dapat menceritakan


kehebatan kujang itu. Begitu menurut yang ditulis suamiku,” jelas nyonya Oey.


“Hmmmm.”


“Apakah karena Raden memang sudah lama tidak terlibat di dunia persilatan?”


“Sepertinya begitu,” jawab Sukma Harum. Tetapi jauh di dasar hatinya ia tahu, seperti juga yang diketahui oleh


Oey Kim Seng yang menulis daftar itu. Alasan sebenarnya mengapa tidak ada seorang saksi pun yang dapat menceritakan kehebatan Kujang itu adalah karena memang tidak ada seorang pun yang hidup setelah melihat Kujang itu melesat dari tangan pemiliknya!

__ADS_1


“Sebenarnya alasanku kemari untuk menanyakan 2 hal kepada suamimu, cici (kakak),” kata Sukma Harum. “Kumohon cici dapat menyampaikannya kepada koh-Seng (kakak Seng).”


“Tentu saja, raden. Silahkan.”


“Pertanyaan pertama, Apakah kerajaan Kaloka benar ada?”


“Pertanyaan kedua, Apakah telah terjadi pembunuhan di desa Cipandana yang korbannya beberapa orang dengan


penyebab diracun?”


“Baik. Apakah itu saja, Raden?” tanya nyonya Oey yang dijawab dengan anggukan oleh Sukma Harum. Nyonya Oey segera beranjak pergi dari situ. Sambil menunggunya kembali, Sukma Harum memperhatikan keadaan di dalam kamar.


Dinding terbuat dari batu yang sangat kuat namun halus. Bahan seperti ini amat sangat mahal untuk dijadikan


tembok rumah. Langit-langit terbuat dari kayu jati yang kokoh. Cukup dengan memandang sekilas Sukma Harum yakin kamar ini tidak mudah diterobos oleh orang luar. Oey Kim Seng ternyata membangun sebuah benteng kokoh yang dijadikan kamar olehnya.


Segala hiasan di dinding, di meja dekat ranjang, tertata dengan rapi dan enak dipandang. Kamar ini sangat luas. Tertata rapi. Wangi pula.


Tidak perlu menduga, Sukma Harum yakin ada jalan rahasia dibalik tembok atau di dasar lantai yang merupakan


jalan kabur jika sesuatu yang berbahaya tak dapat dibendung lagi.


Cukup lama baru nyonya Oey kembali ke kamar itu. Sukma Harum memandangnya dengan pandangan bertanya. Sambil tersenyum, nyonya cantik itu hanya mengangguk. Ia lalu duduk di kursi sebelah Sukma Harum.


Katanya, “Apakah raden sedang menyelidiki sesuatu?”


Sukma Harum mengangguk membenarkan.


“Baik. Untuk pertanyaan pertama, ya benar. Kerajaan Kaloka memang ada. Sebuah kerajaan kecil yang berdiri


sekitar 100 tahun yang lalu. Pada saat pemerintahan raja ke-4, kerajaan ini menghadapi perang saudara yang cukup besar. Menyebabkan kerajaan ini musnah dan pewaris tahtanya hilang. Konon ia melarikan diri bersama pengawal-pengawalnya ke daerah kulon (Jawa Barat) sini. Sampai saat ini kabar mereka tidak pernah


terdengar lagi.”


“Untuk pertanyaan kedua, benar juga. Terjadi sebuah pembunuhan di desa Cipandana. Seorang saudagar dan tuan


tanah bernama Argapala yang berusia sekitar 50 tahunan bersama seluruh anggota keluarga dan pegawainya meninggal diracun. Konon katanya seluruh harta dan isi gudang di rumah itu telah diambil. Yang tersisa hanya 2 orang anak mereka. Perempuan dan laki-laki. Yang laki-laki telah cacat sejak kecil.”


Sukma Harum mendengar penjelasan nyonya Oey dengan seksama. Ia tidak berkata apa-apa dan hanya memikirkan seluruh perkataan nyonya Oey ini.


“Apakah seluruh kejadian ini berhubungan, raden?”


“Sepertinya begitu, cici. Tapi saya belum berani mengambil kesimpulan.”


“Hmmm. Baiklah. Semoga cepat selesai, dan pelakunya cepat tertangkap.”


Sukma Harum hanya menghela nafas. “Semoga.”


“Hari sudah menjelang malam, sebaiknya raden menginap di sini. Akan aku siapkan kamar khusus untuk raden. Kamar raden biasanya yang tidak pernah dipakai orang lain.”


“Ah, terima kasih, cici. Tapi saya harus segera berangkat. Besok malam ada janji dengan orang lain,” Sukma


Harum menampik dengan halus.


“Ooo. Gadis siapa lagi yang kau ajak pergi bertemu (istilah di jaman itu untuk pacaran atau berkencan), raden?”


tawa nyonya Oey menggoda.


Sukma Harum tertawa kecil dan berkata, “Malah justru kali ini sayalah yang ia ajak pergi bertemu, cici.”


“Oh? Ingin kulihat seperti apa tampang gadis yang berani seperti itu. Pasti cantik sekali.”


“Lumayan. Tapi tentu tidak secantik cici,” tukas Sukma Harum ringan.


“Aku tidak percaya. Masa aku ini cantik?”


Sukma Harum tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Senyumnya hangat seperti musim semi yang baru menyeruak


menyegarkan bumi.


“Mengenal raden bertahun-tahun, aku tahu raden tidak pernah berbohong.”


“Saya sering berbohong. Hanya saja belum pernah ketahuan. Mungkin itulah kelebihan saya yang sebenarnya,”


tukas Sukma Harum sambil menahan tawa.


Nyonya Oey juga ikut tertawa. Katanya, “Semoga hubungan raden dan suamiku akan dapat membaik nantinya. Susah juga rasanya melihat kalian berdua tidak mau saling menyapa.”


“Semoga saja. Apakah dia hanya sibuk menulis akhir-akhir ini? Jarang keluar rumah?”


“Katanya jika kitabnya selesai, ia akan pergi ke Andalas.”


“Hmm. Menemukan tambang baru?”


“Sepertinya begitu. Akhir-akhir usahanya sangat pesat. Ia banyak membuka cabang, bahkan sampai ke pulau lain.”


“Syukurlah. Jagalah ia jangan sampai kecapaian dan jatuh sakit, cici.”


“Harusnya raden bilang sendiri kepadanya,” kata nyonya Oey.


Sukma Harum tidak menjawab. Ia hanya berdiri dan meminta diri. “Nampaknya saya harus berangkat sekarang, cici. Terima kasih banyak atas bantuanmu. Semoga kita segera bertemu kembali.”


“Baiklah, raden. Mari aku antarkan ke depan.”


Mereka berdua berdiri dari kursi dan beranjak dari sana. Dengan gerakan sangat cepat dan tak terlihat, Sukma


Harum telah meninggalkan sebuah kotak kecil di atas meja.


Ia telah keluar gerbang depan ketika kemudian terdengar teriakan dari dalam rumah, “Keparat! Pergi kau!


Jangan pernah datang kemari lagi! *******!”


Ia menoleh. Dilihatnya Oey Kim Seng berdiri dan mengancungkan pedang kepadanya.


Dengan tenang Sukma Harum berkata, “Baiklah. Maaf telah mengganggumu….,”


“Enyah kau dari sini!”

__ADS_1


Teriakan itu masih mengiang-ngiang di relung jiwanya meskipun ia telah pergi jauh dari sana.


__ADS_2