
Sukma Harum sangat menyesal mengapa ia tidak melihat tanda-tanda keracunan pada Tuan Agung Tanabasa.
Mungkin karena kemarahan dan kesedihannya, ia tidak dapat berpikir dengan jernih. Ini adalah sisi kerugian dari menggunakan perasaan sebagai alat untuk meningkatkan kekuatan, pikiran menjadi sedikit berkabut.
Dari kejauhan ia melihat Masayu Renjani datang. “Kau membunuhnya?” tanya wanita cantik itu. Raka hanya
menggeleng. “Ia keracunan.”
Renjani segera menyadari apa yang terjadi. “Cepat kita harus ke markas rahasianya,” ia melesat seketika. Raka
mengikutinya dari belakang. Dalam hati Raka mengakui dari seluruh pendekar wanita yang pernah ditemuinya, Masayu Renjani lah yang tingkatannya paling tinggi.
Di kejauhan terlihat asap membumbung tinggi. “Cepat, kita terlambat!” seru Renjani.
Sejak kejadian matinya Tuan Agung Tanabasa, Raka sudah dapat menduga apa yang terjadi. Seseorang telah
meracuninya dan membakar markasnya. Tujuannya agar lelaki kerempeng itu tidak membocorkan rahasia. Karena si “dia” tahu, Tanabasa bukanlah tandingan Raka. Dan akan sangat berbahaya jika sampai ia tertangkap hidup-hidup.
Markas itu berupa benteng besar yang mengelilingi sebuah goa. Renjani memperhatkan sekelilingnya. “Terlambat.
Keparat!” makinya.
“Periksa anak buahmu. Salah satu dari mereka pasti berkhianat. Tanpa keterangan darinya, tentu pelakunya tidak
akan dapat mengatur semua ini,” tukas Raka.
Lelaki tampan itu mengerahkan seluruh inderanya. Tubuhnya merasakan sebuah getaran kecil. “Kau mendengarkan itu?” tanyanya kepada Renjani.
Gadis itu menajamkan pendengarannya. “Seseorang berteriak minta tolong. Dari dalam goa itu.” Begitu
ia melihat Raka bergerak, segera ia berteriak, “Hati-hati! Bisa saja ini perangkap!”
Sukma Harum tidak perduli. Meski di dalam goa itu ada setan penunggu neraka menantinya, ia akan tetap berusaha menyelamatkan orang lain. Ia segera menerobos ke dalam api yang telah memenuhi seisi goa. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang amat tinggi, lidah api tidak sanggup menjilatinya.
Goa itu teryata sangat luas. Di dalamnya terdapat bilik-bilik yang kini semuanya diliiputi api. Getaran suara
minta tolong itu ternyata berada di sebelah utara. Segera ia bergerak ke sana menembus lautan api dan kepulan asap hitam tebal. Ia tak dapat melihat apa-apa lagi. Semua panas membakar apa saja.
Puluhan tubuh manusia bergelimpangan hangus terbakar. Baud aging terbakar enyeruak bercampur asap.
Braaaakkkkkkkkkkk!!!!!!
Ia menendang pintu.
“Toloooong!!! Ya tUhaaaan, toloooong!
Seorang wanita telanjang terikat di tempat tidur. Asap hitam telah menyelemuti seluruh tubuhnya. Sekali gerakan,
Raka memutuskan ikatan itu dan membondongnya.
“Tuan penolong, mohon selamatkan saudara-saudaraku. Mereka di tawan di ruang bawah tanah.”
__ADS_1
“Tunjukkan jalannya!” perintah Raka.
Segera gadis telanjang itu memberi arah. Sesampai di lantai bawah dilihatnya api sudah membakar segala.
Banyak mayat terpanggang hidup-hidup. Mereka berada di dalam kerangkeng dan tidak mampu melarikan diri dari sana.
Si nona menangis sekeras-kerasnya.
“Nona tenangnlah, bantu aku keluar dari sini. Kau yang lebih menguasai jalan.”
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di ingatannya. “Kembali ke ruang tadi, tuan. Di bawah ranjang ada jalan
rahasia!”
Sukma Harum segera kembali ke ruang atas. “Di mana jalan rahasia itu?”
“Buka lemarinya. Ada tuas yang membuka jalan!”
Begitu Raka membuka lemari, di lihatnya ada berbagai macam gulungan kulit dan kertas yang biasanya dipakai
untuk menulis catatan-catatan. Pikirannya bergerak cepat, dan memasukan seluruh gulungan yang sanggup diraihnya kebalik bajunya. Si nona juga membantunya. Lalu si nona menarik sebuah tuas tersembunyi.
Deeeenggggg!
Bagian belakang lemari menyurut mundur. Tahu-tahu terlihat tangga-tangga kecil. Raka mengambil patahan kayu
yang berada di dekatnya untuk dijadikan obor. Mereka berdua lalu menuruni tangga itu.
Mereka terus berjalan sampai lama, hingga terlihat cahaya kecil di depan sana. Udara yang tadinya dipenuhi
asap, kini mulai terasa segar.
Akhirnya sampailah mereka ke luar goa. Raka paham, daerah ini sudah bukan lagi bagian dari Lembah Iblis. Tuan
Agung Tanabasa menggunakan jalan rahasia ini untuk keluar masuk lembah. Menjalankan semua rencana-rencana kejinya.
“Kita berada di mana?” tanya si gadis.
“Nona belum pernah ke sini?”
“Tidak tuan. Abdi (saya), hanya melihat Tuan Agung menggunakan jalan rahasia. Tapi belum pernah sempat melarikan diri menggunakan jalan ini,” jelasnya.
Raka mencopot jubahnya. Ada juga sepotong kain batik yang dipakainya menutupi pinggang sampai lutut. Gadis itu
menerima pemberian Raka dan memakainya dengan penuh terima kasih. Meskipun bagian-bagian tubuhnya masih terlihat jelas, setidaknya ia tidak lagi telanjang bulat.
“Bagaimana nona bisa sampai berada di sana?” tanya Raka.
“Abdi dan beberapa orang saudara adalah petualang. Kami adalah 5 orang pendekar wanita yang baru saja turun gunung bertualang. Baru beberapa minggu berkelana, kami sudah tertangkap Tuan Agung dan dijadikan….,” ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Seolah-olah menyesal mengapa ia harus berkelana. Mengapa harus mejadi pendekar. Mengapa harus mengalami kejadian seperti ini.
Banyak orang mengira bertualang dan berkelana adalah hal yang menyenangkan. Bebas dan dapat menjelajahi dunia yang luas dengan girang gembira. Tapia mat sedikit yang memahami betapa berbahayanya semua itu. Dengan berbekal sedikit ilmu silat, mereka mengira mereka dapat beroleh ketenaran dan kekaguman orang. Sayangnya dunia persilatan amat kejam. Penuh tipu muslihat dan bahaya yang mengintai.
__ADS_1
“Namaku Raka. Siapa namamu nona?”
“Nama abdi Purmayaningrum. Orang-orang memanggil Maya.”
“Nona Maya, mari kita segera pergi dari sini. Kau sanggup berjalan?” Raka memperhatikan sekujur tubuh nona
itu. Penuh waran kebiruan dan kemerahan. Rupanya selain dipakai sebagai pemuas nafsu, gadis-gadis yang diculik juga dipakai sebagai sasaran pukulan dan kemarahan.
Karena kasihan, Raka memutuskan untuk menggendong saja nona itu. Sambil berjalan ia bertanya berbagai macam hal.
“Ada berapa orang yang menghuni goa itu?”
“Ada banyak sekali orang datang dan pergi. Mungkin puluhan sampai ratusan. Mereka selalu berganti-ganti. Gadis-gadis yang dibawa juga selalu berganti. Kalau bosan, sering mereka dibunuh. Kami beruntung karena kami 5 bersaudara adalah yang paling cantik menurut mereka.”
Lanjutnya, “Tadi malam Tuan Agung membawa abdi ke kamar. Ia rupanya sedang banyak pikiran seolah ada sesuatu yang sangat berat yang dihadapinya. Ia memperlukan abdi sangat buruk….,” suaranya terhenti airmatanya mengalir deras.
“Jika nona tidak ingin cerita tidak apa-apa…,” tutur Raka halus mencoba menenangkannya.
“Pagi-pagi sekali datang seseorang…,”
Raka jadi tertarik.
“Apa yang dilakukan orang itu?”
“Sepertinya ia memarahi Tuan Agung. Aku mendengarnya. Katanya rencana berjalan dengan sangat lambat. Ia juga menyebutkan tentang sebuah pulau….,”
Raka menjadi semakin tertarik, “Apa nama pulau itu?”
“Pulau Sepiring, atau apa begitu…,”
“Pulau Sepingkan?”
“Ya benar. Pulau Sepingkan!”
“Apa kata mereka?” tanya Raka sangat tertarik.
“Abdi tidak dapat mendengar dengan jelas karena Tuan Agung keburu menutup pintu.”
“Eh tunggu dulu. Orang yang datang itu laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki tinggi besar. Ia berpakaian hitam. Abdi hanya melihat sekilas.”
Sebuah kemungkinan muncul dalam benak Raka. Laki-laki berpakaian hitam inilah atasan dari Tuan Agung Tanabasa. Ia yang memberi perintah dan mengatur kelompok pembunuh itu. Dialah biang dari segala permasalahan ini. Dia yang meracuni Tanabasa, dan membakar seluruh markas itu. Lalu melarikan diri melalu jalan rahasia yang tadi mereka lalui juga.
Dialah orang yang ilmunya paling tinggi dan paling menyeramkan.
Segala kemungkinan tersusun di benak Sukma Harum dengan begitu nyata. Tetapi ia tidak ingin mengambil
kesimpulan. Sebelum semuanya terbukti, ia tidak boleh mengambil kesimpulan apapun!
Satu-satunya hal yang ada di dalam pikirannya adalah adiknya yang berada di pulau Sepingkan. Apa yang telah
__ADS_1
terjadi di sana? Kejahatan apa yang telah berlangsung?