
Orang-orang sudah beranjak pergi. Mereka pura-pura tidak tahu jika ada mayat jatuh dari atas pohon. Kalau tahu-tahu mereka menghampiri mayat itu, takutnya dituduh sebagai kerabat atau teman si mayat. Hanung Koswara memungut kerikil-kerikil yang tadi disambitkan Sukma Harum. Kerikil-kerikil itu tertembus jarum-jarum beracun sampai setengahnya. Betapa hebat daya lemparan orang itu.
Saat Hagung menoleh, dilihatnya Sukma Harum sudah jauh di depan sana, sedang memeriksa mayat. Hagung beranjak ke sana pula sambil membawa obor untuk memeriksa si mayat.
Usia orang yang mati itu sudah lebih dari setengah abad. Pakaiannya hitam-hitam. Mengenakan ikat kepala dari kain batik. Tidak ada bekas luka atau cipratan darah. Hanya saja wajah orang itu berwarna hitam keunguan.
“Jika orang bodoh, tentu akan mengira Kujang pendekar yang amat sakti ini diolesi racun yang sangat berbahaya, sehingga korbannya bisa mati dengan keadaan seperti ini,” tukas Hagung Koswara.
Sukma Harum tidak berkata apa-apa, ia hanya menunggu opas tersohor itu melanjutkan kata-katanya.
“Tetapi bagi mereka yang matanya jeli, tentu akan dapat melihat satu garis kecil di leher korban.”
Sukma Harum tersenyum. Ia mengagumi kemampuan opas itu dalam menilai keadaan.
“Garis kecil itulah bekas yang ditinggalkan kujang. Ia tidak menorehkan luka. Tetapi sang kujang memutus urat darah dari jantung ke kepala, yang berada di leher. Urat itu putus dari dalam, bukan karena luka dari luar, Hasilnya adalah darah moncrot masuk ke dalam kepala. Memenuhi batok, mata, dan isi kepala. Korban pasti merasa seolah kepalanya meledak dari dalam.”
Ya. Itulah yang dirasakan korban. Sayangnya ia tidak sanggup bercerita.
“Kujang Arka Kencana memiliki berbagai macam bagian. Ada bagian tajam, ada yang tumpul. Ada yang melengkung, ada yang lurus. Masing-masing bagian memiliki dampak tersendiri pada korban,” jelas Sukma Harum.
“Jadi tuan pendekar memilihkan cara mati untuk orang ini…,” ini bukan kalimat pertanyaan melainkan seolah menegaskan.
“Orang-orang keji yang bersembunyi di balik kegelapan memang pantas mati dengan cara seperti ini.” Sukma Harum menghela nafas. Ia sangat tidak suka membunuh orang, tetapi seringkali orang-orang itu sendirilah yang memaksanya untuk melakukannya.
“Tuan opas tahu siapa dia?” tanya Sukma Harum.
Hagung mengangguk. “Ya. Dia adalah Si Jarum Neraka. Kemampuannya melempar jarum dan meracuni orang sangat sulit dicari tandingannya di dunia ini.”
“Ya. Jarum-jarumnya sangat keji. Korban yang mati di tangannya sudah tak bisa dihitung,” kata Sukma Harum.
“Apakah tuan pendekar merasa bahwa ia tentulah anggota kelompok persekongkolan pembunuh itu?” tanya Hagung.
“Ya. Ia tentu salah satu dari mereka. Ke depan nanti sepertinya mereka akan membalas dendam.”
“Bagus. Biar mereka muncul semuanya!” seru Hagung Koswara dengan penuh semangat. “Malam ini terpaksa kita harus berjaga-jaga.”
“Malam ini kukira mereka tidak akan datang. Kehilangan salah satu jago andalan membuat mereka harus berduka sejenak dan harus mengatur kembali langkah-langkah mereka. Ku kira kita akan dapat tidur dengan tenang malam ini,” tukas Sukma Harum santai. Ia sudah meletakkan kain khusus yang selalu ia bawa untuk alas tidur di alam terbuka. Tak berapa lama ia sudah terlelap bagai anak kucing.
***
Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat setelah sebelumnya sudah sarapan pagi dengan daging sisa semalam. Halimun masih memenuhi lembah kecil di mana hutan itu berada. Embun pagi di dedaunan masih memantulkan cahaya matahari yang baru saja bersinar.
Garis kemerahan di langit sudah memudar. Dunia sudah mulai terang benderang. Kehidupan manusia pun seperti ini pula. Saat gelap dan kesulitan berakhir, yang muncul kemudian adalah cahaya yang penuh pengharapan. Nanti kemudian gelap akan datang lagi memenuhi semesta. Begitu seterusnya.
Dalam memahami kehidupan, Sukma Harum selalu memiliki pemahaman ini. Bahwa kesulitan dan kemudahan akan datang silih berganti. Bahagia dan sedih bergiliran mendatangi manusia untuk memberi pelajaran tentang rasa syukur.
Bukankah untuk satu helaan nafas saja manusia sudah seharusnya bersyukur dengan sangat dalam?
Hagung Koswara memandang lelaki tampan itu dari atas kudanya. Dilihatnya tidak ada satu kekhawatiran yang terpancar di wajahnya. Senyum kecilnya mengambang tipis. Terasa angkuh, namun pula terasa hangat.
“Apakah kau selalu seperti ini, tuan pendekar?” tanya Hagung.
Sukma Harum terkekeh. Katanya, “Kita semalam sudah menghadapi pengalaman hidup dan mati, mengapa tuan opas masih begitu sungkan dengan menyebutkan sebagai tuan pendekar?”
“Tuan sendiri masih menyebutku sebagai tuan opas,” kekeh Hagung.
“Baik. Mulai hari ini kita menyebut satu sama lain cukup dengan nama, atau ‘aku’ dan ‘kau’.”
“Akur,” tandas Hagung. “Nah sekarang boleh kau jawab pertanyaanku.”
“Aku hanya sangat mencintai kehidupan.”
Siapa pun yang mempunyai nasib seperti Sukma Harum tentu saja akan mencintai kehidupannya. Siapa pun yang tampan dan kaya raya, punya bakat dan keahlian, tentu akan menjadi manusia yang penuh rasa syukur. Ini sudah menjadi rumus.
Lanjut Sukma Harum, “Tetapi banyak orang mengira kekayaan yang banyak akan membuat orang semakin bersyukur. Tetapi mereka keliru. Sudah sering kulihat mereka yang hartanya tak terhitung jumlahnya, masih hidup di dalam kesusahan.”
“Bagaimana mungkin?” tanya Hagung heran.
“Karena mereka tidak pernah merasa cukup. Setiap hari memikirkan bagaimana menambah kekayaan. Menambah istri. Menambah gendak. Juga menambah tanah. Menambah apa saja yang masih bisa ditambah. Oleh karena itu segala cara harus dilakukan supaya bisa menambah. Mereka inilah orang fakir yang sebenarnya. Hidup tidak tenang karena berkutat dengan kecurangan dan siasat yang culas.”
Hagung Koswara mengangguk-angguk. Lama ia terdiam, lalu kemudian ia bertanya, “Kau sendiri mencari apa di dalam kehidupan ini?”
Lama sekali Sukma Harum berpikir hampir-hampir Hagung Mengira lelaki itu tidak mendengarkan pertanyaannya.
Akhirnya Sukma Harum lalu mengangkat muka dan berkata, “Aku rasa aku hanya ingin menikmati hidup.”
“Jika hanya ingin menkmati hidup, mengapa harus bertualang di dunia persilatan yang keras ini? Segala hal telah kau miliki, mengapa tidak menikmatinya dengan tenang?”
“Hidup bukanlah hanya sekedar makan enak, wanita cantik, rumah yang megah, serta tunggangan yang gagah. Tetap hidup juga adalah mencoba memahami kesulitan orang lain. Mendatangi segala pelosok bumi ciptaan Dewata yang agung. Bertemu manusia-manusia dengan segala macam wataknya, melihat berbagai macam tumbuhan, hewan, sungai, gunung. Sampai mati pun semua itu tak kan selesai dinikmati.”
__ADS_1
“Oh, jadi intinya kau ingin bertualang?”
“Seandainya aku bisa menikmati semua itu tanpa harus bertualang, maka tentulah hidupku ini akan jauh lebih bahagia,” tawa Sukma Harum.
“Dalam petualanganmu selama ini, hal apa yang paling membuatmu bahagia?”
Sukma Harum terdiam sebentar, lalu ia menjawab, “Jika aku bisa membantu kesulitan orang lain.”
Ada sebagain orang yang lahir dengan dorongan hati seperti ini. Mereka ingin menjadi pahlawan. Terkadang orang menuduh mereka sebagai pahlawan kesiangan. Suka ikut campur urusan orang lain. Mempersulit hidup diri sendiri.
“Aku mengerti.”
Tentu saja Hagung Koswara mengerti. Karena ia pun sepertinya memiliki dorongan hati seperti ini.
Apakah ada luka pada diri mereka yang hanya bisa sembuh jika mereka menolong lain?
Mungkin hanya mereka sendiri yang bisa menjawabnya.
***
Tengah hari menjelang.
Mereka sudah melewati 2 desa. Kurang 1 desa lagi mereka akan sampai di tujuan. Desa Cipandana. Tempat di mana semua rahasia dan pembantaian ini di mulai.
Mereka menunggang kuda dengan cukup santai sambil menenggak air kelapa muda yang baru saja mereka petik di tengah jalan.
“Aku heran, mengapa komplotan ini masih belum beraksi juga hari ini?” kata sang opas.
“Karena mereka tahu kita sudah bersiap menunggu mereka.”
“Hmmmm…., Komplotan ini sangat besar namun sangat berbahaya dan bergerak penuh rahasia. Tujuan mereka adalah untuk menggulingkan Sri Baduga. Tentu mereka punya kekuatan yang lebih dari cukup. Kenapa mereka tidak berani menghadapi kita berdua?” tukas Hagung.
Sukma Harum menghela nafas. “Hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, mereka menganggap kita terlalu hebat. Yang kedua, kita yang menganggap mereka terlalu hebat.”
“Kira-kira yang mana yang benar?”
“Dua-duanya cukup bagus. Setidaknya kita masih bisa makan, minum, dan tidur dengan tenang untuk sementara waktu.”
“Betul juga. Hahaha.”
“Tentu saja!” senyum Hagung.
***
Menjelang sore hari mereka telah sampai di depan gapura desa Cipandana. Matahari sudah mulai condong ke barat. Gapura itu terlihat cukup menterang tapi agak lusuh karena agak kurang terawat.
Ada penduduk yang lalu lalang berjalan kaki atau menaiki kereta barang. Rupanya mereka petani-petani yang baru pulang menggarap sawah dan ladang. Sukma Harum tersenyum kepada salah seorang petani yang tampak ramah dari gerak-geriknya. Orang itu tersenyum lebar sejak dari jauh.
“Sampurasun, Ki Sanak,” tegur Sukma Harum ramah.
“Rampes,” jawab petani setengah baya itu sambil tetap tersenyum ramah.
“Apakah ini betul desa Cipandana?”
“Betul, Aden (terkadang rakyat jelata menggunakan sebuatan raden/aden kepada orang yang strata sosialnya lebih tinggi). Aden mencari siapa?”
“Saya sedang mencari saudara.”
“Eh? Siapa nama saudara aden kalau boleh tahu?”
“Namanya Sri Murti Trianti,” jawab Sukma Harum.
“Oh Den Ayu Tria? Aden saudaranya?”
“Betul Ki Sanak. Saya saudara Den Ayu dari jauh.”
Melihat penampilan Sukma Harum yang tampan dan halus seperti bangsawan pada umumnya, petani itu percaya saja. Orang yang terlihat kaya dan mentereng memang selalu lebih dipercaya. Sejak dahulu hingga dunia berakhir.
“Den Ayu Tria sudah lama pindah dari kampung ini, den.”
“Oh begitu? Pindah ke mana Ki Sanak?”
“Entahlah. Semenjak kejadian menyedihkan di rumahnya dulu. Sekeluarga diracun orang. Hanya Den Ayu dan Den Bagus yang selamat karena kebetulan tidak di rumah. Katanya seluruh hartanya ludes semua. Ia lalu menjual sawah dan ladang mereka, lalu pindah dari desa ini. Entah ke mana,” jleas petani yang ramah itu.
“Rumahnya sudah dijual juga?”
“Rumah itu memang dijual, tapi teu aya yang mau beli. Tau sendiri, den…,”
__ADS_1
“Ah begitu ya. Aduh sampai lupa saya memperkenalkan diri. Nama abdi (saya) Raka,” kata Sukma Harum sambil menjura mengangkat.
“Ah saya juga lupa, den. Nama saya Sadiman.”
“Baik bapak Sadiman. Boleh kah abdi (saya) meminta tolong?”
“Tentu saja. Minta tolong apa, den?”
“Mau kah pak Sadiman mengantarkan abdi ke rumah lama Den Ayu Tria?”
Terlihat ada keraguan di wajah pak Sadiman.
“Abdi tahu rumah itu angker. Pak Sadiman cukup mengantar sampai daerahnya saja. Nanti pak Sadiman boleh pergi. Tentu saja abdi sedikit imbalan. Bagaimana? Mau kah bapak membantu saya?”
Melihat kepingan uang emas itu, tentu saja bapak Sadiman mau.
“Baiklah, den. Mari ikuti saya.”
Mereka memilih berjalan kaki. Sukma Harum dan Hanung menambatkan kuda mereka agar hewan itu dapat beristirahat. Di sepanjang perjalanan mereka juga menikmati suasana desa yang asri dan indah. Terasa agak sepi karena [enduduk desa lebih memilih untuk diam di rumah. Bahkan ada satu dua penduduk yang mengintip dari balik jendela.
Menyadari ini, pak Sadiman segera berkata, “Yah maklumlah, den. Desa ini memang jarang ada tamu. Jika ada pun biasanya adalah orang-orang yang sudah sering kemari untuk berdagang. Jarang ada orang dari kotaraja mampir kemari.”
Sukma Harum hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia memperhatikan bahwa sejak tadi Hagung Koswara hanya diam saja. Tapi ia sendiri pun enggan bertanya. Mungkin opas itu sendiri pun saat ini sudah memulai penyelidikannya sendiri.
Cukup lama mereka berjalan kaki. Kadang bertemu petani dan orang kampung yang kebetulan lewat. Mereka ramah dan murah senyum semua. Desa ini walaupun terasa lengang tetapi terasa hangat karena senyuman hangat orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.
Hari semakin sore. Akhirnya tiba juga mereka di tempat yang dituju. Dari jauh rumah itu terlihat sangat besar. Tamannya luas. Tapi rumah besar nan megah itu terlihat lusuh dan tak terawat. Ditambah lagi tak ada penerangan memadai di saat hari yang semakin sore.
“Saya sepertinya sampai di sini saja, ya den? Tak apa kah?”
“Tentu tak apa, pak Sadiman. Bapak boleh pergi. Terima kasih banyak sudah mengantarkan. Apakah imbalan tadi sudah cukup? Ini saya tambahkan lagi.”
Pak Sadiman pergi dengan hati senang.
Sukma Harum menatap rumah itu dengan hati berdebar.
“Kau takut hantu?” tanya Hagung Koswara sambil tertawa.
“Takut sih tidak. Aku hanya bingung.”
“Kenapa bingung?”
“Karena aku belum pernah bertemu hantu satu kali pun. Jika nanti bertemu, aku bingung harus bersikap bagaimana.”
“Jika hantunya laki-laki, aku akan mengajaknya minum arak dan menikmati kijang bakar,” tukas Hagung Koswara.
“Jika perempuan?”
“Aku akan memberikannya kepadamu. Dari cerita yag kudengar, Sukma Harum adalah ahlinya perempuan.”
“Hahahahaa.”
Mereka akhirnya memasuki rumah itu. Hagung menyalakan obor yang ia buat dari ranting-ranting kering yang berserakan di taman depan.
Tidak ada satu pun petunjuk yang mereka temukan. Rumah itu kosong melompong.
“Sebenarnya apa yang kau cari?” tanya Hagung.
“Gudang penyimpanan harta mereka.”
“Kenapa kau mencarinya?”
“Aku penasaran bagaimana orang bisa menguras habis isinya yang konon katanya banyak itu, tanpa sekalipun dipergoki penduduk kampung.”
“Benar juga!” seru opas itu. “Kemungkinannya berarti ada jalan rahasia menuju gudang. Lewat situlah pelakunya menguras harta itu. Aku ini menarik. Aku semakin penasaran!”
Lama Hagung mencari gudang rahasia itu hingga akhirnya ia menemukannya. ia menemukan sebuah tuas kecil yang tersembunyi di balik gantungan obor di tembok. Saat tuas ditarik, lantai papan yang tak jauh dari situ terbuka. Ada yang muncul dibalik lantai papan itu.
Sukma Harum tertawa.
“Kenapa kau tertawa? Kau sudah tahu jalan rahasia ini?”
Sukma Harum tidak menjawab ia segera menuju pintu bawah tanah itu. Mereka berdua masuk ke dalam dam menemukan sebuah ruang yang sangat besar. Kosong melompong. Hanung memeriksa segala sudut tembok dan lantai. Ia tidak menemuka tuas yang diharapkannya.
“Percuma. Memang tidak ada jalan rahasia,” Sukma Harum memastikan.
“Mengenal kau selama beberapa hari ini, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau sudah mengetahui bagaimana cara mengangkut harta itu,” jengek Hagung dengan sebal.
__ADS_1