
Raka membaca arah dengan memperhatikan keadaan sekitar. Ia paham ia kini perlu pergi ke arah selatan. Di
sanalah pulau Sepingkan berada. Untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan, ia memilih untuk memasuki hutan dan keluar dari jalan setapak. Ia khawatir akan bertemu musuh di depan sana. Dengan keadaan sekarang, ia berpikir sebaiknya ia menghindari pertarungan, dan memusatkan diri untuk secepatnya mencari Mara, adiknya.
Raka memetik buah-buahan dan membakar seekor kelinci untuk mengisi perut. Meskipun sekujur tubuh Maya
diliputi luka lebam, ia adalah seorang gadis yang kuat karena ia menguasai ilmu silat. Sambil menyiapkan makanan, Raka membiarkan wanita itu bersemedhi sejenak untuk memulihkan keadaan tubuhnya.
Begitu Maya membuka mata setelah bersemedhi, di depannya sudah ada daging kelinci yang harum dan ubi bakar yang hangat. “Makan dulu, setelah makan kita akan melanjutkan perjalanan.”
“Terima kasih banyak, tuan Raka.”
“Tidak perlu memanggilku tuan. Aku bukan majikanmu,” senyum Raka halus.
“Tuan telah menyelamatkan hidupku. Selamanya abdi (saya) akan memanggilmu tuan,” balas gadis itu dengan sungguh-sungguh.
Satu hal yang sejak dulu Sukma Harum pahami adalah ‘jangan pernah bersilat lidah dengan perempuan’. Ia nampaknya masih memegang teguh pemahaman ini, karena itu ia memilih diam saja.
Pikiran Raka masih terus berputar mereka-reka apa rencana busuk kelompok Tanabasa, tetiba ia teringat tentang
gulungan-gulungan kulit dan kertas yang sempat ia selamatkan tadi. Dibukanya satu persatu dengan seksama. Kebanyakan tentang laporan keuangan dan harta benda kelompok itu. Beberapa tentang tugas-tugas yang pernah mereka selesaikan. Tidak ada petunjuk yang berarti karena tidak ada nama yang tertulis dalam catatan-catatan
ini. Kelompok ini rupanya sangat berhati-hati.
Raka agak sedikit kecewa karena hal ini ketika ia sampai pada sebuah gulungan. Catatan ini berisi tentang denah
sebuah pulau. Pulau Sepingkan!
Ada sebuah goa yang cukup dalam pada pulau itu. Goa yang jalan keluarnya hanya satu. Ada denah-denah tentang titik-titik penting di dalam goa itu. Pikiran Raka berjalan dengan cepat. Jika seluruh orang masuk ke dalam goa itu, lalu pintunya keluarnya ditutup atau diledakkan, maka orang-orang yang berada di dalamnya akan mampus karena ketindihan tanah dan bebatuan atau kehabisan udara!
Terbukalah tabir ini semua.
Kabar tentang ditemukannya kitab bhiksu Kampala hanyalah kebohongan besar untuk menarik orang-orang dunia persilatan berkumpul di sana. Lalu ketika mereka semua memasuki goa itu untuk mencari kitabnya, maka goa itu diledakkan untuk mengubur mereka semua.
Siapa yang begitu keji merencanakan semua ini? Apa latar belakang penyebab ia melakukan ini semua?
Raka bergidik. Ia tidak sanggup membayangkan jika Mara mengalami ini semua.
“Kita harus cepat berangkat. Situasi sangat genting.”
“Baik, tuan,” Maya menghabiskan makannya dan berdiri bersiap.
“Untuk menyingkat waktu, kita harus terbang. Apakah nona bersedia ikut?”
“Terbang? Ba..bagaimana?” tanyanya lembut penuh rasa heran.
“Suuuuuuuiiiiittttttttttt” terdengar suara suitan yang melengking tinggi.
***
Maya menutup matanya. Seumur hidup ia belum pernah mengalami hal seperti ini. Terbang! Ia benar-benar terbang! Menumpang di atas leher seekor burung rajawali yang sangat besar. Ia memeluk erat tubuh Raka karena khawatir terjatuh. Terkadang ia membuka mata untuk melihat apa yang ada di bawah. Sebagai pendekar wanita yang cukup mumpuni, setidaknya ia memiliki keberanian yang cukup. Hanya saja terbang merupakan pengalaman yan sama sekali baru baginya.
Cukup lama mereka terbang sampai hari menjadi gelap. Jika dibandingkan dengan kuda, burung rajawali sebenarnya lebih lambat kecepatannya. Hanya saja karena melalui udara yang bebas halangan, sudah pasti burung rajawali akan sampai lebih dulu ke tempat tujuan.
Selama perjalanan Raka tidak banyak mengobrol dengan Maya. Pikirannya menelusur ke berbagai kejadian-kejadian penuh rahasia yang dialaminya akhir-akhir ini. Satu keanehan besar adalah mengapa sekarang ia menjadi buronan?
Bukankah dulu ketua Padepokan Rajawali Sakti telah berjanji utuk memberinya waktu selama satu bulan? Mengapa kini baru semingguan saja sudah ada perintah penangkapannya yang beredar di dunia persilatan?
Terlalu banyak kejadian simpang siur menjadi satu. Jika dilihat sepintas tentu tidak berhubungan. Tetapi Raka
__ADS_1
dapat memahami dengan cukup dalam bahwa seluruh kejadian ini pasti ada benang merahnya. Pasti ada perancangnya. Pasti ada tujuannya.
Malam tiba, rembulan pun menyinari langit yang kelam. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya. Udara
yang dingin mampukah menembus dekapan dua manusia yang saling berpelukan dalam diam?
Entah apa yang mereka pikirkan.
Entah apa yang meraka rasakan.
Dari atas langit, bumi terlihat begitu damai dan tenang. Pelita bertaburan menghiasi hamparannya, bagai
lilin-lilin kecil yang menerangi perjalanan hidup manusia. Dari atas sini, terlihat Bumi tanpa batas-batas. Tiada tingkatan masyarakat. Tiada kaya, tiada miskin. Tiada yang menderita, juga tiada pula yang bahagia. Yang ada hanyalah ketenangan dan kedamaian.
Yang ada hanyalah sepi.
Bahkan ketika seorang wanita yag amat cantik memeluknya dengan begitu erat, begitu pasrah, dan begitu manja, Sukma Harum tidak merasakan apa-apa.
Nafsu tetap membara, namun perasaan sudah mati.
***
Mereka mendarat di luar gerbang kota Mandeung. Di pinggir pantai selatan. Tadi mereka sempat terbang di atas
laut selatan, tetapi tanpa peta dan penerangan matahari, tidak mungkin menemukan pulau kecil itu. Karena itu Raka memutuskan untuk turun ke kota ini. Kota tempat berbagai macam peristiwa.
Saat memasuki kota Raka mulai melihat hal yang cukup mengagetkan. Banyak sekali orang-orang dunia persilatan.
Wajah mereka menunjukkan kesedihan dan beban yang amat berat. Sesuatu pasti telah terjadi. Suatu bencana besar.
Bencana yang ia takutkan tadi.
Di sebuah pojok yang sepi, Raka menyalakan suar ke langit. Kembang api berwarna hijau yang cukup terang. Tanda rahasia milik keluarganya dan para pembantu dan pegawainya. Menunggu tidak begitu lama, tampak seseorang muncul di sana.
“Anjani!” seru Raka.
“Oh Raden sudah datang. Mari ikut saya, Raden Ayu sudah pulih dan sehat. Kini sedang istirahat.”
Mendengar ini, legalah hati Raka. Ia menghela nafas dengan cukup panjang. Melihat ini Anjani memahami bahwa Raka telah menanggung beban pikiran yang cukup berat memikirkan adik semata wayangnya itu. Ia menyentuh tangan Raka tanpa berkata apa-apa. Seolah ingin memberikan dorongan semangat dan pengharapan.
***
Amara berada di atas kapal Nindira yang sedang ditambat di pinggir sungai besar bernama sungai Cilaki. Semua awak kapal lengkap berada di sana. Bahkan ditambah 4 orang pengawal berbadan tegap yang menjaga setiap sudut kapal. Raka menyapa mereka dengan sopan dan menanyakan keadaan mereka. Kemudian ia masuk ke kamar tamu di mana Amara berada.
Dilihatnya adiknya itu sedang bersemedi memulihkan keadaan tubuhnya. Setelah yakin adiknya tdak kurang suatu
apa, Raka kemudian pergi ke anjungan atas.
“Bagaimana kabar kalian semua nona-nona yang cantik? Perkenalkan sahabat baruku, namanya Maya.”
Maya kemudian memperkenalkan diri, sesudah itu ia dipersilahkan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri
dan berganti baju.
Raka mulai bertanya tentang segala peristiwa yang menimpa Amara.
Anjani menjelaskan, “Kabar mengenai kitab sakti bhiksu Kampala rupanya merupakan sebuah perangkap belaka.
Banyak pendekar yang datang ke pulau itu mati menggenaskan karena saling mengadu jiwa. Mereka yang menang pun terperangkan di dalam goa yang dipenuhi uap beracun. Uap ini keluar dari dalam tanah. Tidak hanya di dalam gua, uap ini sebenarnya sedikit demi sedikit meliputi pulau itu, sehingga membuyarkan pikiran dan tenaga para pendekar yang berada di sana.”
__ADS_1
“Sebenarnya para nelayan sudah memperingatkan keanehan pulau karang itu, tetapi para pendekar tidak memperdulikannya dan mengira itu hanya takhayul belaka. Teapi setelah berada di sana, uap beracun itu mengacaukan pikiran mereka dan mereka saling bertarung. Mereka yang ilmunya rendah bahkan sudah jatuh pingsan sebelum bertarung.”
“Dari bencana ini, yang selamat tidak sampai 10 orang. Padahal jumlah para pendekar yang datang kesana adalah
sekitar 150 sampai 200 orang.”
“Bagaimana Amara bisa selamat?” tanya Raka.
“Raden Ayu melihat Candramawa sang Tombak Setan. Ia merasa ada yang aneh dengan pendekar itu. Lalu membuntutinya. Ternyata pendekar aneh itu pergi meninggalkan Pulau. Karena merasa janggal, Raden Ayu memerintahkan kami untuk pergi juga membuntuti Candramawa. Belum jaug kapal kami meninggalkan pantai, kami melihat para pendekar di sekitar sana sudah kesetanan dan menyerang Raden Ayu di pinggir pantai dengan membabi buta. Raden Ayu terpaksa membunuh mereka semua, hanya itu satu-satunya cara agar ia dapat selamat. Karena mereka semua sudah menjadi gila.”
“Kami lalu kembali menjemput Raden Ayu yang ternyata jatuh pingsan setelah memenangkan pertempuran. Rupanya karena mengerahkan tenaga cukup besar, pertahanan Raden Ayu jebol dan uap itu merasuki dirinya. Untunglah kami berhasil menjemputnya dan membawanya kemari. Sudah 3 hari ia memulihkan tubuhnya. Sekarang keadaannya sudah lebih baik.”
“Hmmm, kami sekeluarga sungguh berhutang kepada kalian. Terima kasih banyak. Aku akan menyampaikan ini kepada ramanda,” kata Raka dengan tulus.
“Tidak perlu, raden. Ini sudah menjadi tugas kami,” kata para dayangnya beramai-ramai.
Kini bertambah satu lagi teka-teki. Mengapa Candramawa meninggalkan pulau itu? Apakah dia sudah merasakan ada keanehan di sana? Ataukah dia memang ada hubungannya dengan bencana itu? Apakah dia pergi dari sana untuk datang ke Lembah Iblis dan mengatur rencana dengan Tanabasa?
Maya muncul. Ia cantik sekali dengan gaun yang diberikan oleh salah satu dayang. Rambutnya disanggul ke atas.
Jubah malamnya agak sedikit tembus pandang, membuat bayang-bayang tubuhnya semakin tampak lebih indah. Lebih menggetarkan jantung.
Wajahnya putih bersih, kulitnya bagikan warna susu. Pantas saja banyak lelaki tergiur melihatnya. Pantas saja
Tanabasa menjadikannya budak pemuas nafsu yang paling ia sayangi.
Raka memandangnya sambil tertawa menggoda, “Rupanya tampangmu boleh juga nona. Tidak jelek-jelek amat.”
Jika kau laki-laki yang sudah berpengalaman, kau akan tahu cara menggoda wanita. Raka adalah lelaki yang
berpengalaman. Amat sangat berpengalaman.
“Asalkan tidak membikin tuan muak dan mual, abdi sudah sangat senang,” kata Maya tersipu. Sinar matanya yang cerah seolah menembus malam.
“Duduklah di sebelahku. Biar kumainkan lagu untukmu,” pinta Raka.
Malam semakin larut. Lagu semakin syahdu. Tatapan semakin mendalam.
Mereka adalah makhluk-makhluk mungil yang penuh perasaan.
***
Keesokan paginya Raka terbangun saat ujung jempol kakinya ditarik-tarik seseorang. Saat membuka matanya,
dilihatnya adiknya yang cantik dan lincah itu sudah tertawa-tawa di hadapannya.
“Mara sudah baikan?”
“Sudah, dong. Ini malahan mau pergi lagi,” kata Amara santai.
“Eh nona bengal. Kau tidak boleh keluar ke mana-mana saat ini. Setidaknya untuk beberapa minggu ke depan.”
“Ih, memang kenapa sebabnya?”
Belum sempat Raka menjawab, Amara mendengar sebuah seruan dari luar, “Ratu Ayu tiba. Salam hormat.”
Raka tertawa, “Itu sebabnya.”
Ratu Ayu adalah sebutan bagi ibu mereka. Pendekar wanita paling sakti di dunia. Ratu Ayu Dewi Kinanti Gandakusuma.
__ADS_1