
Tidak sulit menunggang Cakrawala. Raka sangat mahir menunggar kuda sehingga mudah baginya untuk menyesuaikan caranya saat menunggang rajawali sakti ini. Saat perjalanan menuruni puncak gunung pun, mahaguru Mangkara Dharma telah memberitahukannya banyak sekali kisah-kisah seputar burung raksasa tersebut.
Ternyata Cakrawala saat ini sudah berumur sektar 40 tahun. Ia adalah keturunan dari rajawali sakti milik Prabu
Brama. Saat ini jenis rajawali raksasa seperti ini sudah hampir punah, sehingga amat sulit menemukan pasangannya. Bhiksu Mangkara sudah menugaskan murid-murid padepokannya untuk mencari rajawali raksasa yang betina namun sampai sekarang belum membuahkan hasil.
Ada satu perkataan mahaguru Mangkara Dharma yang kini terngiang terus di dalam hatinya, “Cakrawala adalah
sahabat. Bukan hewan peliharan. Perlakukanlah ia sebagai sahabatmu. Jangan sebagai tunggangan. Ia adalah makhluk yang bebas, karena tu ia berhak pergi dan datang ke mana pun ia suka. Jika kau memanggilnya, pastikan bahwa kau benar-benar membutuhkan bantuannya. Karena seseorang seharusnya tidak menyusahkan sahabatnya.”
Sukma Harum mengelus-elus belakang kepala sahabat barunya. Malam gelap dan sangat sulit menentukan arah.
Untungnya Raka pernah belajar cara menentuka arah dengan membaca rasi bintang di langit. Dengan berbekal hal ini, akhirnya ia dapat menemukan kapal kesayangannya yang sedang merapat di sebuah dermaga.
Wuuuut wuuuut wuuuuut.
Suara kepakan sayap ini menimbulkan angin yang cukup besar. Rajawali itu mendarat dengan mulus di atas
geladak.
Anjati yang kebetulan saat itu sedang berada di atas geladak untuk merawat dan membersihkan tempat itu
terhenyak kaget. Hampir saja ia menyerang burung raksasa itu. Untung ia cepat melihat bahwa majikannya lah yang mengendarai tunggangan aneh itu.
“Raden!” sahutnya kaget bercampur senang.
“Kaget ya, Anjati?”tanya Sukma Harum sambil tertawa melihat kekagetan pengawalnya.
“Demi Dewata, A…apakah ini rajawali sakti yang di dalam cerita-cerita lama itu, raden?”
Raka mengangguk sambil menjawab, “Ya. Induknya adalah tunggangan Prabu Brama di masa lampau.”
“Raden sudah pulang!” kini para pengawalnya berhamburan muncul menyambutnya. Seperti Anjati, mereka pun kaget melihat hewan yang kini dadanya dielus-elus majikan mereka.
Melihat banyak orang datang, rajawali itu tidak takut. Ia paham bahwa orang-orang ini adalah sahabat dari
sahabatnya.
“Perkenalkan mereka, Cakrawala. Inilah pengawal-pengawal yang sudah kuanggap adikku sendiri. Anjati, Anjasih,
Andini, dan Aristi.”
Mereka semua menjura. Cakrawala memandang mereka sekilas. Pandangannya seolah angkuh bagaikan seorang raja. Lalu tiba-tiba ia melesat ke atas!
Wuuuuuussssssshhhhhh!
“Hebat sekali!”
“Gagah!”
“Aku ingin punya satu juga!”
Raka hanya tersenyum. “Sedang apa kalian tadi?”
“Tidak ada kegiatan. Hanya duduk saja menunggu kabar dari Raden dan kakak Anjani,” jawab Anjasih.
“Belum ada kabar dari Anjani?” tanya Raka.
“Ada. Dua hari yang lalu ada merpati datang membawa berita,” Aristi memberikan secarik kain kecil. Raka
membuka dan membacanya.
“Nampaknya akan segera badai. Tak akan bisa berkabar. Kami semua selamat sampai di pulau. Akan menyelidiki lebih lanjut.”
Sukma Harum menyembunyikan rasa gelisahnya. Berarti hujan deras beberapa hari yang lalu membawa badai besar ke pulau kecil itu.
“Mari masuk. Ada yang ingin kuceritakan kepada kalian.”
***
Sukma Harum menceritakan petualangannya selama beberapa hari ini. Mulai pertemuannya dengan Amara dan
Tombak Setan, sampai pada peristiwa pembantaian dan juga pengalamannya di Padepokan Rajawali Sakti.
“Aristi, siapa sebenarnya si Tombak Setan itu?” tanya Sukma Harum.
“Tidak ada seorang pun yang mengetahui nama asli dan asal-usulnya, siapa gurunya tiada yang tahu. Dia muncul
begitu saja sejak 5 tahun yang lalu. Membunuh orang yang tidak disukainya. Harus diakui, semua orang yang dibunuhnya memang pantas mati,” jelas Aristi. “Karena itu, orang-orang aliran lurus tidak ada yang mau menyelisihinya. Orang-orang golongan sesat pun sebisa mungkin tidak mencari perkara kepadanya.”
“Dari cerita raden, tombaknya sangat menakutkan,” kata Andini.
“Jurus seperti itu hanya bisa dikeluarkan oleh mereka yang melatihnya seumur hidup. Setiap detik dalam
hidupnya, setiap tarikan nafasnya, hanya digunakan untuk melempar tombak,” kata Sukma Harum sambil menghela nafas.
“Sepertinya ia tidur dan pergi ke ****** juga membawa tombak,” tukas Anjasih yang memang jenaka. Sayang tidak ada yang tertawa, karena memang tidak ada yang pantas ditertawakan dari sosok Tombak Setan. Bahkan Anjasih pun tidak tertawa mendengar guyonannya sendiri.
“Aristi, menurutmu, siapa orang yang menyamar menjadi diriku dan mebantai semua orang di rumah itu?” tanya
Sukma Harum lagi.
Aristi berpikir sebentar lalu berkata, “Orang yang paling tinggi ilmu menyamarnya adalah Masayu Renjani.”
Mendengar nama ini Sukma Harum trgetar sedikit. Ada banyak cerita tentangnya dan wanita ini.
“Dan saat ini, wanita cantik itu berada di Lembah Iblis,” tambah Aristi.
Ya, Sukma Harum tahu. Bahkan ia sendirilah penyebab Masayu Renjani berada di tempat itu. Lembah Iblis adalah
tempat pembuangan para penjahat, pembunuh, perampok, pemberontak dan mereka yang melakukan pelanggaran hukum berat di Pajajaran. Selain hukuman mati, hukum pembuangan inilah yang ditakuti banyak orang.
Karena siapa yang sudah masuk ke sana, tidak akan pernah keluar lagi.
Tapi Sukma Harum tidak yakin. Dengan kemampuan yang dimiliki Masayu Renjani, perempuan itu tentu dapat
menemukan jalan untuk kabur dari sana. Karena dia adalah “Tukoag Bohong Nomer Satu Sedunia”. Pekerjaannya adalah mencuri dari orang kaya untuk dibagikan ke orang miskin.
Yang menyebabkan ia dibuang ke Lembah Iblis adalah karena ia menipu seorang pangeran dan menguras habis
hartanya. Sukma Harum dulu diperintahkan Prabu Siliwangi sendiri untuk menangkap wanita ini. Tetapi, Sukma Harum pula yang memohon agar ia tidak dihukum mati. Sebagai gantinya, Masayu dibuang ke Lembah Iblis.
“Tetapi kemampuan ilmu silatnya masih belum mampu untuk melawan seluruh orang di dalam rumah itu. Kalau sekedar untuk bertahan dan melindungi diri dari serangan mereka tentu masih bisa. Tetapi untuk membantai mereka seperti itu, agak kurang masuk akal,” kata Aristi.
“Kira-kira siapa yang bisa?”
“Ke 5 orang pengawal itu adalah orang dunia persilatan yang sangat tinggi ilmunya. Tentu bayarannya sangat
mahal. Mereka adalah Sura Wana jago pedang dari Majapahit, Ki Langga Pasih adik pendiri Padepokan Wuwung Esa, Agasoka sang Pelukis Maut, Birun Maung sang Harimau dari Utara, dan Wardisena si Golok Maut.”
Mendengar nama-nama ini semua yang berada di sana bergidik. Semua yang disebut adalah pendekar-pendekar kelas atas. Nama mereka tersohor di seluruh nusantara.
“Apakah benar memang orang-orang ini yang terbunuh dalam rumah itu?” tanya Arisiti kepada Sukma Harum.
“Ya benar. Aku sudah memeriksa mayatnya. Dari pakaian dan senjata mereka, kemungkinan besar memang benar merekalah korban-korbannya. Aku juga sudah pernah bertemu dengan mereka saat mendiang Sri Murti mengunjungiku pertama kali.”
“Berarti ada orang yang sanggup menyamar dan memiliki kemampuan silat sangat hebat,” Aristi menyimpulkan.
“Sepertinya aku harus berkunjung ke Lembah Iblis, mungkin Masayu dapat memberi sedikit petunjuk,” kata Sukma
Harum.
“Raden yakin? Terakhir ia mengancam akan membunuh raden jika bertemu kembali,” kata Andini.
Sukma Harum hanya tertawa.
Ia lalu menutup mata dan tidur di atas dipan. Beberapa hari ini cukup melelahkan. Beberapa hari ke depan akan
lebih melelahkan lagi.
***
Diperlukan 2 hari perjalanan melalui sungai untuk sampai ke daerah Lembah Iblis. Raka tidak ingin menggunakan Cakrawala untuk hal-hal yang belum terlalu darurat. Karena itu ia memutuskan untuk menggunakan Nindira, kapal kecilnya yang mewah.
Masih dibutuhkan 1 hari lagi lewat darat untuk sampai ke Lembah Iblis. Kali ini Raka tidak mengajak pengawalnya karena ia sudah memiliki rencana yang lebih baik. Begitu sampai di sana, ia menemui kepala penjaga Lembah Iblis.
“Raden Raka? Wah ada urusan apa yang membawa raden kemari? Ada yang bisa saya bantu?” tanya kepala penjaga yang bernama Sandika.
“Ah, kakak Sandika masih bertugas di sini? Betah juga rupanya,” sapa Sukma Harum dengan tulus. Ia memang mengenal kepala penjaga itu. Seorang perwira muda yang jujur dan gagah berani.
Setelah beramah tamah sebentar Raka memberitahukan maksud kedatangannya ke Lembah Iblis.
“Raden, tempat ini adalah sebuah lembah yang dikelilingi tebing yang sangat tinggi, licin, dan banyak perangkap
mematikan. Di setiap sudut banyak sekali pengawal yang bersembunyi di tempat-tempat rahasia. Siapa pun yang masuk, tidak akan mungkin bisa keluar. Amat sangat sulit bagi Masayu Renjani untuk dapat keluar dari sana,” jelas
Sandika.
“Bolehkan aku memasuk perkampungan ini?” tanya Raka.
“Perintah langsung dari Gusti Prabu, siapa pun yang masuk, tidak boleh keluar. Tidak ada pengecualian. Mohon
maaf, raden.”
“Tak apa kak Sandika. Aku justru suka engkau tetap menegakkan hukum meskipun terhadap orang sendiri,” puji Sukma Harum. Lanjutnya, “Tetapi jika tidak ada seorang pun yang tahu aku masuk dan tak ada seorang pun yang tahu aku keluar, ini tentunya tidak melanggar hukum bukan?”
“Tidak ada seorang pun yang masuk keluar tanpa kami ketahui.”
“Baiklah. Aku terpaksa harus mengurungkan maksudku. Terima kasih banyak, kak Sandika. Bolehkah aku menginap di sini? Hari sudah gelap.”
“Tentu saja boleh, raden.”
Tentu saja Sandika paham maksud Sukma Harum. Tetapi ia pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
***
Malam sangat gelap. Bahkan bayang-bayang pun menghilang dari bumi. Sukma Harum telah berganti pakaian hitam untuk membantunya menyusup di daerah itu. Tadi ketika datang, ia sudah mengingat-ingat seluruh daerah itu, kini saat untuk beraksi.
Dengan lincah ia menyusup ke sana kemari. Menghindari pengawal dan penjaga yang berlalu lalang di tempat itu. Kini ia telah berada di ujung jurang. Sekali melompat ke bawah, ia akan tiba di Lembah Iblis.
Tapi sanggupkah ia melompat ke sana? Dasarnya tidak terlihat. Rimbunan pepohonan menutupi apa yang berada di bawah sana. Bisa jadi tubuhnya akan disambut dengan panah-panah dan senjata rahasia. Sukma Harum masih menunduk bersembunyi dibalik semak-semak, mencoba untuk mengambil keputusan yang paling tepat.
Lalu ia memutuskan untuk bersemedhi. Gurunya telah mengajarkannya sebuah ilmu yang sangat bermanfaat
baginya. Ilmu “Cancala Sukma” yang berarti getaran jiwa. Raka mengosongkan segala pikirannya. Dibalik rimbunan semak-semak dan gelapnya malam, ia aman di sana.
Setelah pikirannya kosong sepenuhnya, ia lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah. Kemudian ia
menyalurkan tenaga getaran yang halus sekali. Getaran ia merambat ke bumi, menyusuri tanah, merasuki kegelapan. Getaran ini memberitahukannya keadaan alam sekitar dengan lebih jelas. Semua manusia, semua hewan, semua pepohonan dan tumbuhan, bahkan daun kering dan batu kerikil pun semuanya dapat ia rasakan
keberadaannya.
Gelombang yang ia salurkan melalui tanah ini dapat mencapai ratusan bahkan ribuan tombak. Ilmu yang sangat
hebat sekali, namun amat sangat jarang ia gunakan. Karena untuk dapat menggunakan ilmu ini seseorang harus bersemedhi cukup lama dan harus mengosongkan segala pikirannya. Dan bagi Raka, mengosongkan pikiran bukanlah hal yang mudah. Ada terlalu banyak hal di dalam hidupnya yang tidak bisa ia kesampingkan begitu saja. Pun juga, ilmu ini sangat berbahaya karena apabila ia diserang secara tiba-tiba, ia tidak bisa melindungi dirinya.
Begitu gelombang ini tersebar, Raka mulai menghafal semua titik-titik yang dirasakannya aman. Semua “terlihat”
dengan jelas. Setelah memilih dan memikirkan seluruh kemungkinan, Raka lalu menutup semedhinya.
Ia membuka mata. Segala hal telah jelas baginya.
Sukma Harum bergerak. Di keheningan malam, gerak lagkahnya sama sekali tidak bisa didengar atau dilihat.
Ia pun harus bergerak dengan teramat cepat agar tidak dipergoki oleh para penjaga. Ia telah mengetahui semua titik di mana ia harus bergerak. Ia tahu titik-titik paling aman dan yang paling berbahaya. Setiap titik harus
dilaluinya secepat mungkin.
Satu lompatan kecil, ia telah berada di tebing jurang yang licin. Ranting pohon kecil yang baru tumbuh, menjadi pijakannya sementara.
Bagaimana hebatnya ilmu meringankan tubuhnya memang sudah tidak bisa diperkirakan. Ranting kecil yang
lemah itu bahkan tidak bergoyang atau bengkok ketika “dihinggapinya”. Titik berikutnya adalah sebuah tonjolan batu yang licin sekitar 30 tombak ke bawah jurang.
Wussss!
Sukma Harum sudah berada di atas tonjolan itu.
Syuuuttttttt.
Hampir saja ia terjatuh!
Batu itu sangat licin.
Tetapi dengan sigap ujung jarinya bergerak. Jari telunjuknya telah menancap ke dalam dinding tebing yang terbuat
dari batu karang. Jari itu menahannya dari jatuhnya yang tiba-tiba tadi. Raka menahan nafas. Kesalahan kecil saja bisa membuatnya terhempas ke dalam jurang dan disambut oleh ratusan perangkap tajam dan beracun.
Masih ada 5 titik yang ditujunya. Masih ada banyak senjata rahasia dan perangkap yang harus dihindarinya.
Semuanya dilewatinya satu persatu dengan aman. Titik terakhir adalah sebuah pohon di ujung sana. Ia harus bisa sampai ke atas pohon itu dengan satu lompatan. Karena jika tidak, ia akan ditelan perangkap-perangkap ganas yang tersembunyi di balik rerumputan dan semak-semak di bawah sana.
Raka menarik nafas dalam-dalam. Lompatan ini sangat jauh. Ia belum pernah melakukannya. Tetapi ia harus
mencoba, karena inilah satu-satunya jalan. Dan selama ini, ia tidak pernah kecewa dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Swuuuuussshhh.
Sebenarnya tidak ada orang yang mampu mendengar gerakannya. Hanya angin di sekitarnya sendiri yang dapat mampu “mendengar” gerakannya!
Lompatan itu dilakukannya dengan sederhana. Tidak ada keindahan, tidak ada gerakan yang lemah lembut atau
mendayu-dayu. Ia hanya membutuhkan satu lompatan sederhana. Semua gerakan dan ilmu silatnya memang membutuhkan kesederhanaan.
Ketika hinggap di atas pohon, Sukma Harum memandang ke atas tebing. Tidak disangka ia sudah menuruni tebing
jurang sedalam itu. Dalam hati ia tertawa dan bergidik sendiri. Jika bukan karena terpaksa, ia tentu tidak tertarik melakukannya.
Kadang karena terpaksa, seseorang memang dapat melakukan hal-hal yang mengagumkan. Pula, karena terpaksa,
seseorang dapat melakukan hal-hal yang sangat tolol.
Sukma Harum tidak tahu apakah ia adalah seorang yang mengagumkan, ataukah dia seorang yang tolol.
Yang ia tahu, ia harus mencari Masayu Renjani. Kemana mencarinya, ia sama sekali tidak tahu. Kini ia sudah
benar-benar yakin bahwa ia adalah orang yang tolol.
Turun dari pohon, Sukma Harum sudah berada di tempat yang aman. Setidaknya tidak ada lagi penjaga dan
perangkap yang berbahaya. Tetapi justru, inilah saat-saat yang paling menegangkan. Seluruh penghuni lembah ini adalah para penjahat, perampok, tokoh persilatan golongan sesat yang sangat berbahaya. Mungkin sebagian dari mereka ada yang memiliki dendam terhadapnya.
Baru saja Sukma Harum keluar hutan yang diliputi malam yang gelap gulita, di depan sana dilihat seseorang
sedang menyalakan api unggun. Orang itu berbadan kurus kerempeng. Kulitnya putih pucat. Dalam malam yang gelap, kulitnya seolah memancarkan cahaya yang aneh. Rambutnya disanggul ke atas. Wajahnya bercambang jarang-jarang. Sebagain ada pula yang sudah memutih. Matahnya menonjol dan bulat. Meskipun tampangnya
terlihat aneh, ia terlihat seperti seseorang yang jenaka. Sukma Harum menghampirinya.
“Sampurasun (permisi), ki sanak,” sapanya. Orang yang disapa agak kaget juga. Ada lelaki yang tampan sekali dan mampu mendekatinya tanpa ia ketahui. Karena memang langkah Sukma Harum tidak memiliki suara. Bahkan tidak
ada suara gesekan kaki dengan reremputan.
“Eh…, rampes (silahkan),” jawabnya terhenyak. Ia memandang Raka dari atas ke bawah. Lalu sambil menarik muka, ia berkata, “Kau bukan setan?”
Raka hanya tertawa sambil menggeleng.
“Kau bukan orang kampung di sini. Aku tahu semua orang di sini. Siapa kau?”
“Nama abdi (hamba) adalah Raka. Hamba kemari mencari seorang teman.”
“Kau datang dari atas sana?” tanya orang itu sambil menunjuk puncak tebing. Raka mengangguk.
“Apakah kau waras?” tanya orang itu lagi.
“Abdi (hamba) tidak yakin,” jawab Raka sambil tertawa.
“Sebenarnya aku ingin menanyakan bagaimana cara kau turun ke mari. Tapi aku lebih tertarik bertanya tentang
siapa orang yang kau cari.”
“Abdi mencari seorang kawan lama bernama Masayu Renjani. Apakah ki sanak mengenalnya?”
Terlihat jelas perubahan wajahorang itu. Kulit wajahnya yang sudah pucat dari sananya, kini bertambah pucat
lagi. Ia berdiri, mengambil seluruh barangnya, lalu berlari sambil berteriak, “Aku tidak kenal padanya! Tidak kenal!!!!”
Meninggalkan Sukma Harum yang termenung sendirian.
Mengingat-ingat apa yang mampu dilakukan perempuan itu, Sukma Harum bisa mengerti mengapa orang itu lari
tunggang langgang. Bahkan ia sendiri pun tidak mau bertemu perempuan itu jika tidak karena terpaksa.
Jika seorang perempuan mempunyai julukan “Tukang Bohong Nomer 1 di Dunia” maka kau bisa membayangkan kesulitan apa yang akan kau hadapi. Sukma Harum tidak mau membayangkan. Julukan itu malah Sukma Harum sendiri yang memberikannya. Padahal, Masayu Renjani punya beberapa nama julukan yang lebih menakutkan. Julukan yang paling gamblang adalah “Iblis Betina”. Ini adalah nama julukan yang paling sering digunakan orang dunia persilatan di masa lampau terhadap para pendekar wanita yang kejam.
Tapi sekarang, tidak ada seorang pun wanita yang dijuluki “Iblis Betina”, karena julukan ini sudah menjadi hak
milik Masayu Renjani seorang. Para penjahat wanita pun tidak ada yang berani menggunakan nama ini, karena mereka takut ia akan datang menghancurkan hidup mereka.
Ia sangat ditakuti bukan karena kemampuannya bertarung, melainkan karena kemampuannya menipu orang. Jika segala macam cara menipu orang di dunia ini digabungkan, maka jumlahnya belum tentu mencapai separuh cara yang dapat diciptakan oleh sang Iblis Betina.
Justru selama ini, musuh yang paling sukar Raka hadapi dan taklukkan adalah Masayu Renjani inilah. Jadi, ia
sangat paham mengapa lelaki pucat itu tadi lari terbirit-birit.
Sambil menghela nafas ia melangkahkan kaki. Entah ia harus ke mana. Ia memutuskan untuk mengambil arah
yang berlawanan dengan perginya orang tadi. Secara tidak langsung, tentu bisa diambil kesimpulan bahwa seseorang akan pergi berlari jauh dari sesuatu yang ditakutinya.
Malam sangat gelap. Pepohonan sangat rimbun dan rapat. Alang-alang tumbuh tinggi dan tanah sangat licin.
Mungkin sebentar lagi fajar akan segera tiba. Saat ini semua orang mungkin sedang tidur beristirahat. Kehidupan di tempat pasti sangat berat, jika tidak beristirahat yang cukup, mana bisa bertahan hidup?
Kini Sukma Harum sudah dapat menemukan rumah-rumah dan pondok sederhana. Tempat pembuangan para penjahat ini sudah berubah menjadi sebuah perkampungan. Ini mungkin merupakan cara alami manusia untuk bertahan hidup. Dengan bersama-sama tentu semua dapat dijalani dengan mudah.
Ada sawah, ada kebun, ada pepohonan yang buahnya ranum dan segar. Ada juga hewan-hewan ternak dan kolam
ikan. Sukma Harum tidak bakalan kaget jika ternyata di tempat ini ada semacam pasar kecil tempat orang berjualan dan bertukar kebutuhan.
Saat masih asik menikmati suasana sekitar situ, tiba-tiba pintu sebuah rumah terbuka. Empunya rumah yang keluar
punya perawakan yang cukup menyeramkan. Badan besar, kepala botak, dan matanya hanya satu.
“Hey kau!” di tempat seperti ini memang tidak ada bahasa sopan santun.
Sukma Harum menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya.
“Kau baru di sini?”
“Benar. Baru saja datang,” jawab Sukma Harum.
“Masuklah!”
Raka menuruti saja dan masuk ke dalam rumah itu. Tampak isinya sangat gelap karena hanya ada sebuah cahaya
lilin yang menerangi isi gubuk itu. Tapi Raka bisa melihat isi perabotan di dalam gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah dipan, sebuah meja, dan beberapa kendi minum di atasnya. Ada juga sepiring buah-buahan yang direbus, nampaknya sudah dingin pula.
“Siapa namamu?”
__ADS_1
“Nama saya Raka.”
“Apa kejahatanmu?”
“Orang menuduhku membantai beberapa orang,” jawab Raka.
Seperti orang yang pertama bertemu tadi, orang ini pun menatapnya dari atas ke bawah, lalu berkata “Kau
bohong. Kau tidak ada tampang pembunuh.”
“Aku pun merasa seperti itu. Sayang mereka tidak percaya.”
Kembali orang itu menatapnya dengan dalam, “Di sini kau tidak bisa sembarangan.”
Sukma Harum mengangguk dan berkata, “Saya mengerti.”
“Istirahat saja di sini. Besok kalau sudah terang kau bisa jalan lagi. Malam hari banyak perangkap, dan
terlalu berbahaya,” kata orang itu. “Oh ya, namaku Tingganu. Aku sudah 4 tahun berada di sini.”
Sukma Harum berlaku sopan dengan tidak menanyakan alasan kenapa Tingganu dijebloskan ke lembah ini. Ia lalu
bertanya, “Kira-kira ada berapa orang penghuni Lembah ini?”
“Jumlah pastinya hanya para penjaga yang tahu. Menurut perkiraanku sih sekitar 2500 sampai 3000 orang.”
“Wah, banyak juga ya.”
Tingganu hanya melengos. Ia lalu berlalu ke arah meja dan menuangkan air dari dalam kendi ke dalam sebuah cawan. Lalu ia menyorongkan cawan itu kepada Sukma Harum. “Minumlah. Arak buat menghangatkan tubuh. Setelah itu tidurlah. Aku juga mau tidur.”
Raka menerima cawan itu dengan penuh rasa terima kasih. Tingganu segera merebahkan dirinya ke atas dipan. Ia
berbaring tepat di sebelah Raka yang masih bersandar di dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu.
Tingganu cepat sekali terlelap. Kini suara ngoroknya terdengar keras sekali. Raka hanya tertawa meringis. Ia
lalu mengangkat cawan ke mulutnya dan mencurahkannya sampai habis. Setelah itu ia berbaring di samping orang itu.
Tak berapa lama, terdengar suara keluhan dari mulut Raka. “Oh, dadaku panas. Mataku berkunang…., oh apa yang
terjadi…apa yang terjadi?” Ia bangkit dari rebahnya dan segera jatuh sempoyongan.
Tingganu cepat bangkit dan menahannya, lalu berkata, “Eh, anak tampan pusing ya? Sini-sini kakak peluk
biar tidak jatuh.”
Begitu ia memeluk Raka, segera ia menotok jalan darah Raka agar pemuda tu tidak dapat bergerak. Ia lali
memonyongkan bibir untuk mencium bibir Raka. Ternyata lelaki tinggi besar ini adalah seorang pecnta sesama jenis!
Belum sampai mulutnya yang berbau busuk itu menyentu bibir Raka, tahu-tahu gerakan lelaki tinggi besar itu
terhenti. Raka telah menotoknya!
“Ternyata kau seorang mesum yang menjijikkan,” kata Raka dengan tenang. Tingganu menatapnya dengan mata
terbelalak. Tadi ia sudah meracuni arak dan menotoknya, kenapa pemuda tampan ini sehat-sehat saja dalam malah bisa balik menotoknya.
“Sekali cium aku tahu arak itu kau racuni. Aku hanya pura-pura meminumnya dan meneteskannya ke dalam lengan
baju saat mengangkat cawan. Aku pun sudah menduga kau akan menotokku, karena tu aku telah bersiap dengan memindahkan jalan darah.”
Tingganu tidak dapat berkata apa-apa karena seluruh tubuhnya sudah kaku kena totok. Bahkan mulutnya pun
sudah kaku. Sukma Harum lalu menekan titik yang membuka totokan bagian rahangnya agar ia dapat bicara.
“Kau….siapa kau?”
Sukma Harum tidak menjawab. Ia malah memeriksa seluruh isi baju Tingganu. Ditemukan sebotol racun, lalu
beberapa senjata rahasia yang beracun pula. Di balik pinggang terdapat sebuah golok tipis dengan sarung dari kayu berwarna hitam. Di ujung gagang golok itu terdapat ukuran kepala kuda.
“Dilihat dari ciri-cirimu, juga senjata yang kau sandang, serta melihat kelakuanmu, kau pasti Si Kerbau Muka
Kuda. Iblis pemerkosa sesama laki-laki,” kata Sukma Harum.
Iblis itu hanya melengos.
“Ku dengar, korbanmu sudah terlalu banyak. Ingin sekali aku membunuhmu. Tapi hal itu sepertinya terlalu
enak untukmu,” tukas Raka.
“Memangnya apa yang mau kau lakukan, hai bedebah?”
Braaaaaakkkkkkk!
Tanpa ampun Sukma Harum menendang selangkangannya sampai lelaki itu terjengkang menabrak dinding bambu dan terlempar ke luar gubuk. Tak bisa dibayangkan betapa besar rasa sakitnya saat “gada sakti” dan “bola besi” nya hancur seketika.
“Aaaaaaa……aaaaaaaaaaaaa……aaaaaaaaaaaaaa….”
Dalam teriakannya ia hampir jatuh pingsan.
Sukma Harum hanya bergumam, “Aku bukannya pembenci para pecinta sesama. Aku hanya benci jika kalian menggunakan cara-cara menjijikkan. Ku dengar kau bahkan memangsa anak-anak kecil sebagai
pemuas nafsumu.”
“Kkkk…kkkkkk….” Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasa sakit telah menghancurkan kesadarannya.
Sukma Harum berjalan meninggalkan tempat itu dengan hati yang jengkel. Selamanya ia paling benci dengan orang yang licik, yang hanya berani terhadap mereka yang lemah.
Tak berapa jauh melangkah banyak orang yang sudah datang berkumpul ke sana. Mungkin karena tadi mendengar suara robohnya dinding gubuk. Raka lalu berkata, “Maaf, saya mencari seorang wanita bernama Masayu Renjani. Ada yang bisa membantu saya?”
Melihat keadaan gubuk yang hancur berantakan, keadaan Tingganu yang pingsan di atas tanah, semua orang yang
datang sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Mereka selama ini juga jerih terhadap Si Kerbau Muka Kuda yang terkenal suka memperkosa laki-laki dan membunuh mereka secara diam-diam. Hanya saja mereka tidak memiliki bukti dan tidak sanggup menghukumnya.
Begitu tahu bahwa lelaki tampan yang berada di hadapan mereka ini mengalahkan Si Kerbau Muka Kuda tanpa terluka sedikit pun, mereka menjadi lebih jerih lagi.
“Ada urusan apa dengan beliau?” tanya salah seorang.
“Beliau?” dalam hati Sukma Hati tergelak. Rupanya perempuan itu sudah mampu menancapkan kuku kekuasaannya di lembah ini sehingga ia mendapatkan rasa hormat orang-orang. “Saya adalah sahabatnya,” kata Raka.
“Sringgggggg!”
Begitu Raka berkata itu, semua orang di sana lalu mencabut senjata masing-masing. Mau tidak mau ia menjadi
sedikit terhenyak juga.
Serangan datang tanpa aba-aba. Golok dan pedang menyambar dengan ganasnya. Dengan satu langkah, Raka sudah berhasil menyelamatkan diri dari pusaran gaman. Gerakannya tidak indah, tidak juga mengagumkan. Gerakannya sangat sederhana. Tetapi di dalam kesederhanaan itu tersimpan kedalaman tanpa batas.
Raka tidak ingin membuang waktu lama-lama. Ia menjulurkan tangannya. Jemari yang lentik dan penuh urat-urat
yang kokoh itu bergerak. Dalam sekejap mata semua pedang dan golok terpotong putus. Dua jarinya bergerak bagai gunting. Gaman dari baja dan besi itu terpotong putus bagai lembaran kertas!
“Sukma Harum!”
Semua orang lalu menyadari dengan siapa mereka berhadapan.
Meski belum pernah bertemu, cerita tentang kehebatan dan ketinggian ilmu seorang pemuda tampan yang kaya
raya berjulukan Sukma Harum tentu telah pernah mereka dengar. Semua lalu membuang senjata mereka yang telah putus itu ke tanah. Karena senjata yang putus memang sudah tidak ada gunanya.
Toh meskipun jika senjata itu masih utuh, tetap tidak ada guna memegangnya di hadapan seorang Sukma Harum.
“Mengapa kalian semua menyerangku?” tanya Raka tenang.
“Karena kami diperintahkan seperti itu,” jawab salah seorang.
“Oleh siapa?”
“Oleh Tuan Agung Tanabasa.”
Seumur hidup Sukma Harum belum pernah mendengar tentang orang itu. Yang ia tahu, gelar Tuang Agung atau Yang DIpertuan Agung adalah gelar untuk raja-raja dan bangsawan di Melaka. “Antarkan aku untuk bertemu dengan Tuan Agung,” pinta Raka.
Mereka menggeleng hampir serempak. Salah satu lalu berkata, “Tuang Agung tidak dapat ditemui.”
“Kenapa?”
“Jika ia mau, ia yang akan menemuimu.”
“Oh? Lebih bagus lagi,” seloroh Raka.
“Tapi jika ia datang menemuimu, kemungkinan besar kau tak akan dapat menemui siapa-siapa lagi.”
“Hmm. Sangat menarik. Maukah saudara-saudara menceritakan siapakah Tuan Agung yang sangat menakutkan ini?” tanya Raka.
“Ia adalah penguasa tempat ini. Semua orang tunduk padanya. Ia bersaing berebut kekuasaan dengan Gusti Masayu Renjani. Ia memerintahkan pada kami, siapa pun yang mengaku sahabat atau sekutu dari Gusti Masayu Renjani harus dimusnahkan.”
Sukma Harum mengangguk-angguk mendengar penjelasan ini. Lalu ia bertanya, “Di mana aku dapat bertemu dengan Gusti Masayu Renjani?”
“Beliau pun susah ditemui. Tetapi jika kau mengambil jalan ini lalu terus ke arah selatan, maka kau akan sampai
di daerah kekuasaannya.”
“Baik. Aku minta diri. Mohon maaf jika tadi kita sampai bergebrak. Sebagai permintaan maafku, sudilah saudara-saudara semua menerima ini,” ia lalu menyerahkan sebongkah kecil emas. Orang-orang itu menerima bongkahan kecil itu dengan mata terbelalak.
Kata salah seorang, “Kau datang kemari dengan membawa barang-barang seperti ini? Berhati-hatilah karena kau
akan menjadi incaran semua orang”.
“Baik, aku mengerti. Terima kasih atas peringatannya. Saya minta diri.”
Ia melangkah dengan tenang. Siapa pun yang ingin mengincarnya, boleh saja mencoba.
__ADS_1