
Rembulan berwarna kuning pucat. Awan rupanya mulai menutupi langit karena tidak kelihatan bintang yang
seharusnya bertaburan di tengah malam.
“Apa yang kau cari?” terdengar suara yang renyah dan “basah”. Raka tahu suara siapa itu. Ia menoleh dan
dilihatnya Renjani sedang duduk di sebuah patahan batang pohon yang mengering di atas tanah.
“Kau memang cantik sekali,” puji Raka dengan sungguh-sungguh. Nona cantik itu melengos. Baginya semua kecantikan ini percuma jika masih ada seorang lelaki yang menolaknya. Di dunia ini, cuma Sukma Harum seorang yang berani menolaknya. Raka mengerti hal itu amat menyakitkan bagi gadis itu, tetapi inilah jalan yang harus ia lalui meskipun ia sendiri tidak tega melakukannya.
Renjani kini memakai sebuah gaun malam asri berupa sehelai kain yang agak sedikit tembus pandang. Kembennya
menutupi dada sedangkan sebuah selendang biru muda dipakainya untuk menutupi pundaknya. Rambutnya disanggul keatas membuat garis-garis wajahnya terlihat lebih menarik. Sukma Harum bahkan harus menahan nafas saat memandangnya.
Untungnya, salah satu kelebihan utamanya adalah bersikap seolah tidak ada apa-apa padahal di dalam hatinya
timbul getaran dan gejolak yang menghanyutkan.
“Kupikir kau datang kemari untuk melarikan diri. Untung saja aku paham bahwa kau tak pernah melarikan diri,”
tandas Renjani.
“Melarikan diri?”
Renjani menatapnya lekat-lekat. “Oh? Kau tidak tahu?”
Raka hanya mengangkat bahu.
“Hmmm. Aku tidak ingin memberitahukanmu. Biar kau cari tahu sendiri!” kata Renjani ketus.
Raka berpikir sebentar lalu berkata, “Akir-akhir ini aku terlalu banyak menganggur. Satu-satu halnya yang
kulalui adalah tuduhan bahwa aku membantai orang dengan kejam.”
Renjani tidak berkata apa-apa. Hanya menunggu Raka melanjutkan perkataannya.
“Apakah kabar ini telah tersiar di dunia persilatan?” tanya Raka. Renjani tetap diam.
“Berarti sekarang orang-orang dunia persilatan mengincarku? Untuk apa? Apa karena aku juga telah
mengobrak-abrik Padepokan Rajawali Sakti? Hmmmm.”
Renjani masih tetap diam.
Raka menghela nafas. Urusan yang ia hadapi akan semakin banyak. Tapi ia mencoba untuk tidak memikirkan hal ini. Katanya, “Aku kemari meminta bantuanmu karena urusan pembantaian itu.”
“Lanjutkan,” kata Renjani.
Raka kemudian menceritakan kisahnya lagi. Renjani mendengarkan dengan seksama. Kadang ia bertanya sana-sini tentang beberapa hal yang ia rasa janggal atau kurang dimengerti. Setelah Raka menyelesaikan ceritanya, nona itu lalu berkata, “Orang yang ahli menyamar namun memiliki ilmu setinggi itu belumlah dilahirkan di dunia ini.”
Kata Raka, “Orang yang berilmu setinggi itu masih cukup gampang ditemukan. Tetapi yang memiliki keahlian
menyamar yang sangat tinggi, yang kutahu hanya dirimu seorang. Bukan maksudku menuduhmu.”
Renjani tertawa, “Kukira pengetahuanmu mengenai dunia persilatan sangat luas. Dayang-dayangmu juga kukira memiliki pengetahuan yang sama. Ternyata aku keliru.”
__ADS_1
Raka tidak menjawab. Ia hanya memandang nona itu dengan santai. Menikmati lekuk tubuhnya yang indah disinari
ratusan pelita yang mengelilingi tempat itu.
“Jadi kau kemari hanya untuk menanyakan siapa kira-kira yang memiliki illmu menyamar setinggi itu?” tanya
Renjani.
“Ya.”
“Dan dengan jawabanku, kau bersedia membayarnya dengan mengabulkan 3 permintaanku?”
“Ya. Selama permintaan itu tidak melanggar aturan dunia persilatan.”
“Bagaimana jika aku menipumu?”kata Renjani sambil tersenyum penuh arti.
“Tiga permintaan yang kukabulkan, jauh lebih berharga daripada sebuah ketololan,” jawab Raka.
Kata-kata itu terdengar kasar dan angkuh. Tetapi bagi Renjani, justru inilah daya tarik seorang Sukma Harum.
Lelaki itu selalu tampil tenang dan menghanyutkan, namun sewaktu-waktu dapat berubah menjadi angkuh dan sombong. Pun dapat pula berubah menjadi lucu dan menggemaskan hatinya.
Dalam mata seorang perempuan, seorang lelaki memang harus lengkap dan sempurna kepribadiannya. Mungkin itu sebabnya banyak ketidakbahagiaan di dunia ini.
“Baiklah. Kini kuberitahukan kepadamu. Di dunia ini hanya ada 3 orang yang menguasai kemampuan menyamar
sangat tinggi. Yang pertama adalah guruku, bernama Nyai Silih Saketi. Tetapi beliau sudah wafat 10 tahun yang lalu,” saat bercerita matanya menerawang jauh. Seolah mengenang kembali masa-masa bahagia bersama gurunya.
“Yang kedua, adalah kakak seperguruanku. Nama aslinya tidak ada seorang pun yang tahu. Hidupnya selalu
Raka langsung tertarik.
“Ia sengaja tidak mau menampilkan diri, karena dengan begitu hidupnya akan lebih bebas. Tak ada seorang pun yang mengenalnya. Tak ada seorang pun yang mencurigainya. Bahkan sebagian perbuatan yang orang-orang tuduhkan kepadaku, merupakan perbuatannya. Seringkali ia menggunakan namaku dan rupaku untuk melakukan pekerjaanku.”
“Ya. Karena kau menikmati nama besar dan kekaguman orang yang lahir karena perbuatan-perbuatan itu,” tukas
Raka.
Bagi sebagian orang, nama besar dan kejayaan, tepuk tangan dan kekaguman, adalah segala-galanya. Mereka hidup untuk hal itu. Bahkan, mereka pun rela mati untuk itu.
“Kakak seperguruanku, sebut saja ‘Bunga’, hidup bagaikan angin. Kadang ia bergerak sendiri, kadang ia menerima
tugas dari orang lain, kadang ia melakukan hal-hal aneh hanya karena ‘ingin’. Saat ini aku sendiri tidak tahu ia berada di mana, apa yang sedang dilakukannya, dan apa pula yang akan ia rencanakan.”
“Menarik sekali.”
“Meskipun ia selalu berganti rupa dan tak mungkin ditebak, ada satu ciri-cirinya yang tidak pernah ia tutupi
meskipun menyamar sebagai siapapun juga.”
“Apa itu?”
“Ia memiliki tahi cacat pada kaki kanannya. Ia tidak memiliki jari kelingking pada telapak kaki itu. Setiap kali ia menyamar, ia tidak pernah menutupinya.”
Raka mengerti. Sedalam apapun orang menyimpan rahasia, ia tetap ingin dikenal. Walaupun hanya melalui ciri
__ADS_1
saja.
“Baik. Ada lagi yang ingin kau tambahkan?”
Renjani berpikir sebentar, “Kami sudah beberapa waktu ini tidak saling berkabar. Dulu cukup sering, mungkin
karena masing-masing terlalu sibuk. Jadi aku sekarang tidak tahu ia berada di mana.”
Raka mengangguk, tapi ia dapat merasakan hal yang aneh dalam kata-kata Renjani.
“Kau megkhawatirkannya?” tanya lelaki tampan itu.
Sejenak Renjani ragu menjawab, ia akhirnya berkata, “Hanya firasat saja.”
“Kadang rasa sayang yang mendalam memang membuat orang mudah khawatir. Tapi aku akan mencarinya dan memastikan semoga ia baik-baik saja.”
Renjani dapat menangkap ketulusan dalam kata-kata Raka. Ia berkata, “Kau baik sekali. Tapi ingat, aku sudah
membantumu. Sekarang, kau harus mengabulkan 3 permintaanku.”
Renjani sebenarnya belum memberitahu siapa orang ke 3 di dunia ini yang memiliki ilmu menyamar sangat
tinggi, akan tetapi Raka telah menduga tentu nona itu sendirilah orangnya.
“Baik. Katakan permintaanmu.”
“Yang pertama, kau harus membuat Tuan Agung Tanabasa tunduk kepadaku.”
Raka ingat, Tuan Agung Tanabasa adalah salah satu penguasa tempat ini di samping Masayu Renjani. Dari kata-kara Renjani, Raka menangkap bahwa nona itu tidak ingin ia membunuhnya.
“Menaklukkan tanpa membunuh?”
“Ya. Ia sangat berharga jika aku bisa menanyakan beberapa hal kepadanya.”
“Baik. Besok pagi-pagi sekali aku berangkat mencarinya.”
“Kau tak dapat menemukannya. Ia yang akan menemukanmu,” tukas Renjani.
“Ah, jauh lebih baik lagi. Apa permintaanmu yang kedua?”
“Permintaan berikutnya masih belum kupikirkan.”
Raka hanya bisa tertawa. Jenis tertawa yang dilakukan orang saat tahu bahwa mereka terjebak dalam urusan ruwet
yang membuat pusing kepala dan tak ada yang sanggup mereka lakukan agar terhindar darinya.
“Raden Rakantara Gandakusuma, selamat malam dan selamat menikmati tempat ini. Jangan sampai kau tersesat
sampai ke kamarku,” selesai berkata seperti itu, Masayu Renjani bergerak menghilang di balik bunga-bunga rimbun dan kegelapan malam.
“Ilmu meringankan tubuhnya memang hebat. Mungkin yang terbaik di antara para pendekar wanita di dunia persilatan ini,” bisik Raka dalam hati.
Ia meneruskan jalan-jalannya di daerah itu sambil memikirkan langkah-langkah apa yang harus ia jalankan untuk
mengungkap peristiwa yang semakin lama semakin kusut ini.
__ADS_1