Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 21: Hantu


__ADS_3

Raka sudah kehilangan selera makan. Tetapi untuk menyentuh makanan di hadapannya adalah sangat riskan. Empat Kembang Berduri terkenal mampu melakukan apa saja. Mereka hebat dalam racun, ilmu silat, ilmu kanuragan, juga mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang tak bisa dipandang remeh.


Dilihatnya para gadis itu sudah menyandak kuda dan pergi dari sana. Segera ia pun keluar. Bukannya takut akan


mereka, ia hanya khawatir tahu-tahu mereka berubah pikiran untuk pergi, lalu mendatanginya kembali untuk mengajak kawin. Tak terhitung berapa banyak perempuan yang mengajaknya kawin, lucunya, perempuan yang ia ajak kawin malah pergi menghilang.


“Mayat! Mayat! Ada mayat!” terdengar teriakan dari sebuah arah. Perasaan Sukma Harum tidak enak. Segera ia


bergegas ke arah asal suara. Ada bebeapa orang di sana yang mengerumuni mayat.


Mayat Ranggasoma, si Pedang Halilintar.


Lehernya digorok orang. Tentu saja dengan menggunakan sebuah kujang. Karena kujangnya memang ditinggal menancap di tenggorokannya.


Cepat sekali orang itu bergerak.


Ganas sekali tangannya diturunkan.


Biadab sekali kejahatannya dijalankan.


Segera Sukma Harum menyadari sesuatu. Empat gadis cantik yang tengah berkuda, tadi dilihatnya sudah berbelok


memasuki hutan kecil. Dengan cepat Sukma Harum pun melesat ke sana!


Kuda tanpa penunggang.


Para penunggangnya berderai di tanah yang basah.


 Darah menggenang.


Tentu ada kujang pula di menancap di leher mereka.


Sukma Harum menghela nafas. Dalam suasana seperti ini ia dapat berubah menjadi begitu tenang. Jantungnya berdetak sangat teratur. Tubuhnya diam mencoba merasakan keadaan sekitar.


Semakin berbahaya keadaannya, semakin ia menjadi tenang. Semakin ia menjadi anggun. Semakin ia terlihat


tampan dan penuh kewibaan. Nampaknya ia memang dilahirkan untuk hal-hal seperti ini. Untuk menantang bahaya langsung tepat di pusatnya.


Ada jejak di tanah yang basah!


Sukma Harum mengikuti jejak itu. Tubuhnya bergerak cepat bagaikan menghilang. Di dunia ini, yang memiliki ilmu


meringankan tubuh seperti ini memang hanya bisa dihitung dengan jari.


Satu jari.


Tapi tak ada orang di sana. Jejak itu hilang begitu saja.


Apa dia bisa masuk menembus bumi dan naik menerabas langit?


Sukma Harum tahu luka-luka para nona itu masih basah. Masih baru. Jika dikejarnya pelaku itu, tentu masih bisa


dicandaknya. Tetapi orang itu dapat menghilang!


Hantu. Ia pasti hantu.


Sukma Harum memeriksa tempat itu dengan seksama. Sebuah padang rumput yang luas, di luar hutan. Padang rumput yang tersembunyi di balik sebuah bukit kecil.


Bagaimana jejak itu bisa hilang di sini?


Tak ada rumput yang terinjak. Tak ada bekas kaki di tanah yang basah. Yang ada hanya aroma wangi tubuh yang masih tersisa dibawa angin.


Aroma ini adalah wangi khas tubuhnya sendiri.


Bahkan sang “hantu” itu menggunakan wangi yang sama dengan dirinya!


Tadi ketika ia pergi meninggalkan Ranggasoma dan kembali ke kedai, si “hantu” itu tentu mendatangi Ranggasoma


dengan menyamar sebagai dirinya. Lalu membunuh pendekar malang itu dengan gampang karena sang pendekar tidak pernah menduga akan keganasan itu.


Si “Hantu” lalu pergi menguntit Empat Kembang Berduri. Menunggu saat yang tepat saat Sukma Harum sudah keluar dari kedai dan memeriksa mayat Ranggasoma.


Di saat itulah sang “Hantu” bergerak. Mendekati 4 gadis itu, dan menyamar sebagai Sukma Harum. Entah apa


yang dikatakannya, tentu membuat keempat pendekar cantik itu lengah dan tak menduga serangan.


Meninggalkan Kujang pada setiap korbannya. Meninggalkan wangi tubuh yang khas.


Raka memejamkan mata. Ia sudah dapat menduga apa yang akan terjadi nanti. Orang-orang persilatan akan


berkumpul. Lalu ada “saksi” yang akan mengatakan ia melihat Sukma Harum sebagai orang terakhir yang ada bersama korban. Lalu ada kujang. Lalu ada wangi khas dirinya yang melekat pula pada tubuh para korban. Lalu semua orang dunia persilatan akan semakin membencinya. Sayembara untuk penangkapannya akan semakin banyak jumlahnya. Hadiah yang ditawarkan pun akan semakin menggunung.


Apa yang harus ia lakukan? Pergi berlari dari sana. Tentu sangat mudah. Tetapi itu akan semakin membuktikan “keterlibatannya” dalam pembunuhan itu.


Datang menghadapi mereka semua dengan gagah? Lalu bagaimana cara ia menjelaskan semua ini? Jika mereka tidak mau mendengarkan penjelasaannya, apakah ia harus membunuh mereka semua?


Semua hal ini terpikirkan di dalam benaknya hanya dalam sepersekian detik. Dalam sepersekian detik itu pula


ia harus mengambil keputusan. Satu kesalahan kecil akan mendatangkan bencana yang amat sangat besar.

__ADS_1


Ia memutuskan untuk pergi saja dari sana.


Ia sangat benci menjadi pengecut. Tetap ia lebih benci kesalahan tangan membunuh orang hanya gara-gara ia takut disebut sebagai pengecut.


 


***


Raka mengambil jalan memutar. Ia tahu sudah banyak orang berkumpul di dalam hutan kecil itu. Mereka telah


mengerumuni mayat keempat gadis itu. Tentu sudah banyak dugaan, dan kecurigaan yang diungkapkan. Tentu sudah diselipkan juga “saksi-saksi” palsu dan orang-orang suruhan untuk membuat “bisikan-bisikan” yang akan semakin memojokkan dirinya.


Kudanya masih tertambat di sana. Raka memilih menyembunyikan diri di balik pepohonan. Dengan satu sentilan kecil, sebuah batu pipih melesan dan memutuskan tambatan itu. Raka memanggil nama kuda itu, dan segera hewan tunggangan yang cerdas menghampiri dirinya.


Ia lalu memacu kudanya dengan hati-hati. Menuju desa Cipandana. Tempat asal muasal semua ini terjadi.


Setelah memastikan keluar dari gerbang, baru Raka memacu kudanya sekencang-kencangnya. Tidak berapa lama


kudanya berlari, tahunya di depan sana terlihat sosok yang berdiri tepat di pinggir jalan.


Ia memakai baju khas pejabat. Nampaknya seorang opas (petugas kepolisian kerajaan).


“Mau kemana ki sanak pergi terburu-buru?” tanya opas itu sopan namun penuh selidik.


“Abdi (saya) hendak ke sebuah desa di timur,” jawab Sukma Harum sopan.


“Oh begitu. Tapi tentu ki sanak sudah mendengar bahwa ada pembunuhan di kota baru saja?”


 “Iya sudah mendengar,” jawab Sukma Harum.


“Begitu mendengar ada pembunuhan dan melihata mayat yang darah dan lukanya masih begitu segar, aku langsung kemari. Ku pikir sebaiknya tidak ada seorang pun yang meninggalkan kota sebelum pelakunya ditemukan.”


“Dapatkah tuan opas membiarkanku pergi? Keadaan sangat genting sekali…,” Sukma Harum meminta dengan sangat sopan.


Opas itu memandang Sukma Harum dengan seksama mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dilihatnya lelaki


yang amat sangat tampan. Tatapan matanya yang tajam namun hangat. Bibir yang seolah selalu menyungging senyum yang ramah namun angkuh . Jubah putihnya yang berkibar dan cerah bagai awan di siang hari. Wanginya yang tercium sejak dari jauh. Gayanya yang anggun. Tata bicaranya yang sopan tanpa meremehkan. Tunggangannya yang terlihat sangat mahal dan gagah.


Ia lalu mengambil kesimpulan.


“Apakah ki sanak yang berjulukan Sukma Harum?”


Entah Raka harus merasa lega atau merasa khawatir. Akhir-akhir ini nama Sukma Harum sudah menjadi nama buronan. Ia hanya bisa mengangguk.


“Akhir-akhir ini tuan menjadi buronan dunia persilatan,” tukas sang opas.


“Tidak lama lagi aku mungkin akan menjadi buruan kerajaan,” gumamnya sambil menghela nafas.


maka hukum yang diterapkan adalah hukum negara dan hukum dunia persilatan.


“Jadi tuan mengakui bahwa tuan adalah pelaku pembunuhan ini?” tanya sang opas lagi.


Sukma Harum menggeleng. Katanya, “Ada orang sedang ingin memfitnahku. Saat ini aku sedang dalam perjalanan membongkar kejahatannya. Aku harap tuan opas mau percaya perkataanku.”


Jika belum ada kejadian akhir-akhir ini, pasti sang opas akan membiarkan Sukma Harum lewat. Tetapi kali


ini ia tidak dapat melakukannya. “Sebelum semuanya terbukti, aku tidak dapat melepaskan tuan. Mohon maaf,” ia menjura.


Sukma Harum turun dari kudanya. Kedua orang ini masing-masing mengerti bahwa pertarungan tidak lagi dapat


dihindarkan.


“Kukatakan kepadamu, jika tuan menyerang petugas negara, maka hukumannya akan sangat berat.”


Sukma Harum tertawa dan berkata, “Bagaimana jika aku tidak menyerang tuan?”


“Maka tuan tak akan dapat lewat,” sang opas itu berkata dengan tenang. Di tangannya sudah ada sebuah senjata.


Sebuah ruyung dengan gambar naga berwarna emas.


“Ah. Rupanya aku sedang berhadapan dengan tuan opas yang sangat terkenal, Hagung Koswara,” Sukma Harum


menjura mengangkat tangannya memberi hormat. Ia sudah mendengar tindak tanduk opas ini yang terkenal sangat jujur, tak bisa disuap, dan gemilang dalam menangkap penjahat.


“Maafkan aku. Sebaiknya tuan Sukma Harum ikut denganku kembali ke kota. Di sana tuan dapat menjelaskan


segalanya,” pinta Hagung Koswara.


Raka mengerti, jika ia kembali ke kota itu, maka kekacauan akan jauh lebih besar. Yang terbaik adalah ia pergi


sejauh-jauhnya. Dengan begitu nyawa orang-orang yang tidak berdosa di kota itu dapat diselamatkan.


“Nampaknya aku harus memaksamu, tuan opas,” kata Raka sambil tersenyum masam.


“Silahkan!” Hagung Koswara sudah menghunus ruyungnya ke depan dengan kedua tangan.


Sukma Harum melayang tinggi ke udara, Ia melewati opas itu dari atas. Sang opas sangat kaget melihat gerakan


Sukma Harum yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya. Ia tahu ilmu meringankan tubuhnya sangat jauh tertinggal. Tapi ia tidak menyangka bahwa tertinggalnya bahkan sejauh itu!

__ADS_1


Segera sang opas bergerak memutar tubuh dan menggenjot kakinya. Ruyungnya disabetkan ke depan. Tahu-tahu rantai ruyung itu memanjang sangat jauh mengejar kaki Sukma Harum yang belum lagi menyentuh tanah. Pemuda tampan itu tidak menyangka bahwa ternyata rantai ruyung dapat memanjang.


Apabila orang lain tentu panik karena tidak ada pijakan untuk menghindari ruyung itu.


Tentu saja Sukma Harum tidak panik, karena dia bukan orang lain. Dia adalah Sukma Harum.


Hagung Koswara melesatkan ruyungnya dengan sangat cepat dan sangat tepat. Penentuan waktu yang


dimilikinya amat snagat mengagumkan. Sehingga ruyung dan kaki Sukma Harum pasti akan bertemu di titik yang sudah diperkirakannya.


Kecepatan, ketepatan, dan perhitungan waktu yang dilakukan opas itu memang sangat hebat. Sayangnya yang


ia hadapi adalah seorang Sukma Harum. Perhitungan waktu itu menjadi meleset karena Sukma Harum mendarat tidak sesuai dengan waktu perhitungan sang opas.


Karena tahu-tahu tubuhnya yang meluncur deras dengan cepat untuk mendarat ke tanah itu, tahu-tahu berubah


menjadi sangat pelan! Ia melayang, mengapung bagai kertas. Ruyung melesat di bawah kakinya.


Ia dapat mengubah gerakan dari yang awalnya sedemikian cepat menjadi sedemikian lambat!


Tak ada seorang pun yang dapat membayangkan hal ini dapat terjadi.


Lalu dengan ujung kakinya, ia menotol rantai ruyung yang memanjang itu sehingga sang opas yang memegangnya


merasa tangannya bergetar dengan keras. Hampir saja ia melepaskan ruyung itu merasakan tangannya seperti tersengat ribuan tawon!


Sukma Harum mengembalikan kekuatan sabetan ruyungnya hanya dengan totolan kecil kakinya. Bahkan pada saat


itu lelaki tampan itu masih berada di udara. Ia tidak memerlukan pijakan untuk memerlukan gerakan ini.


Semuanya ini terdengar sebagai sesuatu yang biasa, tetapi tidak banyak orang di dunia ini yang sanggup melakukannya.


Hagung Koswara mengerahkan tenaganya agar ruyungnya tidak sampai terlepas. Kemampuan silatnya sendiri


tidak bisa dibuat mainan. Tenaga dalamnya yang besar kemudian mampu juga mengubah desakan kekuatan yang datang dari Sukma Harum.


Ia mengubah desakan itu untuk membelokkan ujung ruyungnya!


Tahu-tahu ujung ruyung yang tadi ditotol Raka berputar dengan deras dan kini ujung ruyung itu mengincar pahanya!


Dalam hati Raka mengagumi kebersihan hati Hagung Koswara. Jika orang lain, tentu akan mengarahkan serangan


itu ke batok kepalanya.


Raka masih meluncur ke bawah untuk mendarat. Sejak lompatannya tadi melewati kepala sang opas dan meluncur


jauh, ia sama sekali belum mendarat. Hal ini sebenarnya membuatnya kehilangan pijakan untuk bertahan dan menyerang. Ia memang tadi hanya berniat melarikan diri. Tahunya sang opas memiliki perhitungan yang matang dan serangan yang sangat terukur.


Jika Sukma Harum mau menyerang, tentu saja ia bisa dapat lebih unggul dari opas ini. Tetapi ia tahu, menyerang


seorang opas adalah pelanggaran hukum. Karena itu ia memilih hanya berkelit dan menghindar.


Serangan ruyung ke arah pahanya ia hindari dengan cara yang sama. Mengubah kecepatan tubuhnya. Jika tadi ia


melambatkan kecepatan mendaratnya, kini ia malah mempercepatnya. Sehingga kembali perhitungan waktu yang dilakukan si opas menjadi meleset.


Tetiba ujung ruyung sudah berada dalam genggaman Sukma Harum.


Dengan sekali hentak, ia membetot ujung ruyung itu, sehingga sang opas yang sedang memegang ujung ruyung satunya merasa daya tarik yang sangat hebat!


Gerakan tarikan itu bahkan membuyarkan kuda-kudanya dan menariknya ke arah Sukma Harum yang berada belasan tombak di hadapannya.


Tubuh sang opas melenting ke udara. Ia tidak berusaha melawan tarikan itu, malahan ia menggenjot kakinya


agar menambah kecepatan luncurannya.


“Bagus!” puji Sukma Harum.


Saat meluncur maju sang opas melempar ujung ruyung yang dipegangnya. Ujung ruyung itu meluncur deras dengan arah memutar. Rupanya ia ingin melilit tubuh Raka dengan rantainya.


Raka yang baru saja mendarat segera melakukan gerakan memutar juga berlawanan dengan arah lilitan rantai.


Gerakan memutar bagai angin puyuh ini berlangsung tidak lama, hanya cukup baginya untuk melepaskan diri dari lilitan rantai.


Tubuh Hagung yang meluncur dengan deras ke depan tidak memiliki sesuatu yang dapat menahan hempasan itu, sedangkan Sukma Harum sudah bergerak memutar. Dengan gerakan memutar itu Sukma Harum sudah berhasil menghindari tabrakan kedua tubuh mereka, malahan juga mampu menciptakan lilitan baru.


Dengan tanpa diduga, tubuh Hagung Koswara sudah terlilit ruyungnya sendiri!


“Hebat!” pujian tulus keluar dari mulut opas yang terkenal jujur dan pemberani ini. Kini ia sudah tidak dapat


berkutik. Lilitan rantai itu tidak bisa diputuskannya karena terbuat dari baja pilihan buatan kakek gurunya sendiri. Lagian, ia sendiri tidak berani menghancurkan senjata pemberian kakek gurunya.


“Sejak tadi aku tidak menyerang tuan opas, malahan tuan opas yang melilit dirinya sendiri. Bukan begitu?” tanya


Sukma Harum dengan senyuman ramah.


“Betul sekali.”


Sukma Harum mendekati opas itu dan membuka lilitan rantai ruyung. Katanya, “Maukah tuan opas ikut denganku? Di jalan aku akan menjelaskan semua kejadian ini. Mungkin tuan akan dapat membantuku memecahkan segala keruwetan ini.”

__ADS_1


Jika nyawamu baru saja diampuni seseorang, maka apabila seseorang itu meminta sesuatu kepadamu, maka kau harus memberikannya.


“Tentu saja. Kita akan kemana?”


__ADS_2