
"Mari ikut. Akan kuceritakan sambil jalan,” kata Sukma Harum sambil melompat ke atas kudanya. Hagung Koswara
pun tidak mau kalah, segera ia bersalto ke atas kudanya ia biarkan merumput tak jauh dari sana. Kudanya adalah kuda pilihan. Semua pejabat negara mendapat “jatah” kuda seperti ini dalam menjalankan tugasnya. Seekor kuda hitam gagah yang didatangkan dari pulau Sumbawa.
Sukma Harum terus memacu kudanya dengan kencang. Hagung Koswara mengiringinya pula. Tanpa membuang waktu sedikit pun, Sukma Harum menceritakan semua kejadian. Sebenarnya ia cukup bosan harus menceritakan hal ini berulang kali kepada orang lain, tapi apa boleh buat, keadaan memaksa seperti itu.
Setelah Sukma Harum selesai bercerita, Hagung merasakan sebuah kejanggalan. “Ada satu hal yang harus
keberitahukan kepadamu, pendekar.”
“Aku tahu,” tukas Sukma Harum sambil tertawa lepas.
“Kau tahu?”
“Ya. Bahwa Masayu Renjani bukanlah anggota pasukan telik sandi.”
“Ah, kau sudah tahu. Baiklah. Karena aku paham betul kesatuan telik sandi. Bahkan dulu aku yang bantu
merancang pembuatannya.”
“Ya. Alasan yang dia buat sebenarnya bagus. Tapi satu keanehan yang kutemukan, untuk apa dia memlihara
dan menggunakan wanita-wanita telanjang. Kesatuan telik sandi tentu memiliki aturannya tersendiri. Masa kah mereka membolehkan penggunaan cara-cara mesum seperti itu? Memang betul cocok disebut Penipu Nomer Satu Di Dunia, Haha.”
“Ya. Negara memang seharusnya mempunyai aturan-aturan yang ketat kepada pejabat dan petugasnya. Jika
dibiarkan tanpa etika maka penyelenggaraan negara akan berantakan karena petugas-petugasnya tidak memiliki aturan yang membatasinya.”
“Sejauh yang aku tahu, hanya Kerajaan Pajajaran inilah saat ini di Nusantara yang mampu menerapkan aturan
ini dengan ketat. Ketegasan Yang Mulia Sri Baduga (Prabu Siliwangi) ini mampu membuat negara berdiri kokoh di saat banyak kerajaan di Nusantara runtuh.”
“Benar sekali. Tugas kami sebagai petugas negara amat sangat berat sebenarnya. Tetapi berkat ketegasan,
kewibawaan, serta kebijaksanaan Yang Mulia Sri Baduga, kami akhirnya dapat menjalankan tugas ini,” tukas Hagung Koswara.
“Tetapi sampai kapan hal ini dapat bertahan? Sampai kapan petugas dan pejabat dapat menahan diri dari godaan kekuasaan, harta, dan perempuan? Mereka semua adalah manusia yang memiliki keinginan,” tentu saja Raka tidak
mengucapkan hal ini. Ia hanya mampu membatin di dalam hati.
Waktu berjalan, dan kini senja telah datang. Warna merah di langit sudah mulai terkikis bayangan gelap yang
perlahan-lahan memenuhi semesta. Tak lama lagi malam akan tiba. Saat dunia beristirahat dari hari yang penat dan melelahkan.
Tetapi ada sementara orang yang tidak ada dapat beristirahat. Tidak dapat tidur dengan nyenyak. Tidak dapat
makan dengan lahap. Tidak dapat menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Padahal menurut sebagian yang lain, “Bahagia itu sederhana”.
“Marilah kita beristirahat. Malam sudah menjelang. Kita menginap di pinggiran hutan. Besok sebelum terang tanah,
kita melanjutkan perjalanan,” kata Sukma Harum.
“Masih jauhkah desa Cipandana?” tanya Hagung Koswara.
“Jika besok kita berangkat saat subuh, maka kita akan sampai di desa itu sekitar tengah hari.”
“Baiklah kalau begitu. DI kudaku ada tenda kecil. Biar ku dirikan untuk kita.”
“Tuan opas mendirikan tenda, aku yang berburu makanan. Bagaimana?” senyum Raka.
“Sangat bagus!”
***
Api unggun sudah menyala. Tenda sudah didirikan. Hewan buruan sudah disantap. Dua pengelana saling menceritakan pengalaman masing-masing.
__ADS_1
“Aku mendengar bahwa kaulah yang menyelesaikan masalah hilangnya cincin Paduka Ratu Prameswari (Permaisuri)?” tanya Hagung Koswara.
Raka tertawa, “Ya benar. Cukup memusingkan juga persoalan itu. Ternyata jawabannya sederhana. Padahal membuat seluruh kerajaan menjadi heboh.”
“Tidak saja Pajajaran yang menjadi heboh, kerajaan Madangkara pun ikutan repot,” opas itu ikut tertawa.
“Segala permasalahan di dunia yang ruwet, ternyata penyebabnya adalah sesuatu yang sangat sederhana. Cinta
misalnya,” tukas Raka. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia mengucapkan kata-kata ini. Ia ingat mahagurunya yang dulu mengatakan hal ini kepadanya.
Tiba-tiba di dalam hatinya muncul suatu pemahaman. Jangan-jangan segala permasalahan yang ia hadapi sekarang, adalah disebabkan oleh “Cinta” juga?
Di dalam kesepiannya, sudah berapa perempuan yang ia sakiti hatinya? Sudah berapa perempuan yang ia kecewakan? Sudah berapa perempuan yang ia tinggal pergi?
Apakah mereka sanggup memaafkannya? Ataukah ia telah menimbun begitu banyak dendam?
Ia tidak dapat menjawab. Karena ia sama sekali belum menemukan alasan terjadinya peristiwa-peristiwa ini. Ada
banyak gagasan di dalam kepalanya yang harus dibuktikan benar atau tidaknya.
“Jadi, sudah berapa lama tuan menjadi opas?” tanya Sukma Harum mencoba mengalihkan pikirannya sendiri.
“Tahun ini sudah 13 tahun. Aku menjadi prajurit negara saat berumur 16 tahun. Kemudian nasib membawaku pada
berbagai tugas. Enam tahun terakhir ini aku diberi tugas menjadi Opas Khusus Kerajaan.”
Kesatuan Delapan Mata Angin atau disebut dengan Kesatuan 8 Opas adalah sebuah kesatuan kecil yang dibawahi oleh 8 opas. Masing-masing opas membawahi 10 orang. Kesatuan ini sangat kecil, namun sangat disegani di seluruh Pajajaran.
Tugas mereka adalah meneliti kasus-kasus yang sulit, mengawasi kinerja pejabat negara terkhusus di bidang
penegakan hukum, serta menjadi pengusut dalam permasalahan kerajaan yang tidak boleh bocor ke masyarakat.
Hagung Koswara adalah salah satu dari ke 8 opas yang sangat terkenal itu. Kepintaran, kecerdasan, keberanian,
serta kecakapannya dalam menuntaskan permasalahan di dalam masyarakat membuat namanya terkenal sejak 5 tahun lalu. Apalagi ia memiliki senjata pusaka bernama Ruyung Naga Emas yang amat sangat ditakuti oleh kaum sesat. Sejak dahulu Raka sangat mengagumi Kesatuan ini dan baru sekarang bertemu dengan salah satu
“Jadi kesatuan telik sandi itu, tuan opas lah yang merancangnya?” taya Raka.
“Ya. Sebenarnya telik sandi sudah ada semenjak jaman dahulu. Hanya saja tidak bergerak secara teratur dan rapi.
Tidak ada aturan yang jelas untuk kinerja mereka, sehingga terkadang tindakan mereka melewati batas. Kemudian Yang Mulia Sri Baduga (Prabu Siliwangi) memerintahkan pembaruan dan perombakan dalam pengaturan dan kinerja petugas negara. Salah satunya adalah pembentukan Kesatuan Delapan Mata Angin. Nah kesatuan inilah yang kemudian merancang Kesatuan Telik Sandi.”
“Oh, jadi Kesatuan Telik Sandi berdiri sendiri dari Kesatuan Delapan Mata Angin?” tanya Raka.
“Benar. Dengan begitu pengawasan kinerja akan lebih mudah.”
“Jika Telik Sandi diawasi oleh Delapan Mata Angin, maka siapa pula yang mengawasi Kesatuan Delapan Mata Angin?” kembali Raka bertanya.
“Pertanyaan yang sangat bagus! Tentunya rakyat lah pengawasnya. Tuan pendekar boleh melihat tingkat kepuasan
rakyat, bagaimana mereka sejahtera, bagaimana mereka terlindungi oleh hukum, dan bagaimana kerajaan memperlakukan rakyatnya.”
“Benar sekali. Sejauh ini kerajaan Pajajaran adalah negara yang paling makmur dan paling sejahtera di
seluruh Nusantara. Terima kasih untuk Yang Mulia Sri Baduga dan seluruh jajaran petugasnya.”
“Entah tuan pendekar lupa, atau sengaja lupa, ada satu orang lagi yang paling berjasa dalam kemakmuran rakyat
Pajajaran,” senyum Hagung.
Sukma Harum tidak berkata apa-apa.
“Ayahanda tuan, Pangeran Arya Gandakusuma, sang mantan Menteri Kesejahteraan dan Perdagangan-lah sebagai orangnya. Beliau lah yang merumuskan perniagaan dan berbagai macam kebijakan yang kemudian disetujui oleh Yang Mulia Sri Baduga. Karena rumusan beliaulah, pertanian, pengairan, kelautan, serta perniagaan antar negara menjadi subur dan makmur. Sayang beliau sudah mengundurkan diri dari jabatan. Kalau boleh tahu,
apa kegiatan beliau saat ini?” kata Hagung Koswara.
__ADS_1
“Menikmati masa purnabhakti (pensiun) sambil berniaga kecil-kecilan, tuan opas,” senyum Raka. Bila teringat ayahnya yang begitu kalem dan berwibawa serta pikirannya yang cerdas, Raka sering tidak enak sendiri. Ayahnya
begtu kecewa pada pilihan hidupnya yang menjadi pendekar ketimbang meneruskan ayahnya menjadi pejabat kerajaan atau mengurus perniagaan keluarga.
Hal ini terbesit pula dalam pikiran Hagung Koswara. Mengapa pemuda yang sangat tampan, kaya raya, memiliki
kecerdasan begitu tinggi, mau menjadi pendekar dan berkelana dalam dunia persilatan? Tidak terhitung bahaya dan kesulitan yang harus dihadapi seorang pendekar di dalam keseluruhan hidupnya. Setiap detik hidup terancam bahaya, menghadapi dendam kesumat, kebencian, dan hutang nyawa.
Dirinya sendiri berasal dari keluarga miskin. Miskin namun teguh pada pendirian, bahwa hal terbaik adalah berbakti kepada negara. Namun orang kaya? Ia sungguh tidak dapat memahami mengapa orang kaya seperti Sukma Harum dapat menjadi pendekar seperti ini.
Sesungguhnya apa yang ditanyakan Hagung Koswara ini pun menjadi pertanyaan banyak orang pula. Mereka sama sekali tidak dapat menemukan jawaban, selain jawaban bahwa Sukma Harum hanya lebih suka petualangan, ketimbang kehidupan di mahligai megah dengan tenang.
Mengapa ia tidak mengikuti saja jejak ayahandanya menjadi pejabat dan mengurusi kesejahteraan? Toh kekayaan
keluarga Gandakusuma saat ini sudah dapat mengentaskan begitu banyak orang dari kemiskinan.
Sungguh orang-orang ini tidak mengerti.
Bahwa kemakmuran dan kejayaan perniagaan hanya akan membahagiakan rakyat dalam kurun waktu jangka
panjang.
Tetapi di setiap hari, di setiap detik, ada pribadi-pribadi tertindas yang membutuhkan pertolongan. Kemakmuran
niaga tidak mampu menolongnya. Karena mereka berhadapan dengan orang yang jauh lebih makmur, jauh lebih punya kuasa.
Mungkin karena inilah Sukma Harum memilih meninggalkan kenyamanan hidupnya. Memilih tidak berniaga seperti
ayahandanya untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat melalui kemakmuran perdagangan.
Ia lebih memilih berkelana di dunia persilatan. Bertemu dengan pribadi-pribadi tertindas, merasakan penderitaan mereka, dan berusaha sekeras mungkin memberikan pertolongan.
Inilah panggilan hidupnya. Karena sebab-sebab seperti inilah Sukma Harum menjadi Sukma Harum.
Tetap orang-orang tidak pernah mengerti. Ayahnya tidak mengerti. Rakyat tidak mengerti. Hanung Koswara tidak mengerti. Bahkan Baginda Raja pun tidak mengerti.
Hanya ibunya yang sanggup mengerti, karena ibunya sendiri merupaka pendekar yang sangat disegani di dalam
dunia persilatan. Kalau bukan karena ibunya yang merayu dan meminta kepada sang ayah, mungkin Raka dan Amara tidak akan pernah mampu keluar dari pintu rumah.
“Ilmu silatmu begitu hebat, bakatmu begitu tinggi. Di dunia persilatan, namamu seharum julukanmu. Yang membuat aku penasaran, engkau jarang sekali menggunakan ilmu silat. Ketenaranmu justru engkau dapatkan saat kau dilarang menggunakan ilmu silat. Bukan begitu?”
“Benar sekali. Selama 3 tahun aku dilarang menggunakan ilmu silat oleh mahaguruku. Beliau memerintahkanku
berkelana di dunia tanpa sekalipun boleh menggunakan ilmu silat atau mengandalkan nama keluarga sebagai syarat kelulusanku berguru kepada beliau,” jelas Raka.
“Aha. Aku mengerti. Beliau memerintahkan seperti itu, agar engkau mengerti kerasnya petualangan di dunia
persilatan. Dan yang lebih penting lagi, adalah bahwa engkau mengerti pahitnya kehidupan di dunia ini. Bukan begitu?”
Raka mengangguk. “Benar sekali. Dan yang kutemukan adalah sebuah dunia yang sungguh kelam dan suram. Manusia bisa sedemikian kejam hanya untuk hal-hal remeh.”
“Sebenarnya ada satu lagi hal yang kutemukan di dalam kehidupan ini,” tawa Hagung Koswara.
“Apa itu?”
“Bahwa semakin dalam cinta, maka ia menjadi semakin dangkal.”
Kali ini tidak ada senyuman.
Kedua orang petualang itu sama-sama menyadari beratnya kalimat yang baru saja diucapkan. Mungkin karena
mereka masing-masing telah mengalaminya.
Bintang di langit bertaburan. Rembulan bersinar terang. Bahkan api unggun membara menerangi tempat itu.
__ADS_1
Tapi mampukah cahayanya menerangi relung paling dalam di hati manusia?