Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 4: Banjir Darah


__ADS_3

Setelah semua selesai, Sukma Harum segera bergegas menuju tempat pertemuannya dengan Sri Murti. Sebuah rumah yang terletak di bagian luar kota Mandeung. Ia menunggang sebuah kuda yang baru dibelinya di kota itu. Kuda berwarna hitam kecoklatan yang tegap dan cukup kuat.


Sepanjang jalan Sukma Harum memperhatikan bahwa keadaan kota ini memang sangat sejahtera. Perdagangan


ramai, kekayaan alam melimpah ruah, orang-orang hdup tentram dalam rasa saling percaya. Sangat berbeda dengan kerajaan-kerajaan di luar Pajajaran seperti Majapahit yang telah berangsur-angsur runtuh, atau Madangkara yang masih sibuk dengan perebutan kekuasaan antar keluarga.


Prabu Siliwangi benar-benar belajar dari kisah-kisah kerajaan lain yang terlalu sibuk mengembangkan wilayah


dan daerah kekuasaan sehingga lupa mensejahterakan rakyatnya. Sehingga keadaan dalam negeri kerajaan-kerajaan itu menjadi goyah dan mudah diruntuhkan. Pelajaran dan kenyataan ini membuat beliau lebih memperhatikan kesejahtraan seluruh rakyat Pajajaran.


Dalam 20 tahun pemerintahannya, ilmu dan agama berkembang sangat pesat di Pajajaran. Meskipun saat itu agama Hindu adalah agama utama di kerajaan ini, Prabu Siliwangi memperbolehkan agama lain untuk berkembang dengan aman di Pajajaran. Agama Buddha dan Islam berkembang sangat baik di negeri ini. Bahkan ada salah satu permaisuri beliau beragama Islam, bernama Nyi Subang Larang.


Di setiap sudut jalan, orang terlihat begitu menikmati hidup. Rumah makan, kedai arak, pemandian umum, semua


tampak ramai. Kesenian dan kebudayaan seperti sastra, tari-tarian, dan lukisan semuanya mendapatkan lahan untuk hidup subur dan berkembang.


Satu kebijakan yang paling penting pula dari raja yang bijaksana ini adalah menghilangkan berbagai macam


pajak. Rakyat hanya membayar pajak dalam jumlah kecil, itu pun terkadang hanya berupa hasil kebun atau hewan buruan.


Sukma Harum perlahan memasuki hutan di luar batas kota. Mentari telah mulai surut ke barat, warna merah


menghiasi langit. Angin dingin mulai menghembuskan hawa yang menembus tulang. Jalan setapak terasa licin dan berlumpur. Ia mengendarai kudanya dengan hati-hati, khawatir kuda itu terpeleset dan cedera.


Meskipun urusannya sangat banyak dan bertumpuk-tumpuk, selamanya ia tidak pernah tergesa-gesa. Selamanya pula ia selalu tepat waktu. Tidak pernah terlambat, tidak juga terlalu cepat. Baginya, segalanya harus selalu tepat.


Mungkin karena itulah ia dapat melihat segala hal yang tidak pada tempatnya. Dapat melihat ketidakberesan,


atau rahasia yang tersembunyi di hati orang. Dapat menemukan sesuatu yang tidak seharusnya.


Hal-hal seperti ini yang membuatnya dapat bersikap dengan penuh ketenangan.


Seperti suasana di hutan lebat ini. Tidak ada penerangan sama sekali. Pepohonan begitu rimbun. Jika ada orang yang bermaksud membokongnya atau menyerangnya di tempat ini, amat sangat sulit baginya untuk meloloskan diri.


Tetapi ia bersikap tenang. Karena bersikap khawatir dan terburu-buru toh tak akan mengubah keadaan. Justru dengan bersikap tenang, ia akan mampu memikirkan jawaban untuk persoalan yang amat sangat rumit.


Malam kini datang. Bulan sudah muncul dengan sinarnya yang pucat. Tetapi cahaya itu tidak mampu menerangi


jalan setapak yang kini dilaluinya. Senyap. Suara angin meriuh membuat batang-batag pohon bergesakan menibulkan suara yang sedikit menyeramkan.


Krekkk….krekkk…


Hanya ada suara langkah kuda yang berjalan dengan hati-hati.


Di tengah kegelapan seperti ini, bahkan tangan sendiri pun tidak kelihatan. Setiap saat, bahaya dapat menerjang.


Perangkap jahat dapat menyergap. Tetapi inilah jalan yang harus dilaluinya. Sri Murti telah memberikannya jalan ini, maka jalan ini pula yang dilaluinya.


Sayup-sayup mengalun getaran suara tangisan.


Tangisan yang begitu menyayat hati.


Siapa gerangan yang menangis di tempat seperti ini?


Ia menajamkan inderanya. Mau tidak mau bulu kuduknya sedikit berdiri juga. Tapi sikapnya tetap tenang.


Seumpama langit runtuh menimpanya pun ia tetap akan bersikap tenang.


Tiba-tiba suara tangisan yang sayup-sayup itu berubah seperti menjadi suara tawa.


“Hi…hi…hi…”


Tawa dan tangis itu berada jauh di depan sana. Sepertinya berasal dari tempat yang akan ditujunya.


Sayangnya memang inderanya tidak pernah keliru. Semakin dekat, semakin jelas tangisan dan tawa itu.


Lalu semuanya itu tiba-tiba berhenti.


“Grokkkk!”


Sayup seperti suara manusia ngorok atau **** yang menggerung. Lalu angin membawa bau darah. Seketika


perasaan Sukma Harum berubah!


Ia melompar meninggalkan kudanya dan melesat dengan sangat cepat.


Dari kejauhan terlihat secercah cahaya bersinar. Itulah rumah tetirahan milik keluarga Sri Murti. Tempat mereka

__ADS_1


seharusnya bertemu. Kini bau darah yang anyir terhembus keras keluar dari rumah itu.


Begitu hebat ilmu meringankan tubuhnya sampai-sampai ia telah tiba di pekarangan tetirahan itu hanya dalam


sekejap mata!


Bau anyir darah manusia menyeruak!


Saat ini Sukma Harum telah berada dalam keadaan siap bertarung. Gerakan sekecil apapun tidak akan lolos dari


perhatiannya.


Braaaaakkkkkkkk!


Ia mendobrak pintu rumah.


Lalu tampaklah pemandangan yang dapat membetot putus urat jantung manusia.


Darah membanjiri lantai rumah. Tubuh mayat bergelimpangan. Banyak kaki dan tangan yang terpotong putus.


Jari-jari manusia bagaikan potongan kacang panjang bertebaran di mana-mana. Isi perut manusia terburai, menyebarkan bau busuk yang merasuk ke dalam paru-paru.


Mereka baru saja mati. Darah ini masih segar. Pelakunya masih berada di sini!


“Grggggh…..grggghhhh….”


Sukma Harum dapat merasakan suara orang di dalam bilik di belakang sana. Ia melesat melayang tanpa sedikit pun menyentuh lantai yang dibanjiri darah. Di dalam kamar, pemandangannya pun menyayat hati.


Seorang perempuan tergelatak. Lehernya hampir putus. Darah mengucur sangat deras. Matanya nanar. Masih ada


sedikit sinar kehidupan di sana. Tetapi Sukma Harum tahu, sinar itu akan segera padam.


“Groookkkk….groooookkkk”


Wajahnya pucat pasi namun masih terlihat anggun. Mulutnya sedikit terbuka seolah-olah ingin bertanya,


“Duhai, kakanda. Mengapa engkau datang terlambat? Seseorang telah menurunkan tangan jahat. Kini yang tersisa hanyalah pertemuan sesaat. Tanpa kata-kata…..,”


Sukma Harum memegang tangan nona itu. Airmata lelaki itu mendera menetes jatuh ke pipi putri yang cantik.


“Janji telah ditunaikan, sedikitpun kakanda tiada lupakan. Namun takdir jua kan memisahkan..,”


Tangan yang belepotan darah. Jari-jari yang runcing dan ramping. Ia seperti ingin menunjuk sesuatu. Sukma


Harum menoleh ke belakang, di sana ada pula sesosok tubuh yang tergeletak di tanah pula, letaknya tertutupi oleh ranjang.


Seorang pemuda juga bersimbah darah. Lehernya pun sobek. Dibelah oleh sebuah senjata kecil yang masih


menempel di leher itu.


Sebuah Kujang!


Keadaan pemuda itu masih jauh lebih baik daripada si perempuan.


Yang perempuan adalah Sri Murti. Pemuda ini tentu adiknya yang pernah ia ceritakan. Sedangkan mayat-mayat yang bertebaran di luar sana adalah para pengawal mereka.


Seseorang telah berhasil datang kemari dan membunuh mereka seluruhnya. Tetapi pembunuhan ini belum sempurna karena masih ada satu korban tersisa. Apakah karena pembunuh itu menyadari ada seseorang yang datang?


Tetapi jika ia mampu membunuh seluruh orang di rumah itu, mengapa ia harus takut kepada tamu yang datang?


Apakah karena pembunuh itu tahu bahwa tamu yang datang adalah Sukma Harum?


Ya tentu saja. Pembunuh itu adalah orang yang dikenal oleh semua orang yang berada di rumah ini.


Tetapi ke mana dia pergi?


Sukma Harum menoleh keluar melalui jendela yang terbuka. Terdengar deru suara kuda dari luar yang mendekat.


Rupanya ada beberapa orang lain yang datang ke sana pula.


Pikirannya berputar dengan cepat. Jika ia pergi mengejar pelaku itu, maka nyawa pemuda ini tidak dapat ia


selamatkan. Tetapi jika ia tidak pergi dari sana, maka orang-orang yang datang ini akan menuduhnya sebagai pelakunya.


Sukma Harum telah mengambil keputusan dalam sepersekian detik.


Tangannya mengeluarkan obat dari balik kantongnya. Begitu diteteskan di atas luka yang menganga di leher itu,

__ADS_1


cairan itu mengeluarkan bau amis dan suara mendesis.


Sssssssssssssssssss!


Pemuda itu telah kehilangan kesadaran sehingga ia tidak merasakan betapa sakitnya saat obat itu bekerja


menutup luka dan mengeringkannya. Sukma Harum mengulurkan tangannya dan menyalurkan tenaga dalamnya kepada pemuda itu.


Dialah pesan terakhir dari sang putri. Di tangan pemuda ini ia akan dapat membongkar semua kejahatan yang kejam ini. Oleh karena itu ia harus memperjuangkan nyawa pemuda itu!


“Demi Dewa!”


Para ‘tamu’ sudah memasuki rumah dan melihat gerangan darah. Serempak mereka mencabut pedang untuk berjaga-jaga. Mereka menyisiri setiap ruangan untuk melihat keadaan. Sampailah mereka di ruangan di mana Sukma Harum sedang berusaha menyembuhkan si pemuda yang sedang sekarat.


Saat mereka melihat bahwa ada lelaki yang sehat sentosa tanpa luka, berada di genangan darah dan mayat,


sedangkan meletakkan tangannya di dada seorang korban, tentu saja yang muncul dalam pikiran mereka ada lelaki inilah pelaku semua kejahatan ini.


Lalu pedang mereka ayunkan. Tujuh mata pedang menyerangnya dari segala arah. Tiada lubang untuk menghindar dan menyelamatkan diri karena jurus pedang ini sangat sempurna!


Tetapi Sukma Harum tidak perlu menghindar dan menyelamatkan diri dari kepungan pedang.


Karena ia adalah Sukma Harum!


Tangannya bergerak cepat menyambar tujuh pedang.


Trang! Trang! Trang! Trang!Trang! Trang! Trang!


Ketujuh pedang terhempas dari tangan para pemiliknya!


Mereka hanya dapat melongo. Bagaimana mungkin seorang lelaki tampan bergaya pesolek seperti ini mampu


menghempaskan pedang mereka hanya dalam satu gerakan? Dunia seolah bergetar hebat. Jiwa mereka terguncang. Kini bahkan mereka tidak berani bergerak. Karena mereka tahu, nyawa mereka berada di dalam genggaman pemuda ini.


“Kau….kau…Suk..ma Ha…rum…”


Semua orang di dunia ini pernah mendengar tentang Sukma Harum.


Tak salah lagi. Parasnya yang tampan, pembawaannya yang tenang, serta sentilan jarinya yang tiada duanya di


muka bumi ini.


Ia tidak berkata apa-apa, hanya kembali berlutut dan menyalurkan tenaga ke dada pemuda yang tergeletak pingsan.Para pendekar pedang yang melihat ini mulai menyadari bahwa Sukma Harum bukanlah pelaku, melainkan penolong yang sedang berusaha menyembuhkan orang lain.


Setelah dilihatnya keadaan pemuda itu berangsur membaik dan denyut jantungnya sudah sedikit menguat, Sukma Harum menarik tangannya dan menyelesaikan penyaluran tenaga dalamnya.


“Ki sanak sekalian dari Padepokan Rajawali Sakti?”


“Ya benar. Putri Sri Murti sendiri yang mengundang kami kemari,” jawab salah seorang.


“Aku sendiri datang terlambat. Saat aku datang, keadaan sudah seperti ini. Hanya dia seorang yang masih hidup.


Itu pun dalam keadaan yang sangat menyedihkan,” kata Sukma Harum smabil menunjuk kepada adik Sri Murti.


“Kujang itu, apakah milik anda, tuan Sukma Harum?”


“Bukan. Saat aku datang kujang itu sudah menancap di lehernya,” jawabnya.


Ketujuh orang pendekar pedang saling menatap satu sama lain. Sepertinya ada sesuatu yang menjadi ganjalan


hati mereka.


“Para pendekar yang mati di sini, semuanya bukan orang-orang yang lemah. Tetapi mereka tewas begitu saja,” kata


salah seorang.


“Di dunia ini, hanya sedikit sekali orang yang memiliki kemampuan seperti ini,” salah seorang menimpali.


“Apalagi yang mampu menggunakan Kujang seperti itu,” timpal seorang yang lain.


“Jadi ki sanak sekalian menuduh aku?” tanya Sukma Harum.


“Mohon maaf, kami sama sekali tidak berani menuduh tuan. Tetapi kenyataan ini terlalu jelas. Siapa pelakunya,


mungkin hanya si dia yang bisa memberitahukan,” kata salah seorang sambil menunjuk lagi kepada adik Sri Murti.


“Ya. Benar. Hanya dia saja yang bisa menjelaskan cerita sebenarnya.”

__ADS_1


“Kami mengusulkan, jika tuan bersedia, untuk ikut kami mengantarkan korban ini ke padepokan kami. Menjaga-jaga agar di perjalanan ia tidak diserang kembali. Cukup beberapa hari ia dirawat, kami yakin ia akan sembuh. Setelah ia memberitahukan kejadian yang sebenarnya dan siapa pelakunya, mari kita cari sama-sama penjahat biadab itu!”


“Usul yang sangat bijaksana sekali. Baik, saya bersedia!” jawab Sukma Harum tenang namun lantang.


__ADS_2