
Sukma Harum hanya tertawa.
“Dan kau tidak mau menceritakannya kepadaku?” tanya Hanung penasaran.
“Aku masih belum yakin. Ini hanya sekedar gagasan kecil saja. Toh pada akhirnya nanti kau juga akan tahu.”
Mereka akhirnya pergi dari sana. Dari kejauhan terlihat ada beberapa cahaya obor yang menyala di depan sana. “Rupanya ada penduduk kampung yang penasaran dengan kegiatan kita di sini,” tukas Hagung.
Kedua orang itu lalu mendatangi kerumunan cahaya obor itu dan Sukma Harum menyapa, “Sampurasun.”
“Rampes. Kalau boleh tahu, tuan-tuan ini siapa? Kenapa malam-malam menggeledah rumah orang seperti maling?” nada suaranya tidak bersahabat.
“Nama saya Raka Gandakusuma. Dan ini tuan opas Hagung Koswara.”
Hagung paham inilah saatnya ia membuka jubahnya dan memperlihatkan baju dinasnya.
“Eh tuan opas? Maaf-maaf. Kami tidak tahu jika anda sekalian adalah petugas. Mari ke tempat saya. Nama saya Ranto. Saya adalah kepala desa di sini,” suaranya berubah ramah dan sopan.
Baju dinas memang bisa mengubah sikap orang. Ini adalah rumus.
Rumah kepala desa itu cukup bagus. Pekarangannya luas. Di depan pagarnya ada sungai ecil mengalir cukup deras. Gemericik arusnya mendatangkan suasana hati yang nyaman. Setelah mempersilahkan duduk tamunya dan menyuguhkan kudapan, mereka berbasa-basi sebentar. Kemudian sampailah pada pokok persoalan.
“Sebenarnya ada tugas apa sehingga tuan berdua datang malam-malam ke rumah itu?”
“Kami ingin menyeldiki pembantaian keluarga itu,” kata Hagung.
“Tetapi dahulu sudah banyak opas yang datang ke sana juga untuk memeriksa. Bahkan hampir seluruh penduduk sudah ditanyai segala macam hal tentang keluarga ini,” kata Ranto.
“Ada petunjuk baru yang membutuhkan penyeledikan baru pula. Itulah sebabnya kami harus memeriksa kembali tempat kejadian peristiwa,” jelas Hagung.
“Petunjuk baru? Wah, apakah sudah ada titik terang tentang siapa pelakunya?” tanya Ranto.
“Ya,” kali ini Sukma Harum yang menyela.
Melihat paras tampan dan perawakan yang gagah, ada hawa dan cahaya yang memancar dari sosok lelaki muda ini. Sejak awal bertemu sebenarnya sudah membuat sang kepala desa menjadi sedikit menciut nyalinya. Hanya saja ia tetap harus menjaga wibawa. Apalagi bisa saja lelaki tampan ini adalah bangsawan istana yang turun langsung. Ranto merasa ia juga harus menjaga wibawa agar “dipandang” oleh lelaki di hadapannya itu.
“Baiklah kalau begitu, tuan. Eh, apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Mohon pak Ranto menceritakan kembali kejadian itu. Sejauh yang bapak tahu dan ingat saja,” pinta Hagung. Jiwa opasnya yang tegas dan berwibawa telah ia perlihatkan.
Ranto menatap langit-langit. Ia bersandar di tembok sampingnya, sambil menghela nafas dalam-dalam. Lalu ia mulai bercerita:
“Seingat saya, penemuan jenazah itu terjadi pada beberapa hari setelah kejadian. Saat ditemukan jenazah sudah mulai membusuk. Keluarga Damara memang adalah keluarga yang cukup tertutup. Kediaman mereka pun agak masuk menjorok ke tepi hutan di bukit kecil itu. Jika memang tidak bertujuan datang ke rumah itu, bisa dipastikan tidak ada orang yang lalu lalang ke tempat itu.”
“Apa pekerjaan keluarga itu?” tanya Hagung.
“Tuan Damara adalah tuan tanah. Ia memang bukan berasal dari daerah sini. Tetapi uangnya sangat banyak. Ia membeli persawahan yang sangat luas, lalu mempekerjakan orang di sawah dan ladangnya. Hasilnya cukup besar dan ia menjadi bertambah kaya.”
“Ada berapa orang yang tinggal di rumah itu?” tanya sang opas.
“Tuan Damara sendiri. Lalu kedua anaknya, Den Ayu Tria dan Den Bagus Reksa. Ada 5 orang pembantu rumah tangga. Saya lupa nama-nama mereka. Tetapi pada saat kejadian, Den Tria dan Den Reksa tidak berada di tempat. Malah yang menjadi korban ada ketambahan 4 orang lain pula.”
“Siapa 4 orang lain ini?”
Mereka adalah orang yang membantu tuan Damara menjalankan usaha dagang sekaligus memandori sawah dan ladang. Saya juga lupa nama-nama mereka. Yang saya ingat hanya Karta dan Sambra.”
“Apa penyebab kematian mereka?”
“Kata petugas opas yang memeriksa, mereka semua mati keracunan,” jawab pak Ranto.
“Tidak sengaja keracunan atau ada yang meracuni?”
__ADS_1
“Kata sang opas pemeriksa, sepertinya ada yang meracuni. Karena racun ditemukan di dalam makanan sisa di atas meja. Mereka semua meninggal saat makan siang. Tuan Damara, 5 pembantu rumah tangga, dan 4 orang tangan kanannya.”
“Keempat orang ini tinggal di sana juga?”
“Tidak. Tapi rumah mereka berada tak jauh dari sini. Karta dan Sambra tingal di desa ini. Sedangkan 2 yang lain tinggal di desa Ciaran. Bersebelahan dengan desa ini.”
“Mereka punya keluarga?”
“Ya. Kelarganya masih ada semua.”
“Baik, nanti kami akan meminta nama-nama dan alamat mereka. Oh ya, kalau boleh tahu, siapa yang mnemukan mayat para korban?”
“Den Tria sendiri. Saat itu ia baru pulang mengantarkan adiknya berobat. Sejak kecil adiknya cacat. Tak pernah keluar rumah. Tubuhnya lumpuh sebelah. Katanya setiap bulan ia mengantarkan adiknya berobat ke seorang tabib.”
‘Pak Ranto tahu nama tabib itu?”
“Kebetulan tidak.”
“Baik. Apakah pak Ranto mengenal keluarga Damara? Bisa cerita sedikit?”
“Tuan Damara sedikit lebih tua dari saya. Ia datang kesini sekitar 20 tahun yang lalu. Pada awalnya memang susah bergaul dengan warga, karena tuan Damara berasal dari daerah Timur. Secara bahasa pun dia kesulitan.”
Mendengar ini, Sukma Harum dapat membayangkan. Kejadian menyedihkan yang terjadi hampir seratus tahun yang lalu. Kejadian menggemparkan yang dikenal dengan nama “Perang Bubat”. Lebih tepat disebut dengan “Pembantaian”. Karena pada saat itu seluruh keluarga kerajaan Sunda Galuh dibantai oleh pasukan Majapahit. Padahal saat itu seluruh anggota keluarga Kerajaan Sunda Galuh sedang mengantarkan putri mereka yang paling cantik, Dyah Pitaloka, untuk menikah dengan raja Majapahit, Hayam Wuruk.
Entah salah paham, atau entah memang sudah direncanakan, keluarga Kerajaan Sunda Galuh ini beserta rombongan dan pengawal yang mereka bawa dimusnahkan seluruhnya. Kejadian ini berlangsung di sebuah tempat yang bernama Pesanggrahan Bubat.
Untunglah ada satu anak dari Raja kerajaan Sunda Galuh yang tidak ikut mengantarkan. Jika mengikuti aturan, maka adik dari sang Raja lah yang harus naik tahta. Tetapi sang adik yang juga saat itu tidak ikut berangkat, meyerahkan tampuk kekuasaan kepada keponakannya yang kemudian menjadi asal usul berkembang dan jayanya kerajaan Sunda Galuh yang juga terkneal dengan nama Pajajaran.
Sukma Harum tentu mengetahui ini dengan jelas, karena “paman” yang menyerahkan kekuasaan pada ponakannya itu masih terhitung kakek buyutnya.
Karena kejadian pembantaian ini, kerajaan mengeluarkan larangan untuk menikah dengan orang luar, apalagi dengan orang dari Majapahit. Sehingga timbul rasa dendam dan tidak suka antar rakyat kedua kerajaan ini. Mengingat bahwa Damara adalah terhitung orang “luar”, maka kehadirannya di desa itu pun pasti mendapatkan ketidaksukaan orang.
Pak Ranto melanjutkan ceritanya. “Tetapi warga kemudian bisa menerima mereka. Apalagi mereka sopan dan baik. Juga suka bagi-bagi uang. Mereka membeli sawah-sawah kami dengan sangat mahal, lalu mempekerjakan kami dengan imbalan yang bagus. Lama-lama ia menjadi bagian dari kami.”
“Tidak. Tuan Damara menikah dengan salah seorang warga kami. Meskipun ada pertentangan. Ada juga pamali. Pamali yang mengatakan bahwa perkawinan Timur dan Barat pasti akan menghasilkan malapetaka. Toh mereka tetap nekat. Sekarang terbukti ucapan orang-orang tua sama sekali tidak salah.”
“Jadi Den Ayu Tria dan Den Bagus Reksa adalah hasil perkawinan dengan gadis dari desa ini?” tanya Sukma Harum. Pak Ranto mengangguk.
“Beliau tidak menjadi korban pembantaian?”
“Nyai Damara sudah meninggal saat kdua anaknya masih kecil,” jelas Pak Ranto.
Sukma Harum mengangguk-angguk. Lalu ia bertanya lagi, “Pada saat kejadian, missal beberapa hari sebelum atau sesudah kejadian, apakah warga menemukan hal yang aneh, atau ada orang asing yang datang?”
Pak Ranto berpikir sebentar, “Ada!”
“Sehari sebelumnya, terlihat sesosok tinggi besar berkeliaran di sekitar sana. Ia memakai jubah hitam. Rambutnya panjang halus menjuntai menutupi wajahnya!”
Jubah hitam itu lagi!
***
Sukma Harum dan Hagung memutuskan untuk beristirahat malam itu di rumah Pak Ranto. Besok pagi-pagi sekali mereka membagi tugas. Hagung pergi ke rumah para janda dari mandr-mandor yang bekerja pada keluarga Damara, dan Sukma Harum pergi mengunjungi kuburan keluarga Damara.
“Kau tak takut bertemu hantu di sana?” canda Hagung sebelum mereka berpisah.
“Jika hantunya perempuan, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. AKu kan ahlinya perempuan.”
__ADS_1
“Kalau hantunya laki-laki?”
“Kuberikan kepadamu!”
Mereka berpisah sambil tertawa.
Sukma Harum diantar salah seorang warga mengunjungi makam keluarga Damara. Sebuah tempat pemakaman kecil yang saat itu mungkin dibangun untuk menguburkan istri dari tuan Damara.
Pemakaman itu ternyata dirawat dengan rapi. Masih terlihat taburan bunga bunga yang telah mengering. Ada 11 makam yang berada di sana. Yang paling bagus tentu saja adalah makan suami istri itu. Terawat dengan rapih dan baik.
Orang yang mengantar Sukma Harum menjadi sedikit bingung atas apa yang dicari pemuda itu di sana. Tetapi ia memilih diam dan tidak bertanya.
Tak berapa lama pun mereka beranjak dari sana. Hari masih pagi.
***
Saat makan siang, Hagung dan Sukma Harum bertemu. Kali ini adalah pertemuan 4 mata yang mereka lakukan di bawah pohon yang rindang. Sambil menikmati ikan bakar yang mereka tangkap di sungai.
“Keterangan apa yang kau dapatkan dari para janda itu?” tanya Sukma Harum.
Hagung bercerita. Tidak ada yang terlalu menarik atau mencurigakan dari cerita dan keterangan ini.
Sukma Harum hanya tersenyum saja mendengar kekecawaan Hagung yang tidak mendapatkan keterangan yang penting.
“Setelah ini mari kita pulang. Aku akan mengantarkan kau ke markas terdekatmu.”
“Eh? Kenapa begitu? Kenapa aku tidak boleh mengikuti penyelidikan ini? Ini adalah masalah besar yang membahayakan negara. Aku harus ikut.”
“Justru kau harus kembali ke markas dan pulang ke kotaraja. Tujuannya adalah kau memperketat pengamanan Sri Baduga Maharaja. Gunakan seluruh tenaga telik sandi unuk mencari keterangan sebanyak mungkin. Ada kau di kotaraja hatiku akan lebih tenang.”
“Dan kau? Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan kembali ke kapal Nindira lalu mengatur rencana dari sana.”
***
Markas Kesatuan Delapan Mata Angin berada di mana-mana. Dan markas itu semuanya dirahasiakan. Kini Sukma Harum dan Hagung sudah ada berada dalam sebuah gudang tembakau yang ternyata merupakan salah satu makas rahasia kesatuan yang tersohor itu.
Sukma Harum dan Hagung kemudian menjelaskan segala kejadian kepada beberapa anggota yang berada di sana. Mereka semua paham bahwa situasi amat sangat genting dan mereka telah siap bergerak.
Malam harinya Sukma Harum meminta diri untuk pulang ke kapal Nindira. Ia memacu kudanya sekencang-kencangnya. Ia cukup mengenal daerah ini. Di depan ada sebuah tikungan tajam yang akan membawanya masuk ke dalam hutan. Di sebelahnya ada sebuah jurang dengan lembah yang cukup dalam.
Malam gelap gulita. Tiada penerangan. Tetapi jubahnya yang putih masih terlihat memancarkan cahaya gemerlap.
Sukma Harum bersuit. Sebuah suitan yang hanya bisa didengarkan oleh burung rajawali sahabat karibnya. Ketika memasuki tikungan, tangannya bergerak memetik sebuah dahan. Lalu dahan itu diletakankan berdiri di atas pelananya. Dalam sekejap mata jubah itu sudah berpindah menutupi dahan. Menjadi sosok seperti orang berkuda.
Dirinya sendiri sudah melompat ke dalam jurang.
Di dalam kegelapan malam yang pekat.
Kuda berlari kencang tanpa berhenti.
Penunggangnya malah melompat ke dalam jurang yang gelap.
__ADS_1