Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 28: Pertempuran Di Kawah Rengganis


__ADS_3

Tak berapa lama setelah Dian Titah Nalacitra pergi, suaminya kemudian datang. Wajahnya menampilkan raut yang tidak sedap. Bahasa tubuhnya menyiratkan seolah ia sudah siap bertarung.


“Raden Rakantara Gandakusuma,” tukasnya tenang.


“Saya, gusti Raden..,” jawab Raka.


“Telah turun perintah Yang Mulia Perdana Menteri untuk menangkapmu.”


“Dikarenakan urusan apa?”


“Pembunuhan keluarga Damara, dan pembantaian di pondok hutan kidul, dan kematian beberapa pendekar lainnya!”


“Semua itu fitnah. Bukan saya pelakunya.”


“Jika memang bukan kau pelakunya, mari ikut ke kotaraja. Kau akan medapatkan pengadilan yang layak.”


Otak Sukma Harum berhitung cepat. Jika ia melawan maka ia akan menghadapi para pengawal khusus yang berkepandaian sangat tinggi. Jika ia ikut maka ia tidak akan dapat melanjutkan penyelidikannya dan mungkin ia malah akan semakin terfitnah.


“Maafkan. Aku tidak dapat ikut.”


Raden Indrasaka menghela nafas. Ia menjentikkan jarinya, tahu-tahu sudah ada orang di depan pintu, jendela, atap, ruang belakang, ruang depan, dan di mana saja. Semua jalan tertutup untuknya. Tidak ada jalan untuk meloloskan diri.


Lalu Sukma Harum bergerak.


Jarak antara Raden Indrasaka dan Sukma Harum ada beberapa tombak. Juga terhalang oleh meja panjang dan beberapa kursi. Namun saking cepatnya Sukma Harum bergerak, Indrasaka seolah melihat pendekar itu bergerak menembus meja dan kursi lalu tahu-tahu sudah menotoknya.


Bahkan Indrasaka belum sempat berkedip!


“Maafkan,” bisik Raka. Bagian tubuh atas Indrasaka tidak dapat bergerak. Hanya kakinya saja yang dapat bergerak. Menoleh atau mengangkat tangan saja ia sudah tidak bisa.


Sukma Harum menyandera Indrasuka dan berkata, “Mohon biarkan aku lewat. Dan akun tidak akan mengganggu Raden Bagus sedikit pun.”


Ia melihat para pengepungnya semua berpakaian petani dan penduduk desa. Memang dalam tugas mengawal perdana menteri, kebanyakan anggota pasukan pengawal ini menyamar menjadi orang biasa.


Dalam ruangan ini ada seorang pengawal. Tinggi badannya sedang saja. Berdirinya tenang sambil melipat tangan di depan dada. Tatap matanya sangat tajam. Raka tahu orang ini juga sedang berhitung langkah. Apa keputusan yang seharusnya ia ambil?


Di pintu depan ada seorang bertopi petani. Wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup topi tani yang lebar. Orang itu menyembunyikan pedang di balik jubahnya yang longgar.


Di jendela kanan, ada pula penjaga di luar. Ia sudah siap dengan goloknya yang terhunus. Tubuhnya tinggi besar.


Di bagian kiri, seorang se[aruh baya duduk dengan santai di jendela. Sepertinya tangannya menggenggam senjata rahasia yang siap disambitkan.


Di ruangan belakang ada dua orang. Masing-masing membawa pedang yang begitu mirip. Rupanya mereka sejenis pendekar berpedang kembar. Jurus-jurus merka tentu saling mengisi satu sama lain.


Di atap tentu ada seorang lagi. Raka tidak tahu siapa dan bagaimana pendekar itu.


Kembali akal Sukma Harum berhitung.


Orang pertama yang akan menyerangnya tentu laki-laki bermata tajam di hadapannya ini. Raka membayangkan dirinya sendiri bergerak ke kanan sambil sedikit mendorong Raden Indrasaka ke kiri agar terhindar juga dari serangan lawan. Di saat yang sama, dengan adanya Indrasaka di sebelah kirinya, tentu akan menghalau orang setengah baya di jendela kiri untuk melempar senjata rahasia.


Lalu Raka juga membayangkan berteriak “Awas kujang” sambil berpura-pura melempar sesuatu ke arah pendekar pedang kembar yang berada di ruangan bagian belakang. Tipuan itu tentu akan membuat kedua pendekar itu bergerak bertahan dan sedikit menghalangi langkah mereka untuk maju.


Lalu pendekar bertubuh besar di jendela kiri akan maju bergerak menyerangnya karena mengira kujang yang sakti telah dilepaskannya sehingga Raka tidak memiliki senjata.


Lalu saat itulah Sukma Harum harus bergerak.


Semua hitungan ini muncul di dalam kepalanya hanya dalam sepersekian detik. Dan hal itulah yang kemudian benar-benar dilakukannya!


Raka bergerak!


Semua yang dibayangkannya benar-benar terjadi!


Begitu semua terjadi, Sukma Harum lalu bergerak menyusur tanah.  Ia masuk melalui bawah meja dan kursi untuk menghindari serangan pendekar golok tinggi besar dari jendela kanan. Pendekar itu lewat diatasnya, sedangkan Raka sendiri berhasil meluncur dengan mulus dan melenting tinggi lewat jendela.


Ia lolos keluar ruangan!


Tetapi ia tahu di atas atap ada seseorang yang menunggunya!


Pendekar di atas atap itu bom berbentuk pil kecil-kecil yang jika meledak akan mengeluarkan asap beracun. Sukma Harum tidak menghindar atau menangkis bom asap itu. Ia malah memutar lengannya dengan lembut dan menerima belasan bom asap itu. Lalu dengan memutar tubuhnya dengan demikan cepat, ia mengubah arah bom asap itu!


Sebagaian mengarah ke jendela di mana para pengejarnya mulai bermunculan. Sebagaian pula ia kembalikan kepada pelemparnya.


Duaaaarrrr!!!!!


Ssssssssssss!!!!


Suara ledakannya tidak terlalu besar, dan kemudian mengeluarkan suara desis. Asap beracun keluar menyeruak. Para pengejarnya menghentikan langkah sejenak, urung mengubernya. Di tengah asap tebal yang mengepul itu, Sukma Harum sudah menghilang di dalam kegelapan malam!


Tetapi langkahnya belum cukup jauh. Di hadapannya ada lagi seseorang yang sudah menunggu. Orang ini tampilannya sangat berbeda dengan para pengawal sebelumnya. Jika yang sebelumnya menggunakan penyamaran, orang ini sama sekali tidak menyamar.


Pakaiannya khas orang dunia persilatan. Pedangnya tersoren di pundaknya. Tatap matanya tenang namun menyala. Sekali pandang Sukma Harum tahu orang ini adalah pendekar kelas wahid.


Tanpa berbicara ia sudah mencabut pedang!


Pedang meluncur dengan begitu cepat!


Membelah langit malam mengeluarkan gesekan api.


Begitu cepatnya pedang itu, sampai-sampai gesekan dengan udara menghasilkan api.


Sukma Haru menghindar ke samping. Tiba-tiba pedang yang tadi sudah lewat itu malah berbelok memutar. Sukma Harum kaget juga tetapi ia tidak panik. Segera ia melakukan gerakan seperti kayang dan kembali pedang itu lewat.


Sukma Harum melenting dengan menggunakan tangannya karena ia tahu pedang itu akan berbelok lagi. Belkan yang sangat tajam, setajam mada pedangnya yang menggilap disinari cahaya rembulan yang pucat. Begitu tajamnya sampai-sampai ia bersinar di tengah malam.

__ADS_1


Tapi Sukma Harum kecelik. Pedang itu terus lewat ke depan, malah ada pedengan lain yang datang menyambar. Ternyata pedang itu dapat membelah menjadi dua, dan masing-masing dapat bergerak sendiri-sendiri seperti ada tangan setan yang menggerakkannya!


Si Tangan Setan Dua Tanduk.


Nama itu muncul dalam ingatan Sukma Harum. Pendekar pedang dari golongan hitam ini sudah lama menghilang dari dunia persilatan. Ternyata menghamba pada Yang Mulia Perdana Menteri.


Dua mata pedang saling mengisi, saling bersatu padu. Melayang laying terbang menyerang. Padahal pemilik pedangnya berada jauh di sana.


Menghindar saja tidak cukup, Sukma Harum bergerak melenting. Tangannya menyambit dua batu.


Dua batu menyentuh gagang pedang kembar yang menari bagai ular kesurupan.


Begitu tersambil batu, pedang itu buyar sekitika. Rupanya gagangnya terhubung dengan benang.


Benang yang halus dan tipis.


Sukma Harum menarik nafas lega karena pedang sudah dilumpuhkan, tetapi ia sekali lagi kecelik. Kedua pedang hidup kembali seperti memperoleh nyawa baru. Bahkan bergerak lebih ganas dan trengginas.


Bagaimana mungkin, padahal benangnya sudah ia putuskan?


Ternyata si Tanga Setan masih memiliki banyak benang yang terikat pda jari jemarinya. Jika putus, ada benang lain yang akan muncul menggantikan. Entah berapa banyak benang yang ia bawa.


Raka tahu, ia tidak dapat mengalahkan Tangan Setan Dua Tanduk dengan siasat memutuskan benang. Karena orang itu akan selalu memiliki benang untuk kembali mengendalikan kedua pedang iblis.


Serangan pedang ganda yang terbang liar dan menghujam dengan ganas itu cukup sukar dihadapi. Meskipun Tangan Setan ingin menangkap Sukma Harum, jurus-jurus pedangnya yang ia lancarkan semuanya mematikan. Ia tahu bahwa Sukma Harum dapat menghindarinya, tetapi tetap saja tdak ia kendorkan sedikit pun. Tujuannya adalah untuk membuat menguras tenaga Sukma Harum.


Raka juga memahami hal ini, karena itu ia menggunakan sehemat mungkin, ia juga menunggu saat yang paling tepat untuk melepaskan kujangnya.


Kapankah saat itu?


Adalah ketika semua orang sudah berkumpul semua.


Ia ingin merea menyaksikan kehebatan kujang itu agar membuat hati mereka keder dan tidak jadi menyerangnya.


Sebagai bangsawan yang juga dekat dengan kalangan istana, Raka mengerti bahwa pengawalan untuk pejabat istana, apalagi sekelas perdana menteri, memiliki beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah yang tadi pertama ia hadapi di kedai. Yaitu 7 orang pendekar yang mengepungnya. Lapisan kedua tentu adalah si Tangan Setan Dua Tanduk. Mestinya ada beberapa orang lagi yang menjadi lapisan kedua ini.


Raka ingin lapisan kedua ini muncul semuanya agar ia dapat mengalahkan mereka sekaligus dalam beberapa gerakan. Tanpa harus melawan mereka satu persatu.


Siasatnya berhasil.


Entah dari mana, muncul lagi 3 orang pendekar yang semuanya berpenampilan menyeramkan. Yang satu membawa kait besi di tangannya, yang satu membawa tongkat baja berwarna emas, dan satu lagi membawa gada besar berwarna keperakan.


Senjata yang mereka bawa adalah senjata-senjata umum yang tidak terlihat seperti senjata pusaka. Tetapi jika mreka berada pada lapisan ke-2 pengawalan maka kesaktian mereka tak mungkin dianggap enteng.


Raka masih menghindari serangan pedang ganda yang melayang dan menghujam bagai sengatan ular. Dengan sengaja ia mulai memprlambat gerakannya. Menampakkan wajah cemas, serta mulai terlihat sedikit kelimpungan. Ini dilakukannya dengan sangat halus sehingga keepat orang musuhnya mengira ia sudah mulai kepayahan.


Dalam sebuah serangan, ia berpura-pura goyah yang tersudut pada sebuah batu karang yang amat besar. Melihat ini, para penyerangnya bersorak senang. Mereka semua bergerak maju dan menggempurnya dengan serangan-serangan yang sangat dahsyat.


Kait mengincar paha kiri, gada mengincar paha kanan, tongkat mengincar pundak kiri, pedang ganda mengincar tangan kanan.


Tak ada ruang sama sekali untuk lolos!


Tapi Sukma Harum memang tidak beniat untuk lolos atau menghindar. Kakinya bergerak lebih cepat. Ia menendang kait dan diarahkan menuju gada. Juga menghantam tongkat untuk diarakan pada pedang.


Seluruh gerakan ini dilakukan bersamaan dengan penempatan waktu yang sangat tepat sehingga gerakan ini terlihat begitu sempurna, begitu indah.


Traaaangggggggg!


Lima senjata bertabrakan mengakibatkan suara yang menghantam gendang telinga!


Suara ini sedemikian dahsyatnya sampai mengganggu gerakan para penyerang yang mmang sudah kacau balau gara-gara senjata mereka beradu


Tubuh Sukma Harum melenting ke atas lalu kujangnya meluncur dengan deras.


Cahaya emas menyinari malam.


Seperti bintang jatuh, berkilau namun hanya sesaat.


Cahaya itu kemudian menghilang lagi dibalik tangannya.


Sedangkan 5 senjata dari keempat orang itu telah terpental seluruhnya terkena hantaman kujang!


Raka tahu ia harus mengeluarkan tenaga dalam yang sangat besar untuk menghancurkan senjata mereka. Hal ini malah sangat berbahaya bagi dirinya sendiri. Karena itu ia tadi memutuskan untuk menggunakan senjata mereka sendiri untuk saling menghancurkan. Ia tidak berhadapan dengan senjata itu secara langsung dan mengadu tenaga, melainkan hanya memeringkan sedikit arah serangan itu.


Yang lembut mengalahkan yang keras.


Yang lemah mengalahkan yang kuat.


Keempat orang ini tidak menyerah begitu saja, mereka menghentakkan kaki lalu melenting tinggi menyusul Sukma Harum di udara.


Dengan berbarengan mereka melancarkan serangan berupa telapak tangan yang dahsyat.


Menghadapi serbuah 4 pasang telapak tangan itu, Sukma Harum sudah bersiap untuk kembali “mengalirkan” telapak tangan mereka untuk saling membentur satu sama lain.


Tetapi tiba-tiba di tengah jalan gerakan mereka berubah. Kini bukan lagi 4 pasang telapak menyerang secara bersamaan, melainkan telapak-telapak itu bersatu menjadi sebuah rantai. Dan hanya ada satu telapak yang menyerang Sukma Harum.


Keempat orang itu menyatukan tenaga sakti mereka, tidak seperti awalnya ketika mereka menyerang berbarengan tapi tanpa menyatukan tenaga. Inilah siasat yang jitu dan mampu mengelabui lawan secerdas Sukma Harum sekalipun.


Sukma Harum sendiri menyadari keselahannya, tetapi sudah tidak ada yang dapat ia perbuat kecuali menerima serangan tapak itu dengan tapak sendiri. Dalam sepersekian detik perubahan, ia menghimpun tenaga saktinya sendiri, dan…..


Dhuaaaaaaaarrrrrrrrrrrr!!!!!!


Ledakan besar mengguncang seluruh bumi!

__ADS_1


Kawah Rengganis menumpahkan airnya muncrat ke udara dikarena ledakan tenaga sakti maha dahsyat ini.


Keempat orang terpental ke belakang dan masuk ke dalam kawah air panas. Muntah darah dengan luka dalam amat berat!


Mereka segera bersila dan bersemedhi untuk sekedar menyembuhkan luka dalam mereka agar tidak sampai merenggut nyawa mereka.


Sukma Harum sendiri pun terpental dan menabrak batu karang besar di belakang.  Batu karang itu hancur berkeping-keping.


Ia juga muntah darah.


Tetapi ia tidak segera bersila dan bersemdhi.


Ia tahu ada pendekar lapisan ke 3 yang akan datang. Jika ia bersemedhi saat itu maka semua perlawanannya ini sia-sia.


Oleh karena itu ia berdiri tegak.


Meskipun kakinya sudah tidak lagi sanggup menahan berat tubuhnya. Meskipun tangannya kini sudah lunglai dan tak bertenaga. Jantungnya berdebar keras seolah ada suatu tangan yang merenggutnya dari dalam rongga dada.


Tetapi ia tersenyum.


Senyum khasnya yang menawan.


Di depannya sudah muncul lagi seorang tokoh. Ia sudah tua. Wajahnya penuh dengan luka sehingga ia lebih mirip seonggok daging yang baru saja dikunyah. Hanya ada dua bolah yang menandakan seonggok daging itu merupakan wajah manusia.


“Hebat betul….,” suaranya hanya sebuah bisikan yang lirih. Seperti ular berbisa jika dapat berbicara.


“Jika kau sudah sembuh, ayo kita bertarung. Untuk saat ini, kau harus kuserahkan kepada Yang Mulia….,”


Ia maju melayang ke depan. Kakinya tidak menginjak tanah. Ia melayang di atas air dengan begitu santai.


Sukma Harum menarik nafas panjang. Pandangannya sudah kabur. Ia hanya memiliki satu harapan saja.


Harapan yang tidak pernah mengecewakannya.


Sebuah kujang berwarna emas. Yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya.


Cahaya emas menyinari malam.


Seperti bintang jatuh, berkilau namun hanya sesaat.


Tetapi kujang itu tidak mencapai sasarannya. Berhenti di tengah jalan, di atas udara!


Siiiiiinggggggggg!


Kujang itu masih bersuara mengiris-iris pendengaran manusia.


Cahaya emasnya masih berkilau tetapi ia terhenti di udara.


Jalannya dihentikan oleh orang berwajah buruk rupa itu.


Ia mengangkat tangannya.


Mulutnya berkomat-kamit mengucap mantra.


Ia dapat menghentikan kujang itu di udara!


Inilah bentuk ilmu kanuragan.


Sebuah ilmu kesaktian yang didapatkan tidak hanya melalui latihan keras, tetapi juga melalui lelaku seperti puasa, berpantang, dan juga merapal mantra.


Siiiiiiiinggggggggg!


Tenaga lesetan kujang bertemu dengan tenaga dorong dari ilmu kanuragan milik si buruk rupa.


Siiiiingggg!


Dhuaaaaaaaaaarrrrrr!


Craaaaaangggggggg!


Kujang emas yang melegenda itu hancur berantakan.


Serpihan emas bagaikan debu melesat ke seluruh penjuru. Seperti bintang jatuh yang meledak di angkasa.


Sukma Harum jatuh lunglai ke dalam air kawah setengah lutut.


Seluruh tenaganya telah habis ia kerahkan untuk satu serangan terakhir itu.


“Hanya segitu saja kehebatan Kujang Arka Kencana? Hahahaha” tawa dan bisiknya sangat lirih. Sangat dingin. Terasa berbisa. Seperti ular.


Ia melayang di atas air kawah. Tangannya yang panjang dan kurus menggapai leher baju Sukma Harum dan menariknya keluar dari air dan pergi dari sana.


Padangan Sukma Harum sudah gelap, dan ia sedikit lagi jatuh pingsan.


Tiba-tiba di ujung matanya terlihat sesosok orang berpakaian putih.


“Tinggalkan anak itu di sini, dan kau pergilah.”


Si buruk rupa menoleh ke belakang. Seumur hidupnya belum pernah ada orang sanggup muncul di belakangnya tanpa ia ketahui sama sekali.


“Guru,” hanya itu yang keluar dari mulut Raka sebelum semuanya menjadi gelap gulita.


 

__ADS_1


 


__ADS_2