Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 20: Empat Kembang Berduri


__ADS_3

Isi kedai kosong melompong. Yang tadinya ramai saat ia tinggal pergi, kini hampir kosong seluruhnya. Hanya ada 4


perempuan duduk di meja. Mejanya pula. Memakan makanannya pula.


Tadi sebelum keluar kedai, Sukma Harum sudah membayar makanannya dan meminta kepada kasir agar mejanya tidak diambil orang. Ini ada 4 orang perempuan duduk di sana dengan santai. Sekali pandang Sukma Harum sudah mengerti duduk persoalan.


Ia mengambil kursi kosong lalu duduk bersama keempat gadis itu.


“Kalian sudah lama menungguku?” senyum Sukma Harum.


“Tidak terlalu lama,” jawab salah seorang.


“Malahan terlalu cepat,” timpal salah seorang.


“Urusan antar para lelaki memang selalu cepat. Yang lama adalah urusan lelaki dengan perempuan,” tukas Sukma


Harum.


“Nampaknya tuan muda kita sudah sangat berpengalaman berurusan dengan perempuan,” kata sala seorang gadis.


“Tentu saja berpengalaman. Jika tidak, mana mungkin seorang lelaki sepertinya sanggup bertahan di dunia yang


penuh godaan seperti ini?” timpal yang lain.


Sukma Harum hanya memandang mereka. Semuanya cantik jelita. Tubuh montok dan kencang. Kulit putih halus


kemerahan. Masing-masing memakai baju berwarna merah, putih, ungu, dan kuning. Dari ciri-cirinya ini Sukma Harum mengenal mereka.


Empat Kembang Berduri. Berbaju merah adalah Mawar. Baju putih adalah Melati. Baju ungu adalah Dahlia. Yang


paling muda adalah Alamanda, yang berbaju kuning.


Mereka adalah pemburu hadiah.


Untuk menegakkan hukum, berbagai kerajaan di Nusantara memang memberi hadiah besar bagi mereka yang berhasil menangkap buronan. Empat Kembang Berduri hidup dari hadiah yang besar ini. Bahkan nama mereka sangat mahsyur. Para buron dan penjahat kelas kakap selalu bergetar kala mendengar nama mereka.


“Menghadapi godaan perempuan sih sudah sering. Tapi menghadapi godaan Empat Kembang Beduri, siapa yang sanggup?”


 “Eh, memangnya siapa ingin menggodamu?” tukas Melati.


“Oh jadi kalian ingin menangkapku?” senyum Sukma Harum.


“Di dunia ini mana ada orang bisa menangkap Sukma Harum? Apalagi kami berempat yang lemah ini,” jawab Alamanda.


Mendengar ini, Sukma Harum pun paham. “Oh, jadi kalian mau memakai siasat burung bangkai? Menunggu orang lain yang bekerja, lalu kalian yang mengambil hasilnya.”


“Memang sungguh pantas disebut Sukma Harum. Sekali dengar sudah paham persoalan,” puji Mawar.


“Yang aku herankan, hadiah buronku tidak terlalu besar. Mengapa empat nona yang terkenal ini mau repot-repot


menghabiskan waktu dan tenaga?”


“Siapa bilang kami mengincar hadiah buronmu?” tukas Dahlia.


“Hmmm,” Sukma Harum menghela nafas. Ia berpikir satu-dua detik. Di kepalanya muncul satu kemungkinan. “Kalian pikir harta milik kerajaan Kaloka berada di tanganku?”


“Keluarga kerajaan Kaloka mati menggenaskan. Anak gadisnya pun mati. Sekarang tinggal adiknya yang cacat. Ia


sebagai saksi utama mengatakan kaulah pelakunya. Jika harta itu bukan jatuh di tanganmu, memangnya jatuh ke tangan siapa? Nenek moyang kami?” kata Mawar.

__ADS_1


Kabar tentang kekayaan keluarga kerajaan Kaloka ini rupanya sudah sampai ke telinga orang persilatan. Diam-diam Sukma Harum menghela nafas lagi. Urusannya tentu semakin merepotkan.


“Sebenarnya aku tidak suka sombong, tapi untuk apa aku mengambil harta kekayaan orang lain?”


“Tidak ada orang yang tidak suka uang,” tandas Melati sambil menenggak minuman.


“Orang kaya pun suka uang. Jika tidak suka uang, orang kaya tidak bakalan jadi orang kaya,” seru Dahlia.


“Bahkan orang kaya lebih suka uang ketimbang orang miskin,” tambah Alamanda.


Sukma Harum pernah mendengar perkataan bahwa “beradu mulut dengan perempuan adalah sebuah ketololan”. Kini ia beradu mulut dengan 4 orang perempuan. Saat ini ia merasa dirinya sebagai orang paling ***** di dunia ini. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Memang ada baiknya menjadi orang ***** sekali-sekali.


“Memangnya jika kalian telah menangkapku dan melumpuhkanku, dengan cara apa kalian mengompas keterangan


dariku?”


“Sudah jelas tidak bisa!” tukas Mawar.


“Ya! Tidak bisa,” timpal Dahlia.


Sukma Harum menunggu saja mereka berbicara.


“Bertarung denganmu kami tidak sanggup. Mengompas keterangan darimu pun kami tak akan mampu,” kata Melati.


“Yang kami bisa adalah menawarkan satu hal kepadamu,” kata Mawar.


Sukma Harum mendengarkan.


“Nikahi kami!” kata mereka serentak.


Sukma Harum tertawa. Dalam hati ia mengakui, gagasan seperti ini tidak pernah terbesit di dalam pikirannya. Ini


Dan pernikahan adalah cara terbaik yang dapat ditawarkan oleh perempuan.


“Jika aku menikahi kalian, apa yang kudapatkan?”


“Pertama, kami bukan perempuan lemah. Kami punya seribu satu macam cara untuk menaklukkan orang. Dengan


menikahi kami, kekuatanmu akan bertambah berlipat-lipat,” jawab Mawar.


“Kedua, kami cantik.”


Cantik saja sebenarnya sudah cukup bagi sebagian besar laki-laki.


“Dan yang ketiga?” tanya Sukma Harum.


“Kami tahu cara memuaskan dan membahagiakan laki-laki.”


Hal ini adalah perihal terpenting dalam sifat seorang perempuan. Amat sangat jarang perempuan yang mau dan mampu membahagiakan lelaki. Yang mereka inginkan hanya dibahagiakan. Bahkan terkadang mereka senang melihat laki-laki bersusah payah membanting tulang hanya untuk membahagiakan mereka. Tidak terhitung jumlahnya lelaki yang masuk kawah berapi, dan menerjang ombak lautan hanya demi membahagiakan perempuan.


“Tawaran kalian sangat menarik. Terus terang aku sangat mempertimbangkannya.”


“Sebaiknya kau cepat mengambil keputusan karena tak berapa lama lagi kau sudah menjadi buruan semua orang


persilatan,” tukas Mawar.


Sukma Harum sebenarnya tidak perlu berlama-lama mengambil keputusan. Sejak awal dia sudah dapat membayangkan seperti apa hidupnya apa bila menikah dengan 4 siluman rubah. Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa ini adalah sebuah petualangan yang menarik.


Jika bukan karena hatinya yang selalu haus akan petualangan, sudah sejak dahulu ia tinggal di rumah, menimati

__ADS_1


kekayaan orang tua.


“Harap diketahui, kami tidak akan cemburu jika kau menikah lagi atau menambah selir,” kata Dahlia.


“Asalkan kau membahagiakan kami, maka kami akan menyayangimu segenap hati kami,” timpal Alamanda.


Membahagiakan mereka tentu adalah dengan menghujani mereka dengan harta melimpah. Hanya dengan cara itu kau dapat membahagiakan mereka.


“Untuk saat ini aku belum tertarik untuk menikah,” tukas Sukma Harum. Ia menatap mereka satu persatu yang


sedari tadi mengobrol sambil sedikit-sedikit menikmati hidangan yang ada di meja. Ia mengagumi cr mereka “berunding” dengannya. Sama sekali tidak menggunakan rayuan murahan seperi gadis-gadis lainnya. Mereka berbicara dan bersikap seolah gadis-gadis ningrat yang bemartabat.


“JIka terlambat, kau akan menyesal loh,” kata Melati.


“Aku sudah siap dengan segala kemungkinannya. Jangan khawatir,” senyum Sukma Harum tulus. Lanjutnya, “Sebaiknya kalian sekarang pergi karena aku yakin cara apapun tidak bisa menaklukkan aku.”


“Maksudnya?” tanya Alamanda.


“Empat Kembang Berduri terkenal memiliki seribatu satu macam cara untuk menaklukkan orang. Rencana pertama


adalah mengajakku menikah. Jika cara itu tidak berhasil, tentunya kalian memiliki rencana berikutnya.”


Mereka hanya diam mendengarkan.


“Aku berani taruhan di dalam gelasku sudah kalian oleskan racun. Lalu kalian bersedia memberikan obat


penawar jika aku bersedia memberitahukan kalian tentang harta kerajaan Kaloka.”


Lanjutnya, “Rencana ketiga adalah menahanku dengan mengobrol lama-lama di sini. Mungkin mengajakku berkencan. Dengan begitu, kalian bisa menyelipkan racun atau melumpuhkanku saat aku berkencan,”


“Lalu rencana keempat apabila aku tidak berhasil dilumpuhkan saat berkencan, adalah dengan membuang-buang waktuku sehingga banyak orang datang berkumpul untuk menangkapku. Dari situ kalian bisa mengambil keuntangan.”


“Aku telah memikirkan seribu satu rencana kalian selanjutnya. Tetapi kuharap kalian tahu, setiap rencana kalian,


aku memiliki 3 cara untuk mengatasinya. Dan jika kalian mengatasi masing-masing 3 caraku itu, maka aku memiliki 3 lagi cara untuk mengatasi cara kalian itu. Jadi kuharap kalian jangan membuang-buang waktuku dan waktu kalian sendiri.”


Keempat gadis cantik itu segera berdiri dan beranjak dari situ.


Sebelum mereka mencapai pintu depan, Sukma Harum berkata, “Seumpama tidak ada urusan harta kerajaan Kaloka ini, aku akan sangat berbahagia jika kalian benar-benar tulus menawarkan pernikahan kepadaku.”


Alamanda, yang paling muda, berbalik dan berkata, “Dan bagaimana kau tahu bahwa kami tidak benar-benar


tulus menawarkan ini kepadamu?”


Apakah hatinya sudah benar-benar mati? Ataukah perasaannya sudah kering? Tetapi mengapa ia begitu bersedih jika ternyata mereka tidak tulus?


Sukma Harum mengepalkan tangannya.


Bayangan keempat perempuan cantik itu sudah menghilang. Tetapi ada satu bayangan yang tidak pernah hilang.


Meskipun pemilik bayangan itu sudah pergi, bayangannya malah terus hinggap di hati dan jiwanya. Merasuk sukmanya.


Ia merasa begitu ngeri. Jika orang tahu cara mempergunakan bayangan itu, maka mereka akan dengan mudah


menaklukannya.


Karena setiap manusia memiliki kelemahannya masing-masing.


Wajahnya masih tersenyum dengan tenang. Tetapi badai di hatinya bergelora dengan ganas.

__ADS_1


__ADS_2