
Renjani masih berada di dalam pelukan Raka. Ia tidak ingin lepas, tidak ingin pergi. Karena pelukan seorang Sukma Harum adalah pelukan yang paling aman, paling nyaman, dan paling hangat yang pernah ia rasakan.
Meskipun langit runtuh dan bumi terbelah, Rejani yakin ia akan terlindungi di dalam pelukan itu.
Laki-laki memang harus dapat memberikan 3 hal kepada perempuan: keamanan, kenyamanan, dan kenikmatan.
“Apakah kau sudah mengetahui di mana Bunga berada?” tanya Renjani masih dengan manja memeluk dada Raka yang bidang.
“Masih ada beberapa gagasan yang harus kuuji, jika semuanya selesai, tetu aku akan dapat menemukannya.”
“Baiklah. Kau sudah berjanji kepadaku untuk menemukannya. Jangan kecewakan aku.”
Raka hanya tersenyum. Dikecup lagi bibir gadis bertubuh indah itu untuk kesekian kali. “Aku harus pergi sekarang.”
“Pergilah. Aku tidak akan menahanmu lagi,” wajahnya mengeras tetapi matanya hampir saja meleleh.
“Kau tidak boleh mati. Masih ada 2 hutang lagi yang belum kutunaikan kepadamu,” senyum lelaki tampan itu dengan hangat.
“Baiklah.”
***
Raka melayang turun ke atas kapal Nindira. Ia merasa bersalah telah menyalahi janji untuk menemui awak kapalnya seminggu setelah pergi. Kini sudah hampir 2 minggu. Tapi Raka yakin kapal ini memang akan menunggunya meskipun ia berbulan-bulan tidak kembali.
Selain karena sudah terbiasa, perbekalan dan persiapan kapal ini memang sudah terpenuhi seluruhya.
Anjani melihat majikannya melayang turun dari atas langit. Ia memanggil saudara-saudaranya untuk menyambut sang tuan. Maya juga hadir di sana. Ia tampak cantik sekali, mungkin karena telah pulih dari pengalaman hidupnya yang cukup pahit.
“Apa kabar kalian semua?”
“Raden sudah pulang. Kami rindu sekali!”
“Kalau rindu kok cuman bengong saja? Kenapa tidak segera menyapkan masakan yang enak untukku? Dua minggu jalan-jalan di luar, hidupku jadi terurus begini,” canda Raka. “Eh, mulai saat ini aku tidak makan daging-dagingan. Mohon siapkan sup dan buah-buahan yang lezat.”
“Siap! Segera!”
Raka segera meletakkan dirinya di atas dipan yang beralaskan kasur yang empuk dan wangi.
“Ahh! Lega sekali,” katanya sambil mengulet.
Maya masih berada di dekatnya. Gadis itu terlihat canggung. “Apa yang bisa abdi (saya) lakukan untuk raden?”
Raka tertawa, “Maukah kau memijitku? Badanku pegal-pegal semua.”
“Tentu saja, raden. Biar saya ambil minyak cendana.”
Raka membuka jubah dan pakaian bagian atasnya.
Dipijit gadis cantik, sambil dilayani segala keperluannya oleh gadis-gadis cantik yang lain.
Raka merasa seperti seluruh tenaganya terisi kembali. Setelah mendengarkan laporan atas apa saja yang mereka lakukan saat belasan hari di atas kapal, Raka lalu mandi dan mengganti bajunya.
“Raden sudah mau pergi lagi?” tanya Anjati.
“Ya. Urusanku masih belum selesai. Kalian tahu di mana Antasena berada?”
“Ya. Menurut laporan, ia masih tetap membuntuti Candramawa. Sekarang ia berada di Kawali.”
“Baik. Terima kasih. Aku berangkat!”
***
Cukup sulit mencari keberadaan seseorang di kota sebesar Kawali. Tapi Raka tidak kehilangan, ia menyalakan suar hijau ke atas langit. Itu adalah tanda khusus anggota keluarganya. Tidak terlalu lama menunggu, Antasena sudah muncul di tepian hutan di ujung kota.
“Sialan. Kau baru muncul sekarang!” makinya.
“Hahaha. Kau maafkanlah aku. Akhir-akhir ini cukup banyak orang mencari diriku. Punya banyak penggemar memang cukup merepotkan.”
__ADS_1
“Sejak dahulu kan memang sudah begitu. Aku sih tidak heran.”
“Kemari duduklah Kubawakan tuak kesenanganmu dan sedikit daging kijang panggang.”
Antasena melahap hidangan itu dengan gegares. Sedikit heran ia bertanya, “Eh kau tidak makan?”
“Aku sudah kenyang. Sambil makan kau dengarlah ceritaku ini.”
Raka lalu menceritakan seluruh pengalamannya.
“Wauw hebat betul. Jurus barumu itu sepertinya sangat sakti. Kau nampaknya sudah memasuki jajaran pendekar pedang kelas atas,” tukas Antasena.
Raka hanya tersenyum, tidak mengiyakan, tidak pula membantah.
“Mana Bumbung Bratagini? Aku mau lihat.”
Saat Raka menunjukkannya, Antasena hanya mendengus, “Begitu saja ya bentuknya. Tidak tampak sebagai pusaka yang agung dan hebat. Memangnya selain melancarkan jarum beracun, apa lagi yang sanggup dilakukan oleh benda laknat ini?”
“Yang membuat benda ini menjadi pusaka paling hebat adalah, ia tidak membutuhkan latihan khusus. Siapapun yang memegangnya, meskipun dia orang paling lemah sekalipun, dapat membunuh belasan orang cukup dengan satu kali tekan tuas. Segala latihan kita yang keras tak ada gunanya menghadapi ratusan jarum beracun itu. Apalagi luncurannya sangat deras, jika tidak memiliki ilmu meringankan tubuh kelas atas, amat sangat sulit menghindari luncurannya,” jelas Sukma Harum.
“Oh jadi begitu? Kau pun tak sanggup?”
“Aku tidak mau bertaruh untuk hal yang *****,” tawa Raka.
“Jadi bukan Renjani ya pelakunya?” tanya Antasena lagi.
“Oh aku masih tetap mencurigai Renjani.”
“Kenapa?”
“Karena bisa saja semua itu adalah sandiwara belaka. Ia pura-pura tidak tahu tentang Bratagini. Pura-pura tidak tahu cara menggunakannya. Dan tidak mencoba membunuhku saat itu.”
“Kenapa?”
“Mungkin karena ada rencana mereka yang belum terlaksana.”
“Aku heran dengan cara berpikirmu,” kata Antasena.
“Termasuk aku?”
“Aku memang terkadang gila, tapi aku belum segila itu.”
“Apa benar kata orang, kau terlalu pintar sampai menjadi gila?”
“Lebih baik menjadi gila daripada menjadi jahat,” kata Raka dengan dalam. Seperti ada sesuatu di hatinya yang tidak ingin diceritakannya.
Tak berapa lama terdengar sebuah kereta mendekat ke daerah itu. Di ujung hutan yang sepi itu, di tengah malam pula, ada sebuah kereta yang melewati tempat itu. Hal ini amat sangat jarang terjadi, apalagi kereta itu terlihat sangat mewah.
Kereta itu lalu berhenti tidak jauh dari tempat Raka dan Antasena yang membuat api unggun. Sang jusir turun dengan membawa lentera yang cukup terang. Langkah kusir itu sangat ceketan dan gerak-geriknya cukup sopan. Terdengar ia berkata, “Sampurasun, apakah saya berhadapan dengan tuan pendekar Sukma Harum dan tuan pendekar Tangan Halilintar?”
“Rampes, benar adanya ki sanak. Apa ada yang dapat kami bantu?” balas Raka tidak kalah sopan.
“Majikan saya, Tubagus Siwa Baruna, di dalam kereta meminta ijin untuk bertemu dengan tuan berdua. Apakah mendapat ijin?”
“Eh? Pendekar pedang terhebat di Nusantara?” bisik Antasena kaget.
“Tidak perlu raden bagus meminta ijin untuk bertemu, biar saya yang menghampiri kereta,” kata Raka.
Ia lalu berjalan bersama sang kusir menuju kereta yang jaraknya sekitar 15 tombak dari sana.
Saat sudah dekat, terdengar suara dari dalam kereta, “Adakah Raden Gandakusuma berkenan menemui diriku, Sadika?”
Belum sempat sang kusir menjawab, Raka sudah menyapa duluan, “Sampurasun, raden bagus. Abdi (saya) telah lancang datang menemui lebih dahulu. Apakah raden bagus ada petunjuk bagi abdi?”
“Oh raden Gandakusuma sudah datang. Ah maaf. Abdi tidak mendengar langkah kaki raden. Sungguh mohon maaf jika tidak menyapa,” kata Siwa Baruna sambil membuka pintu kereta dan turun dari keretanya.
Mereka berdua saling menjura dan menilai pribadi masing-masing berdasarkan pandangan pertama.
Siwa Baruna memandang Sukma Harum sebagai pemuda yang sangat tampan, rapi, bertutur kata halus, namun tidak bersikap menjilat dan berpura-pura.
Sebaliknya Sukma Harum memandang Siwa Baruna sebagai pribadi yang menjaga kehormatan, karena ia tidak menggunakan ilmu pendengaran untuk mendengar percakapan kusirnya dengan Sukma Harum pada saat mereka berbincang tadi.
__ADS_1
Kedua orang pendekar berbeda angkatan ini saling mengagumi.
Siwa Baruna berada satu angkatan di atas Raka. Umurnya sekitar 45 tahunan. Ia dikenal dengan julukan SI Pedang Malaikat. Ia merupakan keturunan ningrat yang sangat halus tutur kata dan tata kramanya. Ia telah berhenti berkelana di dunia persilatan, namun sekali-sekali masih terlibat dengan urusan kaum persilatan.
Dia adalah pendekar pedang paling hebat di Nusantara.
“Mohon maaf abdi yang lancang berkunjung malam-malam. Tadi di jalan, abdi berpapasan dngan Pendekar Tangan Halilintar, tuan Antasena. Saat melihat beliau sedang terburu-buru, juga ada sedikit suar hijau di atas langit, abdi menduga tentu tuan Antasena menuju ke arah suar itu. Abdi kira sedang ada permasalahan hingga abdi meminta kusir memutar arah untuk mengikuti tuan Antasena. Mungkin ada yang bisa abdi bantu.”
Antasena yang sudah tiba di tempat itu yang menjawab, “Ah mohon maaf sekali tingkah laku abdi malah merepotkan raden bagus. Sungguh tidak enak hati. Padahal abdi hanya bergegas menemui teman lama,” katanya sambil menjura dalam-dalam.
“Tetapi justru kebetulan bertemu dengan raden Gandakusuma di sini,” kata Siwa Baruna dengan tersenyum tetapi wajahnya mengeras.
“Ah, raden bagus ada petunjuk atau perintah apa kepada abdi?” tanya Sukma Harum.
“Abdi sesungguhnya tidak ingin bertanya, tidak pula ingin ikut campur, tetapi…,” kata Siwa Baruna agak rikuh.
“Terhadap abdi yang masih muda dan bodoh ini sungguh raden bagus tidak perlu sungkan..,” kata Raka sungguh-sungguh.
“Baiklah. Dengan sedikit terpaksa abdi harus mengucapkannya.”
Ia menghela nafas sebentar lalu melanjutkan, “Telah terdengar kabar yang santer di dunia persilatan bahwa Raden melakukan banyak pembunuhan. Aku sendiri yakin Raden tidak melakukannya.”
“Tetapi?” tanya Raka sambil merendahkan wajah.
“Tetapi semua bukti mengarah kepada Raden, dan bahkan orang yang abdi kenal dekat juga telah menjadi korban pembunuhan ini.”
“Saya mengerti,” kata Raka.
Apabila kau menyebut “seseorang yang kenal dekat” tanpa menyebut namanya, tu tentu karena kau memang tidak ingin orang lain tahu seberapa dekat engkau dengannya.
Raka tidak ingin bertanya lebih lanjut, ia telah mengerti hal ini. Ia pun telh dapat menduga siapa korban itu.
“Jadi apa yang harus abdi lakukan, raden bagus?” tanya Raka.
“Maukah raden ikut denganku ke kotaraja? Ku jamin raden akan mendapatkan pemeriksaan dan pengadilan yang layak. Agar kebenaran bisa segera terungkap dan semua orang bisa mendapatkan keadilan.”
Raka menghela nafas. Katanya, “Sesungguhnya abdi sangat ingin ikut dengan raden bagus. Hanya saja, abdi sendiri sedang mengusut kasus yang mengotori nama abdi ini. Jika abdi ikut ke kotaraja, abdi takut semua kejadian ini tidak dapat dibongkar pelakunya.”
Siwa Baruna mengangguk mengerti. Tetapi ia adalah pendekar pedang nomer satu. Segala kata-katanya pasti dituruti orang. Baru kali ini ada seorang muda menolak permintaannya. Tetapi ia pun adalah seorang yang halus budi pekertinya, sehingga ia tidak mungkin memaksa.
Ia menghela nafas pula, lalu berkata, “Baik. Nampaknya kehendak kita masing-masing belum sejalan. Abdi mengemuka usul, apakah Raden Gandakusuma menerima?”
“Sila urai usul raden bagus. Abdi mengkhidmat.”
“Bagaimana jika kita bertanding persahabatan? Jika aku kalah, Raden boleh pergi. Jika Raden yang kalah, maka raden yang harus ikut denganku. Lagipula, sudah lama sekali aku ingin melihat kehebatan Kujang Arka Kencana yang sangat terkenal itu. Mohon Raden tidak salah mengerti,” kata Siwa Baruna sambil menjura.
“Baik. Ini cara yang bagus sekali. Abdi setuju, raden. Hanya sayang, Kujang Arka Kencana sudah musnah dihancurkan orang.”
“Eh?” sungguh kaget Siwa Baruna mendengarnya. Kujang Arka Kencana adalah pusaka yang sangat digdaya. Siapapun yang sanggup menghancurkannya adalah orang yang sangat sakti. “Siapa yang melakukannya, raden?”
“Ceritanya sangat panjang, raden. Tapi begini saja. Abdi usul, bagaimana jika kita menggunakan ranting pohon saja sebagai senjata. Toh ini hanyalah pertandingan persahabatan. Bagaimana?”
“Usul yang bagus. Kita mulai sekarang?”
“Baik!”
Mereka berdua lalu memilih ranting poon yang berada di sekitar situ. Setelah menemukan, masing-masing lalu berdiri berhadap-hadapan.
“Saya Siwa Baruna, menggunakan jurus pedang Naga Langit. Menerima tawaran pertandingan persahabatan dengan Raden Rakantara Gandakusuma. Tdak ada benci dan tidak ada dendam,” ia menjura dengan dalam. “Pedangnya” mengacung ke depan.
“Saya Rakantara Gandakusuma, menggunakan jurus pedang Penakluk Naga. Menerima tawaran pertandingan persahabatan dengan Tubagus Siwa Baruna. Tidak ada benci dan tidak ada dendam,” ia menjura pula. Telapak tangan kirinya terbuka dan berada di depan, sedangkan tangan kanan yang memegang pedang berada di belakang pinggang. Inilah kuda-kuda jurus pertama Pedang Penakluk Naga.
Dalam hati Siwa Baruna sepertinya cukup heran melihat Sukma Harum menggunakan jurus pedang melawannya. Tapi ia yakin tentunya pemuda ini tidak sembarangan mengambil tindakan, meskipun ia sama sekali belum pernah mendengar bahwa pemuda ini pernah menggunakan pedang atau jurus pedang. Ia yakin, tentu Sukma Harum memiliki jurus pedang simpanan yang hanya dipergunakan sewaktu-waktu dalam keadaan mendesak.
Sedangkan Antasena menahan tawa. Jurus Pedang Naga Langit melawan Jurus Pedang Penakluk Naga. Jika sebelumnya Raka tidak bercerita kepadanya, tentu ia akan mengira sahabatnya itu mengarang-ngarang saja nama jurus pedang untuk “menggoda” lawan.
“Mari!”
“Mari!”
__ADS_1