
Sukma Harum memutuskan untuk tidak menunggangi rajawali sakti dalam petualangannya kali ini. Sebisa mungkin
ia hanya menggunakan pertolongan sahabat barunya untuk hal yang benar-benar genting saja. Jadi ia menggunakan salah satu kuda tunggangan milik keluarganya. Larinya tidak terlalu kencang tetapi punya kekuatan dan daya tubuh yang besar. Ia membutuhkan kuda seperti ini pada perjalanan yang panjang. Juga kuda ini sangat
pinter, jika ssuatu terjadi, ia akan dapat menemukan jalan pulang ke rumah. Seluruh kuda peliharaan keluarga Gandakusuma memang sudah dilatih untuk kemampuan seperti ini.
Raka menghindari kota Mandeung karena ia tahu di sana ada terlalu banyak pendekar. Mereka sedang bersusah
karena duka cita kejadian di pulau Sepingkan. Sebisa mungkin Raka menghindari keramaian agar gerak-geriknya tidak dibaca lawan. Tujuan perjalanan kali ini adalah desa Cipadana.
Desa ini adalah desa kediaman keluarga Sri Murti yang mati kerucunan. Dari sana semua kejadian ini di mulai.
Dari sana pula ia harus memulai penyelidikan. Perjalanan sekitar 2 hari karena desa ini adalah desa paling timur dalam daerah kekuasaan Pajajaran. Berbatasan dengan kerajaan Demak.
***
Pagi-pagi sekali Raka sudah sampai di sebuah kota kecil bernama Lerengan. Kota ini berada di lereng gunung
Gede. Meskipun hanya berupa kota kecil, kota ini cukup ramai karena banyak pelaku pertapaan mampir ke kota ini sebelum bertapa ke gunung Gede. Gunung ini pada waktu-waktu tertentu memang banyak dikunjungi pertapa untuk semedhi atau melakukan upacara keagamaan.
Sukma Harum mencari tempat yang paling disukainya: kedai makan. Ia paling suka tempat makan yang paling besar, paling ramai, dan paling banyak pengunjung wanitanya. Setelah berkeliling sebentar, ia akhirnya menemukan tempat itu. Tidak terlalu besar, tapi banyak pengunjung wanita. Setidaknya jika makanannya tidak enak, mata dan hatinya bisa sedikit terhibur.
Raka masuk dan memesan bebek bakar, sayuran mentah, nasi, serta air kelapa muda.
Belum lagi pesanannya datang, seseorang sudah berdiri di hadapannya. Raka tadi melihat orang ini di gerbang
depan kota Lerengan.
“Kau Sukma Harum, bukan?” tanya lelaki itu. Usianya masih muda, sekitar 30 tahunan. Di pinggangnya tersoren
pedang yang tampak berkilau.
“Dari mana ki sanak tahu aku adalah Sukma Harum?” tanya Raka sambil tersenyum.
“Orang buta pun dapat melihat kau sebagai Sukma Harum,” jawab orang itu ketus.
“Oh jadi tampangku cukup pantas menjadi seorang Sukma Harum?” gurau Raka.
“Di dunia ini hanya tampangmu yang pantas menjadi Sukma Harum.”
Raka menarik muka. Katanya, “Ada petunjuk apa yang ingin ki sanak sampaikan untukku?”
“Mengapa kau membunuh Ranggaseta?” tanya orang itu kembali dengan ketus. Ujung jarinya sudah menyentuh gagang pedang.
“Siapa Ranggaseta?”
“Ia adalah kakak seperguruanku.”
“Aku tidak banyak membunuh orang. Dan aku pun masih ingat siapa saja orang yang pernah kubunuh. Tetapi nama
Ranggaseta tidak ada dalam ingatanku,” tukas Raka.
“Rumah tetirah di dalam hutan, di luar kota Mandeung. Mungkin kau ingat.”
Raka baru paham. Tentunya Ranggaseta adalah salah satu pengawal Sri Murti yang tewas dibantai di dalam
rumah peristirahatan itu.
__ADS_1
“Aku tidak membunuhnya,” kata Raka tegas.
“Di dunia ini hanya kau yang sanggup membunuhnya.”
“Aku rasa ilmu silatku tidak setinggi yang ki sanak kira.”
Orang itu memandangnya lama. Mungkin menilai-nilai sesuatu. Lalu ia berkata, “Kau bicara apapun aku tak
percaya. Sebaiknya kita keluar dan mengadu jiwa.”
Dalam hati Sukma Harum memuji perilaku orang ini. Ia tidak ingin berkelahi di dalam kedai karena akan
merepotkan seluruh orang di sana.
“Baiklah,” Raka berdiri lalu pergi ke kasir untuk membayar dulu pesanannya. Setelah itu ia pergi ke luar
mencari daerah yang cukup lapang.
“Bolehkah ku tahu nama ki sanak?” tanya Raka.
“Namaku Ranggasoma. Orang menjuluki aku Si Pedang Halilintar.”
Raka pernah mendengar tentang julukan ini. Si Pedang Kilat dan Si Pedang Halilantar adalah 2 orang pendekar
pedang yang cukup tersohor.
“Ki sanak tahu kan, jika seumpama memang benar aku yang membunuh kakakmu, maka aku pun dapat membunuhmu,” kata Raka.
“Aku tahu dengan jelas. Tetapi meskipun mati, setidaknya aku telah berusaha menunaikan kewajibanku,” kata
“Baik sekali. Aku sangat mengagumi pendirian seperti ini.”
Sukma Harum berusaha menilai sifat dan sikap Ranggsoma. Ia yakin lelaki ini adalah seorang yang menjunjung
tinggi kehormatan dan kejujuran. Maka ia berkata, “Baiklah. Agar berimbang, kau boleh menyerangku, dan aku tak akan membalas. Jika sampai 20 jurus kau tidak mampu mengalahkan aku, maka aku lah pemenangnya. Bagaimana?”
Ranggasoma berpikir sebentar. Matanya berkilat-kilat. Ia lalu berkata, “Demi kakak seperguruanku, aku tak
akan sungkan.”
“Orang yang terlalu sungkan biasanya memang tak akan meraih apa-apa di dalam hidupnya. Majulah!” kata Raka
sambil tersenyum.
“Lihat pedang!”
Pedang itu sesuai namanya. Pedang Halilantar. Kecepatannya pun tentu seperti halilantar. Sukma Harum sangat kagum melihat kecepatan pendekar ini. Ia pun bergerak tak kalah cepatnya. Pedang menghujam bagai kilatan petir. Berkilat di bawah matahari pagi yang cerah. Cahayanya menyilaukan mata.
Tetapi Sukma Harum bergerak dengan penuh keanggunan. Tidak ada gerakan yang tidak perlu. Tidak ada
kembangan, tidak ada seujung kuku pun yang terbuang percuma. Kilatan pedang meliputi sekujur tubuhnya. Mendesak tanpa ampun. Tetapi tak ada satu pun yang sanggup menyentuh ujung kulitnya. Padahal mata pedang itu hanya seujung rambut dari tubuhnya.
Halilantar bagaikan menyelimuti tubuh Sukma Harum. Sedangkan ia bagaikan angin yang begitu bebas. Begitu lapang dan begitu luas. Angin tak dapat dipegang. Tak dapat pula dilihat. Hanya hembusannya yang dapat dirasakan. Harum tubuhnya mewangi menembus kilatan pedang.
Pemandangan ini menyeramkan sekaligus indah.
Dua puluh jurus lewatlah sudah.
__ADS_1
Ranggasoma membuang pedang. “Aku kalah.”
Bukan hanya ia kalah. Harga dirinya pun terhempaskan begitu keras. Seumur hidup belajar pedang seperti tak
ada guna. “Silahkan bunuhlah aku!”
Sukma Harum memungut pedang itu. Sekali ayunan pergelangan tangannya, pedang itu meluncur deras ke perut Ranggasoma!
Clang!
Pedang tidak menancap ke dalam perut.
Tetapi masuk ke dalam sarungnya dengan hikmad.
“Sukma Harum memang sungguh Sukma Harum,” gumam Ranggasoma.
“Pedang Halilintar pun bukan nama kosong,” puji Sukma Harum dengan tulus. Ia melihat kesedihan di mata
Ranggasoma, lalu cepat ia berkata, “Jika musuhmu bukan aku, tentu tak ada yang sanggup melawan jurus pedangmu itu. Tetapi, mau kah kau mendengarkan satu kalimatku? Satu ini saja sudah cukup. Setelah itu jika kau suruh aku menutup mulut, maka selamanya tidak akan berani bicara.”
“Katakanlah,” seru Ranggasoma.
“Jurus pedangmu sangat mengandalkan kecepatan, tetapi lupa menerapkan penghematan. Semakin hemat kau
bergerak, maka jurus pedangmu akan jauh lebih mematikan.”
Meskipun Ranggasoma tersinggung mendengar kalimat ini, hatinya cukup terbuka untuk menerima bahwa seluruh
omongan itu emang benar adanya.
“Aku tidak membunuh saudaramu. Aku difitnah. Sekarang ini aku justru sedang berusaha membongkar seluruh
rahasia ini. AKu berjanji, kau akan mendapatkan keadilan.”
Entah kenapa, jika Sukma Harum berbicara, ia dapat mengambil hati orang. Ketenangannya, keanggunannya,
ketulusan yang terpancar dari sinar matanya, dapat membuat orang percaya sepenuhnya kepada dirinya.
“Baiklah. Hendaknya kau berhati-hati. Padepokan Rajawali Sakti telah mengeluarkan sayembara buronmu.
Mereka menyediakan Seribu keping emas bagi siapapun yang dapat membawamu hidup-hidup ke padepokan mereka.”
Biasanya jika mati, maka jumlah hadiah sayembara menjadi setengahnya.
“Murah betul kepalaku ini,” tukas Sukma Harum sambil geleng-geleng kepala.
“Meskipun Padepokan Rajawali Sakti adalah perguruan kanuragan nomer satu di Pajajaran, tetapi mereka tidak
termasuk kaya. Mungkin sebatas itu saja kemampuan mereka,” kata Ranggasoma. “Setidaknya perintah sayembara ini membuat seluruh dunia persilatan memburumu. Meskipun kebanyakan dari mereka tidak mampu mengalahkanu, pasti ada satu dua orang yang bisa.”
Tetiba timbul sebuah gagasan dalam benak Sukma Harum.
“Ah, aku baru menyadarinya. Bisa jadi! Bisa jadi!”
Raka masuk kembali ke kedai tadi dengan penuh semangat baru. Semakin banyak gagasan, semakin baik. Tinggal
pembuktian saja. Jika seluruh gagasan yang ada tidak terbukti, maka gagasan terakhir yang tertinggal adalah kebenaran yang sebenar-benarnya.
__ADS_1