
deg
Mata Adya membulat sempurna.
Jantungnya berdegup kencang seperti saat lari maraton.
Siapapun tolong bantu dirinya.
Ia ingin segera menghilang dari tempat ini.Malu,itulah yang dirasakan nya saat ini.Bahkan ia juga baru sadar jika sudah membanggakan suaminya didepan adik nya sendiri.
bodoh, Adya merutuki kebodohan nya.
"Mami...."
Kedua orang tua yang berdiri dengan jarak sangat dekat itu serempak menolehkan kepala kearah sang empu.Saat sadar jika ada anak kecil, mereka mundur kearah belakang secara bersamaan.Sudah seperti baris berbaris kan.
tetapi Adya
Hufff, selamat.Ia harus berterimakasih pada Raffa setelah ini,karna berkat kedatangannya ia dapat membebaskan diri dari jeratan goda bapak tua ini.
"Apakah Raffa mencari Mami ?" Tanya Adya segera berlalu menghampiri putra bungsu nya.
Raffa mengangguk dengan ekspresi menyedihkan,sungguh menggemaskan sekali dimata Adya.
"Miss Sinta memberikan PR yang banyak, lalu kata Oma harus meminta bantuan pada Mami untuk mengerjakannya" Raffa menjelaskan maksud kedatangannya.
"Kalau begitu kita ke kamar Raffa sekarang"
Ucap Adya buru buru menarik tangan mungil Raffa, meninggalkan seorang pria dewasa sendirian dikamar itu.
__ADS_1
"Adya" Panggil Nyonya Ayu ketika melihat cucu dan menantunya berlari keluar dari kamar.
"Iya, Ma ?" balas Adya sembari menghentikan langkah dan sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat.
Dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nyonya Ayu beberapa waktu setelah menikah, Adya merasa mertuanya itu baik.Hanya saja pembaannya yang tegas, akan sedikit terlihat galak bagi orang baru.
Dan disitulah Adya memutuskan untuk menghormati Nyonya Ayu sebagai ibu mertua.
"Mulai saat ini,jika anak anak ada keluhan tentang sekolah termasuk ingin mengerjakan tugas,kamu yang bertanggung jawab untuk membantu mereka ya.Mama sudah tua,tidak sanggup lagi jika harus memikirkan pelajaran sekolah."
jelas Nyonya Ayu dengan raut wajah yang terlihat lelah.
Bagaimana tidak lelah.Diusianya yang menginjak 58 tahun,ia masih harus berperan sebagai ibu untuk ketiga cucu nya, dan memegang tanggung jawab atas kehidupan rumah besar ini.
"Baik Ma.Adya akan melakukan nya dengan baik.Mama beristirahat saja,jika ada yang bisa dibantu, Mama bisa memanggil Adya." Balas Adya dengan suara lembut namun masih terdapat sisi tegas nya.
Nyonya Ayu tersenyum tipis.Lalu tiba tiba terlintas sebuah ide dikepalanya.
Wah apa lagi ini.Jangan berpikir Adya tidak bisa memasak.Saat dikediaman Maheswara,ia yang selalu memasak untuk anggota keluarga.Sejak kecil ia menggunakan insting nya saat meracik bumbu dapur, setelah bertanya resep pada ibu ibu yang sedang membeli sayur bersamanya.
Namun untuk saat ini, entah kenapa ia merasa ragu.
"Tapi Adya hanya bisa memasak makanan itu itu saja, Ma" Ucap Adya sembari menundukkan kepala karna sedikit gugup.
"Tidak apa, mintalah bantuan pada Bibi Sina." Nyonya Ayu tersenyum dan berlalu pergi setelah sebelumnya menepuk bahu Adya.
"Semangat Mami.Raffa juga ingin makan masakan ibu seperti teman teman disekolah yang selalu dibawakan oleh ibu mereka." Ucap Raffa dengan senyum mengembang.
"Baik.Apapun rasanya, Raffa tidak boleh menyesal ya" Balas Adya yang tak kalah sumringah ketika melihat keinginan kecil dari bocah kecil ini.
__ADS_1
*
sedangkan disisi Revan yang ditinggalkan istri dan anak nya, merasa sedikit kesal.Namun tiba tiba tersenyun saat bayangan wajah istri nya yang gugup terlintas dikepalanya.
Setelah ini mungkin ia ada kegiatan baru dirumah, yaitu menggoda gadis kecil yang secara sah berstatus sebagai istrinya.
Menggemaskan
ekhemm
Revan berdehem untuk menormalkan raut wajahnya menjadi datar kembali.Dimana seorang Revan yang dingin terhadap wanita, bahkan ibu dari anak anak nya saja tidak pernah terlintas dikepalanya, namun dengan gadis kecil itu, ia seperti kembali pada masa muda dulu.
Revan meraih ponselnya lalu menekan kontak seseorang.
"Hallo bos" ucap seseorang diseberang telepon.
"minta jadwal pada Reno untuk diriku"
Bram.Asisten pribadi Revan, yang harus memberikan pelayanan ekstra namun sebanding dengan bayaran yang ia dapatkan.
Mendengar nama Reno disebutkan, ia terkejut.
"apa bos merasa mual, sakit perut, pusing atau apa? saya akan kesana sekarang" ucap Bram panik ketika Bos nya meminta dipanggilkan Reno, dokter pribadi keluarga Mahanta.
"Aku baik baik saja.Hanya ingin konsultasi sedikit dengan Reno" Ucap Revan jengkel dengan asisten nya yang selalu panik dalam kondisi apapun.
"*huffftt baiklah"
tut*
__ADS_1
"seperti nya memang harus bertanya pada Reno.Kurasa jantung ku semakin berlebihan sekarang " Gumam Revan dengan pelan.