
2 jam lama nya dua pria itu membahas tentang proyek kerjasama.Meskipun semua keputusan berada di tangan sang bos, namun saran dan pendapat tetap dibutuhkan dari sang asisten.
"kalau begitu saya permisi dulu bos" pamit Bram pada Revan.
"hmm pergilah" balas nya singkat.
setelah kepergian sang asisten, Revan sedikit merenggangkan tubuh nya yang terasa pegal karna terlalu lama duduk di kursi.Kini netra nya menatap dua anak manusia berbeda generasi yang sedang terlelap di atas sofa.Untung saja sofa itu lumayan luas, hingga muat untuk tidur dua orang.
Revan berjalan mendekat ke arah sofa, ditatap nya lebih intens antara gadis yang menjadi istri nya dan bocah kecil berstatus anak nya, tentu saja hal yang Revan rasakan adalah bahagia.Namun Revan tetaplah pria yang sulit mengekspresikan perasaan.
dia pun menggelengkan kepala, bagaimana tidak, kedua nya tidur dengan saling memeluk dan mulut yang sedikit terbuka, tidak ada anggun nya sama sekali.
perlahan ia menyentuh lengan Adya berharap akan segera bangun, namun ternyata yang bangun terlebih dulu adalah Raffa.
"Pa, apa kau sudah selesai ?" Tanya Raffa dengan suara khas bangun tidur.
"Sudah, sekarang bangun kan Mami mu" Perintah nya kepada Raffa.
dengan segera Raffa membangunkan Adya yang masih asyik dengan tidur nya.Diam diam Revan memasang wajah melongo, karna putra nya membangunkan orang dengan cara menciumi seluruh wajah, sangat berbeda dengan yang lain.
"eunghhh" terdengar lenguhan dari sang empu yang dibangunkan.
"Raffa, kau sudah bangun" Sapa Adya dengan nyawa yang belum terkumpul.
"Apakah Mami masih mengantuk?" tanya Raffa
"sedikit hehe, Papa mu itu lama sekali hingga membuat Mami ketiduran." Ucap Adya yang belum menyadari kehadiran Revan.
__ADS_1
"Memang benar, lain kali Mami tinggalkan saja jika Papa Revan sangat lama" Kompor Raffa menjadi.
"tentu saja...Mami akan...
ekhemm
Adya menoleh dan nampaklah seorang pria berbadan besar tengah berdiri memandangnya, dengan segera ia berdiri lalu berlari menuju toilet sembari menutup wajah nya dengan telapak tangan.
Adya mambasuh wajah nya di dalam toilet sembari menatap dirinya di depan cermin.
"bocah kecilllll, aku akan membalasmu" Gerutu Adya yang sebenar nya malu terhadap Revan.
dengan meneguh kan hati nya, Adya mulai keluar dari dalam toilet,
"hehehe" Adya menyengir kuda kala dua orang menatapnya yang masih berada didepan toilet.
"kau ikut pulang atau ingin tidur disini ?" Tanya Revan dengan wajah yang masih datar.
"tentu saja pulang, hehehe" balas Adya sembari mengekor di belakang Revan.
"Awas kau bocah kecil" Bisik Adya sembari menatap Raffa yang lebih pendek dari nya.
"wlee" Raffa hanya membalas ancaman Mami nya dengan mejulurkan lidah, bahkan wajah nya terlihat sangat puas.
Masih dengan aksi saling menatap,tanpa kedua nya sadari,
brukk
__ADS_1
kedua nya menubruk punggung lebar milik Revan yang berhenti di depan lift.
"bisakah kalian menatap kedepan ?" Tanya Revan yang membalikkan tubuh nya.
"Baik Pa" balas kedua nya hampir bersamaan, bahkan kedua nya saling menundukkan kepala seakan sedang mengakui kesalahan.
Tidak berselang lama, kini mereka telah sampai di mansion, dan di sambut oleh Nyonya besar, yaitu Nyonya Ayu.
"Wahh cucu Oma sudah pulang, bagaimana kunjungan nya?" Tanya Nyonya Ayu kepada Raffa.
"Om Bramm sudah menepati janji nya Oma,ia membelikan ku es krim yang sedang viral itu" Raffa bercerita.
"Oh yaaa ??"
"bagaimana dengan mu, Adya?" Kembali Nyonya Ayu bertanya kepada menantu nya.
"baik, Ma" balas Adya sembari tersenyum.
"masuk dan istirahat, pasti kalian lelah"
"lelah karna tidur dua jam" tiba tiba Revan berceletuk.
"benar sekali, Oma.Mami Adya tertidur sangat lama seperti kerbau hahaha" imbuh Raffa
kini Wajah Adya terlihat seperti kepiting rebus karna menahan malu, sunggu bapak dan anak ini sama sama tukang Cepu saja.
"Mama tahu, pasti kamu bosan dengan pria pekerja keras itu kan" Nyonya Ayu tertawa dan mencoba membela menantu nya.
__ADS_1
Adya hanya bisa tersenyum saja sembari menatap tajam ke arah bocah kecil yang sedari tadi terlihat sangat puas sekali.