
Nyonya Ayu melongo menatap dua anak manusia berbeda generasi dengan penampilan yang berbeda juga.
Sang gadis yang menggunakan celana jeans, di padukan dengan kaos oversize berwarna putih, lengkap dengan sneaker di kaki nya.Rambut panjang bergelombang nya ia biarkan tergerai indah karna ia akan menaiki mobil, jadi tidak akan kusut seperti saat menaiki motor nya.
Sedangkan sang bocah berusia lima tahun, menggunakan celana panjang berwarna hitam dan kemeja berwarna putih.Juga lengkap dengan sneaker dan sebuah ransel di punggung nya.
Kedua nya menggunakan warna sang senada namun berbeda jenis.Jika sang ibu menggunakan pakaian santai, sang putra malah menggunakan pakaian formal.
"Ya ampun, Mami" Ucap Raffa menepuk kening nya.
"Kenapa ?" Tanya Adya heran melihat ekspresi yang sama dari Raffa dan ibu mertua nya.
"Kamu berkata yang penting sopan kan ? lalu apa salah nya" Lanjut nya
"Sudah sudah.Benar apa yang di ucap kan Mami Adya, yang penting sopan." Sahut Nyonya Ayu melerai menantu dan cucu nya sembari terkekeh pelan.
"Ini makan siang untuk suami mu.Sudah di panaskan oleh pelayan." Nyonya Ayu menyerahkan paper bag berisi makanan kepada menantu nya.
"Terimakasih Ma.Kami pamit dulu" Pamit Adya meraih tangan Nyonya Ayu dan mencium nya.
"ssssttttt" Adya memberi kode kepada Raffa untuk melakukan hal yang sama.Dan Raffa tetap melakukan nya meski dengan raut wajah yang masam.
"Baiklah hati hati.Jika tidak sibuk, mintalah Revan untuk mengantar kalian kembali ke mansion"
__ADS_1
"Baik Ma"
Setelah menantu dan cucu nya beranjak pergi, Nyonya Ayu tersenyum lebar.Sekarang, ia merasa seperti memiliki anak gadis.Hak itu merupakan salah satu impian nya bersama sang suami ketika masih muda, namun tuhan tidak memberi ijin untuk dirinya memiliki anak kembali.Ada suatu hal yang membuat Nyonya Ayu hanya bisa memiliki Revan saja.
"Sekarang kita sudah punya anak gadis, Mas" Monolog nya sendiri.
*
Di dalam sebuah mobil mewah
"Raff..." Adya mencoba memanggil putra nya yang diam saja.
"Ohh ayolah.Apa yang salah dari Mami.Kenapa kamu terus men diam kan Mami seperti ini." Rengek Adya merasa frustasi karna bocah kecil itu tidak mau membuka suara.
"Tetap ke kantor Papa pak." Sahut Raffa tiba tiba.
"Sekarang bisa katakan apa kesalahan Mami?" Adya mencoba mencari penjelasan.
"Mam, kita akan pergi kekantor Papa.Seharusnya Mami menggunakan jas, bukan pakaian seperti ini." Raffa mencoba mengungkapkan isi hati nya.
"Oke baiklah.Mami bersalah.Lain kali tidak akan mengulangi nya lagi." Ucap Adya mengalah agar bocah kecil itu meredakan kekesalan nya.
"Tapi ada satu hal yang ingin Mami beri tahu padamu." Lanjutnya berucap.
__ADS_1
"Apa?" Balas Raffa merubah ekspresi nya menjadi ingin tahu.
"Saat orang pergi ke kantor, tidak diwajibkan untuk memakai pakaian formal seperti kemeja,jas dan lain nya."
"Tapi Papa berkata jika pergi ke kantor harus memakai jas" Sahut Raffa menyampaikan apa yang menurut nya benar.
"Memang benar.Karna Papa pergi ke kantor untuk bekerja, sedangkan kita pergi ke kantor untuk berkunjung.Jadi tidak sama." Adya berusaha menjelaskan dengan perlahan kepada putra nya.
"Baiklah.Mulai sekarang Raffa tidak akan marah pada Mami lagi. Sorry Mam" Ucap Raffa yang merasa bersalah karna telah egois hanya karna masalah pakaian.
"Berbaikan ?" Ucap Adya menyodorkan jari kelingking nya kepada Raffa, dan Raffa membalas nya sembari mendekat.
Mereka sama sama melihat jari kelingking yang di taut kan, lalu tertawa bersama.
diam diam pak sopir yang berada di depan tersenyum samar, menyaksikan drama kecil di kursi penumpang melalui kaca yang berada di depan.
Kini mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan gedung perusahaan ternama.
Pak sopir memberhentikan mobil nya tepat pada pintu masuk perusahaan.
"Saya akan menunggu dibawah Nona" Pamit pak sopir setelah menurunkan majikan nya.
"Baik Pak.Terimakasih" Balas Adya dengan sopan.
__ADS_1
Setelah mobil nya pergi, Adya meraih tangan Raffa untuk gandeng masuk ke dalam.