
"Mam tunggu sebentar" Raffa menghentikan pergerakan ibu nya untuk meraih sesuatu.
"Ada apa?"
"Papa berpesan agar Raffa selalu menggunakan masker saat berada di luar rumah,untuk menjaga kesehatan tubuh" Ucap Raffa mengeluarkan masker dari ransel nya, lalu memakai nya sendiri.
Di lengkapi dengan kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung nya, seorang anak kecil ini bahkan terlihat seperti pria dewasa yang hendak mencari pekerjaan karna menggunakan pakaian hitam putih serta perlengkapan lain nya.
Senyuman manis terbit dari bibir milik Adya.Diri nya merasa bangga telah memiliki seorang putra yang begitu tampan meski usia nya baru memasuki angka lima tahun.Jika ada kesempatan ia akan memberi tahu pada dunia jika diri nya telah memiliki putra yang begitu sempurna.
"sudah" Ucap Raffa disertai senyuman manis di balik masker nya.
Kini Adya kembali meraih tangan Raffa untuk ia bawa masuk ke dalam.
Hal pertama yang muncul di pikiran nya adalah mewah.
Tentu saja, karna perusahaan ini bukan lah perusahaan yang kecil.
Mahanta Corporation
Perusahaan yang sudah menaungi beberapa bidang, dengan bidang utama bangunan dan makanan.
Juga memiliki beberapa anak cabang yang berada di dalam maupun luar negri,dengan jumlah karyawan yang sepadan dengan besarnya bangunan yang di dirikan.
Untuk kantor pusat yang di kunjungi oleh Adya dan Raffa saat ini, tidak sedikit manusia yang berlalu lalang di sana dengan urusan pekerjaan nya masing masing.
Adya yang tidak pernah masuk ke dalam dunia bisnis, atau hanya sekedar masuk ke dalam kantor, kini mulai menyadari tentang ucapan dari bocah kecil yang ia genggam tangan nya.
__ADS_1
Semua orang mengenakan pakaian formal, hanya diri nya yang mengenakan pakaian santai, dan itu membuat beberapa orang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Raff, bagaimana jika kita kembali saja ?" Ucap Adya yang merasa malu dengan pakaian nya.
"Bahkan kita sudah di sini Mam, dan Mami berkata untuk pulang ?" Raffa mulai memasang wajah masam nya setelah mendengar penuturan sang ibu.
"Huffff" Helaan napas di keluarkan oleh Adya.Ia menatap ke arah mata sang putra yang mulai berkaca kaca, hati kecil nya berkata untuk memenuhi keinginan Raffa yang terdengar sepele ini.
"Baiklah kita temui Papa" putus Adya yang sudah memantapkan diri dan melupakan tentang pakaian yang ia kenakan.
Senyuman di bibir Raffa mulai mengembang dan segera menarik tangan ibu nya untuk berlari ke arah lift yang tersedia.
Sebelum mereka sampai pada lift, suara seseorang menghentikan kedua nya.
"Adik ini ada perlu apa ?" Tanya seorang penjaga wanita yang seperti nya masih asing di mata Raffa.
"Saya karyawan baru di sini." petugas keamanan tersebut mulai memperkenalkan status nya.
"Prosedur untuk bertemu karyawan di sini harus lapor melalui resepsionis, silahkan adik berkunjung ke resepsionis terlebih dahulu." Lanjut petugas keamanan itu menjelaskan dengan perlahan.
Wajah Adya mulai menggelap.Bukan karna prosedur yang harus ia patuhi, namun petugas itu memanggil diri nya dengan sebutan adik.
Sampai di sini, bertambah satu lagi alasan yang mendukung ucapan Raffa tentang pakaian formal saat berkunjung ke kantor.
"Baik" Balas Adya seadanya lalu menuju ke meja resepsionis.
"Mam kenapa harus bertemu dengan kakak itu dulu." Raffa bertanya ke heranan.
__ADS_1
pasal nya saat ia berkunjung ke sini, tidak pernah sekalipun ada yang melarang untuk langsung masuk ke dalam.
"Mami juga tidak tahu.Kita ikuti saja peraturan yang di buat oleh Papa.Okey ?"
"Permisi Ibu" Ucap Adya menyapa resepsionis yang sedang bertugas.
"Whatt ibuu? sejak kapan saya nikah sama bapak kamu." Pekik resepsionis dengan name tag Linda di dada nya.
"Lalu saya harus memanggil apa ?" Ucap Adya yang merasa jengah dengan orang di depan nya.Bukankah panggilan ibu nampak terhormat, mengapa resepsionis itu malah menolak nya.
"Panggil kakak ya, dek.Saya ini masih muda"
Diam diam Raffa tersenyum di balik masker nya.Mami nya memang masih muda dan cantik, seperti seumuran dengan kakak nya yang pertama.Jadi wajar saja jika petugas di depan nya mengira jika Adya masih anak anak.
"Nama saya Adya, jangan pernah memanggil saya dengan sebutan adik." Ucap Adya dengan tegas.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Revan." Adya mengungkapkan tujuan nya.
"Maksud anda pemilik perusahaan ini ?" Linda mengamati Adya dari atas sampai ke bawah.Ada urusan apa seorang anak kecil ingin bertemu dengan pimpinan nya.
"Apakah sudah melakukan janji temu ? jika belum, maka saya tidak dapat memberi anda ijin untuk masuk ke dalam" Ucap nya dengan nada sedikit sinis.
Janji temu ?
Benar juga apa yang di ucapkan wanita ini, sekelas pebisnis seperti Papa Revan harus memiliki janji terlebih dahulu jika ingin bertemu di dalam perusahaan.
"kenapa harus janji dulu ?" sahut Raffa yang sudah lelah dengan drama ini.
__ADS_1
"Anak kecil, ini perusahaan besar.Bukan tempat bermain yang bisa se enak nya untuk keluar masuk." Sentak Linda yang merasa kesal dengan nada bicara anak kecil di depan nya.Bahkan ia tidak menyadari tentang nada nya sendiri yang juga tidak ramah kepada tamu.