Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung

Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung
12.Siapa Yang Pantas ?


__ADS_3

Adya membenarkan selimut Raffa dengan hati hati.Satu jam lamanya mereka berkutat dengan PR yang diberikan oleh Miss Sinta.Kenapa sangat lama, karna Adya sendiri tidak memahami mata pelajaran milik Raffa.Jelas saja, bahkan dulu semasa SMA, Adya akan menjawab soal persis seperti milik Bima.Untung saja sekarang jaman canggih, ada internet yang bisa membantu dirinya.


Selesai dengan tugasnya, Adya segera keluar untuk kembali ke kamarnya.Untuk tugas selanjutnya ia harus memikirkan masakan apa yang akan ia sajikan besok pagi.


Saat menutup pintu, ia melihat Daffa juga keluar dari kamar nya.Kemudian Adya berinisiatif untuk menghampiri.


"Daffa, apa ada yang kamu butuhkan ?"


"Tidak ada,Mi.Hanya ingin mencari angin diluar." Jawab Daffa dengan tersenyum.


"Baiklah, jangan terlalu malam.Angin malam kurang baik untuk kesehatan." Ucap Adya menasihati.


Daffa hanya mengangguk sebagai jawaban,lalu pergi dari hadapan Adya.


Daffa, putra kedua dari Revan ini memang penurut.Berbeda dengan Rion yang suka terang terangan menjadi pemberontak.


Namun terkadang, dibalik air yang tenang ada pusaran yang menghanyutkan.


Adya berpikir sejenak.Daffa ini memang anak yang penurut cenderung pendiam.Apakah dia baik baik saja, atau hanya berpura pura baik dengan kondisinya.Entahlah, lain kali ia akan mencoba untuk mencari tahu tentang keseharian Daffa.


Selesai dengan lamunan nya,Adya tersadar jika sudah memasuki kamar yang berada pada ujung lantai.


Bukan itu, ia tiba tiba merasa gugup ketika pandangan nya bertemu dengan seorang pria dewasa yang sedang duduk bersandar diatas ranjang.


Sebuah kacamata bertengger manis di hidung nya.Dipangkuan nya terdapat laptop dan beberapa lembar kertas yang Adya yakini adalah berkas kantor.


Pemandangan itu cukup menyilaukan mata bagi Adya.Pria dewasa yang memiliki karisma namun tidak terlihat jika sudah memiliki tiga anak laki laki.


Biasanya Adya akan tidur lebih dulu dan Revan menyusul saat tengah malam atau saat pekerjaan nya telah selesai.Namun kali ini ada yang berbeda.Revan membawa pekerjaan nya yang tidak terlalu banyak kedalam kamar.Ada apakah dengan bapak tiga anak ini ?


Revan menepuk ranjang disebelah nya tanda jika ia ingin istrinya segera menghampiri dirinya.


Perlahan Adya berjalan kearah ranjang dan mendudukkan bokongnya pada sisi sebelah kiri.


"Sudah selesai ?" Suara tegas milik Revan keluar begitu saja.


"Apa nya ?" Kini Adya malah heran dengan pertanyaan Revan.Dengan kegugupan nya, ia mendadak telmi.Sungguh disaat seperti ini tidak ada lagi Adya Si Queen BR.


"Tugas Raffa, memangnya apa lagi." Balas Revan yang juga ikut heran dengan tingkah Adya.


"Ohhh... Sudah, bahkan ia sudah tidur" Adya menyengir bagaikan kuda yang sedang memamerkan gigi nya.

__ADS_1


Tidak ada suara lagi yang keluar dari kedua nya.Semakin malam semakin canggung diantara nya karna sudah kehabisan topik untuk berbicara.


"aku ingin bertanya,Pa" Adya mengeluarkan suara ketika ingat pertemuan nya dengan Daffa beberapa saat lalu.


Revan yang mendengar itu hanya menoleh dan mengangkat alisnya mempersilahkan Adya bertanya.


"Diantara anak Papa, siapa yang paling penurut ?"


Revan mencoba mengingat beberapa memori tentang ketiga putranya.Karna memang ia sangat jarang memiliki momen dengan mereka, karna alasan waktu.


"Daffa ?" Jawab Revan dengan sedikit ragu.


"Ada apa ?" Lanjutnya yang tidak mengerti arah pertanyaan Adya.


"Ku lihat Daffa memang pendiam dan penurut.Namun Papa harus ingat bahwa didalam air yang tenang terdapat pusaran yang menghanyutkan."


Selesai dengan ucapan nya,Adya membaringkan tubuh dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh nya.Dengan hati hati tangan nya meraih guling yang berada diatas kepalanya dan meletakkan nya ditengah tengah ranjang.


Revan mengernyit melihat tingkah laku Adya.Lalu ia mengacuhkan nya karna ia lebih tertarik dengan ucapan yang dilontarkan Adya sebelum nya.


Menghanyutkan ?


"Memang benar.Diam diam menghanyutkan seperti dirimu, gadis kecil." Gumam Revan lalu beranjak pergi untuk pindah keruang kerja nya .


Bukankah sebelumnya Adya membahas Daffa, kenapa malah dirinya sendiri yang dipikirkan.


Tanpa ada yang tahu, Adya telah berhasil membuka sedikit pintu hati milik Revan yang telah lama menginginkan sikap dewasa dari seorang wanita.


*


Pukul 5.30 pagi, Adya sudah berjalan menuju ke lantai bawah.Lebih tepatnya dapur adalah tujuan nya.Ia mencoba mengingat ide nya semalam, apakah ia sudah yakin.Ternyata hatinya sudah mantap pada pilihan nya sendiri.


"Selamat pagi nona muda" Serempak asisten rumah tangga yang sedang berada di dapur memberi hormat kepada istri tuan nya.


Adya terkejut, baru saja ia ingat dengan ide nya malah dikejutkan dengan suara para pelayan.Ia belum terbiasa dengan perlakuan pelayan dirumah ini yang sangat menghormati.Bahkan dulu saat berada dikediaman Maheswara, ia diperlakukan layaknya sampah yang sering mengotori mata.


""Selamat pagi, Bi" Balas Adya yang juga membungkukkan badan nya.


Meskipun semua pelayan heran, namun ada satu yang tersenyum diam diam.


"Ada perlu apa nona datang kemari?" Tanya Bibi Sina menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Semalam Mama meminta ku untuk memasak Bi,mau kah Bibi Sina membantuku ?" Ucap Adya memegang tangan Bibi Sina.


"Tentu saja.Kami semua akan membantu nona."


Adya menuju ke kulkas yang berisi kebutuhan dapur setelah diberi tahu oleh Bibi Sina.Ia mengambil beberapa bahan yang akan ia gunakan untuk memasak.Ia memutuskan untuk memberikan sesuatu yang berbeda, entah kenapa Adya merasa dirinya saat ini seperti seorang menantu yang ingin mendapatkan restu dari ibu mertua nya.


Padahal realitanya memang seperti itu kan.


"Apakah Nyonya Ayu mengatakan tentang menu nya ?" Tanya Bibi Sina.


"Tidak ada Bi.Tapi aku ingin memberikan menu berbeda dari biasa nya."


Bibi Sina paham jika Nyonya Ayu ingin memberikan ujian kecil terhadap menantu nya.Dan ia kembali tersenyum dengan samar.


Sebelumnya saat datang ke dapur, Adya berkata ingin meminta bantuan kepada para pelayan.Namun saat ini, Adya sendiri yang mengerjakannya.Para pelayan malah sibuk mengagumi nona muda nya yang terlihat masih bocah, namun cekatan dalam urusan dapur.


"Nona meskipun usiamu sama dengan Den Rion, tapi Bibi kagum dengan kelihaian anda." Bibi Sina berucap pelan saat membantu mengaduk sayur.


"Aku tidak sebaik yang kau lihat Bi."Adya membalas pelan


"Apapun yang terjadi suatu saat nanti,mau kah Bibi berjanji untuk membantuku." Tiba tiba Adya berhenti dari kegiatan nya dan menatap intens kearah Bibi Sina.


Bibi Sina mengangguk.Melihat Adya, Bibi Sina teringat pada almarhum anak perempuan nya yang sudah meninggal saat usia nya masih remaja.Pembawaan nya yang mudah bergaul sama persis seperti almarhum anak nya.


Bibi Sina tidak tahu saja jika Adya akan berubah menyeramkan ketika keluar dari rumah ini.


Meja makan kini penuh dengan menu yang dibuat sendiri oleh Adya, karna para pelayan hanya menemani dan membantu sedikit saja.


Adya nampak sedikit cemas.Bukan karna rasa dari masakan nya.Ia yakin rasanya sudah sempurna, namun yang ia pikirkan adalah menu ini terlalu jauh dari level sekelas keluarga Mahanta.


Ia kembali mengamati meja itu dan kini ia menemukan satu yang kurang, yaitu sendok makan.Ia kembali ke dapur untuk mencari nya.


"Ada yang tertinggal nona ?" Tanya seorang pelayan yang usia nya terlihat masih muda.


"lupa dengan sendok nya" Balas Adya tersenyum tipis.


Saat sudah mendapatkan barang nya, Adya dihentikan oleh suara seseorang.


"Seleranya kampungan sekali menghidangkan makanan tidak bermutu." Sindir nya kepada Adya.


"Apa maksudmu ?" Balas Adya yang sebenarnya sedikit emosi karna merasa lelah dengan kegiatan nya di dapur.

__ADS_1


"Maksudku adalah kamu tidak pantas bersanding dengan Tuan Revan." Ucap pelayan yang bernama Rina.


"Lalu siapa yang pantas ? Apakah dirimu yang memiliki mulut sampah ini ?" Balas Adya dengan seringaian tipis diujung bibir nya.


__ADS_2