
Adya telah selesai membersihkan tubuh suami nya.Ia ingin mengembalikan peralatan kedalam kamar mandi agar tidak berserakan.
"Paaaaa.....Revan lelah" Terdengar racauan dari seorang pria yang sedang berbaring diatas ranjang.
Adya yang mendengar suara itu membalikkan badan nya untuk memastikan.Ia segera berlari ke kamar mandi dan kembali ke ranjang dengan kilat.
"Revan lelah..Revan lelahh..."
Racauan demi racauan terdengar intens dari Revan.Raut wajahnya terlihat tidak tenang dan tangan nya meraba raba pada kasur.
"Papa.." Adya mendekat dengan perlahan dan memanggil manggil suami nya.
Tangan nya menepuk pelan lengan kekar milik Revan, berharap akan segera sadar.
Namun bukan nya membuka mata, Revan malah menarik lengan Adya hingga dirinya jatuh bersimpuh pada lantai.
"Revan lelah..." Racauan Revan mulai melemah dan wajah nya berangsur tenang setelah memegang erat tangan Adya.
"Shttt Papa tenang okey." Adya berucap pelan tepat didepan wajah Revan.
Ia mencoba menggerakkan sedikit tangan nya, namun Revan tidak membiarkan lepas sedikitpun.
Adya yang merasa ikut andil dalam keadaan Revan saat ini, memilih untuk menyamankan dirinya dan menyatukan telapak tangan nya dengan sang suami.Ia berharap dengan demikian, dapat sedikit memberi ketangan.Mungkin saja suami nya sedang banyak pekerjaan hingga terbawa mimpi.
Deg
netra Adya memandang lurus tepat pada wajah Revan.Mata yang teduh ketika terpejam,alis yang menukik tajam namun indah,hidung mancung serta bibir ranum yang membuat mata wanita berbinar binar, semua itu sungguh menyejukkan mata.
__ADS_1
Kini Adya baru menyadari jika ia dinikahi oleh sosok pria yang memiliki fisik sempurna.Entah ia harus bersyukur atau meratapi nasib nya yang menjadi penebus hutang.
Sudah beberapa kali Adya menguap, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 pagi.Pandangan nya mulai buram, dan terpejam masih dalam posisi yang sama.
Pukul tiga dini hari.Lenguhan mulai terdengar,matanya yang terpejam mulai mengerjap untuk mendapatkan kesadaran sepenuhnya.
Revan memijat kepalanya pelan agar pusing yang ia rasakan mulai berkurang.Ia menoleh kekiri, kosong.Tidak ada siapapun di ranjang nya,lalu menoleh kearah kanan.Sungguh terkejut dirinya saat melihat seorang gadis duduk dilantai dengan menyandarkan kepalanya diatas kasur.Sedangkan tangan nya,
deg
jantung nya sedikit berdebar kala tangan kecil itu ia genggam dengan erat.
Hatinya merasa tersentil, saat sebelum nya ia sudah membuat gadis kecil itu marah dan pergi dari rumah, kini malah gadis kecil itu juga yang menjaga dirinya, yang sedang dalam pengaruh alkohol.
Tiba tiba kepalanya kembali pusing, dan perutnya terasa mual.Ia segera menarik tangan nya dengan kasar dan berlari menuju kamar mandi.
Adya yang tersentak kala tangan nya dilepas dengan kasar, mulai meraih kesadaran nya untuk melihat keadaan.Saat sudah memiliki kesadaran penuh.tangan serta kakinya terasa sakit karna lumayan lama tertidur dalam posisi duduk.
Revan keluar dalam keadaan lemas dan pucat.Ia berjalan perlahan dan langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur.
"Papa sudah baikan?" Tanya Adya pada Revan.
"Hanya sedikit pusing." Balas Revan dengan suara lemah.
Adya mengambil sesuatu diatas nakas.Ia teringat dengan asisten Bram yang berpesan untuk memberikan obat yang sudah ia siapkan saat Revan siuman.
"obat apa ?" Tanya Revan dengan kening mengerut.
__ADS_1
.
"Asisten Bram yang memberikan." Jelas Adya
"Jadi Bram yang mengantarku sampai dikamar ini ?" Revan sudah selesai menelan pil yang lumayan pahit itu.
Adya hanya mengangguk membenarkan.
"Untuk kejadian sebelum nya.." Revan hendak membahas tentang ke salah pahaman yang terjadi,namun sudah dipotong oleh Adya.
"Aku juga bersalah karna tidak mengenalkan Papa pada Devon."
"Aku tetap akan minta maaf.Biarkan Bram mengatur waktu untuk bertemu dengan adikmu."
"dan terimakasih untuk ini." Lanjut Revan mengangkat telapak tangan nya yang ia gunakan untuk menggenggam tangan Adya.
seketika pipi Adya bersemu merah.Ia teringat dengan kejadian saat ia mengagumi salah satu ciptaan tuhan dalan keadaan tidan sadarkan diri.
Tiba tiba Adya membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga ke lehernya sembari berkata dengan cepat
"sudahlah lupakan saja."
Revan yang melihat tingkah Adya menganggap bahwa istri nya masih marah.Padahal realita nya Adya sedang salah tingkah.
Kini Revan mulai ikut memejamkan mata karna merasa kantuk yang luar biasa.Tanpa disadari,Asisten Bram memberi obat untuk pereda nyeri sekaligus obat tidur, dengan harapan tuan nya dapat beristirahat dengan cukup.
Jangan lupa like dan komen nya kakak
__ADS_1
terimakasih 🥰
ig. ini_amelll_