
"Kau ingin mengunjungi pria lain, sedangkan kau sudah bersuami ?" Ucap Revan dengan tatapan mengintimidasi
"Tapi apa salah nya,Devon juga penting untukku." Adya heran dan tidak mengerti dengan ucapan Revan.
"Terserah"
Revan mengetatkan rahang nya,berlalu pergi masuk kedalam mobil nya.
"Dasar bapak bapak tua." umpat Adya sendirian.
*
kost an milik Devon
"Welcome to my house kakak ku" Sambut Devon dengan heboh kala melihat Adya berada di depan pintu.
"Kost bukan rumah." Balas Adya mengingatkan.
Perlahan Adya melangkahkan kaki nya masuk ke dalam.Pandangan matanya tak luput memperhatikan ruangan tersebut.
Menurutnya lumayan nyaman untuk seukuran anak laki laki.Ia mulai merebahkan tubuh nya di atas kasur tipis agar sedikit mengurangi rasa lelah nya.
Saat dikediaman Mahanta, ia memasak dan mengurus anak anak nya.Lalu ia mengemudikan motornya sendiri untuk datang kemari.Namun saat baru sampai di tempat Devon, ia di hadang oleh ibu pemilik kost yang mengintrogasi dirinya terlebih dulu.
Panggil saja Bu Susi.Bu Susi ini wanita 40 tahunan yang memiliki tubuh gempal.Pakaian nya sangat heboh dan wajahnya begitu tebal.Sangat khas seperti ibu kost pada umum nya.
Awal nya ia tidak percaya jika Adya adalah kakak dari Devon,pasalnya tubuh Adya yang kecil membuat nya terlihat seperti anak SMA.
Setelah Adya mengeluarkan aura ke arogan an nya, Bu Susi mulai ciut dan membiarkan Adya masuk.
"Si gendut itu memang bre*gs*k" Umpat Adya kala berhasil merebahkan tubuhnya.
"Siapa ?" Tanya Devon dengan heran.
"ohhh Bu Susi yang besar itu ya? HaHaHa" Celetuk Devon lalu tertawa dengan keras.Ia sudah paham, pasti kakak nya di interogasi berlebihan hingga membuat nya kesal.
"Cihh besar? bahkan ia lebih pantas disebut jumbo" Ucap Adya dengan sinis.
"uluh uluh kakak gue yang satu ini mudah marah ya, ntar cepet tua loh." Goda Devon sembari mencolek dagu kakak nya.
"Gue mau istirahat." Ucap Adya memejamkan mata nya.
"Oke gue tinggal cari makan dulu"
Devon bergegas keluar dari rumah nya dan menaiki motor milik kakak nya.
Baru memejamkan matanya, Adya sudah dibangunkan dengan suara ketukan pintu yang tidak berhenti.
__ADS_1
satu kali dua kali, ia masih membiarkan nya.Namun lama lama ketukan nya semakin intens dan membuat Adya tidak dapat memejamkan matanya kemabli.
ceklekk...
"Hallo AA' " Ucap seorang wanita dengan gaya yang sangat centil.
Adya menatap dari bawah hingga ujung rambut nya.
"Lohh kamu siapa ? A' Devon mana ?" Tanya gadis centil yang bernama Sifa.
"Kamu yang siapa ?" Adya malah bertanya kembali.
"Kenalin saya pacarnya A' Devon" Ucap Sifa dengan percaya diri.
"cihh pacar ?" Adya berdecih dan membuang wajah nya kesamping kiri.
"Kenapa ? Takut kalah saing ya ?"
"Pergi" Sentak Adya dengan tatapan tajam.Ia lelah dan ingin ber istirahat, malah kedatangan tamu tak di undang pulang tak diantar.Seperti jalangkung.
Mata Sifa mulai berkaca kaca.Ia sakit hati mendengar bentakan dari Adya.
"dasar gadis arogan" teriak nya lalu berlari keluar dari area kost.
kini tersisa Adya sendirian.Ia meredam emosi nya yang mudah naik akhir akhir ini.Ia membiarkan pintu nya terbuka dan kembali masuk kedalam kamar.
Ponsel milik Adya berdering kuat tanda sebuah panggilan masuk.Ia menghela napasnya sebentar.Satu pergi, dan satu lagi datang melalui telepon.
"Apa lagi Hah?" Ucap nya dengan kesal tanpa melihat kontak penelepon.
"Ada apa?" Suara berat seorang pria terdengar diseberang sana.
"gapapa.Ada apa menghubungi ku?" Tanya Adya kala mendengar suara seorang pria yang tak lain adalah Bima.
"Devon keluar dari rumah Maheswara ?"
Adya berdehem sebagai jawaban.
"Kenapa ?"
"Lain waktu"
"oke"
tut sambungan terputus.
Sungguh dua orang ini sangat irit bicara.Hanya dengan satu kata saja, mereka bisa saling memahami apa maksud nya.Hebat bukan.
__ADS_1
Selang beberapa menit saja,Devon sudah kembali dengan menenteng kresek di tangan nya.Sudahlah, mungkin Adya tidak ditakdirkan untuk tidur siang ini.
"Masih ada uang ?" Tanya nya pada Devon saat melihat adik nya membawa makanan yang lumayan banyak.
"santai aja, kan kakak ipar gue kaya" Seloroh Devon dengan cengiran khas nya.
deg
Adya mematung sejenak.Mengingat suami nya yang pagi tadi terlihat marah, ia sedikit merasa was was.Apakah ia sudah membuat kesalahan hingga Revan bersikap seperti itu.Namun berulang kali ia berpikir, jawaban nya tetap sama bahwa ia tidak melakukan kesalahan.Mungkin saat pulang nanti, ia akan mencoba bertanya.
dua bungkus nasi padang dengan lauk ayam bakar menjadi menu favorit Adya.Devon tahu jika kakak nya sudah lama tidak makan menu kesukaan nya, maka nya ia berinisiatif untuk membelikan.Hitung hitung berbakti pada kakak sendiri.
Selesai makan
"Jaga diri baik baik" Adya berpesan pada adik nya saat ia hendak pulang.
"Lo juga.Kalau ada apa apa, jangan sungkan cerita ke gue." Balas Devon memeluk kakak nya dengan erat.Hanya beberapa detik saja karna Adya segera mendorong nya pelan.
"badan Lo bau" Adya mengibaskan tangan nya didepan hidung.
"Ba*gke Lo emang" Umpat Devon yang kesal dengan kakak nya.
tanpa mereka sadari saat berpelukan didepan pintu ada seseorang yang diam diam memotret nya dari kejauhan.
ting
sebuah notifikasi pesan masuk ke sebuah ponsel.Saat ini pemilik nya tengah memimpin rapat dan ponselnya dibawa oleh sang asisten.
Pesan dari anak buah nya,lalu ia membuka pesan tersebut dan rahangnya mulai mengeras saat sebuah gambar dua orang berbeda jenis kelamin sedang berpelukan dengan erat.
"Nona, saya harap anda tidak akan mengecewakan Tuan ku" Ucap Bram dengan wajah yang terlihat mulai memerah.
setengah jam kemudian ia melihat Revan keluar dari ruang meeting.Lalu ia membisikkan sesuatu.
Revan hanya menoleh sebentar dan melanjutkan langkah nya menuju keruangan nya.
Saat sudah mendaratkan bokong nya pada sebuah sofa, ia mulai membuka pesan yang dikatakan oleh Bram.
Sama seperti asisten nya, Revan juga mengetatkan rahang nya.Matanya mulai menajam hingga bola mata nya terlihat bulat sempurna.Tangan nya meremas ponsel itu dengan keras lalu membantingnya pada sofa kosong disebelah nya.
Untung saja ponsel nya aman karna tidak jatuh ke lantai.Jika sampai jatuh ke lanntai, sudah dipastikan ponsel itu akan hancur.
"Saya permisi bos" Pamit Bram yang ingin memberikan ruang sendiri untuk Tuan nya.
"Dimana dia sekarang ?" Tanya Revan pada anak buah nya melalui ponsel.
"Menuju arah mansion Tuan." Lapor Jhon anak buah yang selalu diandalkan Revan.
__ADS_1
"Pastikan ia langsung menuju ke mansion tanpa pergi kemanapun." Perintah Revan pada Jhon.