
Berulang kali bunyi ketukan pintu terdengar tanpa henti,namun tidak ada yang membuka pintu sama sekali.
Dua orang saling menatap lalu membuka pintu yang tidak terkunci dari dalam.Alangkah terkejutnya mereka ketika disuguhkan pemandangan yang luar biasa.
Dimana di atas sebuah kasur terdapat dua anak manusia yang masih lelap dalam tidurnya dengan posisi yang sudah tidak karuan.
Revan menghela napas pelan sambil melipat tangan nya di dada, sedangkan Bibi Sina mulai menyibak gorden agar cahaya matahari yang sudah mulai tinggi itu menembus kedalam kamar.
Adya dan Raffa,semalam mereka berdua tidur bersama dengan saling memeluk.Namun entah bagaimana saat pagi ini bisa berada pada posisi tak terbentuk.Guling yang jatuh di atas lantai serta selimut yang tersampir pada kepala ranjang.
"Non,Den bangun sudah siang" Usaha Bibi Sina membangunkan mereka dengan pelan.
Sedikit pun tidak ada gerakan dari kedua empu.Tuan Revan yang jengah memberi kode pada Bibi Sina untuk mengambil gelas yang berada diatas nakas.
Sedikit demi sedikit Adya mulai merasakan dingin nya air yang mengenai wajahnya.Semakin lama,semakin banyak pula air yang ia rasakan hingga ia bangkit dan berteriak dengan kencang
"AKU AKAN BANGUN SETAN"
Adya membuka matanya setelah berteriak dengan kencang dan mulai menatap pada sekeliling ruangan yang terasa asing baginya.Hingga matanya tak sengaja bersitatap dengan Tuan Revan yang sudah mengetatkan rahang menahan amarah.
"bodoh.Gue pikir tadi mak lampir yang bangunin.Gimana dong" Batin Adya menjerit merasa ketakutan.
"Ma-maaf" cicitnya dengan pelan sambil menundukkan kepalanya.
Bibi Sina yang melihat Aden kecilnya mulai membuka mata,dengan sigap menarik nya menuju keluar kamar meninggalkan suami istri yang sepertinya membutuhkan ruang.
Meskipun bingung,Raffa tetap mengikuti Bibi Sina apalagi melihat Papa nya yang nampak marah.Sekilas ia menatap Mami nya yang memelas dan seolah mengatakan ia meminta bantuan.
"duh si*lan tuh bocil malah ninggalin gue" gerutu Adya dalam hati.
"Angkat wajahmu ?" Titah Tuan Revan dengan suara tegas.
perlahan Adya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya hingga tatapan nya melihat ke arah sang Tuan.
"Kenapa baru bangun saat sudah pukul 7 ?" Tanya Tuan Revan
"Maaf" Cicit Adya dengan suara pelan.
entah kenapa didepan seorang pria yang berstatus suami nya ini, ia tidak berani melawan.Keberanian nya selama ini dalam dunia malam, seolah ditelan oleh bumi.
__ADS_1
Melihat ketakutan pada gadis didepan nya, Tuan Revan menghela napas pelan.Bagaimana pun juga,gadis ini masih berusia 20 tahun yang mana akan berlaku sama seperti anak anak nya.
"Lain kali bangunlah lebih awal.Dan setelah menidurkan Raffa,jangan lupa kembali ke kamarmu.Jangan sampai Raffa terbiasa tidur ditemani orang lain." Pesan Tuan Revan pada Adya.
......................
pukul 7.30 pagi,semua orang sudah berkumpul dimeja makan.Tuan Revan duduk dikursi utama,sebelah kirinya terdapat Rion,Daffa,dan Raffa, lalu disebelah kanan ada Nyonya Ayu dan Adya.
Namun kali ada yang berbeda.Seorang bocah kecil terlihat sangat sumringah dan selalu menatap kearah wanita yang sedang sibuk menyiapkan makanan pada piring setiap anggota keluarga.
"Ada apa dengan cucu Oma,kenapa terlihat bahagia sekali?" Tanya Nyonya Ayu heran.
"Tentu saja Raffa bahagia." balasnya dengan tawa renyah.
Saat Adya memberikan piring pada anak anak,Raffa menatap kearah sang Papa dan berkata
"Papa terimakasih" Ucapnya dengan senyum yang tidak luntur.
"Untuk hal apa?" Tanya Tuan Revan yang juga heran pada putra bungsunya.
"Terimakasih karna sudah membawa Mami Adya dan membuat Raffa memiliki ibu seperti teman teman disekolah." Terang Raffa dengan semangat tanpa beban.
Bahkan,Nyonya Ayu menitikan air mata nya meski dengan segera ia hapus.Ia adalah saksi dimana tumbuhnya ketiga anak tampan yang kekurangan kasih sayang dari seorang ibu, dan kini satu dari mereka sudah mulai merasakannya dari seorang wanita yang mana sudah dikorbankan oleh kedua orang tuanya.
"Maaf jika aku lancang meminta Raffa memanggilku Mami" Ucap Adya yang mengira jika mereka tidak suka dengan panggilan itu.
Nyonya Ayu mendongak kearah sang menantu lalu berucap dengan lirih
"terimakasih"
Meski Adya bingung, ia segera menempatkan dirinya untuk makan saat ada instruksi dari kepala keluarga tersebut.
Sedangkan dua anak manusia yang sejak awal hanya diam dan menyimak.Kini salah satunya mulai beranjak ingin pergi tanpa menyentuk sarapan nya sama sekali.
"Rion jangan lancang kamu !" Hardik Tuan Revan pada putranya.
Ia marah karna merasa putranya sangat lancang yang pergi tanpa menunggu yang lainnya, bahkan ia tidak menyentuh makanannya sama sekali.
Tidak menghiraukan teriakan sang Papa,Rion tetap melangkahkan kakinya menuju keluar rumah dengan perasaan yang sulit untuk didefinisikan.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini sebelumnya, kenapa hubungan Papa dan anak itu terlihat tidak baik" monolog Adya dalam hati.
Setelah semua selesai.Tuan Revan akan berangkat kekantor bersama Daffa dan Raffa.Setiap pagi Tuan Revan akan mengantarkan mereka dan pulangnya akan dijemput oleh sopir.
Adya menggandeng tangan mungil Raffa menuju ke garasi.Saat hendak membuka mobil nya, Tuan Revan berhenti dan menatap kearah Adya.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya nya yang melihat gelagat aneh Adya.
"Emm aku ingin meminta ijin keluar sebentar" Ungkap Adya dengan hati hati.
"kemana?"
"Kerumah Maheswara untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal"
"Jangan terlalu lama.Minta Pak Adi untuk mengantarmu"
"Tidak perlu.Aku pergi dengan motorku saja" Tolak Adya yang memang berencana tidak pergi kerumah nya saja.
Ruan Revan menoleh kearah yang ditunjuk Adya.Terdapat Sebuah motor disudut ruangan yang terlihat bersih, sepertinya dibersihkan oleh petugas garasi nya. Ia mengernyit heran
"Itu milikmu?" Tanya Tuan Revan memastikan
Adya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa kau yakin bisa mengendarainya ?"
mendengar suara pria didepannya seperti sedang meremehkan dirinya, Adya mulai tersulut emosi.
"Jangan meremehkanku Tuan.Bahkan aku adalah seorang..."
Belom sempat Adya menyelesaikan ucapan nya,terdengar teriakan dari dalam mobil karna mulai bosan menunggu.
Adya dengan wajah masam nya menghampiri Raffa lalu menyodorkan tangannya melalui kaca yang terbuka.Lalu beralih pada Daffa yang hanya diam namun tetap melakukan apa yang Adya minta.
"Kau harus berada dirumah sebelum Raffa pulang dari sekolah" Peringat Tuan Revan pada Adya.
"Baik paduka raja yang terhormat" Balas Adya dengan nada yang dibuat buat sambil membungkukkan badan nya.
Tuan Revan yang mendengar hal itu, juga tersulut emosi namun ia harus segera berangkat atau ia tidak akan berhenti berdebat dengan gadis menyebalkan itu.
__ADS_1