Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung

Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung
28.Janji Om Bram


__ADS_3

"Ada apa ?" Tanya seorang pria yang sedang fokus membaca pada lembaran lembaran kertas berisi pekerjaan.


"Silahkan periksa email yang sudah saya kirimkan Bos." Ucap Bram sopan karna ini masih didalam kantor.


"Rion ?" Revan menebak karna sebelum nya sudah sempat membaca notifikasi berisi surat panggilan orang tua.


Bram mengangguk membenarkan atas tebakan bos nya.Ia juga ikut menerka nerka, hal apa yang sudah dilakukan oleh putra dari bos nya, hingga mengirimkan surat panggilan orang tua.


Revan menghentikan kegiatan nya, ia menghela napas dan memijit pelan kening nya.


Saat ini, kepala nya terasa berat akan beberapa hal.Tubuh nya terasa lelah, ia benar benar membutuhkan waktu untuk istirahat.


Kring kring


"Permisi Tuan.Klien dari Singapura sudah sampai di perusahaan." Ucap seseorang di seberang telpon.


"Antarkan ke ruang pertemuan" Balas Revan memberi perintah.


Beginilah Revan.Setiap hari hanya di pusingkan oleh pekerjaan.Terkadang logika nya berkata untuk lari saja, namun hati kecil nya bersikeras untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan apa yang sudah di capai oleh almarhum Papa nya.


Mungkin dengan seperti ini dapat sedikit menebus satu kesalahan yang sudah ia perbuat hingga menyebabkan kepergian sang Papa.


*

__ADS_1


Sedangkan di kediaman Mahanta


"Please Mi.Aku ingin pergi ke kantor Papa untuk bertemu Om Bram." Rengek seorang anak kecil yang bergelantungan pada kaki ibu sambung nya.


"Tapi Mami tidak tahu alamat kantor Papa, Raffa" Kalimat yang sama terulang kembali dari bibir Adya.


Ia menghela napas nya pelan.Anak kecil ini masih tetap kekeh meminta untuk pergi ke kantor Papa nya.Padahal, matahari sudah merangkak naik ke atas yang akan memberikan rasa panas pada tubuh terpapar sinar nya.Lagi pula, Adya tidak berbohong tentang ia yang berkata tidak tahu alamat kantor Papa Revan.


Selama ini, ia tidak berminat membaca majalah bisnis, karna bagi nya itu tidak lah penting.


"Please Mamiiiii" Rengek Raffa kembali memohon dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Ada apa ini ?" Tanya Nyonya Ayu menghampiri menantu dan cucu nya yang berada diruang keluarga.


"Oma, Raffa ingin pergi ke kantor Papa untuk bertemu dengan Om Bram" Ucap Raffa bergantian memeluk lengan Oma nya yang duduk di seberang Adya.


"Kenapa ingin bertemu dengan Om Bram ?" Tanya Nyonya Ayu dengan dahi mengerut.


Raffa yang mendapat pertanyaan tersebut tidak mampu untuk menjawab, ia hanya diam dengan mata berkaca kaca dan jari jari yang saling ia taut kan.


"Baiklah.Adya, bawalah Raffa ke kantor Revan.Pasti ia sudah di janjikan sesuatu oleh Bram, hingga membuat nya seperti anak ayam yang kehilangan induk nya." Ucap Nyonya Ayu yang menyindir kepada cucu nya.


"Tapi Adya tidak tahu alamat kantor Papa, Ma" Adya berucap apa ada nya.

__ADS_1


"Biarkan sopir yang membawa kalian.Tidak mungkin kamu membawa Raffa dengan motor mu kan ?" Ucap nyonya Ayu terkekeh pelan.


Adya diam dengan bayangan dimana ia membonceng Raffa dengan motor trail nya, lalu tiba tiba terjatuh dengan segala kemungkinan yang ada.


Adya bergidik ngeri.Memang benar, membawa anak kecil menggunakan motor sungguh tidak aman.Banyak resiko yang akan ia tanggung.Lebih baik ia menggunakan mobil saja, sesekali juga ia menikmati fasilitas dari keluarga Mahanta.Kapan lagi ia menjadi Nyonya seperti ini.


Tidak hanya Adya,,


kini Raffa juga terdiam dengan bayangan nya.Bayangan dimana ia naik motor trail dengan sang Mami.Lalu Mami nya membawa motor dengan kencang dan mendapat sorakan heboh dari orang orang yang melihat nya.Raffa mengembangkan senyuman nya, dengan begitu ia akan terlihat sangat keren di mata orang lain.


Ekhemmmm


Nyonya Ayu berdehem keras untuk menyadarkan dua anak manusia berbeda generasi.Ia jengah sendiri, bagaimana bisa antara ibu dan anak sambung itu memasang ekspresi yang sama, meskipun pemikiran nya berbeda.


"kalian bersiaplah.Mama akan menyiapkan makan siang untuk Revan."


"Biar Adya saja,Ma" Sahut Adya tidak enak pada mertua nya.


"Tidak apa.Lagi pula makanan nya kamu yang memasak.Hanya menyiapkan, tidak berat" Balas Nyonya Ayu terkekeh pelan dan berlalu pergi dari sana.


"Aku akan bersiap sendiri.Mami juga tidak boleh lama, atau Om Bram akan mengingkari janji nya." Raffa memberi peringatan kepada ibu sambung nya agar tidak lama.


"Baik tuan muda" Balas Adya berlagak seperti pelayan.

__ADS_1


Raffa tersenyum senang dan mencium pipi Adya lalu berlari meninggalkan nya.


__ADS_2