
Adya merubah tatapan nya menjadi tajam.Di dalam hati nya ia tidak rela ada yang berbicara dengan nada menyentak kepada putra nya.
Ia saja yang berstatus sebagai ibu sambung dan notabene nya adalah gadis berandalan, berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat kasar, sedangkan wanita ini yang hanya berstatus sebagai karyawan biasa dengan seenak nya menyentak anak kecil ini.
"Sudahlah Mam, kita masuk saja.Tidak perlu menunggu ijin dari tante ini" Ucap Raffa kepada Adya.
"Heyy dasar bocah.Siapa yang kau panggil tante hah ?" Sahut Linda menggunakan nada sarkas.Semakin lama ia semakin muak melihat wajah anak kecil itu yang terlihat lebih sombong dari pada anak seusia nya.
"Raffaaa.." Adya memperingati putra nya dengan nada lirih dan gelengan kepala.
"Bisakah anda lebih sopan kepada tamu ?" Adya menatap tajam mencoba meredakan amarah nya.
"Cihhh untuk apa sopan pada anak kecil.Sebenarnya apa tujuan kalian bertemu dengan pimpinan di sini ?"
"atau jangan jangan anda ingin mencari tempat magang di sini , betul kan ?" Linda semakin menjadi jadi.
"Sudahlah, pulang saja.Ini perusahaan besar, bukan tempat untuk bermain main." Linda mencoba mengusir Adya dan Raffa dari meja resepsionis.
"Saya datang dengan baik baik.Lalu seperti ini kah pelayanan anda ?"
"Sudahlah Mam, mungkin saja tante ini sudah gila." Raffa mengejek lantaran wanita di depan nya selalu ingin mendebat ucapan ibu sambung nya.
"Tutup mulut mu anak kecil.Kau yang gila" Linda tidak terima di hina oleh anak kecil sombong itu.
BRAKKKKK
"Kau yang harus menutup mulutmu, si*lan !!"
__ADS_1
"Jangan pernah membentak putraku, atau kau akan tahu akibat nya!"
Adya menggebrak meja dengan reflek, lalu memajukan wajahnya.Ia menekankan setiap kata yang ia keluarkan di sertai tatapan tajam seolah hendak menghunus hingga ke lambung.
Sedangkan karyawan wanita yang sebelum nya bersikap sok berlebih, kini terdiam dengan tangan yang berkeringat dingin.
Hanya sekali gertakan saja ia sudah ingin menenggelamkan diri nya agar tidak berhadapan dengan gadis kecil yang ia anggap sepele ini.
Dari kejauhan, telatnya di depan lift khusus petinggi, seorang pria berbadan tegap tengah menyaksikan kejadian tersebut dengan senyuman tipis di sudut bibir nya.
Awalnya ia hendak turun ke bawah setelah mendapat telepon dari Nyonya besar, namun saat keluar dari lift ia melihat sedikit perdebatan kecil antara seorang gadis dan satu bocah laki laki, dengan karyawan resepsionis.
Bukan nya membantu, pria itu malah berdiam diri dan ingin melihat sejauh mana keberanian gadis itu,yang ternyata sesuai dengan perkiraan nya.
Badan nya kecil, namun mental nya cukup kuat
dengan serempak beberapa orang yang terlibat menoleh ke arah sumber suara.
"Om Brammmm" Panggil Raffa dengan nada jengkel.
Pria itu adalah asisten Bram.Ia terkekeh pelan kala melihat tuan kecil nya menunjukkan jika dirinya sedang merajuk.
"Selamat siang, nona" Sapa nya kepada Adya dengan sedikit membungkuk kan badan.
"Apa kita bisa bertemu dengan Papa Revan ?" Tanya Adya yang sudah berhasil meredakan amarah nya.Dalam hati nya ia juga merutuki kebodohan nya yang sudah terpancing dan berbuat arogan di dalam perusahaan Papa Revan.Ia berharap asisten Bram yang menyaksikan tidak akan melaporkan nya baik kepada Papa Revan ataupun Nyonya Ayu.
"Tentu saja.Kapanpun anda berkunjung, Tuan Revan akan menyambut nya."
__ADS_1
"Lain kali jika nona ingin datang, hubungi saya saja, agar saya dapat menjemput ke bawah" Ucap Bram dengan sopan.
"Tidak masalah" Adya tersenyum tipis.
"untuk insiden sebelum nya, apa nona ingin memecat karyawan ini.Jika iya, maka akan saya berhentikan sekarang"
Linda yang mendengar itu keluar dari tempat nya menghampiri dua orang yang ternyata bukan lawan nya.
"Nona tolong maaf kan saya, saya bersalah.Saya berjanji tidak akan mengulangi nya lagi" Ucap Linda memohon dengan air mata yang sudah membanjiri wajah nya.
"Minta maaf pada putraku.Jika ia memaafkan,maka kau tetap di sini.Jika tidak, saya juga tidka tahu bagaimana nasib anda" Ucap Adya yang tidak ingin menoleh ke arah nya.
"Tuan kecil saya minta maaf.Saya tidak mengulangi nya lagi.Jangan pecat saya, saya mohon"
"Tapi aku tidak suka dengan tante gila ini." Celetuk Raffa membuang muka nya.
"Raffa...." Adya memanggil pelan guna memperingati putra nya.
"ckk..baik lah , kau aman karna Mami ku" Raffa mengalah karna mendapat kode dari Mami nya.
"pergilah !" Perintah Asisten Bram yang sudah tahu apa kesimpulan nya.
Setelah nya, raut wajah marah milik Raffa berubah menjadi merajuk.
"Om Bram, kau tidak melupakan tentang hari ini bukan ?"
"Baik lah baik lah, Om Bram akan membawa mu ke sana.Tapi sebelum nya kita bawa Nona Adya ke ruangan Papa terlebih dahulu."
__ADS_1
"Okeee,, lets gooooo" Raffa bersemangat lalu menarik tangan Mami nya menuju lift khusus petinggi yang biasa ia gunakan bersama Om Bram.