Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung

Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung
09.Otak Bisnis


__ADS_3

Dibawah cahaya remang remang,dengan susana sunyi terdapat seorang pria yang sedang bersimpuh dengan menggenggam sebuah kotak kecil.Penampilan nya begitu berantakan dan sangat menyedihkan dipandang mata. Jangan lupakan tatapan matanya yang sayu,namun terdapat sebuah amarah yang besar.


"Lihatlah sayang.Bahkan putrimu itu berperilaku sama seperti dirimu.Keras kepala dan suka memberontak" ucapnya dengan sendu.


"Aku mencintaimu.Namun setelah apa yang kau lakukan padaku, aku sangat membencimu" Gumamnya disertai mata yang memerah.


"Akhhhhhh.Aku benar benar membencimu" Teriak nya yang terdengar menyayat hati.


......................


Usai membersihkan diri, seorang gadis nampak melihat bayangan nya sendiri didepan sebuah cermin.


Hatinya begitu resah dengan rasa bersalah yang besar.Ini bukan dirinya.Adya si gadis arogan dan masa bodoh ketika berbuat kesalahan, kini nampak mengenaskan karna uring uringan tanpa henti.


Dengan memantapkan hatinya, ia akan berusaha untuk meminta maaf pada suaminya,ia harus berani mengakui bahwa kali ini dirinya salah.


Dapur menjadi tujuan nya.


Secangkir kopi hitam lengkap dengan sendok kecil ia bawa menuju sebuah ruangan yang digunakan sebagai tempat kerja untuk pemiliknya saat dirumah.


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, ia mulai menggerakkan kaki nya dengan jantung yang sudah ber disko.


"Permisi Pa" Sapa Adya pada seorang pria.


Revan mendongakkan kepalanya.Ia mengira jika mama nya yang datang berkunjung,namun ia salah.Seorang gadis yang beberapa menit ini mengganggu pikirannya lah yang masuk keruangan ini.


"Aku tidak ingin kopi" Ucapnya dingin yang enggan menatap lawan bicara nya.


Setelah meletakkan kopi diatas meja.Adya meremas kedua tangan nya


"Aku minta maaf, lain kali tidak akan mengulanginya lagi" Layaknya seorang anak yang sudah tertangkap basah oleh ayah nya, Adya meminta maaf.


Revan tidak mampu berpura pura lagi saat mendengar suara lembut itu.Ia berdiri dan mengulurkan tangan keatas.


Namun ia mengernyit kala melihat respon gadis itu yang mundur kebelakang dan memejamkan matanya.


satu detik


dua detik


tiga detik

__ADS_1


Adya membuka pejaman matanya.Sebuah telapak tangan menggantung didepan wajah yang menyapa penglihatannya.


Ia menghembuskan napas lega, lalu menormalkan raut wajahnya.


Ternyata Revan hendak meraihl remot lampu yang berada pada rak kecil tepat di samping Adya berdiri.


Lampu berganti dengan warna putih yang membuat ruangan itu terang benderang dan terlihat segala isinya.


Revan menatap intens wajah Adya.Ada sesuatu yang membuat ia penasaran.


"ssshhhtt" Desis Adya kala sebuah tangan menyentuh pipi kiri nya.


"Siapa yang melakukan nya ?" Revan mulai mengintrogasi.


"ini...tergelincir lalu menabrak pintu" Jelas Adya dengan senyum tanpa beban.


Revan tidak mengindahkan penjelasan Adya.Ia memilih berlalu dan mengambil sebuah kotak pada rak bagian paling bawah.


"kemari !" Titahnya saat duduk di atas sofa.


Kini ada hati seorang gadis yang mulai tersentuh.Dirinya tidak menyangka,jika pria tua yang berstatus suami nya memiliki sisi yang begitu lembut.Bukankah ia akan bahagia jika terus seperti ini.Namun


"Pakailah obat yang ada dikotak itu.Jangan sampai orang melihat dan mengira diriku yang melakukan kekerasan."


dalam satu kali kedipan, bayangan bayangan indah yang melintas di otak Adya langsung menghilang.Sungguh menyebalkan.


"dasar bapak bapak tua" teriak Adya dengan wajah yang ditekuk.Tentu saja teriakan itu hanya didalam hati, karna ia masih sayang.Maksudnya sayang dengan fasilitas makan gratis dirumah ini.


Dengan kasar Adya meraih kotaknya dan membaca kegunaan setiap obat.


Adya selesai mengoleskan obat pada pipi nya, tiba tiba dagunya terasa ditarik hingga wajahnya menoleh kearah sang pelaku.


"Usia ku terpaut jauh di atasmu.Meskipun kau tidak mau jujur,informasi apapun bisa dengan mudah kudapatkan." Ucap Revan dengan suara tegas dan pandangan yang tajam.


glek..


Adya menelan ludahnya kasar.Sungguh bapak bapak satu ini selalu sukses membuat nya terdiam tanpa kata.Ia juga percaya dengan ucapan Revan karna siang tadi,Frans menceritakan sedikit kekuasaan yang dimiliki oleh direktur utama Dominion Corp.


kring kring


Ponsel milik Revan berdering dengan nomor asing .

__ADS_1


"Selamat malam dengan Papa nya Rion ?"


terdengar suara wanita diseberang sana.


"Ada apa?" Tanya Revan tanpa basa basi.


Adya yang memiliki rasa penasaran begitu tinggi, mendekatkan telinganya agar dapat mendengar dengan jelas.


"Gila.Cuek amat bapak bapak satu ini" Gumamnya dalam hati.


"Sebelum nya saya minta maaf karna baru sempat mengabari.Hari ini Rion kembali membuat ulah, bisakah tuan datang ke sekolah besok pagi ?"


"Saya sudah pasrah" Ucap Revan dan mematikan sambungan telepon sepihak.


Adya yakin jika orang yang menelepon akan menggerutu tanpa henti dengan perlakuan pria ini.


"Ada apa ?" Tanya Adya yang sejak tadi ingin tahu.


"Seperti biasa.Rion dengan tingkahnya yang sulit dikendalikan." Ucap Revan santai namun terdapat sebuah beban pada sorot matanya.


Sudah biasa ? Mungkinkah Papa Revan sudah sering menghadapi tingkah laku sang anak ? Lalu Adya ingat dengan dirinya sendiri.Saat SMA ia juga seperti berandalan.


"Apakah sesulit itu?"


"Bagaimana jika aku bisa mendekatinya ?"


Revan menoleh dan mengangkat alisnya, seolah ingin bertanya apa maksud nya.


"maksudku, bagaimana jika aku mendekati Rion dan bisa merubahnya dengan perlahan.


Imbalan apa yang Papa berikan ?"


Adya memang jenis manusia yang selalu ingin memperoleh keuntungan dalam setiap kondisi.


Dasar otak bisnis.


Menurutnya karna ia pernah berada pada posisi yang sama dengan Rion,ia tahu apa yang dialami dan diinginkan nya.


Tidak akan asap jika tidak ada api


Revan menyeringai.Jujur, ia sangat suka dengan keberanian gadis ini.Terlihat memiliki ambisi yang tinggi.

__ADS_1


Setelah berhasil memberi kenyamanan pada si bungsu, kini misi selanjut nya adalah mendekati putra sulung.


......................


__ADS_2