Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung

Gadis Arogan Menjadi Ibu Sambung
16.Amanah Dari Mertua


__ADS_3

~sharelocation~ Club Malam XX


"kenapa harus Bar ?" Tanya Revan dengan dahi mengerut.


"Pihak Jepang yang memutuskan Bos.Jika anda tidak berkenan, saya bisa mengubah nya." Jelas Bram.


"Huff..Dalam perjalanan." Revan memijat kening nya.


Terkadang ia berkhayal untuk menjadi orang biasa saja.Asalah berkecukupan, ia sudah terima asalkan memiliki waktu untuk sekedar istirahat.


Setelah kepergian almarhum papa nya, Revan memilih untuk menikah sembari melanjutkan pendidikan nya.Disela kesibukkan nya, ia juga harus membantu sang Mama untuk mengelola perusahaan.


Dulu ia dipusingkan dengan tingkah laku almarhum istri nya, sekarang berganti dipusingkan dengan tingkah laku putra nya.


Belum selesai dengan itu, kini ia harus berpikir keras untuk menghadapi istri baru yang sudah ia lukai.


Pundaknya terasa seperti sedang tertimbun oleh beban yang tidak ada habis nya.


"Sudah sampai Tuan" Ucap pak sopir yang sudah berada didepan sebuah Bar ternama.


Revan bergegas membuka pintu nya dan berjalan dengan pengawal nya menuju kedalam.Tentu saja rombongan mereka melalui jalur khusus,karna Revan adalah seorang pebisnis kelas atas.


Waktu masih menunjukkan sore hari, suasana Bar belum seramai dan segelap saat malam hari.


Ruangan VIP lantai dua, terkhusus untuk orang orang yang memiliki uang diatas rata rata.


"Selamat datang Tuan Revan." Sambut seorang pria yang akan bekerja sama dengan Revan.


(anggap saja memakai bahasa Jepang WkWkWk)


Mereka berdua melakukan jabat tangan lalu kembali duduk dan membahas poin poin atas kerja sama yang akan dilakukan.


Sesekali asisten dari masing masing pemimpin perusahaan itu juga terlibat perbincangan serius.


"Baik karna kita sudah mencapai kesepakatan, bagaimana jika kita bersenang senang ?" Ucap Asisten Jepang.


"Maaf Tuan, lain waktu saja karna untuk saat ini Tuan belum memiliki waktu yang cukup." Tolak Bram secara halus.


"Tidak perlu sungkan.Apa anda tidak ingin menyambut kedatangan saya yang sudah jauh jauh terbang dari Jepang ?" Rayu pemimpin Jepang dengan wajah yang dibuat buat.


"Tidak masalah." Sahut Revan dengan datar.


Satu gelas kecil berisi cairan alkohol habis dalam satu tenggakan saja.


Dan itu membuat pihak Jepang tersenyum lebar karna menghabiskan alkohol memang budaya mereka sebagai tanda bahagia.


"Bosss." Bram hendak menghentikan Revan sebelum taun nya kacau, namun berulang kali Revan mengatakan tidak apa apa.


Bram sendiri paham, pasti tuan nya sedang berpikir tentang hal kecil saat berada di perusahaan.

__ADS_1


Ia meraih ponsel nya dan mengetikkan sebuah pesan.


Dua botol sudah dikosongkan oleh Revan, sedangkan pemimpin Jepang sudah menghabiskan lebih dari empat botol.


Kini tinggal Bram dan Revan yang masih berada di ruangan itu.Bram menghela napas nya.


"Boss, apa anda masih sadar ?" Ucap Bram menghawatirkan tuan nya.


"hemmm" Revan membalas dengan deheman saja.Pandangan nya nampak jauh lurus ke depan serta kosong.


ting


satu pesan masuk pada ponsel Bram.Dengan segera ia membuka pesan nya dan membaca dengan teliti.Ada raut wajah lega ketika ia mendapatkan poin dari laporan anak buah nya.


"Lihatlah Bos" Bram menyodorkan ponsel nya berharap sang tuan mau mengamati.


"apa ?" Tanya Revan yang enggan untuk bergerak.


"Tentang laporan foto Nyonya muda yang berpelukan dengan pria lain, itu..."


"Adik kandung nya ?" Potong Revan dengan cepat.


"Bos sudah tau ?" Kini berganti Bram yang mengerutkan kening nya.Jika tuan nya sudah tahu,mengapa ia masih gelisah.


"Gue yang salah Bram." Revan berganti pada mode santai.


Bahkan Revan menjadikan Bram sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan nya.


Namun sayang nya, saat Revan sudah memiliki tiga putra, Bram sang asisten belum menemukan jodoh nya sendiri.


kembali pada dua orang atasan dan bawahan yang sudah berubah pada mode non formal.


"Salah kenapa ?" Tanya Bram heran.


"Gue br*ngs*k udah nuduh yang enggak enggak buat istri gue sendiri" Jelas Revan sembari terpejam.


"Gue pengen istirahat.Nggak mau mikirin anak bandel,nggak mau mikirin perusahaan, nggak mau mikirin perempuan.Tapi gue tetep nggak bisa."


Lanjutnya mencurahkan isi hati nya meski dengan suara yang sudah berubah akibat dari alkohol.


"Kalau memang itu bukan kewajiban,Lo boleh lepasin, Re" Balas Bram menerawang jauh ke masa lalu dimana saat mereka masih remaja.


"Gue nggak bisa." Sahut Revan yang sudah merasakan kepalanya berat lalu ia memejamkan matanya.


*


Adya yang sudah dapat mengontrol emosi nya memutuskan untuk kembali pulang.Ia akan menganggap kejadian dirumah tadi tidak pernah terjadi dan ia akan bersikap seperti biasa.


Sampai di mansion Mahanta, ia sudah di tunggu oleh Nyonya Ayu dan juga Raffa diruang tengah.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang ?" Tanya Nyonya Ayu yang melihat kedatangan menantu nya.


"Sudah,Ma" Balas Adya dengan menundukkan pandangan nya.


"Raffa kamu pergi ke kamar dulu ya.Nanti Mami Adya akan menyusul untuk membantu mengerjakan tugas sekolah." Ucap Nyonya Ayu membujuk cucu bungsu nya.


Raffa tanpa penolakan segera beranjak pergi dan sempat menghampiri ibu sambung nya.


"Raffa tunggu Mami, okey ?"


"Siap komandan" Balas Adya sembari mengangkat tangan nya seperti hormat pada kibaran bendera.


Raffa berlari kecil meninggalkan Adya dengan tawa cekikikan.


"Apa Mama ingin berbicara" Tanya Adya yang tahu keinginan mama mertua nya.


"Duduklah di sini" Nyonya Ayu menepuk sofa disebelahnya.


"Apa kalian bertengkar ?"


"Siapa ?" Kening Adya mengerut.


"Kamu dan suami mu, memang siapa lagi."


"ohh, bukan bertengkar hanya terjadi sedikit salah paham saja, Ma" Jelas Adya mengerti arah pembicaraan mama mertua nya.


Nyonya Ayu tersenyum.Ada rasa bangga tersendiri dihati nya.Seusia Adya yang suka mengadu hal sepele kepada orang tua,namun menantu nya memilih untuk bersikap dewasa.Ia semakin yakin jika menantu nya ini memang ditakdirkan untuk mendampingi putra semata wayang nya.


"Selisih paham antara suami dan istri itu sudah hal biasa.Menenangkan diri masing masing itu juga dibenarkan, namun setelah nya harus dibicarakan dengan kepala dingin agar tidak terjadi keretakan."


"Mama percayakan putra mama dengan kamu Adya" Ucap Nyonya Ayu sembari mengelus bahu menantu nya.


Deg


Adya seperti mendapatkan amanah yang besar untuk ia jalankan.Apakah Revan memang jodoh nya, namun dalam hati Adya, ia menginginkan sebuah pernikahan yang utuh tanpa berulang.Tamak kah dirinya jika berharap selamanya akan menjadi menantu keluarga Mahanta.


"Maaf jika sikap Adya masih kekanakan,Ma" Ucap Adya dengan lirih.


"Hanya perlu mengontrol nya sedikit."


Setelah selesai melakukan sesi bicara dengan mama mertua, kini Adya memasuki kamar yang terlihat gelap tanpa penerangan.


Jika lampunya belum menyala, apakah Revan tidak ada disini.Lalu di mana ?


Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu, tentang Revan ia akan menanyakan pada orang rumah nanti saja.


Jangan lupa like dan komen nya kakak


terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2