
Pintu ruangan itu terbuka, Dokter itu menghampiri Erlan yang sedang duduk memainkan ponselnya.
"Maaf apa anda suaminya?" Tanya Dokter itu kepada Erlan
Erlan yang bingung dan menanti jawaban dari Dokter apa penyakit Nayra hanya bisa mengangguk.
"Istri anda terkena Kanker otak stadium 3, saya harap bisa dilakukan operasi secepatnya sebelum memasuki stadium akhir"
Deg
Bagai tersambar petir disiang hari disaat mengetahui wanita yang dicintainya mengidab penyakit kanker.
"Dokter tidak bercanda kan? Apa penyakitnya bisa sembuh Dok?" Tanya Erlan menggebu
"Saya tidak bercanda Tuan, Insya Allah penyakit bisa disembuhkan karna belum memasuki tahap akhir, jadi saya harap Istri anda melakukan operasi segera" Jelas Dokter itu lalu pergi meninggalkan Erlan.
Erlan memasuki ruang rawat itu dia duduk didekat Nayra yang terbaring lemah.
Erlan menggenggam tangan Nayra dia menatap wajah Nayra yang pucat itu dan berkata "Kenapa kamu merahasiakan semua itu kepadaku? Apa karna biayanya? Kalau iya kenapa tidak meminjam uangku saja." Gumam Erlan sambil mengelap air matanya
"Kau ingin membuatku menangis lagi? Lihatlah aku sudah menangis."
Wajah, hidung dan mata Erlan memerah karna menangis, Jangan heran Erlan mah cengeng.
__ADS_1
Erlan keluar dari ruang rawat dia menelpon Mamanya untuk memberitahu penyakit Nayra dan menyuruhnya kesini.
Erlan duduk dikursi sambil menunggu kedua orang tuanya datang, tidak lupa dia juga menelpon kedua orang tua Nayra karna mereka yang harus lebih tahu.
"Astagfirullah, apa yang terjadi Nak?" Kata Mama Arleya sambil berlari kecil.
Erlan berlari memeluk Mamanya sambil menangis dan berkata "Ma, Nayra. Sakit"
Papa Dallin menarik kerah baju Er agar menjauh dari sang Istri, Er yang dijauhkan itu memilih memeluk Papanya sambil menangis.
"Berhenti menjadi Anak kecil Er, kamu itu sudah besar gak malu apa dilihat orang" ujar Papanya mengelus puncuk kepala Er.
"Terserah."
"Mama, Nayra sakit. Aku sudah terlanjur cinta sama dia, kalau---" Erlan berbicara sambil menangis dia tidak ada malu sama sekali membicarakan cintanya kepada orang tuanya, Kalau othor sih malu wkwkwk :γ.
Sedangkan orang tuanya antara sedih dan mau ketawa melihat sikap anak laki lakinya yang terlalu cengeng.
"Sudah jangan nangis, malu tuh sama orang. Kita lakukan operasi secepatnya ya."
Seorang wanita menghampiri ketiga orang itu lalu memberikan kertas untuk ditanda tangani, Erlan dengan cepat menandatangani kertas tersebut.
Orang tua Nayra pun sudah datang mereka sangat berterima kasih kepada orang kaya itu yang mau membiayai pengobatan Nayra.
__ADS_1
Orang tua Nayra sangat terkejut melihat Anak semata wayangnya terbaring lemah dibrangkar pasien, Orang tuanya bahkan tidak tahu sama sekali dengan penyakit Nayra.
Operasi akan dilakukan sedangkan semua orang hanya bisa berharap kepada yang diatas agar operasinya berjalan lancar.
Erlan selalu berdoa kepada yang Maha Kuasa agar Nayra diberi kesembuhan dan operasinya berjalan lancar.
Dokter dan para suster menyiapkan alat alat untuk operasi pengangkatan tumornya.
Pengoperasian dilakukan lebih cepat asal ada uangnya. Kanker Otak stadium 3 sudah memasuki kanker ganas yang harus ditangani secepatnya.
Dokter dan suster memakai pakaian berwarna hijau dilengkapi sarung tangan dan masker, mereka kini sudah memasuki ruang operasi.
Semua orang tak berhenti henti berdoa agar operasinya selamat dan berjalan dengan sukses, begitupun dengan Erlan air matanya keluar satu persatu menetes begitu saja membuat dia ingusan.
"Kenapa harus ingusan sih" gumam Erlan sambil mengelap hidungnya.
Hanna yang baru mendapatkan kabar bahwa Nayra mengidap penyakit kanker otak dan sedang terbaring lemah di atas brangkar membuat Hanna mendatangi Rumah Sakit dengan sangat cepat.
Hanna berlari di koridor dengan tergesa gesa tanpa melihat sekitarnya sehingga dia menabrak seorang lelaki.
Hanna mendongak melihat lelaki yang jauh tinggi darinya, dia menatap lelaki itu sengit lalu pergi meninggalkannya, namun. Sialnya lelaki itu menarik lengan ramping Hanna.
Hargai aku :)
__ADS_1