
Dia begitu sedih mendengar kabar bahwa Nayra kritis, pikiran kotor mulai muncul dikepalanya membuat dia tidak bisa berpikir cerdas.
Erlan duduk dikursi kosong yang berada dihalaman rumah Sakit. Dia menyentuh pelipisnya berharap pikirannya tidak sejauh itu, memikirkannya saja sudah sedih apalagi kehilangan dia untuk selamanya, rasanya Erlan sudah tidak sanggup.
Rumah sakit adalah tempat yang paling menyedihkan dimana tempat air mata menetes, mendengar kabar duka dan sebagainya. Rumah Sakit adalah tempat yang dijauhi masyarakat berharap untuk tidak sakit dan tidak pernah mendatangi tempat itu namun nyatanya takdir tak bisa dilawan.
Erlan membeli Air mineral untuk menghilangkan rasa dahaganya yang sejak tadi terasa dia meneguknya sampai tandas tak tersisa kini didalam perutnya hanyalah air kosong.
Kini sudah larut malam orang tua Nayra dan orang tua Erlan sudah pulang terlebih dahulu, Sebenarnya orang tuanya ingin menunggu sampai Nayra sadar namun Erlan melarangnya melihat orang orang yang sudah lanjut usia itu membuat hatinya tidak tega.
Orang tua Nayra sempat menolak untuk meninggalkan rumah Sakit namun karna Erlan membujuknya mereka pun akhirnya pulang.
Hanna pun sudah pulang, dia juga berat hati untuk meninggalkan rumah Sakit melihat keadaan sahabatnya yang terbaring lemah diatas brangkar, Sedih sudah pasti namun karna dia pulang lebih awal dari kantornya bahkan hanya beberapa jam dia berada dikantornya membuat dia harus menyelesaikan semua berkas berkas yang belum dia sentuh sama sekali apalagi semua tugas itu diserahkan kepadanya, dia hanya Karyawan biasa yang selalu dibuat sesuka hati oleh karyawan yang derajatnya lebih tinggi dari dirinya.
Kini hanya Erlan yang duduk termenung dirumah Sakit yang sunyi, dia berada diruang rawat sang pujaan hati, duduk disofa sambil menatap wajah Nayra yang pucat, kepalanya diperban rambutnya dipotong menjadi pendek dan di pasang selang selang alat rumah Sakit.
Erlan duduk sambil menatap Nayra dengan mata sembabnya sambil mendengarkan lantunan ayat ayat suci Al quran, entah kapan terakhir kalinya dia mendengar ayat suci ini. Erlan terlalu sibuk dengan urusan dunia sampai melupakan bahwa hidup itu tak selamanya.
Rasa penyeselan itu sudah pasti ada, Erlan kecewa kepada diri sendiri yang terlalu buruk, semua orang menatapnya dengan kagum sedangkan dirinya menatap dirinya dengan sangat buruk.
Erlan beranjak dari tempat duduknya dia mendekati Nayra, membelai pipi Nayra pelan lalu beralih menggenggam tangan Nayra dengan lembut.
Dia duduk sambil menggenggam tangan Nayra. Merenung, sedih, tertawa selalu terukir diwajahnya yang terlihat menyedihkan.
Sudah jam setengah dua belas namun Nayra tak kunjung bergerak, Erlan menyentuh pelipisnya lalu dipijat pijat.
Erlan menoleh ke arah Nayra dia memperhatikan tangan Nayra yang terasa bergerak dia ingin memastikan apa itu hanya halusinasi atau nyata, Erlan dapat merasakannya karna sejak tadi dia masih menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Erlan tersenyum melihat tangan Nayra yang bergerak lalu bergumam "Kau sudah bangun Nayra?."
Erlan menekan tombol merah didekat brangkar, pintu dibuka. Dokter dan Suster memasuki ruangan itu lalu memeriksa keadaan Nayra.
"Alhamdullilah kini Istri anda sudah melewati masa kritisnya, saat ini keadaannya sudah membaik."
"Terima kasih, Dok." Kata Erlan lalu Dokter dan Suster itu keluar dari ruang rawat. Erlan kembali duduk dan mengelus pelan telapak tangan Nayra lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.
Keesokan harinya.....
Sang mentari sudah mengeluarkan cahayanya yang terang benderang membuat sang empuh terbangun dari tidurnya, Ya dia adalah Erlan yang terbangun dari tidurnya dia tertidur dengan keadaan duduk. tubuhnya terasa sakit terutama bagian leher namun lebih sakit disaat kehilangan dirimu yang sangat berharga.
Erlan melihat ke Nayra ternyata sang pujaan hati masih tertidur, Erlan kekamar mandi dan membersihkan wajahnya lalu pergi keluar untuk membeli sarapan.
Setelah beberapa menit Erlan kembali lagi kedalam ruang rawat dia melihat Nayra yang sedang duduk sambil menyender sambil memejamkan matanya dilihatnya ada Dokter dan Suster yang sedang berdiri didepan Nayra sambil berbicara, Entah kapan Nayra terbangun yang pasti Er tidak tahu.
"Tidak apa apa, kini kondisi istri anda sudah membaik, saya kira istri anda akan mengalami Amnesia tapi ternyata tidak! kalau begitu saya permisi." Jelas Dokter itu lalu pergi sedangkan Susternya sedikit berbincang kepada Erlan.
"Istri Anda tidak ada rasa mual dan muntah, jadi Anda bisa memberi air putih sedikit demi sedikit begitu juga dengan makanan" jelas Suster itu lalu pergi meninggalkan ruang rawat itu.
Erlan menuangkan air putih kedalam gelas lalu mengangkat gelas tersebut dan mendekati Nayra yang sedang duduk sambil menyender.
Er ikut duduk diatas brangkar menggenggam tangan Nayra dengam lembut lalu berkata "Ini, minumlah."
Nayra membuka matanya menatap Erlan dengan mata sayu. Erlan mendekatkan gelas ke bibir Nayra agar memudahkan Nayra meminum air putih, otot tubuh Nayra masih begitu lemas untuk memegang gelas yang berisikan air 200 ml.
Sedikit demi sedikit air putih itu tandas diteguk Nayra secara perlahan dengan bantuan Erlan.
__ADS_1
Erlan menaruh gelas itu diatas nakas lalu duduk didekat Nayra. Digenggamnya tangan Nayra, entah kenapa dia ingin selalu memegang Nayra takut wanita itu pergi dari sisinya.
"Apa kau baik baik saja?" Tanya Erlan.
"Hemm"
Erlan memaklumi, mungkin Nayra masih merasakan sakit dari operasi itu, apalagi obat bius yang diberikan Dokter itu baru bisa menghilang selama 24 jam atau lebih.
Erlan merogoh benda pipih disaku celananya, lalu menekan nomor orang tua Nayra. Dia ingin mengabarkan jika Nayra sudah sadar dari masa kritis dan operasinya.
"Halo Tante." Ucap Er ketika telepon diangkat.
"Iya, Nak. Ada apa?" Jawab Ibu Nayra disebrang telepon.
"Tante kapan kesini?" Tanya balik Er.
"Ini lagi dijalan, mungkin beberapa menit lagi sampai. Emangnya ada apa, Nak.?
"Gak ada apa apa Tante, yaudah aku tutup teleponnya."
"Iya." Telepon itu berhenti, lalu Erlan menghubungi kedua orang tuanya untuk menyampaikan kabar bahagia bahwa Nayra sudah bangun dari masa kritisnya.
Kini Erlan berada diluar ruang rawat, dia tidak diizinkan lagi untuk masuk karna pasien harus istirahat, didalam sudah ada Suster yang mengecek kondisi Nayra.
Kini Suster itu sedang menyuapi Nayra dengan telaten, kesabaran harus ia hadapi melihat sikap Nayra seperti kanak kanak. Nayra diperbolehkan makan karna tidak ada rasa mual ataupun muntah. Namun makanan yang harus dia makan tidak boleh sembarangan, harus banyak sayuran serta makanan yang mengandung banyak vitamin, mineral, karbohidrat, antioksidan, seperti buah buahan terutama Jeruk, pepaya, anggur, beri, melon hingga tomat.
Pertama yang datang terlebih dahulu, yaitu orang tua Nayra. Senyum semringah terpancar jelas dibibir mereka disaat melihat anak semata wayangnya sudah terbangun dari masa kritisnya.
__ADS_1