Gadis Miskin Milik CEO

Gadis Miskin Milik CEO
Lebih baik pergi :(


__ADS_3

Erlan terbakar api cemburu melihat Nayra senyum terus menerus kepada lelaki sialan itu.


Nayra dan Erlan sudah sampai diruang rawatnya. Erlan membantu Nayra berdiri untuk duduk diatas brangkar namun baru saja dia menginjakkan kedua kakinya diatas lantai. Dia langsung lemas sehingga jatuh tersungkur tapi untung saja dengan sigap Erlan membantu Nayra sehingga wanita itu tidak terjatuh diatas lantai.


"Auh." Desis Nayra


Erlan membantu Nayra terlebih dahulu untuk duduk diatas brangkar, bahkan tangan dirinya sangat lemas untuk digunakan seperti tidak berfungsi.


"Kau tunggu disini ya." Kata Erlan lalu pergi dari ruangan tersebut. Dia berlari tergesa gesa mencari dokter padahal tombol darurat disitu masih tertampang jelas menunjukan body nya.


Dokter dan Erlan sudah datang dan masuk kedalam ruang rawat Nayra. Mereka melihat Nayra yang masih duduk diatas brangkar tanpa merubah posisi sama sekali.


Dokter yang dibawa Erlan adalah Dokter bedah saraf yang menemani Nayra untuk melakukan pengobatan.


Dokter itu mendekati Nayra lalu berkata "Ada apa Mba?"


"Tidak tahu Dok. Aku mencoba menggerakan kaki kanan dan tangan kananku, tapi tidak bisa." Jawab Nayra lesu.


"Coba gerakan terlebih dahulu." Dokter itu mengamati Nayra yang sedang kesusahan menggerakan anggota tubuhnya.


"Apa yang anda rasakan?"


"Tubuh saya bagian kanan mati rasa Dok. Sangat sulit digerakan dan susah menjaga keseimbangan."


"Sudah cukup. Nyonya tolong baring disini dulu ya." Kata Dokter itu lalu mengambil sebuah alat lalu menghidupkannya dan dibantu Suster yang ikut bersama dia tadi.


Alat itu memeriksa kaki dan tangan kanan Nayra yang merasa mati rasa itu. Sedangkan Dokter tadi memperhatikan alat monitor yang memperlihatkan tulang Nayra.


Dokter itu meegang kaki Nayra dan tangan Nayra, untuk merasakan apa yang terjadi kepada pasiennya tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pemeriksaan. Dokter itu kembali bicara kepada Erlan yang memang masih berada disitu.


"Istri Anda mengalami kelumpuhan akibat penyakitnya tersebut-" ucapan Dokter itu terpotong disaat Erlan juga berbicara.


"Apa! Bagaimana bisa terjadi Dok? Awal dia bangun dari masa kritisnya dia baik baik saja, bahkan tidak mengalami muntah ataupun mual. Lalu kenapa tiba tiba di diagnosis kelumpuhan?" Tanya Erlan menggebu. Sedangkan Nayra dia hanya bisa tertunduk menahan air mata yang akan keluar dari matanya.


Dokter itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia sudah terbiasa dengan orang yang seperti Erlan. Tidak bisa menerima takdir padahal dia sendiri juga melihatnya dengan mata telanjang.


"Kanker otak menyerang sistem pusat pengendali tubuh, sehingga pengidap kanker otak yang telah berada pada tingkatan atau stadium lanjut akan mengalami kesulitan untuk melakukan aktifitas fisik. Pada beberapa kasus kanker otak yang ekstream, pengidap hanya dapat menghabiskan waktu dengan berbaring di ranjang dengan bantuan life support dari rumah sakit.


"Jadi maksudmu Nayra tidak bisa lagi sembuh?" Tanya Erlan dengan emosi, tak bisa dipungkiri dia kecewa dengan Dokter itu karna Nayra belum bisa sembuh dengan waktu yang cepat.


Disaat waktu seperti ini otak Erlan terkadang tidak nyambung karna emosinya sendiri. Dokter itu hanya bisa sabar dengan menjelaskannya secara rinci agar pemuda tersebut mengerti.


"Bagaimana sih Dok, saya sudah bayar mahal mahal tapi Nayra malah mengalami kelumpuhan?" Lagi dan lagi Dokter itu menghela nafas yang panjang untuk menanggapi sikap Erlan yang membuat darahnya naik.


"Kondisi penderita yang habis di operasi untuk mengangkat tumornya bisa berbeda beda, seringnya memang tidak langsung pulih seratus persen. Kondisi Istri Anda yang mengalami kelumpuhan dibagian sisi tubuhnya, hingga terganggu ingatannya, pola pikir, sikap dan perilakunya, bisa saja merupakan efek sisa dari tumor maupun operasi yang beliau lakukan. Bisa saja kondisi ini akibat gangguan skizoafektif, gangguan mental organik, dan banyak lagi gangguan medis lainnya yang bisa menyebabkan kelumpuhan tersebut."


"Lalu, kelumpuhan ini bersifat permanen atau tidak?" Tanya Erlan dengan suara paraunya.


"Ini belum dipastikan, saya harap Anda melakukan terapi kepada saya agar kelumpuhan tersebut tidak permanen."


"Tapi, bagaimana jika kelumpuhannya malah bersifat permanen padahal sudah melakukan terapi?"


"Itu bukan kehendak saya, tapi kehendak Tuhan. Saya hanya bisa membantu bukan berarti mengubah takdirnya. Saya selalu berharap semua pasien saya mendapatkan kesembuhan, tapi jika itu takdir Tuhan saya tidak bisa melakukan apa apa."


Semua Dokter akan berharap semua pasiennya akan sembuh. Dia hanya Dokter tapi bukan Tuhan. Dia hanya bisa menolong tapi bukan merubah takdir.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"

__ADS_1


"Istri Anda bisa melakukan terapi kepada saya seminggu tiga kali. Dan jika Istri Anda mengalami gangguan mental lebih baik periksa juga ke psikiater. Buat Istri Anda tenang, ajak beliau bicara, jadilah pendengar yang baik atas keluh kesah beliau, jangan pernah membentaknya atau mengacuhkannya karna akan memperburuk keadaan.


"Beri Istri Anda makan makanan bergizi seimbang, utamanya yang mengandung kaya asam folat, vitamin B, vitamin C, asam lemak, omega 3, dan nutrisi lain yang baik buat otak. Buat suasana lingkuangan rumah yang nyaman untuk Istri Anda istirahat.


"Lalu, belajar berjalan, baik dengan alat bantu ataupun tidak. Jika harus menggunakan kursi roda, pengidap perlu melatih diri agar bisa menjalankan kursi rodanya sendiri. Berinteraksi dengan orang lain untuk memulihkan kemampuan sosialisasi. Dan, melatih fungsi komunikasi agar bisa kembali normal."


Air mata yang sejak tadi ia tahan kini keluar. Nayra menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.


'Kenapa ini semua terjadi kepadaku? Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku? Kenapa hah?' teriak histeris Nayra didalam hati.


'Kenapa penyakit selalu datang menghampiriku? Kenapa aku tidak mati saja. Hiks hiks.' Lagi dan lagi Nayra berucap didalam hati, ia sudah putus asa dengan apa yang terjadi kepadanya.


"Baiklah saya permisi." Dokter itu pergi terlebih dahulu karna sudah melihat keluarga pasien. Dia malas jika berada disitu melihat drama keluarga dan juga kebanyakan keluarga pasien selalu menyudutkannya. Padahal takdir itu sudah ada ditangan Tuhan tapi kenapa dia yang selalu disalahkan?


Erlan melihat ke Nayra dia menyadari bahwa Sang pujaan hati sedang menangis secara diam diam. Erlan mendekatinya lalu memeluknya.


Nayra merasakan pelukan hangat itu, dia mendongak menatap wajah tampan Erlan yang tersenyum kepadanya.


Nayra hanya bisa membalas pelukan Erlan menggunakan tangan kirinya karna tangan kanannya sudah mati rasa dan sangat sulit untuk digerakan.


"Jangan menangis semua pasti ada jalannya." Nasehat Erlan yang membuat wanita berambut coklat itu bertambah tangisnya.


"Hiks - hiks, kenapa takdirku ini sangat buruk? Barulah aku merasakan kebahagian tapi kini aku akan tersiksa kembali." Tangis Nayra pecah, tak bisa dipungkiri dia sangat sedih dengan nasibnya seperti ini.


Kini dia sudah tidak percaya lagi cintanya kepada Erlan karna melihat kondisi fisiknya yang seperti ini.


.


.

__ADS_1


Akhir akhir End, Maaf jarang up dan Terima kasih untuk kalian yg selalu nungguin ceritaku.


I love you wherever you are.


__ADS_2