
Erlan merasakan ada yang memegang pundaknya. Dia menoleh, ternyata itu adalah Nayra. Tetapi Erlan memilih menjauh. Nayra mendekati Erlan, tetapi karna merasa bahwa dirinya bersalah dia tidak mau mendekati Nayra karna dirinya tidak berguna dan merasa tidak pantas.
"Kenapa Erlan? Kau tidak ingin memelukku?" Nayra tetap menunggu pelukan dari Erlan. Nayra tersenyum sambil menatap Erlan dan masih menunggu pelukan dari Erlan. Erlan menitikkan air matanya dan berlari memeluk Nayra dengan erat.
"Nayra, maafkan Aku, tolong maafkan Aku. Aku minta maaf ... Maafkan Aku yang tidak berguna untuk mu. Maaf ...." berkali kali Erlan meminta maaf kepada Nayra, dia meminta maaf sambil menangis, dia merasa bersalah dan sangat merasa tidak berguna.
Nayra mengelus punggung Erlan dan berkata. "Jangan menjadikan ilusimu untuk merusak dirimu sendiri. Kau tidak bersalah, kau tidak perlu meminta maaf ini sudah menjadi takdir kita."
Nayra melepaskan pelukan nya, menyentuh wajah Erlan dan mengusap air mata yang sejak tadi mengalir.
"Carilah wanita yang bisa membuat mu bahagia, jangan terlalu lama bersedih. Aku tidak suka melihat mu menangis," ujar Nayra yang masih mengusap air mata Erlan. "A–aku sangat bahagia jika kau bersama wanita lain, berbahagialah dan carilah cahaya hidupmu." Nayra melanjutkan ucapannya. Nayra tersenyum tetapi tak terasa air matanya menetes.
"Aku tidak mau." ujar Erlan mengusap air mata Nayra, lalu memeluknya. Tidak disangka jalan takdir mereka harus seperti ini, yaitu berpisah secepat ini.
Nayra melepaskan pelukan nya, dan mengusap air matanya menggunakan pakaian putih yang ia kenakan saat ini. Dia tersenyum dan berjalan pergi menuju cahaya yang sangat terang.
Erlan mengejar Nayra dan memeluk Nayra. Lalu berkata, "Aku tidak bisa meninggalkan mu."
"Tidak bisa. Aku harus pergi, Er." Nayra melepaskan pelukan itu dengan paksa dan menuju cahaya tersebut tanpa memperdulikan Erlan.
"Kita bisa pergi bersama, Nayra." ucap Erlan. Nayra berhenti berjalan dan menoleh kebelakang, menatap Erlan dengan senyum.
"Maafkan Aku, ini untuk kebaikan mu. Berbahagia lah. Banyak orang yang menunggumu." Nayra melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Erlan.
Erlan mengejar Nayra namun tidak sempat. Dia terjatuh dengan lemas, dan menangis. Inikah rasanya ketika kehilangan seseorang?
"Maafkan Aku yang tidak bisa menjadi Malaikat mu!" teriak Erlan dengan sekeras mungkin dan melanjutkan kembali kata katanya, "Kenapa kau tidak ingin mengajak ku? Kenapa kau ingin pergi sendirian? Aku sangat mencintaimu! Jangan tinggalkan. Aku mohon ... Kembalilah kesisiku. Kenapa? Kenapa takdir ku harus seperti ini? Tolong berubah, Aku sangat lelah. Aku lelah, kenapa kehidupan ku sangat tidak menyenangkan seperti ini? Kenapa?"
Erlan tidak merasakan semangat nya hidup. Dia ingin menyerah saja, dia sudah sangat lelah.
__ADS_1
Sedangkan di dunia nyata, orang tua Erlan hanya bisa melihat dari balik kaca sambil menangis ketika melihat anaknya yang sudah dekat dengan ambang kematian. Jantungnya melemah, dan sedang dilakukan Defibrillator untuk pengejutan jantung supaya detak jantungnya meningkat.
Sedangkan di dunia Erlan, dia mendengar suara isak tangis orang tuanya. Dia melamun sejenak serta menutup telinga dan matanya lalu teringat kembali ucapan Nayra.
Detak jantung Erlan kembali normal. Orang tua Erlan mengucapkan syukur karena anaknya masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Satu jam setelah itu, Hanna mendatangi rumah sakit keluarga Erlan ketika mendapatkan kabar bahwa Erlan mengalami kecelakaan. Dirumah sakit dia mencari Nayra dan menanyakan Nayra dimana kepada orang tua Erlan. Namun tetap saja tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Mama Erlan memberitahu perihal tengkorak yang ditemui oleh Polisi yang sedang dilakukan autopsi. Hanna yang mendengar tentu saja terkejut. Dia menunggu dirumah sakit dan berharap bahwa Nayra tidak terjadi apa apa.
Hanna tidak bisa tertidur dirumah sakit, tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Berkali kali Mama Erlan menawarkan ruang perawatan untuk Hanna sebagai tempat istirahat tetapi selalu ditolak oleh Hanna.
Tetapi ketika Hanna mulai merasa sangat mengantuk, dia pun tertidur di kursi sendirian. Namun tidak sampai setengah jam Hanna terbangun dengan tiba tiba, keringat dingin mengalir ditubuhnya serta sakit kepala yang tiba tiba.
Hanna meminum susu jahe yang diberikan oleh Mama Erlan serta sarapan yang diberikan untuknya, sambil menelpon Ibu Nayra kabar yang ia dapatkan. Hanna tetap menyuruh Ibu Nayra untuk menunggu, karna mendapatkan hasil tes laboratorium membutuhkan waktu beberapa hari, setelah mendapatkan hasil tes Hanna akan menelpon lagi.
Hari kedua pun tiba, hasil autopsi akan keluar hari ini. Hanna sudah menghubungi Ibu Nayra untuk datang ke rumah sakit. Semua orang sudah berkumpul, hanya Erlan yang masih koma dirumah sakit.
Hanna mengambil hasil tes tersebut dan mulai membacanya. Mulut Hanna menganga tidak percaya, ia hampir saja terjatuh tapi dengan sigap orang dibelakangnya memegang pundaknya, yaitu Alfred.
Hanna terduduk di kursi dan mulai menangis, ia membuang hasil tes tersebut dengan melemparnya sembarangan. Dia menarik rambutnya sendiri ketika kepalanya merasakan sakit, tapi tetap saja air mata terus mengalir.
Kedua orang tua Erlan juga merasakan hal yang sama. Mereka juga turut bersedih atas meninggalnya Nayra secara tragis.
Pihak keluarga korban ingin korban dimakamkan ditempat pemakaman terdekat dirumahnya. Dan polisi menyetujui hal tersebut karna wewenang keluarga Harrison yang tidak boleh dibantah.
Proses pemakaman juga dibantu oleh Keluarga Erlan. Setelah jasad telah dimakamkan, semua orang berdoa supaya jasad tersebut dapat tenang disana. Disaat semua orang sudah pulang, orang tua Nayra masih menangisi makam anaknya karna tidak bisa menerima kenyataan. Orang tua Erlan pamit untuk pulang terlebih dahulu karna langit terlihat mendung.
Hujan pun turun dengan sangat deras. Semua orang telah pulang, hanya Hanna yang masih dimakam tersebut, dia menatap kuburan temannya sendiri dengan tatapan kosong. Hujan yang deras membasahi seluruh tubuh nya, namun dia tidak beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
Hanna memeluk batu nisan tersebut dengan menangis sekencang kencangnya. Suaranya bercampur dengan suara hujan yang deras. Pakaian yang ia kenakan menjadi kotor akibat tanah yang basah.
"Hikss ... Nayra, kenapa kau meninggalkan Aku? Kita sudah berjanji'kan untuk selalu bersama dalam suka dan duka? Ta–tapi kenapa kau pergi sendirian? Kita sudah berjanji untuk melewati rintangan bersama sama tapi kenapa kau menghadapi semuanya sendiri? Nayra ... Kembalilah Aku mohon." Hanna memeluk batu nisan tersebut sambil bergumam.
"Aaaarrrgghhh!!! Nayra kembalilah kumohon." Hanna berteriak sekencang mungkin walaupun suaranya bercampur dengan hujan.
Hanna menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, dan menangis secara histeris. Dia tidak peduli terhadap derasnya hujan dan kotor nya tanah yang sedang ia duduki sekarang.
Hanna mendongak keatas ketika merasakan tidak ada air hujan yang menyentuh kepalanya. Hanna tidak peduli terhadap orang yang memegangi payung untuk nya.
Orang yang memayungi Hanna, menarik paksa tangan Hanna untuk berdiri. Hanna yang sudah berdiri sontak melepaskan tangannya dan genggaman orang itu.
"Mau sampai kapan duduk disitu?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Alfred Dallin Harrison anak tertua dari keluarga Harrison.
"Siapa kamu dan mau apa kamu, Saya tidak peduli!" tegas Hanna yang mau duduk kembali ditanah dan menemani temannya dari dinginnya hujan.
Namun tangannya kembali dicengkram oleh Alfred untuk mengurungkan niatnya, dan Alfred berkata. "Mau sampai kapanpun Dia tidak akan kembali. Berhentilah menangis, bodoh!" bentak Alfred yang lama kelamaan kesal terhadap wanita didepannya.
Hanna menarik tangannya kembali dan mengucapkan selamat tinggal terhadap makam temannya, "Terimakasih atas niat baiknya." ujar Hanna kepada Alfred lalu meninggalkan dia seorang diri dan pergi dari sana menggunakan motornya, maupun badai atau hujan tidak ada yang bisa menghalanginya jika dirinya sedang hancur hancurnya.
Setelah seminggu sejak kejadian tersebut, kondisi Hanna semakin memburuk dan selalu cuti bekerja selama ini. Dia mengurung dirinya sendiri didalam apartemen. Tidak peduli yang terjadi kepada dirinya, dia hanya butuh ketenangan.
Begitupun juga dengan Erlan, dia sudah sadar dari komanya. Dan juga merasakan hal yang sama seperti Hanna, selalu mengurung dirinya di kamar pasien.
Tatapannya selalu kosong, dan mood nya yang sering berubah ubah. Selalu tiba tiba menangis, dan tertawa sendiri tapi juga selalu marah sendiri. Orang tua Erlan takut bahwa anak kesayangannya tersebut menjadi gila gara gara musibah yang menimpa anaknya.
Dan memutuskan untuk mengirim Erlan ke pulau milik pribadi keluarga Harrison yang letaknya ditempat kelahirannya sendiri.
...–Tamat...
__ADS_1
"Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia menunggu cerita ini, walaupun update nya sangat lama sekali. Saya mohon maaf jika endingnya tidak sesuai dengan keinginan kalian, sekali lagi Terimakasih." –Author