
"Tentu saja boleh! Tapi aku belum memiliki perasaan apapun terhadap dia." Arsyan berbohong kepada Nayra, dia tidak ingin terlalu cepat mengambil keputusan yang nanti membuat dirinya menyesal.
Arsyan mengantar Nayra sampai ke ruang rawatnya, setelah itu dia pamit untuk ke ruang tempat Laura.
"Tunggu sebentar, Arsyan." ujar Nayra sebelum lelaki itu menjauh.
"Ada apa Nayra?"
"Apa kabar?" Nayra bertanya sambil tersenyum manis kepada Arsyan. Teman? Yah, dia juga rindu dengan yang namanya teman.
"Senyum itu?" Arsyan bergumam didalam hati. "kenapa harus tersenyum juga."
Senyum Nayra sangat sulit untuk dilupakan bagi Arsyan. Senyum manisnya membuat jantung Arsyan berdebar. Senyuman yang membuat dirinya candu.
"Kenapa bengong? Apa ada yang salah dengan senyumku?" Nayra bertanya melihat Arsyan yang no respon sama sekali.
"Ah, tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu tadi. Kabar ku baik, Nayra." Arsyan menjawab pertanyaan Nayra dengan sedikit cengengesan.
Visualnya Arsyan.

__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku masuk dulu." Nayra masuk kedalam ruang rawatnya dan Arsyan pergi dari tempat itu.
Sedangkan Perawat bernama Siti itu mencari Nayra. Ada rasa cemas di dalam hatinya, lalu dia pergi ketempat ruang Nayra. Dan syukurlah ternyata Nayra berada disini.
Dia sudah menemukan Nayra berada, kini Perawat tersebut sedang duduk sambil mengatur nafasnya. Sedangkan Nayra acuh tak acuh terhadap wanita ini.
Malam pun tiba. Nayra kini sedang duduk sambil menatap langit lewat jendela. Dia memandangi ribuan bintang yang sedang menyinari langit yang gelap.
Dimalam hari yang sunyi.
Angin kencang menerpa wajahku.
Sambil menatap langit yang gelap.
Untuk menerangi langit yang gelap.
Tetapi, mereka menatapku dengan kesedihan.
Aku tak bisa apa apa. Hanya diam membisu, itulah yang kulakukan.
Nayra hanya diam, sambil memandangi bintang bintang tersebut. Tetapi, lamunannya tiba tiba hilang disaat merasakan tangan seseorang yang sedang menutup kedua matanya.
__ADS_1
Nayra menyentuh tangan yang menutupi matanya. Lalu melepaskan tangan itu dari matanya secara perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah wajah Erlan yang sedang tersenyum manis kepada dirinya, sontak saja membuat wajahnya memanas dan salah tingkah.
"Aku kembali" Erlan berkata sambil tersenyum "kau pasti rindu denganku." lanjutnya lagi yang tetap berhadapan kepada Nayra.
Wajah imut yang dimiliki Erlan, membuat Nayra gemes. Ingin sekali dia menarik pipi Erlan lalu menciumnya. Namun itu hanya didalam mimpi yang tak bisa diwujudkan.
"Apa kau mabuk?" Alih alih membalas perkataan Erlan. Nayra malah bertanya hal yang tidak masuk akal sama sekali.
"Isshh" cemberut "kenapa kau berfikir seperti itu?"
"Malam ini kau lebih lucu dan gemesin. Sehingga aku tak tahan ingin menarik pipimu." setelah berkata Nayra menarik pipi Erlan sesuai kemauan dia.
"Hahahah, kau sangat lucu Tuan." Nayra tertawa puas setelah menarik pipi Tuannya itu.
Tarikan itu tidak sakit sama sekali. Yang Erlan rasakan hanyalah rasa melar dipipi. Dihati Erlan dia sangat bahagia melihat Nayra tersenyum puas, dengan hanya menarik pipinya.
"Udah selesai narik pipinya? sekarang giliran aku. " Erlan menarik pipi Nayra dengan gemes. Tak ada rasa sakit sama sekali, karna Erlan menariknya dengan lembut.
"Ihh, lepasin." Hanya bisa menggunakan tangan kanan untuk menyingkirkan tangan Erlan dari pipinya.
"Cup cup jangan cemberut. Nih aku bawa oleh oleh. " Erlan memberikan apa yang dia beli. Dari makanan, pakaian, buket bunga dan lain sebagainya ia belikan untuk Nayra.
__ADS_1
Nayra mengerucutkan bibirnya. Didalam hati Nayra sangat senang ternyata Erlan tidak lupa dengan dirinya yang sudah dia tinggal selama dua hari.
"Jika aku mampu mendapatkan apa yang kau inginkan, aku akan terus berusaha sehingga kau bisa tersenyum. Cepatlah sembuh dan sambutlah kebahagiaan yang akan datang."