Gadis Miskin Milik CEO

Gadis Miskin Milik CEO
Rasa bersalah


__ADS_3

"Lalu, orang yang disampingmu, kau anggap apa dia? "


Nayra sontak saja menoleh kearah perawatnya yang dimaksud Anak lelaki itu. Perawat itu hanya sedikit menyunggingkan senyum nya.


Nayra memutar mata jengah menghadapi Anak lelaki yang sudah membuat dirinya kesal.


"Aku hanya ingin berbicara kepadamu, tetapi tanggapan mu kepadaku sangatlah tidak sopan, Boy. Dimana etiket mu untuk berbicara kepada yang lebih tua dari dirimu? Apa aku salah ingin mengajakmu bicara? Bukankah kau kesepian begitupun dengan diriku! Apakah kau tidak pernah diajarkan oleh orang tuamu berbicara yang benar. " Nayra berkata seperti itu karna sudah kesal akan tanggapan Anak lelaki itu, tapi yakinkah dia berbicara seperti itu secara tidak sengaja atau disebut dengan reflek.


Anak lelaki itu menarik nafasnya terlebih dahulu lalu berkata "Ya, aku memang tidak memiliki orang tua sehingga tata bicaraku sangatlah tidak enak jika didengar oleh mu. Sudah tertampang jelas bahwa dirimu adalah orang kaya, bukan? Lalu kenapa kau ingin berbicara kepada diriku yang rendahan ini! Memang betul orang kaya akan selalu memaksa kehendaknya jika dia menginginkan sesuatu begitupun dengan dirimu. Maaf kalau perkataan saya membuat Anda kesal, kalau begitu saya permisi. "


Setelah selesai berbicara Anak laki laki itu langsung melenggang pergi meninggalkan Nayra yang diam terpaku menatap dirinya tak percaya. Bagaimana tak percaya, anak sekecil itu sudah mengerti masalah yang memang kerap terjadi dikalangan orang kaya.


Nayra masih diam dan menatap kepergian anak lelaki itu. Nayra melihat tangan anak itu mengusap pipinya, entah itu menangis atau tidak! yang pasti Nayra tidak tahu.


Jika memang anak itu menangis. Nayra semakin menyesal mengucapkan kata kata yang barusan menyinggung perasaannya, rasa bersalah itu pun muncul, namun sayang anak lelaki itu sudah menjauh dari pandangannya.


"Maafkan aku jika aku salah berkata." Nayra berbatin, ia juga merasakan sakit walaupun bukan dia yang mengalaminya.


Lalu setelah itu, Nayra meminta Perawatnya untuk mengantarkannya kedalam ruang rawatnya.

__ADS_1


Setelah sampai Nayra meminta Siti yaitu perawatnya, untuk menghubungi Erlan. Wanita itu pun hanya menurut dan melakukan sambungan telepon sesuai apa yang diperintahkan.


Panggilan pun sudah dijawab kini Nayra sedang berbicara kepada Erlan untuk membelikan sebuah makanan yang disukai anak anak, semacam coklat, buah, dan mainan.


Ada rasa heran dihati Erlan. Akan tetapi karna Nayra menjelaskan apa maksud dia membelikan barang tersebut Erlan pun menjadi paham dan mengerti situasinya, dia hanya bisa menyetujui keinginan Nayra. Tetapi yang akan mengantarkan barang tersebut adalah supir rumah, karna Erlan tidak bisa pulang hari ini karna harus pergi keluar kota untuk menemui sang Ayah tercinta yang sedang ada di kota B untuk membahas masalah mengenai perusahaannya.


Nayra menghabiskan waktunya di ruang rawatnya sambil menonton film lewat ponselnya serta makanan yang bergizi.


...----------------...


Keesokan paginya Nayra memang berniat untuk memberikan sedikit makanan dan suatu benda yang mungkin saja, disukai anak lelaki itu.


Setelah setengah jam, Nayra tidak sengaja melihat anak lelaki yang sedang duduk sendirian. Matanya mencoba melihat apakah itu anak laki laki yang kemarin sempat berdebat mulut dengan dirinya.


Nayra menyuruh Siti untuk mendorong kursi rodanya mendekati, Boy.


Setelah mendekatinya. Nayra lalu berkata "Hai... kau sedang apa?" sapa Nayra berkata lembut sembari tersenyum manis kepada anak lelaki itu.


Anak itu menoleh kebelakang, dimana Nayra berada, yang masih setia untuk tersenyum. Anak itu mengelap air matanya dan mencoba untuk tidak menangis.

__ADS_1


Nayra mengerutkan pelipisnya sambil berbatin "Dia kenapa? Apa dia menangis? wajahnya sangat merah."


"Kau kenapa? Apa kau menangis?"


Anak itu sudah berhadapan dengan Nayra, air matanya sudah berhenti keluar. Tetapi, matanya masih berembun air yang ingin menetes.


"Tenn-tu saja ti-dak." dengan suara bergetar, dan mencoba untuk tetap tegar. Di hadapan orang lain serta fake smile yang dia tunjukan.


Nayra mengusap kepala Anak itu dan berkata "Apa kau ada masalah? Jika ada, ayo ceritakan padaku? Karna tersenyum disaat sedih itu tidaklah enak."


Anak itu berangsur memeluk Nayra, tangan mungilnya memeluk leher Nayra dan menenggelamkan kepalanya dileher Nayra.


Dia menangis secara terisak, menumpahkan semua air mata yang sejak tadi dia tahan.


Nayra hanya diam dan bingung. "Kenapa dengan anak ini?" Bukankah dia sosok anak lelaki yang tegar kenapa dia selemah ini?" Nayra berbatin.


Tangan Nayra terangkat untuk mengusap kepala Anak itu lalu berkata "Hai Boy, bukankah kau lelaki yang kuat dan selalu tegar kenapa sekarang dirimu selemah ini?"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2