
Tangan Nayra terangkat untuk mengusap kepala Anak itu lalu berkata "Hai Boy, bukankah kau lelaki yang kuat dan selalu tegar kenapa sekarang dirimu selemah ini?"
"Aa-ku ti-tidak lemah!" Jawab anak itu dalam isak tangisnya.
Air mata tetap mengalir walaupun sudah berusaha untuk dia tahan. Rasa sesak yang mendalam membuat anak kecil itu tidak bisa berhenti menangis. Kehilangan orang tercintanya yang selama ini menjaganya telah pergi berpulang kepada sang Pencipta.
Anak kecil itu melepaskan pelukannya lalu menatap Nayra dengan sendu. Mata sembab dan hidung merahnya membuat Nayra tak tega untuk melihatnya seperti itu.
Tangan Nayra terulur untuk mengusap air mata yang masih mengalir di pipi anak itu. Setelah itu Nayra menggenggam kedua telapak tangan Anak kecil itu, lalu berkata "Menangis bukanlah solusi untuk menghadapi masalah. Sebesar apapun ujian yang kau terima, menangis tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut."
"I-ini bu-kan masalah yang harus diselesaikan atau apapun itu. Ta-tapi ini tentang kehilangan seseorang yang selama ini merawat ku, menyayangi ku, serta melimpahkan kasih sayangnya kepadaku. Yaitu Ne-nenek. "
Tangan yang masih digenggam oleh Nayra, serta mata yang masih mengembun. Anak kecil itu mencoba berbicara walaupun suaranya bergetar. Ketika menyebutkan kata 'Nenek' air matanya mulai membasahi pipinya.
Nayra terdiam, ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi telah pergi selamanya.
"Ternyata ini yang membuatnya menangis. Huft, apa yang harus kulakukan supaya dia tidak bersedih. " gumam Nayra dalam hati.
__ADS_1
"Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan pada kita, untuk mengajarkan hikmah di dalamnya, "
"Belajar untuk merelakan dan ikhlas akan membuatmu lebih dewasa dan mampu kembali menatap masa depan tanpa beban masa lalu,"
"Berhentilah menangis, karna Nenekmu sudah tenang diatas sana. Tunjukan kepada Nenekmu bahwa dirimu bisa membuatnya bangga. Jika kau berlarut larut dalam kesedihan hanya membuatnya bersedih dan tidak tenang diatas sana. " jelas Nayra sambil mengusap lembut kepala Anak itu.
Motivasi yang Nayra berikan untuk anak laki-laki itu, sebagai semangat dalam cobaan hidup yang penuh lika liku.
"Nona sangatlah baik, pantas saja dia disukai oleh Tuan Erlan." Gumam Siti didalam hati, mengagumi sikap dan perbuatan Nayra yang patut dicontoh.
"Terima kasih." Sudut bibirnya terangkat, sedikit senyuman tipis yang ia tunjukan didepan Nayra.
"Sama sama. Oh iya, boleh tau namamu siapa?" Tanya Nayra, yang saat ini belum tahu nama anak itu siapa.
"Arsenio Bagas, panggil Nio."
"Ooh oke. Umurmu berapa?" tanya Nayra lagi, dia sangat penasaran dengan umur anak laki-laki yang sedang duduk sambil minum air putih. Yang tadi dibeli oleh perawat Nayra.
__ADS_1
"Umurku 7 tahun."
Seketika Nayra membulat kan matanya, dia terkejut ketika anak itu menyebutkan umurnya.
"Kau serius?"
"Ya, untuk apa aku membohongimu?"
Nayra menutup mulutnya, menahan keterkejutan nya. Baik dari segi ucapan, perilaku, bahkan sikap, sangat mirip dengan orang dewasa. "Apakah dia reinkarnasi menjadi anak kecil?" Entah pikiran dari mana bisa bisanya dia berpikiran seperti itu.
"Emm, Bibi. Kau tidak terkejutkah?" Tanya Nayra sambil menghadap kearah perawatnya yaitu Siti. Kini Nayra memanggil Siti dengan sebutan Bibi, menurutnya itu lebih sopan.
"Tidak Nona, aku sangat terkejut apalagi ketika dia berbicara, sama seperti orang dewasa."
"Hemm, ya. Kau benar."
Bersambung...
__ADS_1