Gadis Miskin Milik CEO

Gadis Miskin Milik CEO
Tamat – part 1


__ADS_3

"Nio ...? Are you oke?"


Nayra meminta Erlan untuk membantu dirinya berdiri. Sambil memapah Nayra untuk mendekati Nio yang sama sekali tidak menyahut ucapan Nayra tadi. Selain itu, Erlan juga membantu Nayra untuk duduk, supaya sejajar dengan tubuh Nio.


Nayra mengelus kepala Nio namun tidak ada respon sama sekali, "Kau itu bodoh!"


"A-apa?" tanya Nio gugup yang telah mengeluarkan wajahnya, lalu menatap Nayra dengan intens.


Erlan menatap Nayra dengan kebingungan, bukankah tujuannya kesini untuk menghilangkan rasa sedih Nio, lalu kenapa dibilang bodoh?


"Nay, kenapa?"


Nayra tak menghiraukan pertanyaan dari kedua orang tersebut lalu berkata, "Nio, kau laki laki bodoh dan lemah yang pernah kutemui. Seorang laki laki sejati tidak akan selemah ini, waktu yang kau pakai hanya untuk memikirkan hal yang tidak penting. Untuk apa? Ingin mati muda? Bukankah kau ingin membuat Nenek mu bangga, lalu kenapa kau menyia-nyiakan waktumu?"


"Kau hanya tidak mengerti perasaan ku!" Tegas Nio yang diselimuti perasaan kesal dan sedih. Ingin sekali rasanya menangis, ketika mereka yang berani ceramah padahal tidak tahu tentang perasaan nya.


Nayra menghembuskan nafasnya, "Aku sangat mengerti perasaanmu. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi. Dan asal kau tahu aku bukan anak dari keluarga yang bahagia, kehidupan yang telah kujalani serta pengalaman yang kudapatkan semuanya penuh dengan kesedihan. Pukulan, bentakan sudah jadi makanan sehari hari. Lalu kewajiban orang tua kepada anaknya untuk memberikan kasih sayang tidak pernah kudapatkan, kenapa? Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya Tuhan memberikanku sedikit kebahagiaan dengan mempertemukan laki laki yang berada disampingku, dia memberikan ku kesempatan untuk merasakan mempunyai uang banyak, menempatkan ku tempat tinggal yang mewah, serta bisa makan bersama dengan laki laki tampan seperti dia."


"Terima kasih." sambung Nayra lagi sambil tersenyum menghadap ke Erlan, dia tidak tahu ingin membalasnya dengan apa, yang bisa dia lakukan hanya mengucapkan 'Terima kasih'.


Erlan mengangkat tangannya, menghapus setetes air mata yang keluar dari mata Nayra karna mengingat masa lalu dirinya yang kejam, "Sama sama, dan Terima kasih telah hadir dalam hidupku."


"Eh ... i-iyah." karna mendengar perkataan Erlan, Nayra jadi salah tingkah, dengan jarak yang dekat serta ucapan manis yang keluar dari bibir seksi nya membuat wajahnya panas serta jantungnya yang berdebar-debar.


"Panas ya disini." untuk mengalihkan pembicaraan yang tidak sengaja dia ucapkan, supaya mereka tidak canggung.


"Hahah i-iya." tawa Nayra yang dibuat buat untuk menghilangkan gugupnya.


Sedangkan Nio hanya memperhatikan tingkah orang dewasa yang menurutnya sangat kekanak-kanakan, sudah terlihat jelas bahwa mereka saling menyukai tapi masih malu malu kucing padahal anjing.

__ADS_1


"Kalau kalian saling suka kenapa tidak menikah saja?" tanya Nio yang membuat kedua bola mata mereka melotot.


"Hahaha t-tentu saja tidak."


"Kenapa? Apa karna malu? Padahal kalian cocok loh, Kak Erlan juga cocok kalau jadi suami Kakak Nayra, coba Kak Nayra perhatikan sifat dewasa Kak Erlan yang selalu menjaga Kak Nayra, penuh tanggung jawab, kaya, tampan, terkenal, tidak ada kekurangan."


"Ya, tentu saja!" sahut Erlan bangga, bahkan seorang anak kecil saja tahu sifat dirinya yang bisa disebut suami idaman.


"Heh, Nio kamu masih kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa. " ujar Nayra yang berniat menghentikan pembicaraan absurd.


"Wow, ternyata Kakak mau hubungannya privasi. Bagus dong, tidak mau pamer ternyata." goda Nio lalu berlari meninggalkan mereka berdua. Nayra hanya tersenyum menanggapi Nio. Toh, lagian dia masih kecil tidak perlu ditanggapi dengan serius.


Setelah puas bermain bersama anak anak. Nayra dan Erlan memutuskan untuk pulang. Karna langit juga sudah mau berganti.


Banyak waktu yang kita habiskan bersama. Walaupun tidak ada hubungan yang jelas antara mereka berdua, Erlan tetap senang bisa melihat orang yang dicintainya sedekat ini. Dan bahkan bisa menghabiskan waktu seharian.


Erlan menoleh kesamping untuk melihat Nayra dalam keadaan menyetir. Dia melihat Nayra yang memejamkan matanya. Sambil tersenyum dia berkata "Capek 'kan? Sudah dibilangin sama Dokter jangan banyak banyak beraktivitas." Dan sambil menyentuh pelipis Nayra menggunakan tangan kirinya ia kembali berkata. "Tuh, suhu tubuhmu naik."


Erlan tak membalas, sambil fokus menyetir dia diam sejenak. Lalu kembali menoleh menghadap ke Nayra. Dia ragu ragu, sambil terbata - bata Erlan seberusaha mungkin untuk tidak malu dan percaya diri.


"Nayra, ehm..." Erlan ragu ragu dan sedikit gugup. Bagaimana jika dia ditolak, dan hubungan mereka menjadi canggung bahkan bisa menjadi asing. Erlan tidak mau hal itu terjadi. Tapi dia juga harus mengungkapkan perasaannya yang sudah lama bersemayam didalam hatinya.


"Hah? Apa?" jawab Nayra tidak peduli. Walaupun dia juga penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Erlan sampai segugup itu.


"Bagimu Aku ini apa?" Nayra tertegun, dia diam sejenak sambil menatap Erlan, sedangkan Erlan fokus menyetir sambil menantikan jawaban Nayra.


"Kau itu Malaikatku." jawab Nayra sambil tersenyum, Erlan menoleh kearah Nayra dengan ekspresi senang dan berkata. "Apakah kau menyukaiku?"


Tanpa basa basi lagi, Erlan menanyakannya langsung kepada Nayra. Keringat mengalir dipelipis Erlan karna takut bahwa harapannya menghancurkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya–"


"Kau serius?" Tanya Erlan langsung ketika mendengar jawaban dari Nayra. Siapa yang tidak senang jika perasaan kalian diterima oleh orang tersebut? Tentu saja sangat senang.


"Iya, a-apa kau menyukaiku juga?" Dengan ragu ragu Nayra menanyakan hal tersebut kepada Erlan.


Dengan senang Erlan menjawab, "Iya, aku juga menyukaim–"


Ucapan Erlan berhenti ketika mereka mendengar suara yang berasal dari kursi belakang. Ia pun menoleh kebelakang dengan wajah cemas dan segera memerintah kan Nayra untuk melihat suara apa yang berada dibawah kursi belakang.


Nayra memundurkan kursi yang dia duduki menjadi kebelakang lalu bersusah payah untuk pindah posisi. Ia mencari suara tersebut dibawah kursi, dan ketika menemukan barang tersebut dia sangat terkejut, mata dia melotot, jantung dia berdetak dengan sangat kencang.


"E-erlan... " panggil Nayra lirih. Erlan menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya dia melihat Bom ditangan Nayra.


"A-apa? Bagaimana bisa ada disana?! Cepat matikan!" Ujar Erlan dengan menggebu gebu. Dia berusaha fokus untuk menyetir supaya tidak terjadi kecelakaan.


"Ti-tidak bisa, Bom ini dikendalikan lewat jarak jauh... "


Erlan terkejut mendengar penuturan Nayra. Perasaannya campur aduk, dia berusaha menepikan kendaraannya.


Air mata Nayra menetes. Tak disangka bahwa dia akan mengalami kejadian seperti ini. Sambil tersenyum Nayra berkata, "Erlan Aku sangat mencintaimu, maaf telah menyusahkan mu selama ini...."


Nayra meletakkan bomnya dan dengan cepat dia pindah posisi kedepan, dia mendekati Erlan dan membuka pintu mobil dengan paksa. Nayra mencium bibir Erlan dengan satu kecupan lalu mendorong Erlan sehingga terjatuh di aspal.


Erlan terjatuh sehingga membuat tubuh dia lecet, untung saja tidak ada kendaraan yang lewat. Dia dengan cepat bangkit kembali lalu mendekati mobil miliknya.


Dengan pintu mobil yang masih terbuka, Nayra menatap Erlan yang sedang mengejar mobilnya sambil tersenyum dan berkata. "Ini untuk kebaikanmu ... Aku mencintaim–"


Tak terasa berlinang air mata Erlan menetes dengan sangat deras. Erlan tetap mengejar mobilnya untuk menyelamatkan sang kekasih yang ada didalamnya, tapi disaat bersamaan mobil tersebut meledak. "Tidak!!!..." Erlan berteriak sekaligus terpental sangat jauh karna ledakan bom.

__ADS_1


Orang orang di sekitar memanggil petugas pemadam kebakaran dan menjauh supaya tidak terkena ledakan tersebut. Namun ledakan tersebut sangat besar sehingga banyak orang yang menjadi korban luka luka.


__ADS_2