
Nayra telah menemukan teman yang tidak membuat dirinya bosan dirumah sakit, yaitu Nio. Walaupun Nio tidak berada dirumah sakit lagi. Ia kadang kadang berkunjung menemui Nayra. Walaupun dirumah sakit tidak mengizinkan anak kecil bolak balik masuk rumah sakit, namun karna rumah sakit tersebut milik Papa nya Erlan, Nio bisa bebas masuk kerumah sakit karna permintaan Erlan.
Akhirnya, setelah tiga minggu. Nayra telah diizinkan untuk pulang kerumah nya. Ia tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, serta perawat yang disuruh Erlan untuk merawat Nayra.
Setiap hari Erlan mengunjungi Nayra, membawa apapun yang disukai wanita untuk Nayra. Selalu menemaninya untuk konsultasi dan terapi, membelikan apapun yang dimintai Nayra, selalu posesif dan memperhatikan nya, demi kesehatan dan kebahagiaan untuk wanita terkasih.
Walaupun setiap hari disisi Nayra, tetapi Erlan belum menyatakan cintanya. Dia takut, ini bukan waktunya yang tepat. Erlan akan selalu menunggu, sampai waktunya tiba.
Kini ... Erlan dan Nayra sedang berada didalam mobil, sedang menuju perjalanan pulang karna habis melakukan terapi untuk Nayra. Nayra sangat senang, setelah sekian lama melakukan perawatan pergelangan tangan kanannya sudah bisa digerakkan kembali. Walaupun kakinya belum bisa digerakkan.
"Sepertinya kau sangat senang. " gumam Erlan sambil menatap wajah Nayra. Sejak tadi, ia tak henti henti menatap wajah Nayra yang sedang tersenyum sambil menatap luar jendela mobil.
"Heheh ... Tentu saja. Setelah sekian lama ada perubahan setelah melakukan terapi itu. " ujar Nayra.
"Pasti, setelah kau sembuh total aku akan melamarmu." Gumam Erlan kecil.
"Hah? Kau tadi mengatakan apa?" Tanya Nayra yang mendengar suara Erlan, namun tidak terlalu jelas.
"Tidak ada ... Setelah ini kita mau kemana? " tanya Erlan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Nayra berpikir sejenak lalu berkata "Kita kepanti asuhan, mau lihat Nio. "
"Kenapa Nayra selalu perhatian ke anak itu? Apakah wajah Nio lebih tampan dariku?" batin Erlan kesal. Nayra selalu memikirkan laki laki lain selain dirinya, membuat dia kesal ketika Nayra menyebutkan nama Nio.
Erlan hanya bisa menuruti permintaan Nayra dengan patuh, demi kebahagiaan kekasih. Dan dia juga sadar diri, bahwa dia bukan siapa siapa nya Nayra dan tidak berhak cemburu.
Di dalam perjalanan hanya ada sebuah keheningan diantara mereka berdua, tidak ada yang mengajak berbincang terlebih dahulu, mereka fokus kepikiran masing-masing.
Setelah menempuh waktu yang lumayan lama, mereka pun akhirnya sampai ke Panti Asuhan tempat Nio berada.
Sebelum bertemu dengan Nio dan anak anak lainnya. Mereka meminta izin terlebih dahulu ke Ibu Panti yaitu pengurus Panti tersebut. Setelah mendapatkan izin mereka pun masuk dan mencari keberadaan Nio.
Bugh
"Aduh ... Maaf Kak. " ucap anak itu sambil menundukkan kepalanya karna tidak sengaja menabrak kaki Nayra.
Nayra melihat anak itu yang memegang perut bagian kirinya yang terkena kursi roda Nayra. Rasanya pasti sakit, tetapi anak itu tetap menahannya dan meminta maaf dengan tulus.
Nayra mengelus kepala anak itu, ia memaafkannya. Lagian, kaki dia juga mati rasa, jadi otomatis dia tidak merasakan sakit jika ditabrak seperti ini.
__ADS_1
"Tidak apa apa, Kakak memaafkan mu. Kakak mau tanya, kamu melihat Nio tidak?"
"Ooh Nio. Kakak masuk dulu, lalu masuk di pintu berwarna coklat, terus Kakak masuk disitu ada kolam ikan dan banyak pot bunga, sedangkan Nio duduk di sudut tembok." Jelas anak kecil itu memberitahu sambil menunjuk pintu yang dia maksud dari kejauhan.
"Kenapa dia tidak main dengan anak anak lainnya?"
"Dia tidak mau, Kak. Katanya mau menyendiri."
"Baiklah, terimakasih." Nayra pun pergi sesuai penjelasan anak kecil tadi, sedangkan Erlan mendorong kursi roda Nayra. Dia hanya bisa menyimak, karna merasa tidak dianggap, dan juga dia malas untuk ikut campur.
Setelah menemukan pintu berwarna coklat. Erlan membukakan pintu tersebut lalu mereka berdua memasuki ruangan yang lumayan sempit, walaupun ruangannya tidak cukup untuk banyak orang, tetapi oksigen didalam ruangan ini sangatlah sejuk karna memiliki kolam kecil dan tanaman.
Nayra memperhatikan sudut ruangan, ia melihat seorang betubuh kecil sedang meringkuk berdiam diri, entah apa yang pikirkan Nio, tapi dilihat dari wajahnya dia sedang tidak baik baik saja.
Apakah dia sedang merindukan keluarganya?
Atau merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya?
Semua anak memang menginginkan kasih sayang dari orang tuanya, tetapi kenyataan harus menguatkan dirinya. Semuanya telah pergi, lalu dia harus berharap kesiapa? Tidak ada!
__ADS_1
Dan menyendiri adalah hal yang paling menyenangkan untuk orang seperti dia. Karna hanya diri kita sendiri yang bisa memahami perasaan kita.