Gadis Miskin Milik CEO

Gadis Miskin Milik CEO
Menyebalkan


__ADS_3

Akhirnya, walaupun membutuhkan beberapa jam untuk melawan rasa takut. Akhirnya Erlan bisa tertidur jam setengah tiga dan bangun jam lima pagi ketika Nayra tidak sengaja memecahkan gelas.


Erlan tidak kembali tidur, dia sedang bersiap kekantor yg sudah dijemput oleh supir rumahnya. Rasa sakit dikepala hanya bisa dia tahan walaupun rasa sakitnya lumayan.


Tak lupa dia berpamitan kepada Nayra, lalu pergi meninggalkannya untuk menuju kekantor.


Nayra memang kesepian didalam rumah sakit. Akan tetapi Arsyan yang selalu menjenguk Laura, sesekali menghabiskan waktunya bersama Nayra. Dia ingin mengetes reaksi jantungnya berdetak atau tidak, dan itu tidak lebih!


Dan ternyata dia tidak memiliki rasa lagi kepada Nayra, hanya saja perhatian yang dia berikan selama dirumah sakit ini hanya sebuah rasa manusiawi dan tidak lebih! akan tetapi dia juga bingung apakah dia sepenuhnya mencintai Laura?


Bingung! itulah yang dirasakan Arsyan. Belum tentu juga Laura menyukainya balik, karna setiap manusia tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintai orang tersebut.


"Huh.... " Arsyan membuang nafasnya dengan kasar. Dia kini sedang duduk di sofa, dimana itu diruang kerjanya sambil memijat pelipisnya dengan perlahan.

__ADS_1


Mengingat masalah percintaan memang sangat sulit. Arsyan memang sangat mudah mencintai wanita, tetapi dia sendiri sangat jarang pacaran seperti dikalangan orang orang. Disakiti oleh satu orang wanita saja sudah membuat dia kapok tentang percintaan apalagi mau berpacaran berkali kali.


Arsyan tipe orang setia. Jika dia sudah mencintai wanita itu, maka dia bersungguh sungguh untuk menghalalkan nya dan berusaha untuk tetap bersamanya sampai maut memisahkan mereka, walaupun cobaan datang berkali kali akan dia lewati kecuali itu memang sudah takdirnya.


Contohnya sekarang sudah banyak para pria memandang fisik wanita ataupun sebaliknya. Akan tetapi itu bukan Arsyan, karna dirinya sendiri masih memiliki kekurangan, dia ingin mencari wanita yang menerima dirinya apa adanya.


Tak ingin berlarut larut dalam pikirannya, Arsyan memilih bangun dari tempat duduknya dan beralih ke layar laptop serta berkas yang berada didepannya. Sembari menunggu kopi hangat datang untuk dirinya, yang sudah dipesan oleh Maneger nya.


Sedangkan dirumah sakit, Nayra sedang berbicara kepada anak kecil yang kebetulan sedang duduk menyendiri di sebuah bangku kosong. Nayra hanya sedang lewat tetapi ketika melihat anak kecil itu dia penasaran kenapa seorang bocah lelaki sedang duduk sendirian dan tidak ditemani siapapun? Padahal ini ada dirumah sakit. Apakah orang tuanya tidak khawatir? Maka dari itu Naura menghampirinya dan mengajaknya bicara.


Bukankah ini memang harus dilakukan. Nayra harus lebih banyak berinteraksi kepada manusia untuk menghilangkan sedikit tekanan yang selama ini dia alami.


"Hai... " Nayra menyapa bocah itu "Apa yang kau lakukan disini sendirian?"

__ADS_1


Anak lelaki itu menatap Nayra dengan seksama. Siapa orang ini? kenapa ingin tahu tentang dirinya? Itulah yang dipikirkan anak lelaki itu.


"Oh ya, aku Nayra. Kebetulan aku harus banyak berinteraksi kepada manusia untuk mengurangi tekanan dan supaya tidak terjadi lumpuh wajah, maka dari itu aku mengajakmu untuk berbicara, maukah kau berbicara kepadaku?" Nayra berkata dengan lembut sembari tersenyum kepada anak lelaki itu yang menatapnya dingin dan menusuk.


"Jika kamu membutuhkan lawan berbicara, kenapa harus aku?" Anak lelaki itu balik bertanya.


Nayra menyipitkan matanya ketika mendengar jawaban yang dilontarkan oleh anak lelaki yang berbicara didepannya tersebut.


"Udah baik baik mau ngajak bicara. Tetapi, dibalas dengan perkataan ketus seperti itu, lama lama ingin ku tonjok ini anak. " batin Nayra menahan kesal.


Nayra tersenyum untuk menghilangkan kesalnya terhadap orang yang berada didepan nya. "Ayolah... aku tidak memiliki teman disini. "


"Lalu orang yang disampingmu, kau anggap apa dia? "

__ADS_1


__ADS_2