Gadis Miskin Milik CEO

Gadis Miskin Milik CEO
Hidup Yang kelam


__ADS_3

Nayra sudah berharap ketika dia sembuh mungkin suatu saat dia akan menyatakan cintanya. Yah, walaupun terkesan agak aneh, tapi Nayra ingin memperjuangkan cinta yang selalu dia pendam.


Tapi jalan cerita yang dia buat tidak sesuai dengan takdir. Pupus sudah harapannya. Sudah tidak ada semangat hidup bagi dirinya.


Bagaimana jika lumpuh ini menjadi permanen, dan tidak bisa disembuhkan? Apakah jalan cerita hidupnya sekelam ini? Lebih baik Aku mati daripada hidup seperti ini. Pikir Nayra.


Nayra meratapi nasibnya, menahan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Tak bisa dipungkiri bahwa dia merasa sedih dengan apa yang dia alami.


Erlan mengusap kepala Nayla dengan lembut. Wanita cantik itu mendongak menatap pahatan wajah yang sangat sempurna itu. Mata Nayra berkaca-kaca, Erlan yang melihatnya pun merasa sedih. Ia menangkup dua pipi Nayra lalu berkata "Jangan bersedih ada aku disini, kau tidak sendirian. Kau pasti bisa melalui semua rintangan ini."


"Kenapa harus aku yang menanggung semua beban ini?" Nayra menangis "apakah dunia ini membenciku?" tangisnya lagi tak henti henti.


Erlan hanya bisa memeluknya sambil menenangkannya karna dia tidak bisa melihat sang kekasih seperti ini.


Keluarga Nayra sudah datang mereka juga bersedih mendengar berita buruk ini. Ibu Nayra memasuki ruang pasien dimana Nayra berada, dia melihat Nayra yang sedang duduk diatas brangkar sambil menundukan kepalanya.


"Sayang." Panggil Ibunya, Sontak saja Nayra menoleh kearah sumber suara tersebut.


Mata Nayra memerah dan juga bengkak akibat menangis dan berlarut larut dalam kesedihan.


"Ibu... " Ibunya memeluk Anak gadis nya yang kini sedang menangis kembali.


Ibu Nayra hanya bisa menahan tangis melihat anaknya yang sedang terpuruk ini. Walaupun sudah menahan tangis, mata dan hidungnya tetap saja memerah. Dia menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Anak Ibu kenapa nangis terus? Jangan nangis lagi ya nanti kondisinya nambah parah."


"Tapi Bu --


" Udah jangan nangis. Anak Ibu harus semangat" supportnya sedikit memaksa.


Akhirnya Nayra bisa dibujuk untuk berhenti menangis namun akhir akhir ini dia lebih menjadi pendiam, tidak ada lagi kata senyumannya, yang ada hanya wajah kesedihan. Bahkan dia selalu menolak untuk makan.


...****************...


Di pagi hari yang cerah, Nayra keluar dari kamar pasien yang dibantu oleh perawat. Sedangkan Erlan, dia harus pergi kekantor untuk menggantikan posisi Diki yang kini sedang jatuh sakit akibat kelelahan. Sejak dari kemarin Erlan tidak mendatangi Nayra karena urusan kantor sehingga dia sendiri harus bekerja lembur.


Nayra keluar dari ruang rawat bersama Perawat menggunakan kursi roda. Mereka hanya pergi ke halaman rumah sakit, untuk menghirup udara segar.

__ADS_1


"Stop disini saja." ujar Nayra dingin kepada Perawat.


Nayra memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah serta rambutnya. Nayra tidak peduli kepada perawat yang ada di sampingnya. Perawat itu mengajaknya berbicara, namun Nayra tidak mengubrisnya sama sekali. Dia sudah bosan kepada orang-orang di rumah sakit ini, karna sudah setiap hari dia melihat wajah mereka yang tidak menariknya sama sekali.


Keheningan itu pecah disaat mendengar panggilan seseorang, kami bersama sama menoleh kearah sumber suara tersebut.


"Siti, kau tadi dipanggil Dokter. Cepat ke ruangannya karna ada hal penting yang harus dibicarakan." ucap perawat yang memanggil wanita disamping Nayra.


"Tapi, aku sedang menemani pasienku? "


"Kau tinggalkan saja, biar yang bawa dia keruang rawatnya." desak temannya tersebut kepada perawat Nayra.


"Aku belum ingin kembali." ujar Nayra dingin terhadap orang didepannya.


"Maaf Nyonya anda harus kembali terlebih dahulu karna kami mempunyai urusan yang lebih penting." desak wanita itu membuat Nayra kesal.


"Jika aku bilang tidak ya tidak! Apakah begini Perlakuanmu terhadap pasien mu?" Nayra berkata ketus karna sudah terlanjur kesal terhadap wanita yang jauh lebih tua dari dirinya.


Perawat Nayra bernama Siti itu mendekati Nayra lalu berkata "Baiklah jika Nyonya ingin berada disini. Tapi, saya mohon jangan pergi kemana kemana sebelum saya datang."


Kedua perawat itu telah pergi, Nayra hanya menatap kepergian mereka dengan senyum simpul.


Huh


Nayra membuang nafasnya dengan kasar.


"Sampai kapan aku seperti ini? Hanya bisa menyusahkan orang lain saja." Nayra bergumam sendiri, mengingat jasa Erlan yang terlalu baik kepada dirinya.


Nayra takut dia tidak bisa membalas budi atas kebaikan yang Erlan berikan kepada dirinya. Semua kebutuhan Nayra sudah mencapai 500 juta rupiah. Baik itu uang terapi, obat obatan, Operasi, dan lain sebagainya.


Nayra menyunggingkan senyum, mengingat kebaikan dan senyuman manis yang Erlan berikan kepadanya. Tetapi raut wajahnya tiba tiba berubah mengingat kondisi dirinya seperti ini.


Karna mood-nya tiba tiba berubah Nayra pergi dari tempat itu dengan menggerakan kursi rodanya secara sendiri menggunakan tangan kanannya.


Dia tidak peduli dengan perkataan perawat tadi. Dia tahu bahwa Erlan lah yang menyuruh Perawat itu untuk menjaga Nayra selagi dirinya tidak ada. Sedangkan kedua orang tua Nayra mereka juga suka berkunjung menjenguk anak semata wayangnya jika ada waktu luang, karna kedua orang tua Nayra sedang bekerja.


"Nayra apakah itu kau?" Nayra berhenti ketika mendengar perkataan orang yang memanggil namanya. Dia menoleh kearah belakang untuk mengetahui siapa pemilik suara tersebut.

__ADS_1


Ternyata itu Arsyan teman singkatnya waktu dulu. Nayra membalasnya dengan senyum simpul.


"Kau masih sakit ya? Bukankah kau sudah dioperasi? tetapi kenapa kau memakai kursi roda?" beginilah Arsyan selalu bertanya secara beruntun kepada Nayra.


"Aku lumpuh." Nayra membalasnya dengan singkat, untuk membahas hal itu dia sedang tidak mau.


"Lah kok bisa? kau tidak bercanda kan?" terlihat bahwa Arsyan terkejut dengan apa yang dikatakan Nayra.


"Seperti yang kau lihat. Sudahlah aku tidak mau membahas ini."


Arsyan mengerti kenapa Nayra berkata seperti itu, dia tahu Nayra kini sedang terpuruk melihat kondisi dirinya seperti itu.


"Hemm, okelah. Bye aku pergi."


"Kau tidak ingin membantuku?" tanya Nayra sebelum Arsyan pergi jauh dari dirinya. Lelaki tampan itu menoleh kearah Nayra, dan mendekatinya.


"Kupikir kau bisa." Arsyan mendorong kursi roda Nayra sesuai permintaan wanita itu.


"Tangan kiriku lumpuh, makanya aku tidak bisa. Oh ya itu coklat dan bunga untuk siapa?"


"Ini untuk Laura, Skretarisku. Penyakitnya kambuh lagi sehingga dia harus dibawa kedokter." Mereka berbincang sambil berjalan.


"Dia terkena penyakit apa?"


"Dia terkena Maag." Nayra membalasnya dengan ber oh ria.


Sekejap mereka menjadi hening, tidak ada lagi yang berbicara, mereka sibuk dengan pikiran masing masing.


"Apakah kau mencintai Laura?" Entah pikiran dari mana Nayra bisa menanyakan hal tersebut kepada Arsyan.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Arsyan balik bertanya. Jujur saja dia tidak tahu ingin menjawab apa karna disatu sisi dia menyukai Nayra dan disisi lain dia mencintai Laura.


"Tidak! Aku hanya bertanya apakah itu tidak boleh?"


_𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐_


𝓣𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪 𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓶𝓪𝓶𝓹𝓲𝓻 ❤

__ADS_1


__ADS_2