
Nyimas membawa Aisyah menembus dimensi ruang waktu, melewati lorong-lorong kegelapan dengan kecepatan diluar nalar manusia.
**Bruggg!!!
Aisyah Jatuh didalam sebuah taksi bersama Bryan dan Nyimas disampingnya.
Supir taksi yang sedang merokok diluar menjadi kaget dan segera menengok masuk kedalam taksi.
"lho kok jadi ada orang" kata supir taksi bingung
"buruan bang antar kami kerumah sakit" kata Aisyah
"memangnya neng masuk dari mana? " kata supir taksi masih bingung
"dari langit !!"kata Aisyah sedikit kesal karena sang supir masih mematung diluar taksi.
"beneran neng? " tanyanya lagi sambil menggaruk
"memang penting ya dibahas pak, ayolah kasian temen saya " kata Aisyah memohon
"oklah" jawab supir taksi sambil bergegas masuk kedalam mobil.
*************
Beberapa orang perawat berlari membawa Bryan yang masih tak sadarkan diri keruang UGD.
Aisyah masih menunggu diluar dengan cemas, beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"bagaimana keadaan teman saya dok? " kata Aisyah
"Dia perlu dirawat intensive diruang perawatan"
"apakah parah dok? "
"Insya Allah tidak, berdoa saja semoga dia cepat siuman"
Seorang perawat menghampiri Aisyah.
"apakah ade, keluarga dari pasien yang bernama Bryan? "
"betul, sus"
__ADS_1
"anda harus menyelesaikan biaya administrasi dulu, karena pasien akan dipindahkan keruang perawatan"
"baik, sus" jawab Aisyah
Aisyah bingung darimana ia mendapatkan uang untuk membayar biaya perawatan Bryan.
"ambilah ini" kata Nyimas sambil menyodorkan sebuah credit card
"inikan punya Bryan? "
"sudahlah pakai saja, lagian untuk biaya pengobatan dia juga kok, dia pasti tidak keberatan?" kata Nyimas
"daripada nyawanya tidak tertolong gara-gara kamu gak sanggup bayar biaya rumah sakit. coba pilih mana? " katanya lagi
"baiklah" kata Aisyah sambil menerima credit card dari Nyimas
Ia segera menuju kebagian kasir untuk membayar biaya administrasi.
"silahkan masukan paswordnya" kata petugas kasir sambil menyodorkan mesin
Aisyah bingung karena tidak tau kode sandi credit cardnya. Kemudian secara reflek tangan Aisyah bergerak sendiri mengetik pasword credit card.
"pasti kerjaan Si tante " kata Aisyah dalam hati
"makasih ya tan? "
"sama-sama cah ayu"
Kemudian Aisyah menuju ruang perawatan ia melihat Bryan masih belum sadarkan diri.
Dia memandangi Bryan penuh takjub, kemudian mengusap kepalanya.
"terima kasih telah menyelamatkan ku" kata Aisyah
"kalau kau tak menyuruhku keluar, pasti aku yang terkena ledakan itu" sambil menitikan air mata
Bryan mulai mengerjapkan matanya, Samar-samar ia melihat Aisyah duduk disamping ranjangnya sambil memegang tangannya.
"A.... is" katanya lemah
"kau sudah sadar Bryan? "
__ADS_1
Bryan hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"tunggu sebentar, biar aku panggilkan dokter dulu" kata Aisyah
Ia segera berdiri hendak pergi memanggil dokter, tapi tangan Bryan menariknya.
"nanti saja" katanya pelan
"kamu lapar, atau mau minum?" kata Aisyah
Bryan hanya menggelengkan kepalanya.
"terus mau apa" tanya Aisyah bingung
"duduklah" perintah Bryan
Kemudian Aisyah duduk disamping ranjang Bryan.
"kau tidak terluka? " tanya Bryan
"aku baik-baik saja" jawab Aisyah
"syukurlah"
"tapi kamu terluka gara-gara aku, hiks hiks hiks" kata Aisyah sambil menangis
"aku tidak papa" kata Bryan sambil mengusap air mata Aisyah
"oh ya, tadi aku pakai kartu kreditmu untuk membayar biaya perawatanmu"
"pakai saja, tidak apa-apa"
"terus kamu tau paswordnya dari siapa?"
"dari tante? " jawab Aisyah
"tante siapa? " kata Bryan bingung
"mmm.. maksudnya tadi Ais asal tebak aja, eh bener? "
"kau memang jenius, tak salah kalau kau sering menjuarai olimpiade matematika" puji Bryan
__ADS_1
"ah, biasa aja?" kata Aisyah merendah
"huft,,, hampir saja keceplosan, untung Bryan tidak curiga" kata Aisyah dalam hati