GADIS PENAKLUK

GADIS PENAKLUK
Chapter 45


__ADS_3

Pagi harinya Adel segera masuk kerumah mang Asep yang berada dibelakang sekolah. Saat Adel masuk kerumahnya, mang Asep tidak ada didalam rumah.


"sepi" kata Adel sambil menengok kanan kiri


"ini kesempatan bagus, gue harus segera mencari gelang itu, sebelum mang Asep kembali" gumam Adel


Adel segera masuk kedalam kamar Mang Asep, ia memulai pencariannya dengan membuka laci meja yang ada disebelah tempat tidur, rupanya Dewi fortuna sedang berpihak padanya ia segera menemukan gelang yang dicarinya.


Ia tersenyum menyeringai dan segera meninggalkan tempat itu.


Ia segera menarik melvy dan Cindy kedalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Siang hari Adel dan kedua temannya sudah sampai kerumah mbah Karto. Ia segera menyerahkan gelang itu kepadanya.


"aku akan memulai ritualnya nanti malam, kebetulan nanti malam adalah malam jumat kliwon. Malam berkeliarannya roh-roh jahat" kata Mbah Karto


"baiklah kalau begitu kami pamit pulang dulu" kata Adel yang beranjak dari tempat duduknya


Mbah karto hanya mengangguk kepadanya.


Adel melajukan mobilnya kembali kerumahnya.


Hujan deras yang mengguyur Jakarta, belum juga reda membuat Aisyah masih tak beranjak meninggalkan kelasnya, meski bel pulang telah berdering. Ia masih menunggu hujan reda .


"Kenapa kau belum pulang?" tanya mang Asep yang mulai membersihkan kelasnya


"lagi nunggu hujan reda mang? " jawab Aisyah


"cepatlah kau pulang, jangan lama-lama disini" kata Mang Asep mengingatkan Aisyah


"tapi masih hujan mang" jawab Aisyah


"apa kau tidah membawa payung? tanya Mang asep


Aisyah hanya menggeleng. Mang Asep segera pergi dan kembali dengan membawa payung lipat, kemudian ia memberikannya kepada Aisyah.


Lalu Aisyah segera pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi sesuatu terhadapmu" batin Mang Asep yang mengkhawatirkan Aisyah


Aisyah akhirnya sampai juga dirumahnya. Ia segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Ia segera keluar untuk menemui ayahnya, dilihatnya ayahnya sedang tertidur.


Aisyah segera kembali kekamarnya merebahkan tubuhnya. baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba lampu kamarnya terus berkedip dan akhirnya padam.


"apa mati lampu" kata Aisyah kemudian bangkit keluar dari kamarnya melihat kedepan rumah, memastikan mati lampu atau token listriknya habis.


Ia heran karena hanya lampu kamarnya yang padam. Aisyah segera keluar untuk membeli lampu menggantikan lampu kamarnya yang padam.


Setelah mendapatkan lampu yang dicarinya, ia segera bergegas pulang.


"uhh, akhirnya selesai juga" kata Aisyah yang baru saja selesai memasang lampu dikamarnya


**tok.. tok.. tok!!!


Aisyah segera membuka pintu rumahnya.


"assalamualaikum Ais" sapa Ferdi yang basah kuyup


"maaf tadi setelah mengantar mamah kestasiun, hujan kembali turun. makanya aku mau numpang berteduh dirumahmu sampai hujan reda, bolehkan? " tanya Ferdi


"tentu saja boleh, mari masuk" ajak Aisyah


Ferdi segera masuk kedalam rumah, sementara Aisyah memberikan handuk untuk mengeringkan rambutnya.


Adzan magrib berkumandang, namun hujan belum juga reda.


Setelah selesai sholat magrib Aisyah mengajak Ferdi untuk makan bersama.


Ketika mereka sedang asyik menyantap hidangan makan malam, mereka dikejutkan dengan suara orang yang tertawa diikuti lampu rumah yang tiba-tiba padam.


Tiba-tiba muncul sesosok wanita berambut panjang yang segera menyerang Aisyah, ia menyeretnya keluar dari rumah. Ferdi berlari mengejar wanita itu.


***buughhh!!!

__ADS_1


Mahluk itu mekempar tubuh Aisyah hingga terpental membentur sebuah pohon didepan rumahnya.


Ferdi segera membantunya bangun, Namun Aisyah segera menepis tangannya.


"cepat kau pergi dari sini" perintah Aisyah pada Ferdi


"tidak!, aku akan membantumu" jawab Ferdi


"nanti kau celaka, biar tante Nyimas yang akan menolongku" kata Aisyah


"hahahaha!!!" terdengar suara lelaki yang tertawa didepannya


"takan ada yang menolongmu lagi anak kecil, karena penyelamatmu sudah kembali keasalnya" Jawab mbah Karto yang berdiri dihadapannya


Aisyah terus memandangi gelang yang dipakai oleh mbah Karto.


Kini mbah Karto mulai duduk bersila dan mulutnya membaca Matera. Tiba-tiba puluhan mahluk astral sudah datang dan mengepung Aisyah dan Ferdi.


Ferdi segera melantunkan ayat kursi dan beberapa ayat alquran lainnya, yang membuat mahluk-mahluk itu akhirnya menghilang karena hawa panas dari lantunan ayat kursi yang Ferdi kumandangkan. Aisyah tak tinggal diam dia juga segera membantu Ferdi membaca ayat kursi.


Kini Mbah karto berhenti membaca matera. Ia segera bangkit dan melemparkan sebuah bola api kearah Aisyah dan Ferdi. Tubuh mereka berdua terplenting beberapa meter dari tempat mbah Karto berdiri. Ia kembali menyerang keduanya, kali ini dengan kilatan berwarna merah yang langsung terbentur oleh sebuah kilatan berwarna hijau.


**Jraaaassssshhhh!!!!


**Duarrr!!!


Terjadi ledakan yang sangat dahsyat hingga membuat tubuh mbah Karto terpental membentur pohon dibelakangnya.


Sementara Mang Asep yang mencoba menolong Aisyah juga mengalami hal yang sama. Darah segar keluar dari mulutnya.


"mamang tidak apa-apa?" tanya Ferdi membantu Mang Asep berdiri


"biarkan aku yang akan menghadapinya" kata Ferdi yang kemudian duduk bersila


Aisyah menatap cemas kepada Ferdi, ia takut jika Ferdi akan mengalami nasib yang sama dengan Bryan dan Ian.

__ADS_1


__ADS_2