GADIS PENAKLUK

GADIS PENAKLUK
Chapter 42


__ADS_3

"yang mana keluarga dari Pasien yang bernama Ian" tanya Pak Dokter


"saya ayahnya" kata Pak Frans yang segera mendekatinya


"anda harus bersabar pak, karena kehabisan banyak darah anak anda tak dapat kami selamatkan" kata Dokter sambil menepuk bahu pak Frans


"jadi anak saya meninggal dok" kata Pak frans meyakinkan apa yang didengarnya


Dokter hanya mengangguk, sementara Adel langsung berteriak histeris.


"tidakk!!!!!, kak Ian !!!!!" teriak Adel yang langsung menerobos masuk kedalam ruang UGD.


Ia segera memeluk jasad Ian yang sudah terbujur kaku, menangis histeris karena tak menyangka pertengkaran dengannya disekolah adalah pertemuan terakhir dengannya.


"maafin adel ka, adel sayang kaka ...hiks... hiks" kata Adel yang masih tersedu-sedu


Aisyah dan pak Frans memasuki ruangan untuk melihat jasad Ian. Adel langsung mendorong Aisyah ketika Ia mulai mendekat kearahnya.


"pergi lo cewek pembawa sial!!!, gara-gara lo ka Ian meninggal!! " bentak Adel kepada Aisyah


"gue gak sudi lihat muka lo, pergi!!!, pergi!!! hiks... hiks" perintah Adel sambil terus menangisi kepergian Ian


Aisyah yang jatuh tersungkur segera bangkit dan pergi meninggalkan ruang UGD, Ia hanya bisa melihat Ian dari kejauhan. Ia bahkan tak sempat menyampaikan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya.


Aisyah masih duduk dikursi tunggu depan ruang UGD, Ia hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat banyak untuk menjelaskan kepada Adel.


"maafkan aku Ian, gara-gara aku lo celaka, emang bener kata Adel kalo aku ini cewek pembawa sial...hiks... hiks" kata Aisyah pelan


Saat ia masih larut dalam kesedihan, Aisyah menyadari ada seseorang yang mengusap lembut kepalanya.


"Ian!!! " teriak Aisyah yang tak percaya dengan sosok yang berdiri disampingnya. Ia hanya tersenyum kearahnya dan kemudian menghilang.


"Ian! " panggil Aisyah sambil mencari-carinya kesudut-sidut ruangan, tapi sayang dia sudah tidak nampak lagi.


"sudahlah nduk, ikhlaskan Ia pergi" kata Nyimas yang berdiri disampingmya

__ADS_1


"hmm" jawab Aisyah sambil mengangguk pelan.


Nyimas menyeka Airmatanya yang mulai membasahi pipi mungilnya.


"apa aku ini pembawa sial?" tanya Aisyah


"kau bukan pembawa sial nduk, tapi akulah yang menyebabkan semua ini terjadi, jadi aku harus segera menyelesaikannya" kata Nyimas


"percayalah semuanya akan segera berakhir" kata Nyimas lagi


Aisyah kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. Sesampainya dirumah ia langsung menjatuhkan badannya diatas ranjang tempat tidurnya. Ia berusaha memejamkan matanya mencoba melupakan semua kejadian hari ini.


Siang hari sepulang sekolah Aisyah menyempatkan datang ke makam Ian, ia tak berani menghadiri pemakamannya karena tau adel pasti mengusirnya.


"selamat jalan ka, semoga engkau bahagia disana" kata Aisyah sambil menabur bunga diatas makamnya. Tidak lupa ia berdoa dan mengirimkan Alfatiha untuknya.


Setelah selesai ia pulang kerumahnya, semenjak peristiwa semalam Aisyah sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi dikedai bakso pak Harjo.


Ia tak ingin menantang bahaya yang bisa membunuhnya.


Bunyi ponsel Aisyah yang terus bergetar, ia kemudian mengambilnya dan mengangkat telpon yang masuk keponselnya.


"ada apa pak Harjo menelponku " batin Aisyah


"halo pak, ada apa? " tanya Aisyah


"datanglah kekedai bakso sekarang" kata Pak Harjo


"tapiii..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya Ia baru ingat kalau dirinya belum mengajukan pengunduran diri kepada pak Harjo.


"datang kekedai segera! " perintah pak Harjo


"baik pak" jawab Aisyah


Aisya segera bersiap-siap menuju kekedai bakso pak Harjo. Ia kaget ketika melihat kedainya tutup, ia segera masuk kedalam kedai tersebut. Dilihatnya pak Harjo sendirian sedang membuat kuah bakso.

__ADS_1


"ada apa bapak memanggil saya kemari pak" kata Aisyah


"kau sudah tau semuanya tentang aku istriku dan kedai baksoku, bahkan kau bisa selamat dari istriku, sebenarnya siapa kamu? " tanya Pak Harjo


"aku Aisyah pak, aku bukan siapa-siapa" jawb Aisyah


"lalu siapa yang membunuh istriku?" tanya pak Harjo sinis dan mulai menghentikan aktifitasnya.


"aku" jawab Nyimas yang kini hadir diantara mereka


"kenapa kau membunuh istriku hah!" kata pak Harjo marah


"karena ia sudah berusaha membunuh Aisyah dan asal kau tau dia juga membunuh teman Aisyah Ian, jadi impaskan nyawa dibayar nyawa" jawab Nyimas


"dasar kau wanita laknat!! " kata pak Harjo sambil meleparkan senjatanya kearah Nyimas.


Ia segera menghindar dari serangan itu dan menarik Aisyah agar menyingkir dari sana.


Terjadi pertarungan sengit antara pak Harjo dan Nyimas.


*jrassshhh!!!


Beberapa bola api menyerang Nyimas, Namun dengan sigap ia mampu membalikan serangan itu dengan selendangnya. Bola-bola api itu kini berbalik menyerang pak Harjo.


*arrrrggghh!!!


Pak Harjo mengerang kesakitan, tubuhnya mengalami luka bakar hebat. Nyimas segera menghampirinya. Ia segera mencabut sesuatu yang ada diubun-ubun pak Harjo.


"hiduplah dengan normal, aku sudah membebaskanmu dari jeratan makluk gaib itu" kata Nyimas


"terima kasih Nyai" jawab pak Harjo


"dia tidak akan datang menggangumu lagi, asalkan kau membuang semua benda-benda pusakamu itu" kata Nyimas sambil menunjuk kearah kamar khusus milik pak Harjo


Ia hanya diam sambil mengangguk pelan. Nyimas kemudian mengajak Aisyah pulang.

__ADS_1


Semenjak peristiwa itu kedai pak Harjo yang semula selalu ramai, kini menjadi sepi, karyawannyapun satu-persatu mengundurkan diri. Kini ia memulai usahanya dari nol lagi tanpa klenik ataupun penglaris.


__ADS_2